Tawanan Cinta Casanova

Tawanan Cinta Casanova
BAB 34


__ADS_3

Setelah seminggu istirahat, Arsen dan Anindya akhirnya kembali ke Indonesia. Pesawat yang menjadi kendaraan utama mereka untuk sampai di negara mereka sendiri mendarat dengan sempurna di Bandara internasional Soettaa.


Anindya dan Arsen sudah ditunggu oleh sopir jemputan Arsen sehingga mereka tak perlu berlama-lama menunggu. 


Selama perjalanan, Anindya hanya diam bahkan dominan Arsen yang seakan mencari perhatiannya. Arsen tampak nyaman bersandar di bahunya.


"Assa, kapan perutmu besar seperti orang diseberang sana?" tanya Arsen menunjuk wanita hamil di seberang jalan.


"Heum … mungkin usia kandungan ibu itu sudah jalan 8 bulan, itu artinya saya butuh waktu kurang lebih 5 bulan lagi." Jawab Anindya menghitung dengan jarinya.


"Jangan pernah pergi, Assa. Jangan pernah meninggalkan ku, apalagi memisahkan ku dari anakku. Aku mencintaimu." Ucap Arsen menatap dalam mata Anindya.


Anindya terpaku mendengar ucapan Arsen, secara naluriah tangannya menangkup wajah pria itu dan tersenyum.


"Saya juga, Pak." Balas Anindya dengan tulus.


"Saya juga apa Assa?" tanya Arsen membuyarkan lamunan Anindya yang sedang membayangkan sesuatu.


Anindya tersadar, senyuman di wajahnya perlahan memudar saat ia kembali ke faktanya bahwa ia hanya terbayang-bayang akan ungkapan cinta yang Arsen lontarkan. Pria seperti Arsen tak akan mungkin mencintai gadis bisa sepertinya.


"T-tidak." Jawab Anindya lirih.


Arsen mengerutkan keningnya, ia curiga namun tak berniat bertanya. Sampai akhirnya Arsen memilih untuk tidur dengan kepala bersandar pada bahu Anindya.

__ADS_1


Sementara Anindya yang merasakan beban Arsen di tubuhnya lantas menoleh, ia melihat Arsen yang tertidur begitu tenangnya. Selama bertahun-tahun, tak pernah ia peduli pada urusan hati, namun saat ini untuk pertama kalinya ia merasakan yang namanya cinta.


Bodoh, memang. Anindya adalah wanita paling aneh sampai bisa mencintai pria seperti Arsen hanya karena perlakuan manis dan perhatian pria itu selama beberapa hari terakhir terutama di masa kehamilannya. Namun saat otaknya mulai berjalan, baru lah ia sadar bahwa ia tak seharusnya mencintai Arsen yang bahkan hanya menganggap nya seorang teman 'ranjang'.


Anindya menyeka air matanya, perhatian dan kasih sayang yang Arsen berikan selama di Meksiko berhasil meluluhlantakkan semua kebencian yang ada sebelumnya. Gila? Katakan saja begitu, namun kemungkinan ini semua masih berhubungan dengan bayi dalam kandungannya.


"Saya cuma berharap semoga perasaan saya bisa hilang, Pak. Saya tidak mau sakit hati, selama ini saya sangat menjaga itu agar saya tidak hancur saat kehilangan." Batin Anindya diakhiri helaan nafas pelan.


Tak terasa akhirnya mereka sampai di kediaman Arsen yang menjadi tempat tinggal Anindya juga. Anindya membangunkan Arsen dan pria itu dengan mudahnya bangun.


Saat mereka turun dari mobil, tatapan Arsen berubah datar dan dingin ke arah dua orang wanita yang tengah berdiri di depan teras rumahnya.


"Ohh Lucifer my boy!!!" pekik seorang wanita berumur namun terlihat masih begitu cantik.


"How are you, boy?" tanya wanita itu hendak memeluk Arsen namun ditolak.


"What's the matter here, Mom?" Tanya Arsen dengan nada tak bersahabat.


(Ada keperluan apa ibu kesini?)


"Lucifer, why talk to mom like that?" Tanya wanita itu yang ternyata adalah ibu kandung Arsen, Madam Meena.


(Lucifer, siapa wanita ini?)

__ADS_1


"Saya lelah, bisakah anda jangan terus bertanya." Jawab Arsen sekenanya.


"Lucifer!" tegur Madam Meena dengan tegas.


"Boy, siapa wanita itu?" tanya Madam melirik Anindya yang tangannya digenggam oleh Arsen.


"Anda tak perlu tahu," jawab Arsen lalu menarik tangan Anindya dan membawanya masuk.


Saat melewati seorang wanita bule cantik, Arsen tampak tak bergeming dan tetap melanjutkan langkahnya. Dapat Anin lihat dengan jelas bahwa wanita itu tampak memuja Arsen dan menatap dirinya dengan sinis.


"Pak, wanita tadi--" Ucapan Anindya terpotong saat Arsen semakin mengeratkan genggaman tangannya.


Sementara Arsen membawa Anindya ke kamarnya, di lantai bawah terdapat Madam Meena bersama wanita cantik bernama Clara Adelin, model terkenal yang berasal dari Australia lebih tepatnya adalah negara tempat orangtua Arsen tinggal.


"Mom, Who is that woman?" Tanya Clara langsung.


(Ibu, siapa wanita tadi?)


"Don't worry, I'm sure it's just Lucifer's bit*h." Jawab Madam Meena asal mengatakan meski kebenaran yang terlontar.


(Jangan khawatir, ibu yakin itu hanya j*lang Lucifer)


Clara menganggukkan kepalanya, ia tak suka melihat wanita sederhana tadi tampak begitu dekat dengan Arsen-nya. Ya, Arsen adalah pria pujaan hatinya sejak lama, namun meski Arsen terkenal akan sikap Casanova, tak sekalipun pria itu mau padanya meski ia sudah gencar menggoda.

__ADS_1


Setelah ini nggak usah pakai dialog Inggris ya, karena jujur aku juga nggak terlalu bisa😭🤣


To be continued


__ADS_2