
Sore hari yang cerah membuat Anindya memilih untuk jalan-jalan keliling desa, ia tentu tidak sendiri, melainkan bersama Arsen. Arsen menggandeng tangan Anindya namun wanita itu berkali-kali melepaskan nya.
"Pak, saya mohon. Kita berada di tempat orang jadi jangan begini, saya tidak enak." Pinta Anindya pelan.
Arsen menghela nafas, ia akhirnya menurut dan tidak menggandeng tangan Anindya lagi. Saat mereka memutuskan untuk pulang, keduanya berpapasan dengan Tio dan kades yang juga baru kembali entah darimana.
"Oh Anin, darimana Nak?" tanya Kades saat Anindya menyalami tangannya.
"Jalan-jalan kelilingi desa, Pak. Bapak sama Mas Tio dari mana?" tanya Anindya balik.
"Biasa, tugas." Jawab Kades terkekeh.
"Sudah sore Mbak, lebih baik pulang karena tidak baik wanita hamil berada di luar rumah. Mas Arsen, titip Mbak Anin ya." Ucap Tio yang hanya dibalas Arsen lirikan saja.
Dalam hati Arsen menggerutu, apakah Tio pikir bahwa ia akan menyakiti wanitanya sampai-sampai harus diberi pesan titipan seperti tadi.
Lain halnya dengan Anindya yang merasa tidak enak akan sikap Arsen yang tidak ada sopannya, tidak menyapa, tersenyum apalagi sekedar menjabat tangan.
"Ya sudah Pak, Mas Tio. Kami pulang dulu ya, permisi." Pamit Anindya berjalan mendahului Arsen.
Arsen menatap Tio sekilas lalu beralih pada kades, ia tidak mengatakan apapun kemudian langsung buru-buru menyusul Anindya yang jalannya lumayan cepat juga, tidak seperti biasanya.
Sementara itu kades menatap putranya yang masih menatap kepergian Anindya dan Arsen, ia tepuk bahu putranya hingga menyandarkan Tio dari pikirannya sendiri.
"Jika memang Anindya memilih pria itu maka kamu harus ikhlas, Nak. Lagipula pria itu juga adalah ayah dari bayi yang dikandung Anin." Tutur Kades menasehati.
"Aku akan iklhas, Pak. Tapi saat Mbak Anindya sendiri yang mengatakan jika memang ia memilih pria itu." Timpal Tio diakhiri helaan nafas lelah.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo kita pulang." Ajak kades dibalas anggukan oleh Tio.
***
Sudah 3 hari Arsen berada di rumah Anindya, hari ini Arsen harus kembali ke Jakarta untuk mengurus perusahaannya yang benar-benar akan hancur jika tidak segera dibenahi.
Arsen sudah siap untuk pergi, saat ini ia tengah duduk bersama Anin di ruang tamu, memulai pembicaraan serius.
"Assa, aku tidak punya banyak waktu lagi, jika memungkinkan kamu bisa jawab sekarang maka katakanlah, siapapun asal kamu benar-benar bahagia." Ucap Arsen menggenggam tangan Anindya.
Anindya melepaskan genggaman tangan Arsen, ia beralih mengusap wajah pria itu dengan lembut dan penuh perasaan.
"Maafkan saya, Pak." Balas Anindya menjauhkan tangannya dari wajah Arsen.
Arsen menghela nafas, ia mengangguk paham dengan jawaban Anindya. Meski rasanya sakit, tapi tidak masalah asalkan Anindya bahagia, mungkin sudah terlalu dalam kesalahannya sampai Anindya hanya bisa memaafkan namun tidak bisa jika harus menerimanya lagi.
"Aku tetap boleh melihat anakku, 'kan Assa?" tanya Arsen dengan suara beratnya.
Hanya menempelkan bibir saja, Arsen tak berniat untuk menyesap bibir Anin seperti biasanya. Ciuman kali ini tidak dibarengi dengan napsu, hanya ada kasih sayang dan cinta yang Arsen utarakan dalam ciuman itu.
Setelah beberapa saat Arsen menjauhkan bibirnya dari bibir Anindya, ia mengusap bibir Anindya dengan lembut.
"Maafkan atas semua kesalahanku, Assa. Aku pergi, semoga kamu bahagia selalu bersamanya." Tukas Arsen hendak pergi namun tangannya di cegah oleh Anindya.
"Pak, dengarkan ucapan saya dulu. Saya mau--" penjelasan Anindya terhenti karena Arsen memotongnya.
"Lupakan saja, Assa. Aku tahu apa yang ingin kamu katakan, kamu mau mengundang saya dalam pernikahanmu dan si Tio itu kan, maaf saya nggak mau datang." Potong Arsen tanpa menatap Anindya.
__ADS_1
Anindya mengepalkan tangannya, ia menarik tangan Arsen hingga pria itu berbalik menghadapnya. Dengan sekuat tenaga Anindya melayangkan tangannya di wajah Arsen sampai meninggalkan bekas di wajah pria itu.
"BAPAK DENGERIN SAYA NGOMONG DULU BISA GAK SIH!!!" bentak Anindya yang sudah sangat kesal karena Arsen terus memotong ucapannya.
Arsen memegangi pipinya yang terasa panas, ia menelan salivanya dengan sulit melihat amarah, kekesalan dan air mata pada wanitanya itu. Nafas Anindya menggebu, wanita itu kembali memukuli Anindya dengan sekuat tenaga sambil menangis.
"Hiks … anda jahat, tidak mendengarkan saya dulu dan langsung tarik kesimpulan, dasar tidak mengerti wanita, menyebalkan!!!" gerutu Anindya sambil terus memukuli Arsen.
Arsen memegang kedua pergelangan tangan Anindya hingga pukulan wanita itu terhenti, Arsen menarik Anindya ke dalam pelukannya meski wanita itu tak henti memberontak.
"Sssstttt … baiklah aku minta maaf, sekarang katakan dan aku janji tidak akan memotongnya lagi." Tutur Arsen dengan lembut sambil mendekap tubuh Anindya.
"Hiks … saya mau nikah sama anda, Pak." Lirih Anindya seketika membuat jantung Arsen ingin melompat dari tempatnya.
Arsen melepaskan pelukannya, ia menangkup wajah Anindya. "Assa, apa kamu serius?" tanya Arsen berbinar.
"Tidak, Pak. Saya sedang berbohong, selamat anda kena PRANK!" jawab Anindya diakhiri wajah datar, kesal sekali rasanya karena Arsen kembali bertanya padahal ia sedang serius.
"Aaaaaa … aku mencintaimu, Assa." Ungkap Arsen kembali mendekap Anindya dengan erat.
"Iya saya tahu, tapi saya belum bisa ikut anda pulang ke Jakarta Pak, saya harus mengurus masalah saya dengan Mas Tio disini. Saya harus bertanggung jawab dengan memberi penjelasan saat saya menolak lamaran Mas Tio, Pak." Tukas Anindya membuat Arsen melepaskan pelukannya.
"Apa kamu tidak mau aku temani?" tanya Arsen dijawab dengan gelengan kepala.
"Anda selesaikan masalah anda disana dan saya akan menyelesaikan masalah saya disini, saya akan menghubungi anda jika saya sudah selesai dan siap pulang ke Jakarta." Jawab Anindya dengan senyuman.
Arsen mengangguk setuju, ia kembali memeluk Anindya dengan erat sebelum meninggalkan wanitanya ini. Setelah puas memeluk, Arsen akhirnya pergi dari rumah Anindya untuk kembali ke Jakarta dan mengurus masalahnya di sana.
__ADS_1
CIEE PAK ARSEN ABIS KENA TAMPARAN BUMIL, SAKIT NGGAK PAK 🤣🤣
To be continued