Tawanan Cinta Casanova

Tawanan Cinta Casanova
BAB 80


__ADS_3

Anindya memeluk tubuh ibu mertuanya dengan erat, setelah hampir satu tahun tak bertemu membuat rasa rindu terasa begitu besar diantara mereka. Begitupun dengan Arsen dan Papah Ferdo, oh ya jangan lupakan Arvin yang langsung menempel pada Opanya.


"Ya ampun cucu Opa sudah sebesar ini, sini Nak!" pinta Papah Ferdo membuka tangan bermaksud memeluk cucu kesayangannya.


Arvin dengan lucunya berlari ke arah Papah Ferdo dan langsung memeluknya erat. Anindya dan yang lainnya terkekeh melihat tingkah menggemaskan cucu dan kakek itu.


"Kalian istirahat saja, Arvin biar sama kami dulu." Tutur madam Meena pada putra dan menantunya.


"Baiklah, Mom. Aku dan Assa ke kamar dulu ya." Pamit Arsen menarik tangan istrinya menuju kamar, kamar yang sudah lama tak ia datangi.


Arsen membuka pintu perlahan, ia menghirup dalam-dalam aroma kamarnya yang tak pernah berubah, bahkan barang-barang disana pun masih tertata seperti terakhir kali ia tinggalkan.


Sementara Anindya terpana melihat kamar yang begitu besar milik suaminya, cat abu-abu yang memberi kesan dingin justru menjadi pelengkap benda-benda disekitarnya.


"Mas, ini kamar kamu?" tanya Anindya meniti setiap sudut ruangan.


"Iya, kenapa hmm?" tanya Arsen balik seraya berdiri di belakang istrinya.


Arsen melingkarkan tangannya di pinggang istrinya, ia menghirup dalam-dalam aroma segar dari tubuh Anindya yang tak pernah bosan untuk ia rasakan.


"Sedingin itukah kamu sampai kamar saja konsepnya begini?" tanya Anindya mengusap tangan suaminya.


"Anggap saja begitu, tapi aku memang suka warna yang gelap dan elegan seperti ini." Jawab Arsen.


"Tapi aku juga suka lihat yang bening, contohnya kaya kamu, apalagi kalo nggak pakai baju." Lanjut Arsen asal bicara.


"Mas ihh!!!" desis Anindya merona mendengar ucapan suaminya yang asal-asalan itu.


Arsen tertawa kencang, ia memang sangat suka jika sudah berhasil menggoda dan meledek istrinya yang cantik dan seksi ini.


"Sayang bikin dedek yuk, mumpung Arvin lagi sama kakek dan neneknya." Ajak Arsen semakin menjepit tubuh istrinya dalam pelukannya.


"Nggak, Mas. Kita baru sampai setelah perjalanan panjang, kamu jangan aneh-aneh dong!" tegur Anindya menggeleng pelan dibarengi helaan nafas.


"Hehehe lupa, ya udah nanti malam ya?" tanya Arsen tepat di telinga Anindya dengan suara seksoy nya.


Malam harinya satu keluarga itu makan di ruang makan yang memiliki meja panjang seperti meja hijau, Anindya melayani suami dan mertuanya lalu Arvin dan barulah dirinya.

__ADS_1


Hari ini tentu saja Anindya yang memasak, kebetulan Madam Meena request masakan Indonesia yang sudah sangat ia rindukan.


"Selamat makan." Ucap Papah Ferdo lalu mulai menyantap makan malamnya.


Anindya menyantap makan malamnya sambil membantu putranya juga, ia mengelap sudut bibir Arvin yang belepotan nasi.


"Oh iya Anin, Arvin sudah besar. Kamu nggak ada ingin nambah anak?" tanya Madam Meena.


"Mau kok, Mom. Tapi memang belum dikasih jadi mau gimana lagi." Jawab Anindya seraya tetap menyuapi Arvin.


"Tenang saja, Mom. Aku akan berikan kalian cucu yang banyak agar tidak berebut saat main dengan cucu kalian. Nanti malam mau proses lagi, jadi kami titip Arvin ya." Timpal Arsen dengan begitu bangga.


Papah Ferdo dan Madam Meena hanya bisa terkekeh, sementara Anindya sudah malu mendengar ucapan suaminya yang tanpa kenal malu.


"Ya sudah Arvin malam ini bobok sama Opa dan Oma ya." Ajak Madam Meena pada cucunya.


Setelah selesai makan malam, Arvin langsung dibopong ke kamar Opa dan Oma nya sementara Arsen langsung menyeret lembut istrinya ke kamar.


"Apa sih, Mas?!" tanya Anindya dengan sewot.


"Nggak usah bawa-bawa orang tua, bilang aja kamu yang pengen!" Celetuk Anindya masih sewot.


"Hehehe iya, yaudah yuk!" ajak Arsen menggendong tubuh istrinya lalu membanting pelan ke ranjang.


Arsen menindih tubuh istrinya dengan bibir yang mulai andil, jika sudah begini maka Anindya hanya bisa pasrah menikmati tiap hujaman yang suaminya berikan. Malam itu Anindya dan Arsen sama-sama mencapai puncak kenikmatan bersama dengan peluh membasahi tubuh mereka masing-masing. Untung saja Arvin tidak ada disana, jika ada maka mata bocah itu akan ternodai.


***


Satu Minggu sudah Arsen dan Anindya berada di negara orang, lebih tepatnya di rumah orangtua mereka yang justru tampak nyaman dengan kehadiran mereka disana, bahkan madam Meena meminta Anindya dan Arsen untuk menetap disana.


"Udah nggak apa-apa, lagipula bisnis kan bisa dipantau disini. Perusahaan pusat juga berada di negara ini jadi kamu masih bisa pantau jarak jauh." Ucap Papah Ferdo pada Arsen.


"Aku perlu jawaban juga dari Assa, Dad." Sahut Arsen lalu menatap istrinya.


"Aku senang bisa berada disini, tapi jika harus menetap dalam waktu dekat maka belum, Mom, Dad. Mungkin jika usia Arvin sudah lebih besar kami akan tinggal disini." Ujar Anindya menatap kedua mertuanya bergantian.


"Ya sudah tidak apa-apa, kami juga tidak memaksa, Nak." Tutur Madam Meena dengan lembut.

__ADS_1


"Ya sudah aku akan buat teh nya, sebentar ya." Ucap Anindya beranjak dari duduknya.


Anindya baru melangkah sedikit namun tiba-tiba kepalanya terasa begitu pusing, Anindya memegangi kepalanya lalu tangan lainnya menutup mulutnya.


Arsen yang melihat gelagat istrinya lantas ikut bangun, ia mengusap punggung istrinya lembut.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Arsen dengan lembut.


"Kepala aku pusing, Mas. Mulutku juga-- uwekkk …" ucapan Anindya terhenti saat tiba-tiba merasa mual.


Anindya berlari ke wastafel lalu memuntahkan cairan bening, Arsen yang khawatir lantas menyusul istrinya. Madam Meena ikut panik, ia takut terjadi apa-apa pada menantunya.


Anindya masih memuntahkan cairan bening, Arsen dengan telaten memijat tengkuk Anindya yang masih mual-mual.


"Mas, hiks … perut aku mual, kepala aku pusing terus lidah aku pahit!!!" rengek Anindya tak seperti biasanya.


Arsen tampak kebingungan melihat sifat istrinya yang terhitung dua hari ini manja padanya, bahkan kemarin malam Anindya marah hanya karena ia tak henti bermain dengan Arvin dan dia di cuekin.


"Mommy panggilan dokter!" ucap Madam Meena lalu pergi.


Arsen membawa istrinya ke kamar sambil menunggu dokter datang, ia merebahkan tubuh istrinya pelan lalu disusul olehnya.


"Kamu kelelahan, Sayang. Tidur ya?" tutur Arsen mengusap kepala Anindya.


"Jangan pergi ya, temani aku bobok." Ucap Anindya dengan puppy eyes nya.


Arsen ikut tertidur bersama istrinya, Anindya mendusel di leher Arsen yang harus banyak-banyak istighfar karena nafas Anindya menerpa lehernya. Setelah beberapa lama akhirnya Anindya tertidur disusul olehnya.


Arsen terbangun saat pintu kamarnya dibuka oleh Madam Meena yang datang bersama seorang dokter, Arsen beranjak dari ranjang lalu menghampiri dokter dan bicara dengan bahasa asing.


Dokter mulai memeriksa keadaan Anindya, ia tampak beberapa kali mengerutkan keningnya lalu tersenyum.


"good luck sir. your wife is pregnant!" Ucap dokter membuat Arsen tersenyum lebar.


SATU BAB MENUJU TAMAT 🥰


To be continued

__ADS_1


__ADS_2