Tawanan Cinta Casanova

Tawanan Cinta Casanova
BAB 39


__ADS_3

Surabaya, 10 November 2021 


Anindya baru saja sampai dirumah kayu kuno namun terlihat begitu rapi dan bersih. Inilah rumahnya sekarang, tempat yang pernah ia jadikan sebagai tempat tinggal saat masih kecil dulu bersama kedua orangtuanya.


Rumah itu adalah rumah peninggalan nenek deri ayah Anin. Neneknya sudah meninggal sehingga kini rumah itu kosong, namun kini tidak lagi, Anin akan menjadi penghuni rumah itu sekarang.


"Yaey, Alhamdulillah ya Nak kita sampai juga disini." Gumam Anindya mengusap perutnya.


Anindya menghela nafas, ia tersenyum menatap hamparan sawah dan kemerlip lampu yang terlihat dari jendela kamarnya. Entah mengapa tiba-tiba ia teringat pada rumah Arsen, lebih tepatnya teringat pada pria itu.


"Lupakan saja Anin, pak Arsen sudah bukan atasanmu lagi dan anggaplah kau tidak pernah menemuinya!" sentak Anindya memukul pelan wajahnya sendiri.


Anindya beranjak dari duduknya, ia memilih untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya sebelum beristirahat.


Sementara itu ditempat lain, Arsen tampak menggenggam gelas di tangannya dengan kuat. Tatapan matanya merah sarat akan amarah di dalamnya, rahangnya yang tegas tercetak begitu jelas.


"Cari lagi, aku ingin Assa kembali. CARI!!! KALIAN HARUS MENCARI DAN MENEMUKAN ASSA!!" Ucap Arsen diakhiri teriakan dan lemparan gelas yang melayang tepat mengenai tembok ruangan.


"Baik, Boss." Balas salah satu anak buah Arsen menyakinkan.

__ADS_1


Arsen memijat pelipisnya yang terasa sakit, ia kembali duduk dan seketika berpikir mengapa Anindya begitu berani sampai mengambil langkah pergi darinya.


"Assa, kenapa kau meninggalkanku." Gumam Arsen pelan.


Arsen mengerang frustasi, ia segera keluar dari ruangan nya itu untuk kembali ke rumah. Hatinya berharap semoga saat ia sampai dirumah, ia akan bisa melihat Anin yang menyambutnya dengan senyuman manis dan hangat.


Arsen mengendarai mobil dengan kecepatan cukup tinggi, lagipula hari sudah malah dan jalanan cukup sepi. Hanya butuh waktu kurang dari satu jam akhirnya Arsen sampai di pekarangan rumahnya.


"Assa." Panggil Arsen dengan semangat seraya melangkah masuk ke dalam rumah.


"Arsen, kau sudah pulang?" tanya Madam Meena menghampiri putranya.


"Arsen, apa kau lupa bahwa Anindya sudah pergi." Jawab Madam Meena seraya mengusap bahu putranya.


Seketika wajah Arsen berubah, pria itu menatap sang Mama lalu bergantian meniti ruangan besar dirumahnya itu. Benar, tidak ada Anindya disana, tidak ada senyuman dan harum tubuh wanita itu dan rumah, tampak begitu sunyi tanpa kehadiran Anindya.


"Arsen, lupakan wanita itu dan menikahlah dengan Clara. Clara juga bisa memberikan kamu anak dan cucu untuk Mommy." Ujar Madam Meena berusaha membuat putranya mengerti.


"Hentikan, Mom. Aku sedang tidak ingin berdebat, jadi jangan membahas apapun yang bisa memancing emosiku!" Balas Arsen dengan malas.

__ADS_1


Arsen menghela nafas, tanpa berkata-kata ia segera naik ke kamarnya. Kepalanya hanya dipenuhi oleh Anindya, bahkan saat ia berpapasan dengan Clara, Arsen hanya diam saja.


Sesampainya di kamar, Arsen masuk dan tak lupa mengunci pintunya. Arsen memejamkan mata, menghirup dalam-dalam udara yang masih meninggalkan aroma harum tubuh Anindya disana.


Arsen melangkahkan mendekati ranjang, ia berbaring di tempat biasa Anin tidur. Bantal yang selalu ia jadikan ganjalan kepalanya berhasil menyisakan aroma harum mint yang berasal dari rambut Anindya.


Arsen rindu, ia rindu mengusap rambut panjang Anindya bahkan kini seharusnya ia akan mengusap perut besar wanita itu yang tengah mengandung anaknya.


"Assa, kenapa kau pergi. Kenapa pergi meninggalkanku dan membawa anak kita." Gumam Arsen, matanya mengarah kepada bantal seakan ia bicara pada Anindya.


Arsen menjatuhkan kepalanya di bantal, ia memeluk selimut dan membayangkan bahwa ia sedang memeluk Anindya. Katakanlah bahwa Arsen gila, baru satu hari ditinggal oleh Anindya tetapi penampilannya sudah sedikit kacau.


Meski demikian, Arsen masih belum menyadari apa kesalahan yang ia lakukan sampai membuat Anindya memilih untuk pergi.


Arsen pria pengecut dan sangat labil, biasa hidup bebas tanpa komitmen membuatnya tak pernah memikirkan perasaan orang lain termasuk Anindya, wanita malang yang Arsen jadikan tawanan selama beberapa bulan sampai akhirnya wanita itu memilih untuk pergi.


UDAH SALAH, NGGAK SADAR DIRI LAGI🥴


Nanti up lagi, aku sekolah dulu ya. See you readers cantik dan ganteng 😗

__ADS_1


To be continued


__ADS_2