Tawanan Cinta Casanova

Tawanan Cinta Casanova
BAB 58


__ADS_3

Tampak dekorasi yang cukup mewah menghiasi ballroom hotel tempat Arsen dan Anindya melangsungkan pernikahan mereka. Tamu-tamu yang diundang pun tidak terlalu banyak dan sebagian besar adalah rekan-rekan bisnis Arsen serta Papah Ferdo.


Anindya dalam balutan gaun putih nya terlihat begitu cantik dan menawan, meski perut wanita itu sudah membesar tak mengurangi keanggunan yang terpancar dari sosok ibu hamil itu. Kini Anindya telah menyandang status sebagai istri dari Arsenio Lucifer.


"Selamat ya Pak, dan Bu Anin." Ucap Zay menjabat tangan Arsen dengan hangat.


Arsen hanya membalas dengan deheman saja, hal itu sontak membuat Anindya melengos melihat respon suaminya yang benar-benar menyebalkan.


"Terima kasih, Pak Zay. Cepat nyusul ya," balas Anindya memberikan senyuman yang begitu ramah dan manis.


Zay menganggukkan kepalanya lalu segera turun dari pelaminan, membiarkan tamu-tamu lain ikut memberikan ucapan serta doa kepada pasangan pengantin baru itu.


"Selamat ya Pak Arsen, ya ampun anda tampan sekali." Celetuk Lena, salah satu karyawan Arsen yang menyukai pria itu.


Kini giliran Anindya yang menekuk wajahnya, ia sangat tahu bahwa wanita itu tengah gatel kepada suaminya.


"Makasih Mbak Lena sudah bersedia datang, cepet nyusul ya biar nggak gatel." Celetuk Anindya mendapat lirikan terkejut dari Arsen.


"Jarinya, pasti jadi Mbak Lena gatel kan mau pakai cincin nikah." Lanjut Anindya tertawa dibuat-buat.


Sementara Arsen hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah lucu istrinya, ia pun tidak berniat menjabat tangan karyawannya itu sampai akhirnya Lena memutuskan untuk turun setelah disindir oleh Anindya.


"Heumm … Mama Anin serem ya." Celetuk Arsen tiba-tiba seraya merengkuh pinggang istrinya.


"Kenapa, kamu suka ya digoda sama dia itu?" tanya Anindya menyipitkan matanya.


"Mataku nggak buta, Sayang. Lagian dia sama kamu mah bagai apa ya kalo langit dan bumi mah pasaran." Pungkas Arsen pura-pura berpikir.


"Mas!!!" pekik Anindya memukul lengan Arsen kesal.


"Heh, kenapa nih baru sah udah main pukul-pukul aja?" tanya Madam Meena menatap putra dan menantunya.


"Arsen, Mom." Jawab Anindya kesal.


"Arsen, jangan terus menggoda istrimu, lihat dia sudah sangat marah." Tegur Papah Ferdo menggeleng pelan.


"Lucu, Dad. Menggoda istriku yang manis ini sangatlah menyenangkan." Timpal Arsen mencubit pipi istrinya gemas.

__ADS_1


"Tuh kak, Mom!!!" adu Anindya melepaskan tangan Arsen dari pipinya.


"Arsen!" Seru Madam Meena melototkan matanya.


"Sudah sudah, berbahagialah kalian ya, dan jangan lupa untuk membuat banyak cucu untuk Papah dan Mamah." Ucap Papah Ferdo lalu memeluk Arsen.


"Thanks, Dad." Tutur Arsen mendapat balasan berupa tepukan di punggungnya pelan.


Madam Meena pun memeluk tubuh Anindya dengan biasa, ia bukannya enggan memeluk menantunya, hanya saja perut bulat itu membuat nya harus berhati-hati.


"Terima kasih, Mommy sudah mau menerimaku menjadi seorang menantu." Ucap Anindya menatap hangat mertuanya.


Madam Meena tersenyum manis. "Mommy yang terima kasih karena sudah merubah Arsen dan mau memberikan Mommy seorang cucu." Balas Madam Meena mengusap lembut wajah Anindya.


"Ya sudah, kami temui teman-teman dulu ya. Anin, duduklah Nak, kamu pasti lelah." Tutur madam Meena membantu Anindya duduk.


Anindya menurut, ia duduk karena sejujurnya memang kakinya terasa pegal. Setelah Madam Meena dan Papa Ferdo turun dari pelaminan, Arsen ikut duduk disebelah istrinya.


"Mau makan atau minum, Sayang?" tawar Arsen dengan penuh perhatian.


"Haus, aku mau makan." Jawab Anindya melenceng.


Anindya terkekeh lalu menganggukkan kepalanya, saat Arsen bangkit dari duduknya memanggil pelayan, tanpa sengaja ia menatap ke arah pintu masuk. Senyum Anindya luntur begitu saja melihat siapa yang datang ke pernikahan nya, bahkan saat Arsen kembali duduk di sebelahnya ia masih tak bergeming.


Sementara Arsen mengikuti arah pandang Anindya yang tampak terkejut, Arsen melihat ternyata keluarga istrinya yang jahat itu datang dan tentu saja ia yang mengundangnya.


"Aku sengaja mengundang mereka, aku ingin mereka tahu bahwa gadis yang selalu mereka jadikan budak kini sudah menjadi ratu." Ucap Arsen menjelaskan.


"Mas, kamu tahu?" tanya Anindya menatap suaminya terkejut.


"Tentu saja, dan aku benci orang-orang yang telah membuat wanitaku menderita." Jawab Arsen menatap keluarga Anindya sinis.


Anindya dan Arsen sama-sama bangkit dari duduknya saat Dela dan kedua orangtuanya naik ke pelaminan. Arsen langsung menggenggam tangan istrinya lalu tersenyum.


"Anin, ya ampun apa kabar, Sayang??" tanya Bibi Anindya seraya memeluk Anin sok akrab.


Anindya hanya diam tak membalas, ia teringat bagaimana perlakuan kejam paman dan bibinya terutama sepupunya itu.

__ADS_1


"Anin, selamat atas pernikahan nya ya." Tutur Dela memeluk Anindya juga.


"Semoga pernikahan nya hancur." Bisik Dela pelan hingga hanya Anindya yang dapat mendengarnya.


Anindya menghela nafas, ternyata keluarganya belum berubah juga. Ia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih, aku sangat tersanjung Paman dan bibi bisa datang ke pernikahanku." Ucap Anindya dengan senyuman mengembang.


"Oh iya, Dela. Bagaimana dengan pendidikanmu, aku harap kamu bisa lulus dan mendapat nilai meski aku sudah tidak mengerjakan tugasmu lagi." Lanjut Anindya menyindir.


Arsen tersenyum tipis, ia suka melihat istrinya yang berani angkat bicara, ia tak akan membiarkan istrinya kembali ditindas.


"Anin, apa maksudmu?" tanya Paman Anindya dengan senyuman meski hatinya dongkol.


"Seperti yang aku katakan tadi, Paman." Jawab Anindya dengan santai.


Anindya menggandeng tangan Suaminya, ia mengusap lengan Arsen lembut lalu mendongak dengan wajah dibuat semanis mungkin.


"Sayang, aku lapar. Tolong pinta pelayan membawakan makanannya ke sana saja, aku lelah sekali terus disini." Pinta Anindya menunjuk salah satu meja kosong.


"Apapun untukmu, Sayang." Balas Arsen hangat seraya mengusap dagu Anindya.


Anindya kembali menatap sepupu, Paman dan bibinya. "Maaf ya, Bi. Aku kesana dulu," pamit Anindya.


"Silahkan nikmati makanan nya, saya dan istri saya permisi." Sambung Arsen lalu menggandeng tangan istrinya turun dari pelaminan.


Setelah kepergian Anindya dan Arsen, wajah ketiga orang itu berubah bahkan tangan Dela mengepal dengan sempurna disamping badannya.


"Sombong sekali dia, padahal dulu hanyalah seorang budak." Ketus Bibi Anindya.


"Hmm, benar. Lihat saja, aku pasti akan membalas!" sahut Dela begitu kesal.


"Sudahlah kita akan mengurus anak itu nanti, ayo kita nikmati makanan nya." Ajak Paman Anin pada anak dan istrinya.


KELUARGA JAHANAM😤


Btw, satu bab lagi nggak nih, kebetulan adegan panas lhoo, kan lagi ujan jadi gimana gitu 😂😂

__ADS_1


To be continued


__ADS_2