Tawanan Cinta Casanova

Tawanan Cinta Casanova
BAB 49


__ADS_3

Arsen tampak lahap makan bubur buatan Anindya, bukan hanya lezat rasanya tapi juga nagih apalagi disuapin langsung oleh wanita yang paling dicintainya itu.


Anindya pun terlihat telaten menyuapi Arsen, sesekali tangannya akan bergantian untuk mengompres dahi Arsen yang terasa panas.


"Lain kali jangan seperti ini, Pak. Kesehatan itu nomor satu dan anda tidak boleh menyepelekan nya." Ucap Anindya menasehati.


Arsen tersenyum manis lalu mengangguk paham, ia suka saat mendengar suara Anindya yang menasehatinya apalagi jika dibarengi amarah, lucu dan manis menurut Arsen.


"Kenapa anda menatap saya begitu, Pak?" tanya Anindya mengerutkan keningnya saat merasa Arsen terus memperhatikan nya.


"Cantik, bukan hanya wajah tapi sifat dan hati kamu juga tak kalah cantik, Assa. Bahkan pria bejat sepertiku saja takluk padamu," jawab Arsen seketika membuat pipi Anindya terasa panas.


"Aku suka melihat wajahmu yang malu-malu begini, saat dulu aku dirawat pun yang ada di pikiranku hanya dirimu, berharap kamu datang untuk menjengukku." Lanjut Arsen sambil mengusap wajah Anindya.


"Dirawat, anda sakit?" Tanya Anindya tak tahu jika Arsen mengalami kecelakaan.


"Aku bahkan hampir mati, Assa." Jawab Arsen diakhiri senyuman yang hanya bisa dilihat oleh Anindya seorang.


"Aku sudah bilang bahwa aku sudah seperti orang tidak waras, selama kepergian mu yang aku lakukan hanya minum dan merokok. Aku mengalami kecelakaan mobil saat menyetir dalam keadaan mabuk dan frustasi karena kehilanganmu, saat itu aku berpikir bahwa aku akan tiada tetapi ternyata Tuhan masih memberiku kesempatan untuk menebus semua dosaku padamu meski aku juga harus menerima hukuman yang setimpal." Jelas Arsen panjang lebar.


"Hukuman apa?" tanya Anindya berat.


Air matanya kembali berjatuhan, membayangkan seperti apa kehidupan Arsen saat ia tinggal pergi. Terlihat dari penampilan Arsen yang berantakan dari sebelum ia pergi dan sekarang sangatlah jauh.


"Aku sakit, Assa. Aku menderita impotensi, dokter bilang karena aku mengkonsumsi alkohol secara berlebihan, namun aku menyangkal nya, aku yakin penyakit ini karena aku dulu jahat pada wanita, terutama padamu." Jawab Arsen menundukkan kepalanya, ia sangat malu pada Anindya.

__ADS_1


Anindya tersentak mendengar ucapan Arsen, ia meletakkan mangkuk bubur di meja lalu menarik Arsen ke dalam pelukannya. Ia usap punggung Arsen dengan lembut sambil sesekali bibirnya mencium bahu Arsen yang bergetar.


"Maafkan aku, Assa. Aku tahu alasan kamu pergi adalah karena kamu melihatku berciuman dengan Clara, tapi sejujurnya itu bukan sepenuhnya kesalahanku, saat kamu datang itu tepat sekali dia memaksa untuk menciumku." Lirih Arsen dalam pelukan Anindya.


"Assa, aku sudah lama jatuh cinta padamu tapi aku terlalu bodoh untuk menyadarinya." Lanjut Arsen semakin mengeratkan pelukannya.


"Sssttt … lupakan saja, Pak. Yang terpenting sekarang adalah anda harus kembali sehat, saya yakin anda bisa, Pak." Tutur Anindya dengan lembut.


Arsen melepaskan pelukannya, ia menatap Anindya dengan lembut. "Kamu tidak jijik padaku, Assa?" tanya Arsen membuat Anindya tersentak.


"Anda bicara apa, Pak?" Tanya Anindya terkejut.


"Clara saja menolak menikah denganku saat tahu kondisiku, aku senang karena itu tapi hal itu juga membuatku malu padamu." Jawab Arsen pelan.


Arsen menggenggam tangan Anindya dengan erat, ia menciumnya lembut lalu kembali menatap Anindya yang masih terus tersenyum.


"Menikahlah denganku, Assa. Mari bangun kebahagiaan bersama!" ajak Arsen sungguh-sungguh.


Anindya terdiam mendengar lamaran Arsen yang tiba-tiba, entah mengapa ia teringat pada Tio, lamaran pria itu datang sebelum lamaran Arsen, namun hatinya ingin menerima Arsen saja.


"Pak, saya sudah dilamar oleh orang lain." Ucap Anindya menatap Arsen dalam.


Arsen mengangguk paham, asisten Lee sudah memberitahunya dan ia siap menghadapi pria yang melamar wanitanya.


"Aku tahu, karena itulah aku cepat datang kesini. Aku tidak akan memaksamu lagi Assa, kamu bebas memilih." Tutur Arsen berusaha tenang.

__ADS_1


Anindya menggigit bibirnya, ia membuka mata saat mendengar sebuah suara dari luar rumahnya.


"Sebentar ya, Pak. Sepertinya ada tamu," ucap Anindya segera keluar dari kamar nya.


Arsen turun dari ranjang, ia ikut keluar dari kamar Anindya untuk melihat siapa yang datang ke rumah wanitanya. Arsen mengerutkan keningnya melihat seorang pria yang datang, apakah pria itu adalah pria yang melamar Assa-nya.


"Mbak Anin, ini saya bawakan--" Ucapan Tio terhenti saat melihat Arsen.


Anindya mengikuti arah pandang Tio, ia melihat Arsen berdiri disana. Suasana berubah canggung, Anin menatap Tio dan Arsen bergantian.


"Mas Tio, perkenalkan dia Pak Arsen, atasan saya dulu di kantor." Ucap Anindya memperkenalkan.


Arsen mendekat, ia menjabat tangan Tio lalu tersenyum. "Arsen, ayah bayi yang dikandung Assa." Ucap Arsen dengan bangga.


"Tio, Mas. Saya yang ingin menjadi ayah untuk anak anda sekaligus suami Mbak Anin." Balas Tio dengan sopan namun juga tajam. 


Anindya meringis, ia sedikit ngeri melihat cara berkenalan kedua pria ini. Ucapan mereka sangat berbahaya, ia saja tetap biasa meski sejujurnya sedang dag dig dug karena di hadapi dua pria yang sama-sama memiliki sifat masing-masing.


"Nak, Mama akan tetap memilih Papamu, tapi Mama tidak tahu harus mengatakan apa untuk menolak Mas Tio." Batin Anindya seakan meminta saran dari bayi dalam kandungannya.


ARSEN Vs TIO🥵🥵


lunas 3 bab, nanti kalo sempet aku tambah lagi deh satu bab 😘


To be continued

__ADS_1


__ADS_2