
Anindya tampak tersenyum lebar melihat antusias para warga desa yang datang ke rumahnya untuk sekedar memberikan makanan dan beberapa hadiah sederhana untuk bayinya. Ia tidak menyangka setelah menceritakan kebenarannya pada Tio kemarin warga desa akan menerimanya dengan baik, ia pikir akan di usir dari desa karena hamil tanpa suami.
Anindya melempar senyum pada Tio, pria baik itu sudah banyak membantunya.
"Neng, ini di makan ya biar bayinya makin sehat." Tutur Bu Kades, ibu Tio yang juga sangat baik pada Anindya.
"Nggih, Buk. Matur nuwun," balas Anindya dengan sopan.
Setelah beberapa saat satu persatu ibu-ibu pun pergi dari rumah Anin hingga meninggalkan Anindya dan Tio disana. Tio pergi keluar rumah karena tidak mau sampai terjadi fitnah jika mereka berdua saja di dalam.
"Mas Tio, makasih ya atas bantuannya, saya nggak nyangka warga justru menerima saya dengan baik." Ucap Anindya pelan.
"Sama-sama, Mbak. Lagipula disini Mbak kan tidak salah, begitu juga anak Mbak." Balas Tio sopan dan hangat.
Tio melirik Anindya yang masih tersenyum sambil menatap hamparan pemandangan yang memang dapat dilihat dari sana. Entah mengapa Tio terpukau akan kecantikan dan sifat lembut Anindya, ia sangat suka melihat senyuman Anindya yang merekah.
"Bodoh sekali pria itu sampai menyia-nyiakan wanita seperti Mbak Anin." Batin Tio dengan tatapan penuh kekaguman kepada Anindya.
"Mas Tio." Panggil Anindya menyadarkan Tio dari kekagumannya.
"Eh iya, Mbak?" sahut Tio terkejut lalu buru-buru mengalihkan pandangannya.
"Kenapa, Mas?" tanya Anindya saat tahu tadi Tio memandanginya.
"Ndak, Mbak. Ndak apa-apa," jawabnya dengan kepala menggeleng.
Anindya hanya manggut-manggut menanggapinya, ia kembali menatap lurus sambil mengusap perutnya.
Sementara itu di rumah Arsen, tampak pria itu terduduk di kamarnya sambil menonton film biru untuk mengembalikan kondisi tubuhnya, namun sayangnya semua itu tidak berhasil.
Arsen mengerem, ia membanting ponselnya hingga hancur tak berbentuk. Ia bangkit dari duduknya lalu berjalan gontai ke ranjangnya.
__ADS_1
"Assa, aku mohon kembalilah." Lirih Arsen sampai mengeluarkan air mata.
Arsen melihat ke arah kalender yang ada di meja nakas dekat ranjang, ia meraihnya lalu membalik bulan ke bulan sampai menemukan titik tanggal yang sengaja di buat oleh Anindya sebagai perhitungan kelahirannya.
"Aku harus menemukanmu, Assa. Aku harus menemukanmu sebelum hari kelahiran anak kita datang, ku mohon tunggu aku, sayang." Gumam Arsen menyeka sudut matanya yang berair seraya meletakkan kembali kalender ditangannya.
Arsen keluar dari kamar, ia berjalan menuruni anak tangga dan melihat ada kedua orangtuanya yang sedang minum teh sambil berbincang hangat.
"Mom, Dad. Apa ada kabar dari Assa?" tanya Arsen pada kedua orangtuanya.
Madam Meena dan Papa Ferdo menggelengkan kepalanya, mereka memang belum menemukan keberadaan Anindya. Jawaban itu sontak membuat Arsen terdiam, ia harus mencari keberadaan Assa-nya sendiri.
"Aku pergi, Mom!" ucap Arsen kemudian langsung keluar dari rumah.
"Arsen, Nak!! Kamu mau kemana, kamu harus istirahat!!!" panggil Madam Meena namun tak dihiraukan oleh Arsen.
Arsen keluar dari rumah menuju garasi mobil, ia meraih kunci mobil yang tak pernah digunakannya lalu mengeluarkan dari garasi.
Setelah pagar besi yang menjulang tinggi itu terbuka, Arsen langsung tancap gas meninggalkan pekarangan rumahnya. Meski baru keluar dari rumah sakit setelah kecelakaan, tak ada rasa takut sama sekali dalam diri Arsen pada kecepatan tinggi. Pria itu tetap mengendarai mobilnya dengan kencang.
Arsen pergi ke hotel yang dulu menjadi tempat Anindya bekerja, tempat yang membuat dirinya bertemu Anindya.
Arsen langsung mendatangi ruangan Manajer restoran tanpa mengetuk pintu.
"Pak Arsen, selamat siang Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya manajer itu terkejut.
"Berikan biodata mantan karyawan mu yang bernama Anindya Alyssa." Pinta Arsen buru-buru di laksanakan oleh si manajer.
Arsen menerima berkas nya, ia menepuk alamat Anindya dengan jari telunjuk kemudian langsung pergi meninggalkan hotel begitu saja.
"Aku akan menemukanmu, Assa." Gumam Arsen lalu kembali menjalankan mobilnya.
__ADS_1
Arsen mendatangi rumah paman dan bibi Anindya, rumah yang menjadi sel penuh siksaan, tak ada kasih sayang apalagi cinta disana, rumah itu bagai neraka untuk Anindya.
Penampilan Arsen yang tampan dan menggunakan mobil mewah sontak membuat beberapa orang disana menatapnya, mereka mulai bisik-bisik saat Arsen mengetuk pintu rumah paman Anindya.
"Maaf, anda mencari siapa?" tanya Rida begitu terkejut melihat seorang pria tampan datang ke rumahnya.
"Apakah benar ini rumah Anindya?" tanya Arsen datar.
Mendengar nama Anindya, Rida langsung mengerutkan keningnya, bahkan Dela dan ayahnya ikut keluar untuk melihat siapa sosok yang mencari keponakan mereka.
Dela tampak terpukau melihat ketampanan Arsen, ia berdehem lalu merapikan penampilannya.
"Maaf, Tuan. Tapi ada urusan apa anda mencari Anin?" tanya Dela dengan suara yang dibuat selembut mungkin.
"Apakah Anindya telah mencuri barang milik anda, atau bahkan dia sudah menggoda anda. Astaga anak itu benar-benar tidak tahu diri dan sangat menyusahkan!!" gerutu Rida tanpa tahu siapa itu Arsen.
Arsen melirik wanita berlipstik menor itu dengan malas, berani sekali wanita itu menghina wanitanya.
"Maaf, tapi Anindya adalah calon istri saya. Jika dia memang tidak ada, saya langsung pergi saja. Permisi!" pamit Arsen sontak membuat Rida dan Dela terkejut.
"T-tuan, apa anda bilang? calon istri?" tanya Paman Anin terbata.
"Ya, Anindya adalah calon istri saya dan kalian jika masih berani menghinanya maka kalian akan mendapatkan balasan dari saya." Jawab Arsen dengan tajam dan penuh ancaman.
Setelah mengatakan itu, Arsen langsung tancap gas meninggalkan rumah terkutuk yang pernah menjadi tempat tinggal Anindya. Arsen bersyukur tidak menemukan Anin disana, karena jika wanitanya ada disana sudah pasti orang-orang itu akan menyiksanya Assa-nya.
"Harus kemana lagi aku mencarimu, Assa." Gumam Arsen terus mengendarai mobilnya tanpa arah dan tujuan.
BANYAKIN AJA NYAKITIN ANIN, SEKARANG NYESEL KAN CARI-CARI DIA🤪
Babay, aku up lagi malam ya, mau sekolah 😗
__ADS_1
To be continued