Tawanan Cinta Casanova

Tawanan Cinta Casanova
BAB 45


__ADS_3

"Cari identitas keluarga Anin, orangtua dan juga paman serta bibinya, aku mau hari ini laporannya selesai dan berikan padaku!" ucap Arsen dengan begitu tegas.


Setelah mengatakan itu, Arsen segera keluar dari tempat yang menjadi markas anak buahnya saat ingin melakukan sesuatu yang berbahaya atau penting.


Kali ini Arsen tidak mengendarai mobilnya sendiri, ia duduk di kursi penumpang dengan Asisten Lee yang mengendarai mobilnya.


"Assa, aku sangat merindukanmu. Harus berapa kali aku mengatakannya agar kamu benar-benar kembali, Assa." Gumam Arsen yang masih bisa didengar oleh Asisten Lee.


"Tuan, maafkan saya. Apakah anda menyesal telah menyia-nyiakan nona Anindya?" tanya Asisten Lee dengan sopan.


"Jika saja aku sedang tidak baik, maka sudah pasti aku akan memukulmu, Lee. Tapi benar, aku menyesalinya, aku menyesal telah menyia-nyiakan wanita baik seperti Anin." Jawab Arsen pelan.


"Tuan, jika anda benar-benar menyesalinya, saya yakin anda akan segera bertemu dengan nona Anindya." Tukas Asisten Lee yang hanya dibalas anggukan kecil oleh Arsen.


Sementara Arsen yang sedang kalang kabut mencari keberadaan Anindya, wanita itu justru saat ini sedang duduk dengan jari-jemari yang saling bertaut. Perasaan terkejut memenuhi pikiran dan perasaan nya saat tiba-tiba seorang pria datang ke rumahnya membawa lamaran.


Anindya duduk dengan kepala menunduk di hadapan kades dan istrinya, disana juga ada Tio, pria itu duduk di tengah kedua orangtuanya.


"Maaf, Pak, Buk. Tapi saya tidak bisa menerima lamaran ini, saya tidak cukup baik untuk bersanding dengan Mas Tio." Ucap Anindya dengan yakin.


"Nggak, Mbak. Mbak adalah gadis yang baik, saya suka sama Mbak karena keluguan dan kepolosan Mbak." Sahut Tio yang terlihat lebih tampan hari ini.

__ADS_1


"Benar, Anin. Kami juga sudah setuju apabila kamu bersedia menjadi istri Tio," timpal Bu kades dengan penuh kasih sayang.


"Maaf, Buk. Tapi saya belum siap, lagipula saya sedang hamil, jadi bukankah haram seorang pria menikahi wanita yang sedang hamil." Ujar Anindya mengingatkan.


"Kami tahu, Nak. Karena itulah kami akan memberikan kamu waktu untuk berpikir sampai anak dalam kandungan kamu lahir, kami sangat berharap kamu bersedia menjadi istri Tio, Nak." Tutur Pak kades.


Anindya menggigit bibirnya, ia berat untuk memberikan jawaban, karena sejujurnya dalam hati Anin, masih ada Arsen disana. Pria jahat yang telah menghamilinya dan dengan bodoh justru sangat ia cintai.


Anin menggelengkan kepalanya pelan, ia harus bisa menata kehidupannya kembali. Saat ini Tio berdiri di depannya dengan tawaran penuh kebahagiaan dan seharusnya ia menerimanya bukan.


Anindya menganggukkan kepalanya. "Baik, saya akan memikirkannya, Pak, Buk. Saya akan memikirkan tentang lamaran ini sampai anak dalam kandungan saya lahir." Ucap Anindya berusaha tenang.


Tio tampak tersenyum lebar. "Terima kasih, Mbak. Semoga apapun jawabannya nanti, itulah yang terbaik." Sahut Tio yang dibalas senyuman oleh Anindya.


"Baiklah Anin, kami tunggu jawabannya 3 bulan kedepan, kami pulang dulu ya dan jaga kesehatan kamu dan bayinya." Ucap Bu kades seraya bangkit dari duduknya lalu memeluk Anin dengan hangat.


"Iya, Buk. Makasih ya," balas Anindya tulus.


Setelah kepergian Tio dan orangtuanya, Anindya kembali duduk dengan tatapan mata berkaca-kaca. Tangannya mengusap perut sementara matanya menatap kosong ke depan.


Anin mengatupkan kedua belah bibirnya, air matanya tiba-tiba meluruh begitu saja, entah mengapa saat mendapat lamaran Tio tadi hatinya terasa ganjal kepada Arsen, seakan ia telah mengkhianati pria itu.

__ADS_1


"Hiks … cukup Anin, hentikan pikiran bodohmu ini, Arsen sudah bahagia dengan dunianya, kau harus bisa memulai kehidupan baru, bukan terus terjebak pada perasaanmu untuknya yang tidak akan pernah terbalaskan!!!" Cetus Anindya sambil mengusap kasar air matanya yang justru semakin deras membasahi wajahnya.


Anindya memegangi perutnya, bayi dalam kandungannya menendang dengan sedikit keras, hal itu sontak membuat Anindya menatap ke perutnya.


"Apa kamu yang buat Mama seperti ini, Nak. Apa kamu yang buat perasaan Mama untuk Papa kamu justru semakin besar?" celoteh Anindya seakan bicara pada anak dalam kandungannya.


Anindya bangkit dari duduknya, ia berlari ke kamar lalu membuka lemari yang ada disana. Anindya meriah tas nya lalu mengeluarkan foto Arsen yang sengaja ia bawa dari kamar pria itu.


"Pak Arsen, bisakah kau pergi dari hati dan pikiran ku, biarkan aku bahagia, biarkan aku menata kehidupan ku lagi." Pinta Anindya seraya menggenggam bingkai foto Arsen erat.


"Seorang pria baik datang membawa banyak kebahagiaan untukku, pak. Tapi kenapa justru aku tidak bisa, aku tidak bisa menerima nya. Ku mohon pergilah pak, biarkan aku bahagia. Aku juga ingin bahagia dengan hidupku, aku tidak ingin terus menangisi nasib buruk ini." Lanjut Anindya lalu menyeka air matanya.


Anindya terduduk di pinggir ranjang, air matanya semakin deras membasahi wajah cantiknya yang putih bersih alami. Tanpa sadar Anindya membawa foto Arsen ke dalam pelukannya.


"Hiks … aku merindukan anda, Pak." Lirih Anindya semakin mengeratkan pelukannya pada foto Arsen, berharap bahwa ia sedang memeluk tubuh tegap dan hangat Arsen.


MBA ANIN, KOK AKU IKUT BANJIR SIH😭


Updated lagi gak???


To be continued

__ADS_1


Note. semua hal yang ada di cerita ini adalah khayalan author saja ya, jika ada kesalahan nama tempat bahkan suasana desa harap di maklumi, terima kasih 😇


__ADS_2