Tawanan Cinta Casanova

Tawanan Cinta Casanova
BAB 53


__ADS_3

Seminggu sudah sejak Arsen kembali dari rumah Anindya, kini masalah dikantornya telah terselesaikan dan hanya tinggal menunggu stabilitas perusahaan kembali meningkat.


Arsen dengan penuh semangat berhasil menyelesaikan segala permasalahan dalam waktu singkat, hal itu tentu ia lakukan demi bisa secepatnya menikahi wanitanya.


Bicara soal wanitanya, ia baru ingat jika belum menghubungi Anindya sejak pagi tadi. Arsen meraih ponselnya, menekan id kontak dengan nama 'Assa-ku' lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


"Kenapa Assa tidak menjawab panggilanku." Gumam Arsen saat Anindya tak kunjung mengangkatnya.


Arsen memijat pelipisnya, ia melihat kalender di mejanya. Rasa khawatir kian terasa saat menghitung kandungan Anindya yang semakin dekat untuk proses melahirkan.


Arsen bangkit dari duduknya, sambil berjalan keluar ruangannya, Arsen menghubungi Asisten Lee.


"Siapkan tiket ke Surabaya hari ini." Ucap Arsen lalu langsung memutuskan teleponnya sepihak.


Arsen masuk ke dalam lift, ia menekan tombol gf. Rasanya ia benar-benar takut jika terjadi sesuatu pada Anindya. Sesampainya di gf, Arsen berpapasan dengan Zay, kepada bagian HRD.


"Selamat siang, Pak." Sapa Zay dengan sopan.


"Siang." Balas Arsen datar, ia masih sangat ingat bagaimana dulu Assa sangat dekat dengan pria itu.


Arsen berlalu begitu saja dari hadapan Zay, ia melihat ke lobby dan sudah ada asisten Lee disana yang menunggunya.


"Tuan, kenapa tiba-tiba ingin ke Surabaya? Apa ada masalah dengan cabang perusahaan disana?" Tanya Asisten Lee seraya memakai seatbelt nya.


"Jika urusan perusahaan maka aku tidak akan sekhawatir ini. Assa tidak menjawab panggilanku, aku takut terjadi sesuatu padanya." Jawab Arsen seraya melonggarkan dasi yang melingkari lehernya.


Asisten Lee tidak membalas lagi, ia langsung tancap gas menuju bandara karena penerbangan pertama satu jam lagi. Jalanan siang itu cukup macet hingga membuat perjalanan menuju Bandara memakan waktu hampir satu jam, namun untungnya Arsen tidak terlambat.

__ADS_1


"Saya akan mengurus beberapa pekerjaan tersisa selama anda pergi, Tuan. Semoga anda dan nona Anindya segera bersatu," ucap Asisten Lee dengan tulus.


"Terima kasih, Lee. Sampai jumpa," balas Arsen kemudian langsung masuk ke pintu keberangkatan.


Sementara itu ditempat lain, Anindya baru saja bangun dari tidurnya, ia segera mencuci wajahnya lalu keluar untuk membeli beberapa barang kebutuhan dirumahnya. ia menyeka keringat di dahinya karena cuaca sangat panas hari ini.


"Makasih ya, Buk." Ucap Anindya setelah membayar belanjaannya.


Anindya segera pulang ke rumah, dalam kondisi hamil besar begini lelahnya terasa berlipat ganda dan berbaring adalah hal paling nyaman saat ini. Sekedar berbaring, bukan tidur.


Sesampainya di rumah ia langsung pergi ke dapur, Anindya menuang air ke dalam gelas lalu menenggaknya hingga tandas, ia simpan semua barang belanjaannya di meja dapur lalu segera pergi ke kamar untuk istirahat sebentar.


Anindya mengerutkan keningnya saat melihat ponselnya, ia menepuk jidatnya karena kelupaan membawa ponsel. Dengan segera Anindya meraih ponselnya, terlihat ada 15 panggilan tak terjawab dari Arsen.


"Astaga, pak Arsen pasti khawatir denganku. Aghhhh …" gerutu Anindya mengacak rambutnya.


Anindya mencoba menghubungi Arsen namun tak bisa, hal itu justru membuat Anindya gusar karena Arsen pasti sangat khawatir padanya yang tidak menjawab panggilan.


***


Sore hari menjelang magrib, seperti biasa Anindya akan segera masuk ke dalam rumah, cuaca juga sore ini turun hujan hingga membuat suasana desa lebih sepi.


Anindya baru saja mendaratkan bokongnya di kursi, namun ia baru teringat jika ia belum mengangkat pakaiannya yang ia jemur.


Anindya membuka pintu rumahnya, ia meraih handuk yang ia jemur di teras lalu memakainya untuk menutupi kepala. Anindya berjalan pelan menuruni anak tangga, karena hujan membuat tangga menjadi licin ditambah lagi sandal yang digunakan wanita itu berbahan karet.


Anindya terpeleset dipijakan tangga terakhir, ia membuka mata saat tubuhnya hampir jatuh jika tangan seseorang tidak sigap menangkap tubuhnya.

__ADS_1


"Akhhhh….." ringis Anindya merasakan kram di perutnya.


Anindya meringis, handuk yang ia gunakan untuk kepalanya jatuh begitu saja. Kepala Anindya mendongak dan melihat seorang pria tampan dengan rahang tegas yang menolongnya.


"Pak Arsen." Lirih Anindya melihat Arsen datang menolongnya.


Arsen tak bicara apapun, pria itu menggendong Anindya ala bridal style lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah. Arsen menurunkan Anindya pelan di kursi dengan dirinya berlutut di hadapan Anindya.


Tangan Arsen mengusap rambut basah Anindya lalu turun ke wajah. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Arsen dengan pelan.


"Iya, Pak. Saya tidak apa-apa karena anda yang menolong saya," jawab Anindya tersenyum manis.


"Kamu mau kemana memangnya hujan begini malah keluar rumah?" tanya Arsen seraya tangannya beralih mengusap perut besar Anin.


"Mengangkat cucian yang saya jemur, Pak." Jawab Anindya pelan, sungguh ia takut akan dimarahi oleh Arsen.


"Lain kali jangan pedulikan apapun yang membahayakan kamu, Assa. Baju-baju itu tidak lebih penting dari kamu dan anak kita," tutur Arsen menatap hangat wajah Anindya.


Anindya mengangukkan kepalanya patuh, ia ikut mengusap kepala Arsen lalu turun ke wajah saat dilihat pria itu lebih basah kuyup darinya.


"Kenapa anda kesini, Pak?" tanya Anindya tak kalah lembut.


"Aku khawatir karena kamu tidak menjawab panggilanku, kamu kemana hmm?" tanya Arsen beralih duduk di sebelah Anindya karena kakinya mulai pegal.


"Saya ketiduran, Pak. Maaf," jawab Anindya lirih.


Arsen menarik Anindya ke dalam pelukannya, ia usap kepala lalu turun ke punggung wanitanya dengan penuh kasih sayang. Hawa dingin hujan terkalahkan oleh kehangatan dari pelukan Arsen, benar-benar nyaman dan tenang.

__ADS_1


OTW SAH NIH, MAU DIUNDANG GAK??


To be continued


__ADS_2