
Usia kandungan Anindya semakin besar, kini kandungannya sudah memasuki bulan ke delapan hingga membuat Anindya harus ekstra hati-hati dalam mengerjakan apapun.
Selama dua bulan setelah lamaran Tio, pria itu kini benar-benar menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang yang ada untuk Anindya, bahkan pria itu dengan sangat antusias membelikan barang-barang bayi untuk anak Anindya.
"Mas Tio seharusnya nggak usah repot-repot gini, lagian baju-baju dari bu kades dan beberapa warga desa juga lumayan banyak." Ucap Anindya seraya memilah baju bayi pemberian Tio.
"Ya nggak apa-apa, Mbak. Semakin banyak maka semakin bagus kan, oh iya Mbak sudah minum susu?" tanya Tio seketika membuat Anin menepuk jidatnya.
"Lupa, Mas. Sebentar ya, saya mau buat susu dulu!" jawab Anindya lalu segera bangun dari duduknya.
Anindya membuat susu hamil lalu membawanya ke ruang tamu berikut dengan teh hangat yang biasa dibuat jika Tio sedang bertamu ke rumahnya.
"Diminum, Mas." Tutur Anindya seraya meletakkan secangkir teh di depan Tio.
Tio mengangguk lalu menyeruput teh hangat yang rasanya benar-benar enak, ada ciri khas dari teh buatan Anindya dan ia sangat menyukainya.
"Mbak, maaf sebelumnya. Mbak sudah memikirkan tentang lamaran saya, ya meski masih ada waktu satu bulan lebih untuk menjawabnya." Ucap Tio tampak tidak enak mengucapkan nya.
Anindya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Mas tenang saja, saya sudah ada jawabannya dan akan saya beritahu saat waktunya tiba. Semoga jawaban saya bisa menjadi yang terbaik untuk kita berdua," balas Anindya membuat Tio ikut tersenyum.
"Iya Mbak, hehehe." Tukas Tio diakhiri kekehan kecil yang mana membuat Anindya ikut tertawa karenanya.
Sementara itu di tempat lain, seorang pria tampak duduk di meja kerjanya dengan tumpukan kertas dimana-mana. Penampilannya sangat berantakan, sangat berbalik arah dari dirinya yang dulu.
Arsen, ya pria itu adalah Arsen. Pria berkemeja putih kusut dan dasi yang tak terpasang dengan benar itu adalah ceo Lcf Corporation. Arsen yang frustasi selama hampir 5 bulan tak menemukan Anindya membuat semua dalam dirinya berubah drastis.
Kumis yang tak di cukur, brewok di sekitar rahang tegas nya serta rambut yang mulai panjang karena tak dirawat. Jangan lupa mata merah dan aroma tubuh yang begitu menyengat bau alkohol.
"Permisi, Tuan. Akan ada meeting 30 menit lagi, ini materi yang akan dibahas." Ucap Asisten Lee seraya meletakkan berkas di meja Arsen.
"Lee, aku sedang tidak ingin bertemu siapapun. Tinggalkan aku sendiri, aku butuh ketenangan pikiran." Pinta Arsen dengan suara parau karena mabuk.
"Tuan, sudah terhitung dua bulan anda begini dan omset perusahaan pun mulai mengalami penurunan, jadi saya harus ikut bertindak Tuan. Anda harus bangkit demi perusahaan anda." Tutur Asisten Lee dengan sopan.
"Kau bilang bangkit? Aku bangkit? tidak bisa Lee, aku tidak bisa bangkit, aku membutuhkan Assa-ku Lee, aku membutuhkan nya!!!" ringis Arsen memukul pelan meja kerjanya.
"Tuan, anda butuh istirahat total, lebih baik sekarang anda pulang saja, mari saya antar!" ajak Asisten Lee memapah tubuh Arsen keluar dari ruangan nya.
Bisik-bisik para karyawan pun mulai terdengar, atasan mereka yang dulu menjadi idaman dan sangat diminati kini berubah sangat jauh, penampilan nya terlihat berantakan dan lebih ke tidak waras, datang ke kantor hanya untuk sekedar minum-minum saja.
Asisten Lee sebenarnya mendengar semua ucapan karyawan yang membicarakan Arsen, ia akan mengurusnya nanti, yang terpenting sekarang adalah membawa Arsen pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah keluarga Lucifer, Asisten Lee kembali memapah Arsen ke dalam rumah. Mereka disambut oleh suara perbincangan di ruang tamu dan ternyata ada Tuan dan Nyonya Lucifer serta Clara bersama kedua orangtuanya.
"Arsen, Nak!!!" pekik Madam Meena menghampiri putranya.
__ADS_1
"Lee, ada apa ini?" tanya Papa Ferdo pada asisten Lee.
"Tuan Arsen butuh istirahat, Tuan dan Nyonya besar." Jawab Asisten Lee.
"Tidak, aku tidak butuh istirahat. Aku menginginkan Assa, aku ingin Assa-ku!" tegas Arsen melepas rangkulan tangan asisten Lee.
"Mom, Dad. Apa yang terjadi pada Arsen?" tanya Clara menghampiri Arsen dan kedua orangtuanya.
"Tidak apa-apa, Nak. Arsen hanya kelelahan," jawab Madam Meena berusaha menutupi sesuatu yang sebenarnya terjadi pada putranya.
"Bohong, Clara. Kau mau menikah denganku kan?" tanya Arsen pada Clara.
"Arsen, kenapa bau tubuhmu sangat menyengat. Apa yang terjadi?" tanya Clara menutup hidungnya.
"Lupakan aroma tubuhku, dengarkan aku baik-baik sebelum kau memutuskan untuk menerima tawaran menikah denganku." Jawab Arsen seraya menatap tajam Clara.
"Aku sakit, aku tidak akan pernah bisa memberikanmu kepuasan sebagai istri karena aku menderita impotensi dan satu lagi, aku sudah tidak waras bahkan perusahaan ku diambang kehancuran." Jelas Arsen dengan begitu lantang.
"Arsen!!!" bentak Papa Ferdo mendengar ucapan ngawur putranya.
Arsen tak menghiraukan nya, pria itu tetap menatap Clara yang tampak gusar setelah mendengar penjelasan darinya.
"Masih mau menikah dengan pria gila sepertiku?" tanya Arsen menantang.
"Meena, Ferdo. Sorry, but we can't continue this matchmaking." Ucap Mama Clara yang enggan putrinya menikahi Arsen sehingga ingin perjodohan nya batal.
"Arsen, tutup mulutmu dan pergilah ke kamarmu." Pinta Madam Meena.
"No, aku tahu bahwa Clara selama ini hanya mengincar kekayaanmu saja, bahkan dia ini sudah memiliki kekasih, Mom!" pungkas Arsen menunjuk wajah Clara.
"Ferdo, katakan pada putramu untuk menjaga ucapannya." Kata Papa Clara tak terima.
"Lee, bawa Arsen ke kamarnya." Ucap Papa Ferdo diangguki oleh Asisten Lee.
Arsen segera dibawa ke kamarnya, sementara kedua orangtua Arsen berusaha membujuk keluarga Clara yang sudah membatalkan perjodohan, mereka menolak menikahkan Clara dengan pria tidak waras seperti Arsen.
"Hiks … bagaimana ini, Pah?" tanya Madam Meena menangis.
***
Malam harinya, kondisi Arsen sudah jauh lebih baik, bahkan pria itu terlihat lebih segar setelah mandi dan bersih-bersih diri. Kini Arsen berada di ruang kerjanya untuk minum-minum lagi, namun buru-buru dihentikan oleh Asisten Lee.
"Tuan, ada yang ingin saya katakan." Ucap Asisten Lee tanpa menatap Arsen.
"Hmm." Balas Arsen berdehem seraya membuka alkohol yang baru setelah Asisten Lee mengambil miliknya.
__ADS_1
"Saya akan bicara saat anda tidak lagi minum." Ujar Asisten Lee namun hanya dibalas kekehan kecil oleh Arsen.
"Tuan, saya tahu dimana nona Anindya." Ucapan Asisten Lee menghentikan aktivitas Arsen yang hendak menenggak minuman di tangannya.
Arsen mengangkat wajahnya menatap asisten Lee, ia meletakkan botol minuman ditangannya lalu mendekati asisten nya itu.
"Apa maksudmu, kau tahu dimana Assa?" tanya Arsen pelan.
Arsen tiba-tiba mencengkram erat kerah baju Asisten Lee. "Katakan dimana Assa, katakan!!!" bentak Arsen tepat didepan wajah asisten Lee.
"Tuan, dengarkan saya dulu maka saya akan mengatakan segalanya." Pinta asisten Lee tampak tenang.
Arsen melepaskan cengkraman di kerah baju asistennya, ia kembali duduk dan siap mendengarkan ucapan pria itu.
"Sebenarnya anak buah kita sudah menemukan nona Anindya di bulan pertama saat nona Anindya melarikan diri, benar Tuan, saya sudah tahu posisi nona Anin sejak 5 bulan terakhir." Ucap Asisten Lee seketika membuat Arsen melotot.
"Saya sengaja tidak mengatakannya pada anda, saya juga memerintahkan anak buah kita untuk tutup mulut dengan keberadaan nona Anindya, itu semua saya lakukan karena saya ingin anda menyadari kesalahan dan dosa anda Tuan." Tambah Asisten Lee tetap tenang.
Brakkk
Botol minuman itu melayang tepat di sebelah kepala Asisten Lee, andai kata Arsen melesat maka botol itu akan langsung pecah di kepala Lee.
"Berani sekali kau melakukan ini, Lee!!!" teriak Arsen sampai menggema di seluruh ruangan.
"Nona Anindya baik-baik saja begitu juga dengan kandungannya, dia bahagia Tuan karena itulah saya tidak mau jika dia kembali sedih saat anda memaksanya untuk kembali. Itulah alasan saya tutup mulut sampai anda benar-benar menyadari kesalahan anda." Balas Asisten Lee tanpa gemetar meski botol hampir mengenai kepalanya.
"Selama beberapa bulan terakhir saya melihat kesungguhan anda, penyesalan dan ketakutan terlihat jelas yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk memberitahu Anda tentang keberadaan nona Anindya." Lanjut Asisten Lee.
"Dimana?" tanya Arsen lirih, kepalanya menunduk dengan nafas semakin terasa sesak.
"Mari kita pergi besok." Ajak Asisten Lee namun dibalas gelengan kepala oleh Arsen.
"Aku ingin seorang, Lee. Ku mohon, aku tidak bisa menahannya lagi untuk bertemu Assa." Pinta Arseh memelas dengan mata berkaca-kaca.
"Baiklah, Tuan. Namun ada satu lagi yang ingin saya katakan bahwa nona Anindya sudah mendapat lamaran dari anak kepala desa disana." Ucap Asisten Lee membeberkan hal yang membuat jantung Arsen mencelos.
"Nggak, Assa hanya milikku. Ayo pergi, aku tidak akan membiarkan Assa-ku diambil pria lain!" ajak Arsen dengan tidak sabar.
"Tuan, anda sudah benar-benar tobat kan?" tanya Asisten Lee seketika membuat darah Arsen mendidih.
"Aku akan memenggal kepalamu jika berani bicara lagi, tak cukupkah selama berbulan-bulan ini aku tampak hancur!!" jawab Arsen kesal.
"Maafkan saya, Tuan. Mari," tutur Asisten Lee mempersilahkan Arsen duluan.
OH TERNYATA SELAMA INI ASISTEN LEE DALANG NYA YA🤣 ASISTEN HUKUM BOS NYA 🙈
__ADS_1
To be continued