
Arsen menatap bangunan sederhana di depannya dengan mata berkaca-kaca, jadi ini tempat yang dipilih Anindya sebagai pelarian dan melampiaskan kesedihannya.
Demi bertemu dengan Anindya, Arsen rela malam-malam langsung berangkat dari Jakarta ke Surabaya dengan naik mobil, menghabiskan hampir 10 jam perjalanan yang bukan hanya membuat lelah tetapi juga pusing kepala.
Waktu menunjukkan pukul 7 pagi, rintikan hujan yang turun disertai embun membuat suasana disana terasa begitu dingin. Arsen tak peduli jika dirinya akan sakit, ia masih ingin berlama-lama di tempatnya sebelum memberanikan diri untuk menemui Assa nya.
"Tuan, mari kita kesana." Ajak Asisten Lee seraya memegang payung untuk Arsen dan dirinya sendiri.
"Nanti, Lee. Aku masih malu untuk menemui Assa," balas Arsen menggeleng pelan.
Tiba-tiba pintu rumah Anindya terbuka, wanita itu keluar dengan baju daster batik yang terlihat pas di tubuh mungilnya, jangan lupa gulungan handuk yang menandakan bahwa wanita itu baru saja selesai mandi.
Arsen tak kuasa menahan air matanya melihat Anindya, melihat wanita yang sudah berbulan-bulan di rindukannya dan jangan lupa perut Anindya yang tengah mengandung anaknya sudah semakin besar.
Kaki Arsen perlahan melangkah menaiki beberapa anak tangga dari batu yang menjadi jalan untuk sampai ke rumah Anindya. Tatapannya terpaku pada wanita yang saat ini masih sibuk dengan rambutnya sampai tak menyadari kehadirannya disana.
Kaki Arsen berhasil menginjak teras rumah Anindya, aroma tubuh Anin yang harus seketika menusuk indera penciuman Arsen, wangi mint yang menguar dari rambut wanita itu adalah aroma paling dirindukan oleh Arsen.
"Assa." Lirih Arsen dengan mata yang sudah semakin tak kuasa menahan air matanya.
Sementara Anindya yang saat itu sedang fokus mengeringkan rambutnya lantas terdiam mendengar suara yang sangat dikenalnya, panggilan yang hanya diberikan oleh satu orang, yaitu Arsen.
Anindya menegakkan tubuhnya, ia memejamkan mata lalu memberanikan diri untuk membalik tubuhnya.
"P-pak Arsen." Suara Anindya tak kalah lirih dari Arsen, matanya bahkan tak segan untuk menangis dengan deras.
Mata Anindya semakin terasa panas melihat penampilan Arsen yang berantakan, bulu-bulu yang tumbuh disekitar rahang Arsen dan rambut pria itu yang terlihat tidak terawat. Anindya melangkah maju mendekati Arsen, tangannya terulur mengusap wajah Arsen pelan.
"Assa, jadi disini tempat yang kamu pilih untuk lari dariku?" tanya Arsen membuat Anin mendongak menatap nya.
__ADS_1
"Selama berbulan-bulan aku berusaha mencarimu, Assa. Aku bagai orang tidak waras yang kehilangan jejakmu, aku hampir mati Assa." Tambah Arsen sambil menciumi tangan Anindya.
Anindya menangis, ia sampai menundukkan kepalanya dengan bahu gemetar karena terlalu keras menangis. Anindya tak menyangka jika Arsen akan mencari keberadaan nya, ia pikir selama ini Arsen telah bahagia dengan dunianya.
"Maafkan saya, Pak." Ucap Anindya tanpa menatap Arsen.
Arsen memegang dagu Anin lalu mengangkatnya hingga kini mereka saling bertatapan, Arsen menggelengkan kepalanya lalu mencium kening Anindya dengan hangat dan penuh kasih sayang.
"Aku yang minta maaf, Assa. Aku yang bersalah selama ini, aku sudah menyakiti perasaanmu, menghancurkan masa depanmu dan selalu memandang rendah dirimu." Balas Arsen menatap dalam mata wanitanya.
"Aku pria jahat, Assa. Tapi aku mohon berikan aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku telah berubah, aku mencintaimu Assa, aku mencintaimu dan anak kita." Lanjut Arsen memohon.
Anindya tak menjawab, wanita itu malah melingkarkan tangannya di pinggang Arsen dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu. Anindya menangis semakin keras, pertanyaan cinta Arsen barusan berhasil meruntuhkan pertahanannya untuk tidak memeluk pria itu.
Arsen membalas pelukan wanitanya, pelukan hangat yang sudah sangat lama tidak ia dapatkan dari Anindya. Sesekali bibir Arsen akan mendarat di puncak kepala Anin, memberikan kecupan penuh kasih sayang untuk wanitanya itu.
"Kamu hanya milikku, Assa." Lirih Arsen membuat Anindya tersenyum namun tak ayal air matanya justru semakin deras.
Tiba-tiba saja tubuh Arsen merosot ke lantai, hal itu sontak membuat Anindya dan asisten Lee sama-sama terkejut. Kepala Arsen terjatuh tepat di pangkuan Anindya, pria itu menatap lemah wanita yang akhirnya bisa kembali ia temukan.
"Assa, kamu mencintaiku tidak?" tanya Arsen sambil berusaha mengusap air mata Anindya.
Anindya meraih tangan Arsen lalu meletakkan di wajahnya, ia mengangguk dengan yakin, kini tidak perlu lagi ada yang ditutup-tutupi.
"Iya, Pak. Saya mencintai anda, bahkan sangat." Jawab Anindya dengan cepat.
Arsen menggenggam tangan Anindya dengan erat, ringisan mulai keluar dari mulutnya sampai membuat Anindya semakin khawatir.
"Akhhhhh … sakit!!!" ringis Arsen pelan.
__ADS_1
"Pak, anda kenapa Pak?" tanya Anindya menepuk pelan wajah Arsen.
"Nona, lebih baik kita bawa tuan ke dalam." Ujar Asisten Lee memberi saran.
Asisten Lee memapah tubuh Arsen lalu membawanya masuk ke dalam kamar Anindya sesuai ucapan Anindya sendiri. Arsen berbaring disana, guratan di wajahnya terlihat jelas yang menandakan bahwa pria itu masih kesakitan.
Anindya duduk di pinggir ranjang, ia mengusap kepala Arsen dan tangannya bergantian.
"Tubuh anda panas, Pak. Anda sudah makan?" tanya Anindya menatap Arsen yang ternyata juga sedang menatapnya.
"Kamu cantik sekali Assa, aku yakin jika anak kita perempuan maka wajahnya akan sama cantik denganmu." Bukannya menjawab Arsen malah mengalihkan pembicaraan.
"Pak, saya bertanya apa anda sudah makan?" tanya Anindya mengulang pertanyaannya.
Arsen tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. "Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir makan, yang aku ingat hanyalah dirimu." Jawab Arsen pelan.
"Pak!!" tegur Anindya terkejut sekaligus kesal mendengar jawaban Arsen.
"Sudah berapa kali saya katakan jangan pernah menyepelekan makan, lihat sekarang sakit kan!!" tukas Anindya marah.
Arsen justru tersenyum mendengar suara kesal Anindya, sudah lama ia tak mendengar suara cerewet wanita itu jika sedang berani padanya.
"Diam disini, saya akan buatkan makanan untuk anda. Jangan berani-berani bangun!" ucap Anindya mengacungkan jari telunjuknya kepada Arsen.
"Baiklah, Sayang." Balas Arsen mengangguk patuh.
GINI KAN, KETEMU? TERUS TIO GIMANA? ASSA SAMA TIO ATAU ARSEN?? HAYOOOO???
To be continued
__ADS_1