Tawanan Cinta Casanova

Tawanan Cinta Casanova
BAB 54


__ADS_3

Anindya menatap bangunan sederhana yang menjadi tempatnya berteduh dari panas dan hujan itu dengan nanar. Akhirnya hari ini ia akan kembali ke rumah Arsen sampai menjelang pernikahan nya dan Arsen dilangsungkan.


Arsen mengusap bahu Anindya pelan lalu beralih mengusap kepala wanitanya dengan penuh kasih sayang.


"Ayo, pesawatnya sudah akan berangkat 1 jam lagi." Ajak Arsen menggandeng tangan Anindya.


Anindya menghela nafas, ia lalu menatap Tio yang ada disana untuk turut melihatnya. Anindya tersenyum lalu mengangguk pelan.


"Makasih atas segalanya ya, Mas Tio. Saya permisi dulu," ucap Anindya tulus.


"Sama-sama, Mbak. Hati-hati, semoga Mbak dan anak sehat selalu." Balas Tio mendoakan.


"Amin, makasih atas doanya Mas." Pungkas Anindya sebelum akhirnya ia benar-benar masuk ke dalam mobil yang menjemputnya dan Arsen.


Arsen menatap Tio sesaat lalu tersenyum hangat, pertama kalinya ia begitu kepada orang selain Anindya dan itu ia lakukan karena ia tahu bahwa selama ini Tio membantu Anindya dimana-mana sulitnya.


Arsen menyusul Anindya masuk, mobil jemputan nya itu segera pergi meninggalkan pemukiman warga dan keluar untuk segera menuju Bandara.


Selama perjalanan Anindya hanya diam, hal itu membuat Arsen langsung merengkuh tubuh mungil wanitanya itu dan memeluknya erat.


"Bagaimana Dedek hari ini, apakah nakal?" tanya Arsen mengusap perut Anindya.


"Tidak sama sekali, Papa. Aku bahkan sangat pintar hari ini sehingga tidak merepotkan Mama." Jawab Anindya menirukan suara anak kecil.


Arsen terkekeh, ia mencium kening Anindya dalam lalu kembali menatap wanita itu dengan dalam. Anindya membalas tatapan Arsen hingga kini mereka saling bertatapan.


"Cantiknya, kamu milikku Assa." Puji Arsen seraya mengusap bibir Anindya.

__ADS_1


"Benarkah, apakah aku lebih cantik dari wanita-wanita kebanyakan?" tanya Anindya menyipitkan matanya.


"Tentu saja, Assa-ku adalah yang paling cantik." Jawab Arsen yakin.


Anindya tersenyum lalu menggenggam tangan Arsen. "Anda akan merubah diri Anda kan, Pak?" Tanya Anindya.


"Kamu masih meragukan ku?" tanya Arsen balik dengan sedih.


"Bukan begitu, tapi sifat Casanova anda itu akan hilang setelah anda benar-benar menikah dengan saya kan." Jelas Anindya tak kalah sedih karena Arsen sudah salah paham saja.


"Jika aku benar-benar sudah menikah denganmu, itu artinya saat ini aku masih boleh menjadi Casanova?" tanya Arsen usil untuk sekedar menggoda wanitanya.


Anindya membulatkan matanya mendengar pertanyaan Arsen, ia menatap pria itu dengan tajam. 


"Dasar menyebalkan!!!" gerutu Anindya memukuli Arsen dengan kepalan tangan kebanggaan nya.


"Tidak, lebih baik saya kembali saja ke desa dan menerima lamaran Mas Tio." Celetuk Anindya seketika membuat Arsen langsung memeluk Anin.


"Tidak boleh, kamu hanya boleh menikah denganku. Ya kan, Nak?" tanya Arsen di depan perut Anindya.


"Aku mau Papa baru saja." Jawab Anindya pelan.


Arsen mengangkat wajahnya, ia melotot kepada Anindya hingga mengundang gelak tawa dari wanita hamil itu. Arsen menangkup wajah mungil Anindya, ia menatap Anindya dengan tajam namun penuh cinta.


"Berani bicara begitu kamu ya, aku cium nih!" ancam Arsen mendekatkan wajahnya kepada Anindya.


"Tidak, tidak mau. Belum sah tidak boleh sentuh," tolak Anindya sambil tertawa dan berusaha menjauhkan Arsen darinya.

__ADS_1


"Tidak masalah icip-icip dikit sebelum sah, hehehe." Sahut Arsen lalu mengecupi seluruh wajah cantik Anindya.


"Hahaha, aduhh … aduh sakit, Pak!" Ringis Anin saat merasakan perutnya kram karena terus tertawa.


Arsen menegang, ia tampak ketakutan melihat Anindya yang tiba-tiba meringis. "Hei, Sayang. Ada apa, dimana yang sakit?" tanya Arsen tergesa-gesa.


"Nggak, nggak apa-apa Pak. Hanya kram saja dan itu biasa." Jawab Anindya menggeleng pelan.


***


Anindya tidur dengan kepala bersandar pada dada Arsen, seperti biasa jika naik pesawat maka kepalanya akan langsung pusing dan mual, ditambah lagi saat ini ia tengah mengandung, dan jika begini maka tidur adalah jalan keluarnya.


Arsen mengusap wajah Anindya yang terasa begitu halus, ia terpesona akan kecantikan Anin dan rasanya tak ada lagi wanita yang lebih cantik dari wanitanya ini.


"Astaga, Assa. Aku tergila-gila padamu!!" geram Arsen mencium kepala Anindya gemas.


"Maafkan aku atas sikapmu dulu, Sayang. Aku benar-benar pria yang jahat, namun aku bersyukur bisa bertemu dengan kamu sehingga aku bisa memperbaiki diri menjadi lebih baik. Aku mencintaimu!" lanjut Arsen mengungkapkan isi hatinya.


Arsen memejamkan matanya, ia ikut masuk ke dalam mimpi dan tidur bersama dengan Anindya. Tanpa Arsen ketahui bahwa sejak tadi Anindya sudah bangun dan mendengar ucapan Arsen padanya.


Anindya membuka mata, ia mengusap wajah tampan Arsen lalu mencium pipi pria itu dengan pelan.


"Saya juga cinta sama anda, Pak." Lirih Anindya lalu melingkarkan tangannya di pinggang Arsen sehingga pelukan mereka mengerat.


HAH SENYUM KALIAN, JOMBLO GAK USAH SENYUM. MINGKEM, AMBIL GULING TERUS PELUK DEH SEPUASNYA 🤪


To be continued

__ADS_1


__ADS_2