
Arsen tampak betah berlama-lama berbaring di pangkuan istrinya, bagi Arsen berbaring dengan kepala yang diusap istrinya jauh lebih nyaman dan menyenangkan. Sementara Anindya menurut sekali, dengan penuh kasih sayang ia mengusap rambut suaminya.
“Sudah lebih baik setelah diurut?” tanya Arsen seraya mengusap perut besar istrinya.
“Hmm … sudah, Mas. Asisten Lee mendapatkan tukang urut yang handal. Sampaikan terima kasihku kepadanya.” Jawab Anindya menunduk menatap wajah suaminya.
“Baiklah, Sayangku. Ingin jalan-jalan atau makan sesuatu?” Tanya Arsen tiba-tiba menawarkan.
Anindya tampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan suaminya, ia berusaha memikirkan makanan apa yang enak dimakan dalam cuaca dingin begini.
“Bakso dekat rumah bibi, Mas. Disana baksonya enak dan aku yakin kamu akan suka,” jawab Anindya membuat Arsen menghela nafas.
“Ya sudah pakai jaketmu dan kita pergi, tidak usah ganti baju karena aku suka melihat kamu yang pakai daster begini. Lebih manis,” tutur Arsen membuat Anindya tersenyum mendengarnya.
Arsen bangkit dari ranjang disusul Anindya yang ikut turun dari ranjang lalu berjalan mendekati lemari pakaian untuk mengambil jaket sesuai perintah suaminya tadi.
Anindya dan Arsen turun bersama, mereka bertemu Papah Ferdo dan Madam Meena yang sedang asik bersantai di ruang tamu.
“Kalian mau kemana?” tanya Madam Meena menatap Arsen da Anindya bergantian.
“Assa ingin makan diluar, Mom.” Jawab Arsen melirik istrinya.
“Apa Mommy dan Daddy ingin titip sesuatu?” tanya Anindya pada kedua mertuanya.
“Tidak, Sayang. Nikmati waktu berdua dan jangan pulang terlalu malam karena angin malam tidak baik untuk ibu hamil.” Jawab Madam Meena.
“Baiklah, Mommy. Kami pergi, Dad.” Pamit Anindya dan Arsen bersamaan.
__ADS_1
***
Arsen menatap tempat penjual bakso yang istrinya katakan dengan bergidik, pasalnya ia tak pernah makan di warung pinggir jalan seperti ini. Arsen melirik istrinya yang tampak berbinar, sangat jelas terlihat bahwa istrinya benar-benar ingin.
Anindya begitu yakin bahwa Arsen tidak suka tempat seperti ini, namun ia harus korban suaminya demi bisa menuntaskan keinginan nya yang ingin makan bakso pedas.
“Kamu sungguhan mau makan disini, Sayang?” tanya Arsen menyakinkan.
“Kenapa, Mas nggak mau ya?” tanya Anindya balik.
Arsen menggelengkan kepalanya pelan. “Bukan nggak mau, tapi kamu kan tahu aku belum pernah makan ditempat seperti ini sebelumnya.” Jawab Arsen.
“Mau cari tempat lain aja?” tanya Anindya menawarkan, ia tak tega juga melihat suaminya.
“Nggak usah, Sayang. Demi kamu dan anak kita, aku mau makan disini.” Jawab Arsen seraya membuka seatbelt nya.
Anindya tersenyum bahagia mendengarnya, ia ikut membuka seatbelt nya lalu keluar menyusul Arsen. Anindya menggandeng tangan suaminya.
“Samakan aja sama kamu.” Jawab Arsen.
“Ya udah, Pak. Dua porsi bakso urat, makan disini.” Tukas Anindya pada penjual baksonya.
Setelah memesan, Anindya mengajak suaminya duduk dipojok karena ia enggan berdekatan pada sekumpulan wanita yang tampak memperhatikan suaminya dengan intens. Wajar saja sih karena Arsen kan memang tampan meski hanya celana pendek dan kaos saja.
“Kamu sering makan disini?” tanya Arsen menatap kios bakso yang sejujurnya tidak terlalu kotor, namun bag Arsen yang keluar masuk hotel berbintang tentu tu tidak ada bandingannya.
“Iya, Mas. Biasanya jika habis pulang bekerja aku akan kesini,” jawab Anindya ikut menatap sekeliling kios bakso.
__ADS_1
Arsen manggut-manggut menanggapinya. Tak lama pesanan mereka datang, Anindya tampak bersemangat untuk segera menyantap bakso kesukaanya.
“No. Tidak boleh saus apalagi sambal!” cegah Arsen saat Anindya hendak menambahkan sambal ke dalam baksonya.
“Tap nggak enak, Mas. Aku biasa masukkan 1-2 sendok sambal dan rasanya tidak akan sepedas itu kok.” Sahut Anindya memelas.
Arsen tetap menggeleng, ia tak akan membiarkan istrinya itu makan sambal apalagi sampai terlalu pedas, akan bahaya untuk anak mereka.
Anindya berpindah duduk di sebelah suaminya, ia menduselkan kepalanya ke bahu Arsen dengan tujuan berusaha membujuk suaminya.
“Mas, boleh ya satu sendok saja dan aku akan berikan jatah lagi malam ini. Bagaimana?” tawar Anindya menaik turunkan alisnya.
Arsen melirik istrinya, tawaran Anindya benar-benar menggiurkan namun ia tetap tidak akan memperbolehkan Assa makan pedas.
“Nggak, Sayang. Aku mau dapat jatah namun kamu tetap tidak boleh makan pedas.” Jawab Arsen sambil tersenyum manis.
“Oh Tuan posesif, mengapa anda mempersulit keinginan saya. Bagaimana jika tawarannya menjadi dua ronde?” Anindya harus benar-benar bisa membujuk suaminya, menikah dengan pria posesif memang harus begini.
Arsen masih berpegang teguh pada keputusannya. Hal itu membuat Anindya harus banyak bersabar dan mereka sama-sama enggan mengalah
“Tiga ronde?” tawar Anindya semakin bertambah.
“Deal.” Sahut Arsen setuju.
Anindya mendengus, suaminya benar-benar tahu kapan dan dimana untuk bisa memanfaatkan dirinya. Tak apalah demi keinginan makan pedas.
Anindya memasukkan tiga sendok sambal ke dalam mangkok baksonya, hal itu membuat Arsen menggeleng kecil, istrinya telah melanggar perjanjian mereka, namun tak masalah demi tiga ronde. Arsen benar-benar maniak jatah jika sudah bersama Anindya.
__ADS_1
PAPA ARSEN KERAJAAN NYA NGERJAIN MAMA ANIN TERUS YA🥴🥴
To be continued