Tawanan Cinta Casanova

Tawanan Cinta Casanova
BAB 63


__ADS_3

Anindya dan Arsen hendak pulang setelah mengisi perut mereka dan tak lupa membayarnya, namun saat hendak masuk ke dalam mobil tanpa sengaja Arsen menabrak seseorang hingga terjatuh, pria itu tampak tak ada niat menolong wanita yang ia tabrak.


“Mas, di tolong dong Mbaknya kan udah kamu tabrak!” Suruh Anindya saat suaminya hanya diam.


“Lebih tepatnya dia yang menabrak, Sayang.” Sahut Arsen lalu beralih menatap wanita yang masih terduduk dengan dingin.


“Anda tidak perlu berpura-pura, Nona.” Celetuk Arsen mendapat cubitan dari istrinya.


Anindya hendak menolong wanita yang ditabrak suaminya, namun niatnya ia urungkan saat wanita itu mengangkat wajahnya. Wajah Anindya yang sebelumnya prihatin berubah datar begitu saja, ternyata suaminya benar bahwa wanita itu yang sengaja menabraknya.


“Anindya, Pak Arsen. Kalian disini?” tanya Dela seraya bangkit dari posisinya.


“Hmm … apa kau baik-baik saja setelah menabrakkan diri kepada suamiku?” tanya Anindya menyindir.


“Apa maksudmu, tadi sudah jelas suamimu yang menabrak dan kau justru kini menyalahkanku?” tanya Dela berpura-pura.


“Terserah apa katamu namun yang jelas kami harus segera pulang, menyingkirlah dari mobil saya!” Celetuk Arsen dengan dingin dan ekspresi wajah datarnya.


Dela tampak malu mendengar ucapan Arsen, dengan terburu-buru ia menyingkir dan menatap Anindya yang sudah seperti ratu. Sebelum pergi Anindya menyempatkan diri untuk melambaikan tangan kepada Dela.


“Sampaikan salamku untuk Paman dan Bibi.” Ucap Anindya sebelum mobil Arsen melesat pergi.


Setelah kepergian Anindya dan Arsen, Dela tak henti mengumpat dengan sumpah serapah yang dikeluarkan untuk Anindya saja, ia benar-benar kesal melihat tingkah Anindya yang sok.


“Lihat saja Anindya, aku pasti akan membalasnya!” gumam Dela dengan hati dan pikiran yag dipenuhi dendam.


Sementara Arsen melirik istrinya yang merengut, ia mengusap kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. rsen paham bahwa mood istrinya rusak karena bertemu dengan sepupunya yang jahat itu.


“Aku lupa bilang sama kamu jika Daddy dan Mommy akan kembali ke Australia besok siang.” Ucap Arsen memberitahu.


“Kok kamu nggak bilang?” tanya Anindya terkejut.


“Inikan aku bilang, Sayang. Kenapa sih kok kayaknya kaget banget?” tanya Arsen terkekeh. 


“Ya gimana nggak kaget, mertua mau pergi besok dan bahkan aku belum bicara banyak pada Mommy dan Daddy.” Jawab Anindya menekuk wajahnya.


“Ya udah nanti setelah anak kita lahir, kita susul Daddy dan Mommy kesana sekalian liburan bareng.” Tutur Arsen mendapat deheman dari istrinya.

__ADS_1


“Besok antar aku cari hadiah untuk Mommy sebagai alat perpisahan ya, Mas?” Pinta Anin yang dibalas anggukkan kepala oleh Arsen.


Sesampainya di rumah, Arsen dan Anindya langsung masuk ke dalam kamar mereka, Mommy dan Daddy juga mungkin sudah tidur karena rumah juga sudah tampak sepi.


***


Keesokan harinya Anindya bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan, ia sengaja membuat sarapan spesial untuk mertuanya yang akan segera kembali ke Australia.


Anindya menata masakannya yang telah matang, setelah beres anindya segera pergi ke kamar untuk membangunkan suaminya. Ia akan minta diantar Arsen pergi ke Mall untuk membeli beberapa barang.


“Sayang bangun, udah siang loh ini katanya mau antar aku ke mall.” Ucap Anindya seraya membuka tirai jendela dikamarnya.


Arsen menarik selimut untuk menutupi wajahnya yang terkena sinar matahari. “Lima menit lagi, Sayang.” Pinta Arsen menunjukkan kelima jarinya.


Anindya terkekeh, ia mendekati ranjang lalu menarik selimut yang menutupi wajah Arsen. Anindya mendekati wajahnya ke wajah ke wajah tampan Arsen lalu memberikan kecupan di pipi suaminya.


“Bangun, Mas …” pint Anindya dengan suara dibuat semanis mungkin.


Arsen akhirnya membuka mata, hal yang pertama kali ia lihat adalah wajah cantik dan manis milk istrinya. Arsen mengubah posisi menjadi duduk lalu langsung memeluk serta menghujani istrinya dengan banyak kecupan.


“Iya Sayang, aku mandi tapi nanti kasih ciuman ya?” tawar Arsen tak mau rugi.


Anindya menunggu suaminya sambil merapikan ranjang yang berantakan akibat kegiatan yang rutin mereka lakukan setiap malam. Setelah 30 menit akhirnya Arsen sudah rapi dan siap mengantar istrinya pergi ke mall, namun sebelum itu mereka memutuskan untuk sarapan.


“Selamat pagi.” Sapa Arsen saat melihat Papa dan Mama nya sudah menunggu.


“Pagi.” Sahut keduanya bersamaan.


“Anindya, benar ini semua kamu yang memasak?” tanya Madam Meena.


“Iya, Mom. Kenapa, tidak enak ya?” tanya Anindya sedih.


“Bukan begitu, Nak. Masakanmu sangat lezat tapi kami tidak mau jika kamu sampai kelelahan, sudah ada maid yang menjalani tugas memasak!” Jawab Papah Ferdo menjelaskan.


“Benar sekali, Anin. Masakanmu sangat lezat dan Mommy suka.” Sambung Madam Meena.


“Ini semua tidak melelahkan sama sekali, Mom.” Timpal Anindya tersenyum tanpa dosa.

__ADS_1


“Sudahlah, Mom, Dad. Menantu kalian ini memang susah diajari, biarkan saja asal tidak membahayakan bayi nya dan juga kesehatannya sendiri” Ujar Arsen membuat Anindya terkekeh begitupun yang lain.


Mereka pun mulai menyantap sarapannya, di saat sedang menikmati sarapannya, Anindya tiba-tiba merasakan perutnya seperti di remass, mulas dan terasa ada yang mengalir di kakinya.


“Mas, shhh … darah, Mas” celetuk Anindya saat menunduk dan melihat darah di kakinya.


Arsen panik begitupun dengan Mommy dan Daddy.


“Sayang, hei kamu kenapa?” tanya Arsen menangkup wajah istrinya.


“Arsen bawa istrimu ke rumah sakit, dia akan segera melahirkan!” ucap Madam Meena pada putranya.


“Mas … hiks sakit …” adu Anindya mengusap perutnya sendiri.


“Sabar ya, Sayang. Kita akan segera ke rumah sakit, tenang ya.” Tutur Arse berusaha tenang meski hatinya ketar-ketir.


Anindya dilarikan ke rumah sakit dan langsung mendapatkan tindakan dari dokter. Ternyata Anindya sudah pembukaan ke sembilan dan harus segera melakukan proses persalinan.


“Sayang, aku disini, kita berjuang sama-sama ya.” Ucap Arsen menggenggam tangan istrinya.


Anindya mengangguk, wajahnya sudah dipenuhi oleh keringat dengan nafas terengah-engah Sakit di area perutnya kian bertambah, dokter dan suster telah siap melakukan proses persalinan.


“Nyonya Anindya, jika saya bilang dorong maka mengejanlah sekuat tenaga ya.” Tuur Dokter mengarahkan.


“Assa, aku tahu kamu bisa, Sayang.” Bisik Arsen menyemangati.


“Baiklah, Nyonya. 1,2,3 dorong!!!!!” ucap Dokter langsung saja Anindya mengejan sekuat tenaga.


Arsen tampak kuat menggenggam tangan istrinya, ia merasa tidak tega melihat bagaimana perjuangan Anindya untuk melahirkan buah cinta mereka ke dunia.


Anindya berkali-kali menarik nafas dan membuangnya, sampai akhirnya perjuangan Anindya membuahkan hasil. Suara tangisan bayi terdengar memenuhi ruangan, Arsen langsung menciumi seluruh wajah istrinya sambil tak henti mengucapkan terima kasih.


“Sayang, terima kasih.” Bisik Arsen terharu karena telah menjadi seorang ayah sampai meneteskan air matanya.


CIEE JADI DADDY AND MOMMY😜🥰


To be continued

__ADS_1


__ADS_2