
Anindya menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan yang sulit diartikan, tatapannya turun ke bagian perut dimana terdapat tonjolan yang perlahan-lahan semakin terlihat.
Anindya tersenyum, ia tak sabar untuk melahirkan anak pertamanya ke dunia. Namun, ada satu hal yang ia khawatirkan, yaitu pandangan orang-orang sekitar tentang dirinya yang hamil namun tidak ada suami.
Apakah orang-orang akan menyebutnya sebagai wanita murahan juga seperti Madam Meena, atau bahkan akan menyebut dirinya pemuas seperti Arsen.
Anindya memejamkan mata lalu menggeleng, air matanya tiba-tiba meluruh begitu saja membasahi wajahnya yang cantik.
"Nggak, a-aku pasti bisa melawan pandangan orang-orang, aku dan anakku pasti bisa!" gumam Anindya dengan yakin.
Anindya menyeka air matanya, ia segera keluar untuk membeli sayuran di sekitar. Anin melihat dompetnya, disana masih terdapat uang yang lumayan untuknya hidup dan ia harus berhemat.
"Kita belanja dulu ya, Nak. Makan apa ya hari ini?" tanya Anindya sambil mengusap perutnya seakan bicara pada bayi dalam kandungannya itu.
Anindya menutup pintu rumahnya, ia berjalan kaki untuk mencari tukang sayur disana. Sapaa ramah dan hangat diterimanya dari beberapa warga desa yang mengenalnya sebagai cucu Mbo Darmi, neneknya.
"Anindya wis gedhe, ayu tenan!" puji salah satu petani lansia yang mengenal Anindya.
"Matur nuwun, Mbah. Iku padha, isih nakal." Balas Anindya tertawa sampai begitu lebar.
"Mau kemana?" tanya petani itu dengan alis yang berkerut.
"Cari sayuran, mau masak Mbah." Jawab Anindya pelan, pasalnya usia petani itu cukup tua dan pasti sedikit sulit dalam memahami perkataan.
"Ya sing ati-ati!" katanya memberi pesan pada Anindya yang mengangguk sambil tersenyum.
Anindya melanjutkan langkahnya, matanya berbinar dengan senyuman mengembang saat melihat kedai tukang sayur yang cukup ramai. Anindya mendatangi kedai sayur itu, ia menunduk sesaat dengan sopan sebagai bentuk sapaan pada ibu-ibu yang ada disana.
"Bu, ini sayur sop nya mau satu ya sama tahu deh." Ucap Anindya menunjuk kedua makanan itu.
"Apa maneh, nak?" tanya si penjual sayur membuat Anindya berpikir untuk belanja apa lagi.
__ADS_1
"Cabe sama bawang nya lima ribu, udah itu saja." Jawab Anindya yang segera dilayani oleh tukang sayur itu.
Setelah selesai belanja dan basa-basi pamit dengan ibu-ibu, Anindya hendak langsung pulang, namun tiba-tiba kakinya tanpa sengaja menginjak batang sawi yang cukup licin dan hampir saja membuatnya terjatuh.
"Awas, Mbak!!!" seru seorang pria yang sigap memegangi tangan Anindya.
Anindya memejamkan mata, ia memegangi perutnya yang kram karena terkejut. Anin menoleh ke pada sosok pria berbaju batik dengan peci yang apik di kepalanya.
"Makasih ya, Mas. Ya ampun, hampir saja saya jatuh." Ucap Anindya menatap pria yang menolongnya.
"Sama-sama, Mbak. Lain kali hati-hati, licin ini bekas sayuran," balasnya mengingatnya.
"Eh ada Den Tio, mau ambil beras pesanan Pak kades ya?" tanya si penjual sayur yang ternyata jualan sembako juga.
"Nggih, Bu." Jawab Tio, anak kepala desa yang begitu sopan dan santun.
Tio mendapatkan pesanan bapaknya, ia lalu melihat ke arah Anindya yang masih terdiam di tempat.
"Ada apa, Mbak?" tanya Tio dengan suara begitu lembut.
"Mbak pulang kemana, mari saya antar!" ujar Tio menawarkan.
"Tidak, Mas. Tidak usah, saya bisa sendiri lagipula rumah saya dekat." Tolak Anindya menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Tio tersenyum hangat. "Ndak, apa-apa Mbak. Mari saya antar!" ajak Tio namun sekali lagi ditolak oleh Anindya.
"Nggak usah, Mas. Sebelumnya makasih sudah bantu saya, saya duluan ya. Permisi," pamit Anindya kemudian segera pergi.
Anindya pulang ke rumahnya dengan jalan pelan-pelan, meski begitu akhirnya ia sampai dirumah dan mulai memasak untuk dirinya dan anaknya yang masih di perut ini.
Sementara itu di tempat lain, Arsen tampak masih tertidur di sofa dengan posisi duduk dan kepala mendongak ke atas. Di tangan kirinya terdapat sebuah botol minuman yang sudah tandas setelah semalaman ditenggak olehnya.
__ADS_1
Sinar matahari yang masuk ke dalam kamar mengganggu tidur seorang Arsen. Pria itu menggeliat dan berusaha menutupi wajah tampan nya namun gagal.
"Arghhhh …" erang Arsen lalu melempar botol kaca ke sembarang arah hingga pecah.
"Assa, kau dimana!!!!" teriak Arsen frustasi.
Sudah satu Minggu lamanya Arsen dan anak buahnya mencari-cari keberadaan Anindya, namun tak ada titik terang mereka temukan. Anindya menghilang bagaikan ditelan bumi, kehebatan anak buah Arsen bahkan terlihat tak berguna soal mencari Anindya.
Tiba-tiba pintu kamar Arsen terbuka, terlihat seorang pria yang tak kalah tampan dari Arsen masuk. Kedua tangan pria itu mencekal kerah kemeja Arsen dengan begitu kuat.
"Arsen, apa-apaan ini?" tanya Ferdo, Ayah Arsen.
"Kau, sejak kapan kau disini?" tanya Arsen seraya melepaskan cengkraman di kerah bajunya.
"Arsen, begini caramu bicara pada ayahmu?!" cecar Ferdo dengan nada tinggi.
Ferdo menatap sekeliling kamar Arsen, tatapannya menyipit dengan alis yang saling bertaut.
"Kau mabuk lagi, apa kau masih senang mempermainkan wanita?" tanya Ferdo menatap putranya yang masih sangat mabuk.
Ferdo tersenyum remeh. "Arsen, kau tak berhenti mempermainkan wanita, apa kau tidak sadar bahwa tindakanmu itu akan bisa menghancurkan dirimu sendiri?" tanya Ferdo lagi.
"Dad, hentikan!" bentak Arsen muak.
"Kau boleh tidak mendengarkan Daddy, tapi Daddy akan tetap mengatakannya. Suatu hari kau akan menyadari saat kau jatuh cinta dan mempermainkan wanita itu, kau sendiri yang akan sakit terlebih lagi ketika wanita itu sudah tidak lagi ada bersama denganmu." Ujar Ferdo seraya menepuk bahu Arsen.
"Kau akan menyesal Arsen, kau akan menyebut dirimu bodoh setelah wanita itu menjadi milik orang lain. Ingatlah kata-kata Daddy!" tambah Ferdo kemudian keluar dari kamar Arsen yang dominan bau alkohol.
Arsen menatap kepergian sang Papa dengan tatapan sayu, ia masih cukup sadar untuk mendengar dan mengerti ucapan sang Papa. Mungkinkah hal itu yang tengah dirasakannya sekarang, mungkinkah ia jatuh cinta pada Anindya yang telah ia siksa bahkan telah ia rusak sampai mengandung anaknya.
Arsen tidak cukup mengerti soal hati, ia hanya tahu kepuasan dan kenikmatan dalam hidup dan hal itulah yang justru menghancurkan dirinya sendiri perlahan-lahan.
__ADS_1
KAWAL ARSEN SAMPAI ... SAMPAI APA HAYOO🤪
To be continued