Tawanan Cinta Casanova

Tawanan Cinta Casanova
BAB 76


__ADS_3

Setelah mendapat perawatan dokter selama 2 hari, akhirnya hari ini Arvin telah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Anindya senang karena kini kondisi putranya telah kembali sehat, ia tidak akan mengulangi kesalahannya lagi yang berakibat fatal terutama bagi putranya.


Anindy dan Arsen mengurus administrasi sementara Arvin dijaga oleh madam Meena yang datang kemarin setelah mendengar kabar cucunya. Sebelum kembali ke kamar Arvin dan pulang, Arsen sengaja mengajak istrinya lebih dulu ke kantin rumah sakit untuk sekedar membeli sesuatu.


“Mas, aku nggak mau makan, lagian kita kan mau pulang.” Ucap Anindya memegang tangan suaminya yang mana menghentikan langkah mereka.


Arsen mengusap puncak kepala istrinya, ia terkekeh melihat wajah Anindya yang ditekuk. Dengan tidak tahu malunya ren tiba-tiba mencium pipi istrinya tanpa permisi.


“Aku tahu kamu masih kepikiran Arvin tapi anak kita itu sekarang udah nggak apa-apa Sayang, kamu jangan khawatir ya.” Tutur Arsen mencoba membuat istrinya mengerti.


“Iya, Mas Arsen Sayang. Tapi aku bener-bener nggak mau makan, aku mau masak sendiri untuk kamu dan mama papa.” Timpal Anindya seraya mengusap lengan Arsen.


Arsen menghela nafas lalu menganggukkan kepalanya, ia kini paham bahwa istrinya sudah kembali membaik, ia merangkul mesra pinggang istrinya lalu mengajaknya untuk kembali ke kamar rawat Arvin, sesampainya disana tampak barang Arvin telah di kemas sementara Arvin sedang ditimang oleh sang nenek.


“Mom, maaf ya lama. Sini biar aku gendong Arvin, Mommy pasti capek.” Pinta Anindya membuka tangannya bermaksud untuk menggendong putranya.


"Nggak usah, Anin. Mommy nggak capek kok, malah senang karena kan jarang-jarang ketemu cucu Mommy yang tampan ini." Timpal Madam Meena seraya mengusap sayang punggung cucunya.


"Yaudah, selama Arvin sama Mama, kamu manjain aku aja Sayang." Celetuk Arsen menaik turunkan alisnya.


Madam Meena mendengus mendengar ucapan putranya, ia geleng-geleng kepala melihat tingkah Arsen yang sangat mirip dengan Papanya.


"Apaan sih, Mas. Udah besar, jangan manja!" desis Anindya melipat tangan di dadanya.


Arsen tak menghiraukan, pria itu malah memeluk erat tubuh mungil istrinya dari belakang dan menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher Anindya.

__ADS_1


"ARSEN!!!" tegur Madam Meena seraya ingin memeluk anaknya namun Arsen buru-buru menghindar.


***


Arsen dan keluarganya telah kembali ke mansion Lucifer, mereka disambut oleh Papah Ferdo yang kebetulan kemarin pergi dengan alasan mengurus sesuatu, memang benar yaitu mengurus masalah terbesar dalam hidup Anindya.


"Wahhh cucu Opa sudah sembuh, anak ganteng Opa, sini Nak!!" celoteh Papah Ferdo seraya membuka tangan hendak menggendong cucunya.


Arvin tampak tertawa girang dalam gendongan sang kakek, mungkin anak itu bahagia melihat keluarganya berkumpul bersama hingga ia ada teman bermain.


"Aduh Pah, kan Arvin lagi main sama Mama." Celetuk Madam Meena belum puas menggendong cucunya.


"Nanti, Ma. Papah kan kangen sama Arvin, ya Nak? Jalan-jalan mau sayang?" tawar Papah Ferdo seraya mencolek pipi gembul cucunya.


"Mom, Dad. Aku ke dalam ya, mau masak untuk makan siang, kalian main saja dulu bersama Arvin." Ujar Anindya dibalas senyuman oleh kedua mertuanya.


"Mama Assa, Papa kangen deh!!!" celetuk Arsen seraya melingkarkan tangannya di perut datar istrinya.


"Mas, aku lagi masak ishh!" tegur Anindya saat bibir Arsen memberikan kecupan di lehernya.


"Kapan ada dedek lagi disini, Sayang?" tanya Arsen seraya mengusap perut Anindya.


"Nanti, tunggu Arvin lima tahun." Jawab Anindya jujur.


"Kelamaan, Sayang. Nggak sabar mau produksi lagi!!!!" rengek Arsen mengusapkan pipinya ke bahu sang istri.

__ADS_1


"Ya memang gitu, Mas. Nggak mungkin kita udah kasih adik untuk Arvin yang baru satu tahun, kasihan dong!" timpal Anindya menggelengkan kepalanya pelan.


"Iya deh, tapi prosesnya setiap hari ya, setiap malam atau kalau perlu setiap ada kesempatan." Pinta Arsen menaik turunkan alisnya.


"Aku kebiri kamu, Mas. Kenapa sih kamu nggak pernah jauh dari masalah ranjang?" tanya Anindya keheranan.


"Iya soalnya istri aku kan cantik kaya kamu, imut-imut padahal udah punya anak masih kaya anak gadis." Jawab Arsen menjawil hidung istrinya.


"Ishhh, udah deh Mas. Jangan ganggu aku lagi masak, lagian bukan jaga anaknya!" usir Anindya kesal.


"Arvin kan ada Opa dan Oma nya, mending aku temenin Mama nya aja sambil modus." Sahut Arsen diakhiri tawa tanpa dosa.


Anindya meraih sayuran lalu memasukkannya ke dalam mulut sang suami, Arsen terbatuk-batuk seraya melepeh sayur mentah di mulutnya.


"Sayang, tega banget sama suami sendiri …" protes Arsen menekuk wajahnya.


"Itulah kalo kebanyakan gangguin istrinya. Sana ah Mas, jangan deket-deket!" usir Anindya lagi seraya mengibas tangannya.


"Astaga tega-teganya mengusir suami gantang gini." Celetuk Arsen lalu mendekati istrinya.


Arsen menangkup wajah Anindya lalu mencium bibir wanita itu dengan cepat, Anindya berusaha memberontak namun tidak bisa melawan. Setelah beberapa saat Arsen melepaskan ciumannya, ia mengusap bibir Anindya yang basah karenanya.


"Mas nyosor terus!!!" Pekik Anindya seraya memukul suaminya.


KELAKUAN PAPA ARSEN NIH🥴😂

__ADS_1


To be continued


__ADS_2