
Setelah dua hari menjalani perawatan di rumah sakit, kini akhirnya Anindya sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Dengan dibantu oleh maid yang Arsen perintahkan untuk mengemas barang-barang yang ia bawa, sementara untuk urusan administrasi menjadi tugas Asisten Lee.
Arsen menyetir mobilnya sendiri, tatapannya beberapa kali melirik ke arah Anindya yang sedang menyusui putranya.
“Jadi sekarang itu bukan cuma punya aku ya, Sayang?” tanya Arsen asal bicara.
“Memang kapan ini menjadi punya kamu, selama ini juga adanya di aku.” Jawab Anindya tanpa menoleh pada suaminya sedikitpun.
“Ya dulu kan aku bebas pegang-pegang, kalo sekarang harus izin dulu sama Arvin.” Pungkas Arsen diakhiri helaan nafas. Baru sebentar hadir dalam kehidupannya, anaknya itu sudah berhasil menyita 80 % perhatian istrinya.
Anindya tak menimpali lagi ucapan suaminya, ia sangat tahu jika perbincangan dilanjutkan maka ia sendiri yang nantinya akan kelimpungan. Ia lebih memilih untuk bicara pada putranya saja.
“Anak Mama tampan sekali, pipinya gembul lagi!” celetuk Anindya mengundang tatapan Arsen.
“Arvin ganteng kan karena Papanya juga ganteng, apalagi Mamanya cantik. Arvin itu bibit unggul banget, Sayang.” Timpal Arsen.
“Nanti kalo Dedek punya adik cewe pasti cantiknya sama kaya Mama.” Celoteh Anindya seketika membuat Arsen terkekeh.
“Ciee Mama Assa udah ngomongin adik aja, udah nggak sabar mau bikin ya?” ledek Arsen mendapat cubitan dari Anindya.
“Kebiasaan pikirannya kesana terus, nggak capek ngomongin itu mulu!!!” desis Anindya gemas sekali pada suaminya ini.
“Ya nggak dong, kan enak.” Sahut Arsen buru-buru menutup mulutnya saat Anindya menatapnya dengan tajam.
Tak terasa akhirnya mereka sampai di mansion, Arsen keluar lebih dulu disusul Anindya setelah dibukakan pintu oleh Arsen. Terlihat para pekerja Mansion telah menunggu kedatangannya.
“Tuan dan Nyonya, selamat datang.” Sapa kepala Maid dengan sopan.
__ADS_1
“Terima kasih, Bi.” Sahut Anindya tak kalah ramah dan sopan.
“Sudah siapkan makanan yang saya suruh?” tanya Arsen dengan wajah dingin dan datarnya.
“Tentu, Tuan. Saya sudah siapkan di kamar anda,” jawab kepala Maid itu dengan kepala menunduk.
Anindya mengerutkan keningnya bingung, namun ia tak berniat bertanya karena yang saat ini ia ingin lakukan adalah merebahkan diri. 2 hari di rumah sakit meski ruangan VIP tetap saja kurang nyaman.
Anindya masuk ke dalam kamar, ia merebahkan baby Arvin di box bayinya sementara ia hendak langsung tidur, namun tiba-tiba Arsen menggendongnya dan mengajaknya ke sofa.
“Mas, kenapa ihh!! aku mau tidur,” pekik Anindya namun dibalas gelengan kepala oleh Arsen.
“Makan dulu, kemarin makan susah banget dengan alasan makanan rumah sakit nggak enak. Nih aku pinta Bibi untuk masakin kamu, ayo dimakan dan habiskan!” tutur Arsen menunjuk makanan sehat yang sudah tersaji.
Anindya menekuk wajahnya, namun tak ayal tangannya mulai meraih makanan dan menyuapnya ke dalam mulut. “Hmmm … enak, Mas.” Puji Anindya dengan ekspresi begitu menikmati.
***
Sore harinya, Anindya sedang memandikan baby Arvin di balkon. Wajah Anindya tampak berseri-seri sakin bahagianya memandikan putranya yang masih baby itu. Arsen tidak ada di rumah, panggilan dari Asisten Lee membuat suaminya itu bergegas pergi, katanya ada urusan mendadak di kantor.
“Anak Mama mandi ya, Nak.Biar segar hmm ..? celoteh Anindya meski ia tahu putranya juga tak akan menjawab ucapannya.
Setelah selesai memandikan dan memakaikan baju pada Arvin, Anindya membawa putra tampannya itu ke lantai bawah untuk menunggu kepulangan Arsen yang sudah cukup lama pergi.
“Nyonya Anin, ada yang bisa saya bantu?” tanya Maid yang berpapasan dengan Anindya.
“Nggak ada, Bi. Aku cuma mau duduk tunggu Mas Arsen pulang,” jawab Anindya tersenyum lalu pergi ke luar rumah.
__ADS_1
Anindya duduk di teras rumah sambil menimang-nimang Arvin. Belum ada satu menit Anindya duduk, gerbang sudah terbuka memperlihatkan mobil suaminya yang baru saja pulang dari kantor.
“Eh Papa pulang, Dek.” Celetuk Anindya pada putranya.
Sementara Arsen segera keluar dari mobil saat melihat anak dan istrinya berada di teras rumah. Dengan senyuman yang menghiasi wajah tampannya, Arsen mendekati dua orang paling berharga dalam hidupnya.
“Sayang!!!” panggil Arsen lalu mencium kening Anindya dengan hangat.
“Kok tumben cepet, biasanya kalo udah masalah kantor bisa sampai malam?” tanya Anindya seraya menyalami tangan suaminya.
“Iya, nggak tahan soalnya mau ketemu Arvin.” Jawab Arsen seraya mengambil alih menggendong putranya.
“Arvin aja, Mamanya nggak?” tanya Anindya bergurau.
Arsen tertawa mendengar pertanyaan istrinya, dengan cepat Arsen mencium pipi Anindya. “Jangan ditanya, setiap saat selalu pengen deket-deket sama Mama Assa.” Jawab Arsen diakhiri tawa bahagia dari keduanya.
“Sayang, Arvin senyum!!!” pekik Arsen saat melihat putranya tersenyum, mungkin saja anaknya itu dapat merasakan kebahagiaan yang orang tuanya rasakan.
“Tambah tampan putra Mama senyum gini,” timpal Anindya seraya mengunyel pipi Arvin.
“Putra Papa juga dong.” Celetuk Arsen tak terima.
“Iya putranya Papa Arsen yang tampan dan bawel ini.” Tukas Anindya berganti mengunyel pipi Arsen.
BAHAGIANYA KELUARGA ARSEN, JADI NGGAK TEGA MAU KASIH KONFLIK😭
To be continue
__ADS_1