Tawanan Cinta Casanova

Tawanan Cinta Casanova
BAB 57


__ADS_3

Seperti yang Papah Ferdo bilang kemarin bahwa Anindya akan pindah sementara ke apartemen Arsen yang lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah kediaman Lucifer.


Arsen tampak uring-uringan melihat Anindya yang sudah akan pergi, ia rasanya enggan berjauhan dengan Anindya dan calon anaknya. Entahlah, ia benar-benar tidak rela jika Anindya pergi, mungkin saja itu karena bayi dalam kandungan Anindya yang memang di awal kehamilan tidak mendapat perhatiannya.


"Mom, biarkan Assa disini. Aku tidak bisa berjauhan dengannya, lagi pula Assa kan sedang hamil besar dan seharusnya berada dalam pengawasan keluarga, bukan malah berjauhan." Cecar Arsen berusaha mencegah Anindya pergi.


"Kata siap akan berjauhan, Mommy akan ikut tinggal dengan Anindya, akan ada maid dan penjaga juga." Sahut Madam Meena tak mau kalah.


"Mom, ayolah. Apakah Mommy akan tega pada putra sendiri, biarkan Assa tetap disini, berada dalam pengawasanku." Pinta Arsen memohon.


"Heh, kau pikir Anindya itu sebuah bisnis yang harus ada dalam pengawasan mu terus." Ketus Madam Meena.


Sementara Anindya sejak tadi hanya diam menjadi penonton, ia tak cukup pandai jika harus melerai perdebatan antara ibu dan anak itu. Yang bisa lakukan saat ini adalah diam sambil menghela nafas pelan, ia pasrah saja dijadikan topik perdebatan.


"Tenang ya, Nak. Papah dan Nenek kamu itu cuma lagi berantem dikit." Bisik Anindya sambil mengusap perut besarnya.


"Anindya." Panggil Madam Meena sontak membuat Anindya tersentak.


"Ada apa, Mommy?" Sahut Anin bangkit dari duduknya saking terkejut.


"Ayo pergi, biarkan saja dia disini bersama Papahnya." Ajak Madam Meena menarik tangan Anindya keluar rumah.

__ADS_1


Anindya menoleh ke belakang lalu tersenyum pada Arsen. "Hanya satu minggu." Ucap Anindya tanpa suara, seakan memberi isyarat pada Arsen.


***


Persiapan pernikahan Anindya dan Arsen sudah hampir selesai dan tinggal mencoba gaun pengantin saja, karena perut Anindya yang sudah besar membuat mereka memilih gaun yang tidak mengepres di badan, takut anak mereka tertekan.


Sejak tadi Arsen tak henti bersandar di bahunya, Anindya bahkan sampai harus membujuk Arsen untuk melepaskannya agar ia bisa mencoba gaun pengantinnya, namun sayang sekali pria itu malah semakin mendusel.


"Mas, aku gimana mau coba gaunnya kalau kamu aja nempel terus." Rengek Anindya lelah.


"Nanti dulu, tiga hari nggak ketemu. Kamu nggak kangen?" tanya Arsen mendongak dengan wajah ditekuk.


"Baru juga tiga hari, kemarin aku tinggal berbulan-bulan juga kamu nggak masalah." Sindir Anindya mendapat cubitan gemas di pipinya.


"Emang sekarang kamu ganteng?" tanya Anindya menaikkan kedua alisnya.


Arsen menghela nafas, menghadapi bumil satu ini memang harus ekstra sabar. Untung saja Arsen sangat mencintainya, jika saja tidak maka Anindya sudah dijadikan bakwan goreng olehnya.


"Aku tanya mbaknya ya biar buktiin aku ini ganteng apa nggak." Ucap Arsen hendak bangun namun dicegah oleh Anindya.


"Nggak! Ih kamu mau cari perhatian cewek lain, tuh kan belum apa-apaan udah mau selingkuh." Ketus Anindya melipat tangannya didada.

__ADS_1


Arsen melongo mendengar ucapan Anindya yang ngawur, ia menarik Anin ke atas pangkuannya tanpa peduli masih ada orang lain disana.


"Mood kamu lagi nggak bagus ya sampai bicara ngawur?" tanya Arsen lembut.


"Sayangku, Anindya Alyssa. Aku tidak akan pernah selingkuh apalagi cari perhatian wanita lain, kenapa? Karena mencintai satu wanita jauh lebih membahagiakan, apalagi wanitanya cantik dan baik hati seperti kamu." Lanjut Arsen tersenyum hangat.


Anindya mengulum bibirnya untuk menahan senyum, entahlah Arsen belajar dari mana untuk menyusun kata-kata yang benar-benar masuk ke dalam hati Anin.


"Udah ah, aku mau coba gaun terus kamu juga coba sana jas nya." Tutur Anindya bangkit dari pangkuan Arsen.


Arsen ikut bangkit, ia mengantungi sebelah tangannya di saku celana lalu menatap hangat calon istrinya. 


"Akhirnya besok nikah, bobok nggak sendiri lagi deh." Celetuk Arsen menaik turunkan alisnya.


"Hmm … udah ah sana buruan, aku lapar mau makan." Usir Anindya menimpali ucapan Arsen dengan deheman.


"Iya iya, Sayang. Sabar," tutur Arsen mengecup bibir Anindya tanpa permisi.


"Mas!!!!" pekik Anindya mengangkat tangan siap memukul Arsen namun sudah keburu pria itu lari.


HARI INI INSYAALLAH KALO INGET AKU UPDATE 3 BAB ... KALO INGET YA 😂😂

__ADS_1


To be continued


__ADS_2