
"Din, entar mampir apotik dulu ya pulangnya!" ucap Kania setelah memakai helm yang diberikan Dini.
"Cari obat buat siapa?" tanya Dini penasaran yang sudah duduk di motornya sambil memperhatikan Kania.
"Buat ibu! Tadi pagi ngeluh kepalanya pusing! Minum obat warung gak mempan." jawab Kania yang sudah duduk di motor belakang Dini.
"Kenapa gak ke dokter aja?" tanya Dini lagi sebelum menyalakan mesin motornya.
"Ibu gak mau! Takut disuntik katanya!" jawab Kania sambil membenarkan duduknya yang belum pas.
"Ya udah deh! Apotik yang deket jalan simpang depan, kan?" tanya Dini lagi.
"Iya, Dini!" sahut Kania yang sudah memegang pinggang sahabatnya.
"Ok! Lets go!" balas Dini dengan antusias dan menjalankan motornya setelah dinyalakan.
Jam kantor pulang memang sudah tiba. Para karyawan sudah pulang sejak lima menit yang lalu. Sedangkan Kania dan Dini beserta petugas kebersihan lainnya, pulang akhir setelah karyawan pulang.
Tibalah di lampu merah yang menunjukkan angka 60, sebagai tanda kendaraan untuk berhenti sejenak selama 60 detik. Motor yang dinaiki Dini dan Kania berhenti tepat di baris pertama. Di sebelah motor mereka berdiri, berhenti pula sebuah mobil mercy keluaran terbaru. Warna hitam yang mengkilap menyilaukan mata karena terkena pancaran cahaya senja yang begitu indah hari ini.
"Udah ngebut tetep aja kena lampu merah!" gerutu Dini.
"Udah gak pa-pa! Kan bisa sambil nikmati senja indah hari ini. Lihat tuh senjanya, bagus banget kan, Din?" sahut Kania tersenyum manis sambil menunjuk ke arah senja di sebelah kirinya. Arah yang berlawanan dengannya.
Kania adalah gadis penyuka senja. Namun tidak dengan Dini. Ia hanya abai. Karena ia tidak begitu suka dengan senja.
Seseorang di kursi belakang mobil mercy, menatapnya dengan intens. Kacamata hitam yang dikenakannya menutupi tatapan matanya yang kagum pada sosok gadis itu. Begitupun dengan pria yang berada di kursi belakang kemudi, menoleh ke arah gadis itu dan tersenyum.
'Cantik!' batin Akhtar menatap wajah gadis yang semakin cantik karena terpaan sinar matahari sore di wajahnya.
'Itu gadis yang menabrak Tuan Akhtar tadi, bukan? Memang sangat cantik!' batin Bima tersenyum.
Kaca mobil mereka tidak tembus pandang. Sehingga orang yang berada di luar mobil, tidak akan bisa melihat orang yang ada di dalam mobil. Namun beda jika dilihat dari dalam, terlihat jelas pemandangan di luar.
Tin tin tin
Bima dan Akhtar terjengkit kaget karena suara klakson. Mereka tidak menyadari jika lampu lalu lintas sudah berwarna hijau. Karena terpukau dengan kecantikan seorang gadis. Sedangkan Kania dan Dini sudah berbelok ke arah kiri, sejak lampu merah langsung berubah hijau.
"****! Apa kamu melamun, Bima?" tanya Akhtar dengan kesal.
"Maaf, tuan!" jawab Bima sambil melihat tuannya dari kaca spion.
Mobil Akhtar pun segera berjalan lurus menuju apartemen Akhtar yang terletak di tengah kota sam dengan kantornya. Akhtar dan Bima tinggal di apartemen yang sama. Namun hanya beda lantai. Akhtar tinggal di lantai teratas apartemen tersebut, yang bisa dikatakan sebagai penthouse.
Tiba di depan apotik yang tidak terlalu ramai, motor Dini berhenti di pinggir jalan di bawah pohon besar yang cukup rindang.
"Gue tunggu di sini aja, ya! Gak lama, kan?" tanya Dini yang masih duduk di motornya.
"Gak kok! Cuma beli obat sakit kepala aja, lagian gak terlalu rame juga, tuh!" jawab Kania turun dari motor sambil melepas helmnya.
"Ok!" sahut Dini santai.
"Aku ke sana dulu, ya!" pamit Kania pada Dini.
"Hm!" balas Dini sambil menyandarkan tangannya di stang motor.
__ADS_1
Kania pun berjalan menuju apotik untuk membeli obat sakit kepala pesanan ibunya. Hanya sekitar lima menit, Kania sudah membeli obat yang dibutuhkan ibunya.
"Udah yuk, Din!" ajak Kania yang sudah sampai di belakang motor Dini yang sedang menunggunya, lalu duduk di belakang.
"Ada yang mau loe cari lagi gak?" tanya Dini sambil memberikan helm kepada Kania.
"Gak kok! Udah ini aja! Kamu sendiri ada yang mau kamu cari gak?" tanya Kania kembali pada Dini sambil memakai helmnya.
"Gak ada! Yuk pulang aja! Biar bisa cepet rebahan! hehehehe!" canda Dini sambil menyalakan mesin motornya.
Motor pun berjalan menuju arah rumah mereka. Apotik yang mereka kunjungi tadi berada di simpang perempatan arah jalan rumah mereka.
Keesokan harinya, sinar mentari pagi menyapa dengan indah. Para karyawan Wijaya Group sudah memenuhi kubikel dan divisi masing-masing. Sedangkan para petugas kebersihan dan office boy/girl sedang duduk bersantai di ruang pantry masing-masing.
Begitu pula dengan Akhtar, sang presiden direktur yang datang selalu tepat waktu, sudah duduk di kursi kebesarannya. Memeriksa beberapa email yang masuk sambil menyeruput kopinya.
"Tuan, ini berkas data para cleaning service yang Anda minta semalam!" ujar Bima setelah dipersilakan masuk, lalu menyerahkan berkas yang ada di tangannya.
Sejujurnya Bima heran dengan perintah tuannya ditelpon semalam. Akhtar meminta data para petugas kebersihan yang ada di kantornya. Namun, karena itu adalah perintah pimpinan, jadi Bima hanya melaksanakan tugasnya saja tanpa bertanya lagi untuk apa.
"Hm. Letakkan di situ!" perintah Akhtar hanya menatap sekilas sambil menunjuk meja dengan dagunya.
Bima pun meletakkan berkas itu di atas meja kerja Akhtar.
"Kenapa masih di sini? Apa kurang kerjaanmu?" ketus Akhtar menatap Bima yang masih diam berdiri di depan mejanya.
"Oh, tidak tuan! Masih banyak pekerjaanku! Permisi tuan!" sanggah Bima tersenyum canggung dan berpamitan.
Akhtar hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku asistennya. Bima pun berlalu dari ruangan Akhtar.
Setelah kepergian Bima, Akhtar pun segera mengambil berkas yang diletakkan Bima tadi, lalu membukanya satu per satu. Mencari foto seseorang yang ingin ia ketahui.
"Kania Indira. Nama yang bagus. Usianya masih 19 tahun? Kenapa muda sekali?" gumam Akhtar sambil memegang data tentang riwayat hidup Kania.
"Gimana kalau dia nolak? Gak, gak, gak mungkin dia nolak! Lagian mana ada cewek yang nolak gue! Akhtar Farzan Wijaya! Gara-gara alergi sialan ini, gue susah deket sama cewek! Heh!" gumam Akhtar lagi sambil mengelus dagunya dan bersandar di kursinya dengan pandangan matanya yang tak lepas dari foto Kania.
Akhtar sudah memikirkan semalaman. Ia memutuskan untuk memilih Kania sebagai wanita yang akan mengandung anaknya kelak. Entah apa yang membuat Akhtar memutuskan hal tersebut. Yang pasti semakin dipikirkan, semakin membuat Akhtar ingin dekat dengan Kania.
Akhtar pun sudah memikirkan tentang alergi yang ia alami. Dugaan Michael yang dijelaskan kemarin justru memunculkan kesimpulan bagi Akhtar sendiri. Bahwa Kania adalah wanita yang bisa menyentuhnya tanpa harus alerginya kambuh lagi. Karena Akhtar yakin, Kania adalah wanita tulen, bukan wanita jadi-jadian seperti yang dikatakan Michael.
Sehingga Akhtar memutuskan untuk coba berdekatan dengan Kania lagi. Ia akan membuktikan bahwa pikirannya tentang Kania adalah benar kenyataan. Bisa jadi, Kania adalah obat kesembuhan bagi alerginya.
"Tapi gimana caranya?" gumam Akhtar sambil berpikir.
"Argh! Kenapa urusan cewek kayak gini ribet banget sih! Mending ngurusin saham udah jelas untung ruginya! Tapi ini? Apa suruh Bima aja ya? Hah, bener, Bima!" gumam Akhtar lagi. Lalu melakukan panggilan ke Bima melalui interkom.
"Ke ruangan sekarang!" ucap Akhtar tegas lalu mematikannya.
"Iy... Astaga! Punya bos satu gini amat!" gerutu Bima dengan kesal karena belum sempat menjawab sudah terdengar nada putus, panggilan pun berakhir.
Bima langsung pergi ke ruangan tuannya yang berada di depannya.
Tok tok tok
"Masuk!" ucap Akhtar dengan tinggi.
__ADS_1
"Ada apa tuan?" tanya Bima setelah masuk dan berdiri di depan meja Akhtar sambil melihat berkas milik gadis yang tak asing berada di meja dekat Akhtar.
"Buat surat perjanjian buat gadis ini!" perintah Akhtar datar sambil menyodorkan berkas milik Kania.
Bima mengernyit heran menatap tuannya lalu menatap berkas itu.
"Maksudnya surat perjanjian apa, tuan?" tanya Bima dengan heran.
"Surat perjanjian mau melahirkan keturunanku! Apalagi?" jawab Akhtar dengan kesal.
Bima terbengong mendengar ucapan tuannya. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Kenapa tiba-tiba meminta gadis ini melakukan perjanjian dengan Akhtar? Sungguh aneh tapi nyata. Takkan terlupa. Malah nyanyi author.
"Kamu dengar gak Bima?" tanya Akhtar dengan kesal.
"I... iya tuan. Kapan tuan?" jawab Bima tersentak dari lamunannya.
"10 tahun lagi!" sahut Akhtar asal dengan geram.
"Hah, 10 tahun lagi?" tanya Bima heran.
"Ya, sekaranglah! Kamu kenapa jadi lemot kayak gini? Udah bosen kerja?" geram Akhtar menahan kekesalannya karena asistennya terlihat telmi (telat mikir).
"Gak tuan! Kan cuma becanda tuan! Hehehehe!" jawab Bima sambil nyengir kuda dan menunjukkan dia jarinya membentuk lambang damai (peace).
"Ya, udah cepetan! Kerjakan sekarang! Cuma 10 menit aku kasih waktu!" ujar Akhtar dengan santai.
"Dikit banget tuan, 10 menit!" protes Bima.
"5 menit atau.... " sahut Akhtar kesal.
"Iya, iya, tuan 10 menit." ucap Bima langsung mengambil data Kania dan berlalu meninggalkan ruangan tuannya.
Akhtar pun melanjutkan kerjanya lagi. Sambil menunggu hasil kerja asistennya.
"Nia, loe dicariin Bu Reni!" ucap seorang office boy yang tengah ngos-ngosan karena berlari.
Deg
*
*
HAI HAI HAI
HAYO, KANIA DICARIIN BU RENI KARENA APA? ADA YANG BISA NEBAK JAWABANNYA?
JAWAB DI KOLOM KOMENTAR YA!
MAKIN SERU AJA KAN CERITANYA.
MAKANYA TUNGGUIN TERUS YA KISAH KANIA DAN AKHTAR.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN FOLLOW YA!
DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERARTI BAGI AUTHOR.
__ADS_1
TERIMA KASIH SEMUA
SELAMAT MEMBACA DAN BERAKTIVITAS