
"Tapi, alergi tuan?" ucap Bima dengan cemas.
Akhtar tetap mengabaikan Bima yang mencemaskannya.
"Aku gak butuh dia sekarang! Aku cuma butuh istirahat saja." balas Akhtar datar sambil memejamkan matanya yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Kamu boleh pergi!" lanjut Akhtar pada Bima.
"Baiklah, tuan!" jawab Bima dengan pasrah. Meninggalkan Akhtar yang masih terpejam di kursinya.
"Jangan ada yang boleh masuk, Bim!" perintah Akhtar lagi.
"Iya, tuan!" jawab Bima lemah sambil menghela napas.
Terdengar suara pintu tertutup, menandakan sang asisten yang sudah keluar ruangan. Tak lama terdengar pintu terbuka kembali.
"Apalagi, Bima?" geram Akhtar yang masih terpejam.
"Akhtar, loe gak pa-pa? Gimana keadaan loe? Apa alergi loe kambuh lagi?" runtun Michael yang bertanya dengan cemas keadaan Akhtar sambil memeriksa badan Akhtar.
"Loe apa-apaan sih? Gue gk pa-pa! Lagian siapa yang suruh loe ke sini?" jawab Akhtar dengan kesal kemudian berdiri dan menjauh dari Michael.
Akhtar berjalan menuju sofa panjang untuk merebahkan diri.
"Tadi Bima sempet telpon gue kayak cemas banget. Ya walaupun langsung mati sih tuh telpon! Jadi gue kira loe kenapa-napa!" balas Michael sambil menghampiri Akhtar yang sudah rebahan di sofa.
"Gue gak pa-pa! Cuma detak jantung gue aja yang masih deg-degan. Gue gak tau kenapa! Seharusnya alergi gue kayak biasanya langsung muncul. Tapi ini sama sekali gak! Entahlah gue juga bingung!" jawab Akhtar sambil memejamkan matanya dan bersidekap.
"Tunggu-tunggu! Berarti tadi, loe bersentuhan sama cewek? Apa cewek yang ikut sayembara loe itu?" ucap Michael dengan praduganya.
"Apaan sih, sayembara! Bukan sayembara! Tapi seleksi pemilihan calon wanita." protes Akhtar membuka matanya dan langsung bangun dari rebahannya lalu duduk.
"Ya kan sama aja, sih Tar!" sanggah Michael.
"Loe!" ketus Akhtar dengan kesal sambil menunjuk telunjuknya ke arah Michael.
"Sorry, Akh.. tar!" balas Michael menekan di akhir kata.
Ck
Akhtar berdecak kesal.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu. Kemudian terbuka menampakkan Bima yang terlihat cemas.
"Tuan Akhtar! Michael!" seru Bima menghampiri keduanya.
Akhtar yang melihat asistennya datang lagi, semakin kesal. Sudah kesal karena kehadiran Michael, ditambah kesal lagi karena Bima. Akhtar sebenarnya tidak ingin diganggu dulu. Ia ingin menenangkan dirinya dulu.
"Beneran banget loe ke sini Michael! Loe udah periksa tuan Akhtar, kan? Tadi ada cewek yang nabrak tuan, bahkan sampai tuan Akhtar jatuh dan nindih tuan. Tolong diperiksa ya Mike!" lanjut Bima dengan cemas.
__ADS_1
(Mike panggilan singkat nama Michael)
"Berarti bener loe bersentuhan sama cewek?" tanya Michael dengan terkejut.
Akhtar menatap tajam pada asistennya. Mendapat tatapan tajam dari tuannya, membuat Bima yang masih berdiri di depannya, meneguk saliva dengan berat.
"Iya! Tapi gak sengaja!" jawab Akhtar dengan enteng sambil menoleh ke Michael.
"Waktu itu juga gak sengaja juga, kan? Tapi kenapa sekarang alergi loe gak kumat? Bukannya yang nabrak loe cewek juga, kan? Atau jangan-jangan cewek jadi-jadian! Jadi alergi loe gak kumat!" balas Michael sambil menduga-duga.
"Emang bisa gitu? Pikiran loe itu Mic, kalau soal cewek tau banget. Bahkan cewek jadi-jadian segala!" ketus Akhtar.
"Bisa jadi, kan? Sekarang gini deh, coba kalian pikir! Alergi loe itu kan, bakal kambuh kalau loe bersentuhan sama cewek. Seperti minggu lalu, kan? Nah! Tapi kenapa sekarang alergi loe sama sekali gak kambuh, padahal loe bersentuhan sama cewek bahkan sampai tindihan segala, kan? Apa artinya coba, kalau bukan tuh cewek jadi-jadian? Iya, kan? Gak mungkin dong cewek asli! Secara loe kan alergi banget sama cewek-cewek!" jelas Michael sambil melihat Akhtar dan Bima secara gantian.
Akhtar terlihat berpikir setelah menyimak perkataan Michael. Sedangkan Bima masih mencerna perkataan Michael seperti orang bingung.
'Apa iya, dia cewek jadi-jadian? Cantik begitu!' batin Akhtar sambil mengeryitkan dahinya dan tanpa sadar memuji Kania.
'Masa iya, tuh cewek bukan cewek asli. Cantik banget begitu. Tapi bisa jadi sih! Karena kan tuan Akhtar sama sekali gak alergi setelah ditabrak bahkan ditindih tuh cewek!' batin Bima sambil mengelus dagunya yang masih berdiri di tempatnya.
"Iya kan, bener gak kata gue?" tanya Michael lagi pada Akhtar dan Bima.
"Emang loe udah pernah liat bentuk cewek jadi-jadian?" tanya Akhtar pada Michael.
"Ya udahlah, Akhtar! Loe kan tau siapa gue! Michael Louis sang cassanova penakluk para wanita." jawab Michael dengan percaya dirinya.
"Termasuk penakluk cewek jadi-jadian?" tanya Akhtar lagi dengan nada menyindir.
Bima terkekeh mendengar sindiran tuannya untuk Michael.
"Ya kan tadi loe bilang sendiri, kalau loe pernah liat bentuk cewek jadi-jadian! Terus dimana salahnya pertanyaan gue coba? Iya kan, Bim? jelas Akhtar dengan mencari pembenaran dari Bima.
"Betul sekali, tuan!" jawab Bima sambil menahan tawanya.
"Brengsek loe, Bim! Main jawab betul aja!" sahut Michael dengan kesal pada Bima. Bima terbahak karena tak sanggup menahannya lagi. Akhtar hanya tersenyum.
"Maksud gue bukan gitu, Mr. Perfect! Maksud gue, gue tau bentukan cewek jadi-jadian dari fisik luarnya aja. Kan bisa kita bedain, cewek asli sama cewek jadi-jadian. Cewek asli berarti onderdilnya asli semua. Kalau cewek jadi-jadian, jelas banget hasil operasi plastik. Ngerti kan loe maksud gue! Apalagi suaranya tuh, bisa dikenalin banget. Mana cewek asli, mana cewek jadi-jadian! Gitu aja, masa kalian gak tau sih! Kesel gue!" jelas Michael sambil melihat Akhtar dan Bima bergantian.
"Ya kan, loe tau alergi gue!" balas Akhtar dengan datar.
"Tapi kayaknya gak mungkin deh, kalau tuh cewek jadi-jadian. Soalnya tuh cewek cantik banget. Dan keliatannya dia cewek asli." sahut Bima dengan santai.
"Bisa aja tuh cewek operasi plastiknya di Korea, makanya kayak cewek asli!" kekeh Michael dengan pendapatnya.
Akhtar yang mendengar sang asisten membicarakan gadis itu, seketika merasakan perasaan aneh di dadanya. Seketika debaran jantungnya kembali berpacu cepat.
Huft
Akhtar menghela napas kasar.
"Loe kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Michael beralih saat melihat Akhtar menghela napas dengan kasar beberapa kali.
__ADS_1
"Tuan! Tuan kenapa?" tanya Bima dengan cemas sambil menghampiri tuannya.
"Gak usah pegang! Sana keluar, buatkan aku kopi!" tolak Akhtar dengan kasar yang hendak dipegang Bima.
Michael terkejut dengan sikap Akhtar. Seperti kesal dengan Bima. Namun ia mengabaikan saja. Sedang, Bima menjadi sedih kala tuannya menolak dipegangnya. Bima pun berjalan keluar untuk melakukan perintah Akhtar. Akhtar sendiri bingung dengan dirinya. Kenapa bisa bersikap demikian. Mungkin ada yang salah dengan dirinya saat ini.
Bahkan mereka jadi melupakan alergi Akhtar yang tidak kambuh karena disentuh wanita lagi. Karena insiden Akhtar yang seperti kesal dengan asistennya.
"Gue juga ya, Bim! Cappucino tanpa krimer! Kering tenggorokan gue dari tadi!" pekik Michael saat Bima sudah menuju pintu. Hanya dibalas dengan anggukan oleh Bima.
"Loe kenapa sih? Gue beneran heran sama loe hari ini! Kok loe kayak kesel gitu sama Bima? Bukan kesel sih! Lebih tepatnya cemburu. Loe cemburu sama Bima? Tapi cemburu tentang apa? Apa karena loe gak bisa deket sama cewek? Tapi kenapa baru sekarang? Ah, jadi pusing gue!" cecar Michael penasaran dengan sikap Akhtar.
"Gue gk pa-pa! Gue cuma capek aja! Sebenernya gue kesel sama kalian berdua, karena istirahat gue keganggu." sanggah Akhtar menyandarkan tubuhnya kembali ke sofa sambil memejamkan matanya.
"Kan karena kita khawatir sama loe, Akhtar! Kita ini mau bantu atasi alergi loe itu. Emang mau sampai kapan loe mau alergi terus sama cewek? Masa iya, loe nikah sama cewek jadi-jadian! Kan gak banget, Akhtar! Masa sang Mr. Perfect terjerat cewek palsu! Gak banget, kan?" jawab Michael dengan entengnya tanpa melihat ekspresi Akhtar yang bertambah kesal.
"Keluar!" perintah Akhtar dengan datar pada Michael.
Michael terjengkit kaget mendengar perintah Akhtar. Dan menoleh ke arah Akhtar yang menatapnya tajam.
"Ya elah, Akhtar! Gue kan cuma becanda! Jangan dianggap serius dong!" sahut Michael menampilkan senyumnya.
"Gue bilang keluar! Makin pusing gue ada loe! Sana, pulang!" usir Akhtar dengan datar.
"Kopi gue juga belum dateng! Tega banget loe! Sahabat ke sini malah diusir. Seneng banget loe ngusir gue!" gerutu Michael yang masih betah duduk.
"Keluar, Michael!" perintah Akhtar menaikkan nada bicaranya satu oktaf.
"Iya iya. Sialan loe, Akhtar!" umpat Michael yang berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.
"Suruh Bima jangan masuk ke sini! Gue lagi gak mood ketemu orang!" pekik Akhtar saat Michael hendak menekan handel pintu.
Michael mengabaikan perkataan Akhtar. Ia begitu kesal dengan sikap Akhtar. Moodnya tidak mudah ditebak.
'Dasar es batu! Gue sumpahin loe kesambet cewek jadi-jadian!' umpat Michael dalam hati yang masih kesal dengan sahabatnya.
*
*
MASIH SETIA MENGIKUTI KISAH "TAWANAN MR. PERFECT KAN?
CERITANYA MAKIN SERU LOE. JANGAN LUPA MAMPIR DI KARYA AUTHOR NOVEL " CINTA YANG SALAH"!
JANGAN LUPA IKUTI AUTHOR DAN TERUS DUKUNG KARYA AUTHOR YA!
LIKE DAN KOMENNYA BOLEH BANGET.
TERIMA KASIH UNTUK PARA PEMBACA YANG MENYEMPATKAN WAKTUNYA MEMBACA KARYA KU DAN TERUS MENDUKUNGNYA.
SELAMAT MEMBACA DAN BERAKTIVITAS READERS
__ADS_1