
"Tuan! Saya.... " ucap bu Meli gugup dan hendak berdiri.
"Tetap di situ! Aku masih bisa dengar!" sahut Akhtar dengan nada datarnya.
"Tuan! Saya mohon keluarkan putri saya! Dia tidak bersalah! Saya hanya punya dia di dunia ini. Saya mohon tuan!" ucap bu Meli memohon sambil berlutut di depan sofa yang ia duduki. Sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya. Wajahnya memelas dan menahan air mata.
Dini terkejut dengan tindakan ibu sahabatnya itu. Dia tidak menyangka kalau bu Meli akan berlutut seperti itu. Akhtar dan Bima pun sama terkejutnya. Namun Akhtar lebih bisa menguasai ekspresi wajahnya.
"Bangunlah! Jangan berlutut seperti itu! Aku bukan Tuhan atau raja yang harus disembah." sahut Akhtar tetap dengan ekspresi dan suara datarnya.
Bu Meli mendongak menatap Akhtar dan Bima, Bima mengangguk kecil di samping Akhtar. Dibantu Dini, bu Meli duduk kembali di sofa.
"Apa yang kudapatkan kalau aku membebaskan putri ibu?" tanya Akhtar setelah bu Meli duduk kembali.
"Apa yang tuan inginkan dari putriku, itu yang tuan dapatkan! Dan saya mohon tuan, tolong bantu saya! Rumah saya akan disita saat ini! Itu adalah rumah peninggalan mendiang suami saya. Mungkin terdengar jahat, seakan saya telah menjual putri saya sendiri. Tapi inilah yang bisa kami lakukan! Kami hanya orang miskin yang tidak bisa berbuat apa-apa. Kami pasrahkan kepada tuan!" balas bu Meli sambil berurai air mata tatkala mengingat nasib putrinya kedepan.
"Aku hanya ingin putrimu menjadi wanita yang akan mengandung anakku. Itu saja! Bahkan itu tidak lama bukan? Hanya 9 bulan. Dan lagi, aku tidak akan pernah menyentuh putrimu! Ada banyak cara untuk hamil tanpa berhubungan. Jadi aku tidak akan menyentuhnya. Cukup dia melahirkan satu anak laki-laki untukku. Dan hidup kalian akan terjamin. Aku akan memberinya 5 M. Dan 1 M akan kuberikan langsung setelah putrimu menandatangani surat perjanjian. Mudah, bukan?" jelas Akhtar dengan datar sambil meletakkan kedua tangannya di pegangan kursi kiri kanannya.
"Berarti tuan tidak akan menikahi putriku?" tanya bu Meli memastikan.
"Sepertinya ibu belum tau tentangku! Aku katakan, aku alergi kepada wanita. Jadi sampai kapanpun aku tidak akan terikat dengan wanita. Begitu juga dengan pernikahan. Bagiku itu tidak penting. Karena aku hanya butuh rahimnya untuk mengandung anakku. Bukan dirinya atau tubuhnya." jelas Akhtar dengan datar.
Bu Meli tentu saja terkejut. Namun ia tidak bisa menentang keputusan Akhtar. Wajahnya berubah murung.
"Tapi ibu tenang saja! Untuk kali ini, aku akan mengubah prinsipku. Tapi hanya untuk 9 bulan. Saat putri ibu dinyatakan hamil sampai melahirkan putra untukku." lanjut Akhtar tegas.
Bu Meli langsung menatap Akhtar yang masih bertampang datar.
"Benarkah, tuan? Jadi tuan akan menikahi putriku? Tidak apa tuan! Setidaknya nama baik putriku tidak akan buruk di mata masyarakat." sahut bu Meli antusias.
"Tapi bagaimana kalau putriku mengandung anak perempuan, tuan?" tanya bu Meli penasaran.
"Maka dia harus mengandung anak lagi. Sampai nanti ia melahirkan putra untukku. Dan anak perempuan yang ia lahirkan, silakan kalian ambil." jawab Akhtar dengan enteng dan datar.
Tiga orang di ruangan itu tentu saja kaget mendengar penuturan Akhtar tanpa beban. Namun bagi bu Meli ia sedikit ada kelegaan. Bagaimanapun anak yang akan dikandung dan dilahirkan tetaplah cucunya. Jika perempuan, maka ia dan putrinya bisa memilikinya.
"Baiklah, tuan! Lakukan apa yang tuan inginkan! Dan bebaskan putriku sekarang juga! Saya sangat merindukannya. Saya mohon, tuan!" balas bu Meli pasrah dengan raut sedih dan memelas.
Bu Meli sudah pasrah dengan takdir yang menimpa putrinya. Mungkin inilah takdir orang miskin seperti mereka.
__ADS_1
Terjadilah kesepakatan antara bu Meli dan Akhtar. Kemudian Akhtar menghubungi pak Sudrajat, polisi yang tadi menangkap Kania.
Setelah 20 menit pembicaraan Akhtar dan bu Meli yang disaksikan Bima dan Dini, kini di ruang itu sudah ada Kania yang duduk di tengah antara ibunya dan Dini. Kania sudah dibebaskan dan dijemput oleh orang suruhan Akhtar ke kantor polisi dan membawanya langsung ke perusahaan ini.
Tangis haru dan pelukan antara Kania dengan ibunya dan Kania dengan Dini terjadi di ruangan itu. Dan itu disaksikan pula oleh Akhtar dan Bima yang masih setia di tempatnya.
"Tanda tangani berkas itu! Ibumu sudah sepakat. Tidak ada penolakan lagi! Dan ini kesempatan terakhir untukmu! Bukankah rentenir itu juga sedang menunggu kalian? Jadi tidak perlu membuang waktu lagi! Aku juga sedang sibuk!" ucap Akhtar dengan datar yang sudah melepas kacamata hitamnya.
Kania tidak ingin menatap wajah Akhtar lagi. Sejak ia masuk ruangan itu, ia tidak ingin melihat Akhtar lagi. Kania begitu membenci laki-laki itu. Karena Akhtar adalah laki-laki pemaksa dan kejam bagi Kania.
Kania menatap ke arah kertas yang diletakkan Bima di meja depannya. Setelahnya Bima kembali lagi ke arah Akhtar. Kania sudah tau kertas yang ada di hadapannya. Kertas yang berisi perjanjian yang ia tolak hari lalu. Kertas yang berisi harga dirinya yang dibayar dengan uang dan ditukar dengan anak.
Bu Meli memberi kekuatan pada putrinya dengan mengusap lengan kanannya. Kania menoleh pada ibunya. Bu Meli hanya bisa mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. Dini menatap sedih pada sahabatnya.
Kemudian Kania mengambil pena yang berada di dekat kertas itu. Dengan tangan gemetarnya, Kania membuka lembaran kertas itu tanpa membaca isinya. Karena bagi Kania akan menyakiti dirinya lagi ketika membaca isinya kembali. Sampai pada lembar akhir yang terdapat namanya dan materai.
Kania tidak membaca keseluruhan surat perjanjian itu lagi. Padahal Kania tidak tahu bahwa ada penambahan poin-poin dalam syarat yang tertulis di surat itu. Dan atas kecerobohan Kania itu, suatu saat akan menimbulkan masalah yang baru bagi hidup Kania.
Kania menarik napas dan menghembuskannya. Lalu ia menggoreskan tanda tangannya di atas materai itu dengan tangan yang bergetar. Lemah. Kania sangat lemah saat ini. Namun tidak ia tunjukkan di hadapan orang. Bahkan ingin menangis saja, sudah enggan ia lakukan.
'Dasar ceroboh!' batin Akhtar menyeringai dan tersenyum miring menatap Kania.
"Bima! Ambilkan uangnya! Dan serahkan ke mereka!" perintah Akhtar setelah menerima berkas yang diberikan Bima.
Bima mengangguk lalu mengambil dua koper ukuran sedang di dekat lemari di belakang Akhtar duduk. Kemudian meletakkan satu koper di atas meja sofa dan membukanya untuk memperlihatkan bahwa di dalamnya memang berisi uang.
Bu Meli dan Dini terkejut melihat uang sebanyak itu di depan matanya langsung. Tapi tidak bagi Kania. Ia hanya menatap datar uang itu. Lalu melihat ke bawah lagi.
Ada rasa tidak suka bagi Akhtar, saat Kania tidak menatap nya lagi sejak masuk ruangan ini. Akhtar lebih suka Kania yang menatapnya meski itu tatapan tajam dan benci. Akhtar seperti merasa diabaikan oleh seorang Kania. Entahlah Akhtar sendiri tidak tau dengan dirinya kali ini.
"Dua koper itu jumlahnya semua 1 M. Dan sisanya 4 M, akan kuberikan setelah kamu melahirkan anak untukku." ucap Akhtar dengan tegas yang masih menatap Kania.
"Ah, iya! Persiapkan dirimu besok pagi! Karena kita akan menikah secara pribadi" lanjut Akhtar lagi dengan datar.
Kania sangat terkejut dan langsung melihat ke arah Akhtar yang sedang duduk penuh wibawa.
"Tanyakan saja itu nanti pada ibumu! Beliau akan memberitahumu semuanya. Dan kamu tidak perlu kerja lagi di kantor ini! Karena setelah menikah besok, kita akan langsung ke rumah sakit." ucap Akhtar lagi dengan tegas.
"Kalian masih ada urusan bukan dengan rentenir itu? Tenang saja, orangku akan mengantar kalian sampai rumah. Dua koper itu akan sangat mencolok bagi orang lain. Dan kalian tentu tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk bukan?" lanjut Akhtar lagi.
__ADS_1
(Bilang aja kalau takut kenapa-napa sama Kania, Akhtar. Pakai koper jadi alasan. Akhtar, Akhtar. Curahan hati author yang kesel liat sikap Akhtar).
"Terima kasih banyak, tuan! Tuan sangat membantu kami!" sahut bu Meli membungkuk sambil pamit pada Akhtar.
Kania sudah berjalan duluan dengan satu koper di tangannya. Ia hanya mengangguk pada Akhtar dan Bima. Dini pun menyusul Kania dan bu Meli dengan membawa satu koper lagi setelah pamit pada tuannya.
"Kamu masih bekerja di perusahaan ini! Dan besok masuk seperti biasa!" ucap Bima yang mewakili Akhtar.
Karena Akhtar malas berurusan dengan Dini. Gadis yang menabraknya dan menyebabkan alerginya muncul lagi. Bahkan kemerahannya pun masih ada sampai sekarang.
"Terima kasih, pak! Terima kasih, tuan!" ucap Dini membungkuk lagi.
"Hm" balas Bima.
Akhtar sibuk memainkan ponselnya, tanpa menyahut sama sekali.
Dini pun keluar ruangan menyusul Kania dan bu Meli yang sudah sampai di depan lift.
*
*
Hai Hai Hai
Akhtar dan Kania update lagi malam ini!
Semoga gak bosen ya dengan ceritanya.
Karena masih panjang nih, episodenya!
Hahahahaha
Nantikan terus ya!
Jangan lupa kasih like, komen dan dukungannya.
Tambahkan novel ini sebagai novel favorit kalian.
Terima kasih dan selamat malam
__ADS_1
selamat membaca readers