
Akhtar sudah berada di kamarnya. Hukuman untuk ketiga sahabatnya sudah selesai. Dan sekarang ketiganya sedang tiduran di ruang tengah tempat Akhtar. Akhtar hendak mengambil sesuatu di lemari nakas, melihat sprei dan selimutnya masih berantakan. Akhtar yang suka kebersihan dan kerapihan langsung menarik selimut itu ke lantai. Dan saat hendak menarik sprei putihnya, Akhtar melihat noda darah di sprei itu.
Akhtar mendekati dan melihat noda darah itu lebih dekat. Lalu Akhtar teringat lagi, bahwa itu adalah darah milik Kania.
(Ah, sakit!) teriakan Kania semalam saat pertama kali Akhtar memasukinya, muncul lagi di kepalanya.
"Ah, sial! Kenapa harus muncul lagi sih! Astaga, junior! Kenapa kamu bangun lagi? Oh ayolah! Apa aku harus mandi lagi?" gerutu Akhtar karena juniornya bangun lagi.
Akhtar kesal karena harus ke kamar mandi lagi untuk menidurkan juniornya. Bahkan Akhtar si Mr. Perfect, harus mandi lagi.
Di ruang tengah, ketiga sahabatnya sedang rebahan di lantai.
"Emang keterlaluan tuh si Akhtar! Jemur orang udah kayak jemur pakaian! Badan jadi gosong gini kan? Huh! Hilang deh pesona gue sebagai cassanova kakap!" gerutu Jonas sambil melihat tangannya.
"Loe sih mending, Nas! Coba liat nih badan gue! Udah merah kayak kepiting rebus!" gerutu Michael menimpali.
"Udah, pada terima aja kenapa sih? Kan emang salah kita ngejebak tuan Akhtar!" sahut Bima menimpali.
"Kita kan ngejebak dia yang enak, Bim! Tapi malah dibales kayak gini sama tuh Mr. Perfect!" sahut Michael kesal.
"Iya nih, Bima! Emang badan loe gak panas dan pegel apa? Dan liat tuh badan loe, juga gosong gitu!" balas Jonas di sebelah kanan Bima.
"Ya mau gimana lagi? Daripada tadi dia ngebales kita sama apa yang kita lakuin ke dia! Dan gak disediain lawannya, lebih berabe kan? Yang ada entar kita saling serang! Kan lebih serem!" balas Bima.
"Bener juga ya! Akhtar kan kalau lagi marah, lebih sadis dari kita! Mending kayak gini deh, daripada dikasih obat perangs*ng tapi gak ada lawan! Bisa pusing semingguan kepala atas sama bawah!" sahut Michael menimpali.
"Gue masih baik kan sama kalian?" seru Akhtar di tangga dengan kedua tangan dimasukkan di dalam saku celana.
Ketiganya menoleh ke arah tangga. Lalu memperhatikan rambut Akhtar yang masih basah. Ketiganya saling pandang dan menahan ketawanya.
"Kenapa kalian? Jadi konslet gara-gara gue jemur? Kalau mau ketawa, ketawa aja! Gak usah ditahan kayak gitu!" ketus Akhtar yang sudah berdiri di hadapan mereka.
Ketiganya bangun dan duduk di lantai mendongak melihat Akhtar lagi.
"Kita yang keringetan, kenapa loe yang basah?" celetuk Michael meledek Akhtar.
"Kayaknya ada yang solo di kamar mandi, Mic!" sahut Jonas menimpali.
"Sialan kalian! Gue mandi karena gerah! Walaupun gue gak berjemur kayak kalian! Tapi gue juga keringetan!" jawab Akhtar beralasan.
"Alah! Bokis banget loe! Tadi pagi aja udah mandi, masa udah mandi lagi! Keramas lagi!" sahut Michael meledek.
__ADS_1
"Kalau gak percaya ya terserah! Gue kan gak suka bau dan kotor! Dan ya! Kalian keluar dari tempat gue! Kalau mau mandi, jangan di sini! Sana tempat Bima!" balas Akhtar kesal.
"Sialan loe Akhtar! Loe yang ngasih hukuman, harusnya loe yang tanggung jawab dong! Cuma mandi doang di sini gak boleh! Pelit loe!" kesal Jonas.
"Whatever!" balas Akhtar menuju meja makan.
"Awas loe Akhtar! Gue sumpahin perkutut loe gak bangun lagi!" seru Michael menyumpahi Akhtar.
Akhtar hanya mengedikkan bahunya sambil mengambil buah apel di meja makan.
Sedangkan Bima tidak ikut menimpali perkataan mereka. Ia masih sayang dengan pekerjaannya.
"Loe kok jadi diem aja sih, Bim! Takut sama Akhtar!" celetuk Jonas di samping Bima.
"Tuan,....!" seru Bima ingin berucap.
Namun terhenti karena melihat tangan Akhtar yang menunjuk ke atas. Menandakan bahwa Bima tidak boleh berbicara.
"Dasar loe, Bim! Gak setia kawan loe!" ucap Jonas lagi.
"Loe kayak gak tau Bima aja sih, Nas! Dia kan cinta mati sama Akhtar!" celetuk Michael meledek Bima.
"Sialan loe, Mic! Gue masih normal ya!" sahut Bima kesal memukul lengan Michael.
"Ah, loe sih, Bim!" celetuk Michael.
"Loe, tuh!" sahut Bima.
"Kalian pergi dari sini, atau gue hukum lagi kalian!" seru Akhtar lagi tanpa berbalik.
"Sialan loe Akhtar! Udah sadis, pelit lagi!" kesal Jonas.
"Gue hitung sampai 1!" seru Akhtar lagi dan berbalik.
"Akhtar!" ucap Michael menghampiri Akhtar.
"Sa....!" ucap Akhtar hendak mengancam.
"Ok, ok! Kita keluar!" seru Michael.
Ketiganya pun keluar dari tempat Akhtar menuju apartemen Bima. Mereka masih bertelanjang dada, tapi sudah memakai celana panjangnya.
__ADS_1
"Sialan banget tuh si Akhtar! Punya sahabat pelit banget!" gerutu Michael di dalam lift.
"Perasaan dulu dia gak pelit deh! Kok sekarang jadi pelit gitu ya?" cetus Jonas yang bersandar di lift.
"Mungkin karena efek kejadian semalem!" celetuk Bima santai.
"Harusnya kalau karena efek semalem, dia makin baik sama kita! Bukannya malah jadi pelit gini! Perkara mandi aja, gak boleh di tempatnya!" sahut Jonas.
Mereka masih melanjutkan kekesalannya sampai di apartemen Bima. Sedangkan di kamar lain, Kania sedang bergelung dalam selimut. Kania bahkan belum mengenakan baju. Hanya handuk yang ia kenalan di tubuhnya. Kania begitu malas untuk melakukan aktivitas lagi setelah tahu banyak tanda merah di tubuhnya.
"Non Kania! Nona belum sarapan dari tadi! Non!" seru bik Yati di balik pintu.
"Nanti aja bik! Kania belum laper!" jawab Kania dengan suara tinggi.
"Bibik bawa ke kamar aja ya non, makanannya!" seru bik Yati lagi.
"Gak usah, bik! Nanti kalau Kania laper, pasti makan kok! Kania cuma pengen istirahat dulu!" jawab Kania lagi.
"Baiklah, non! Jangan lupa makan tapi ya non! Biar ada tenaga lagi!" seru bik Yati tersenyum.
"Iya, bik!" jawab Kania.
Setelah itu bik Yati turun lagi ke lantai bawah. Ia pun melaporkan ke Akhtar mengenai Kania.
"Ada apa bik?" jawab Akhtar di telepon.
"Itu tuan! Non Kania gak mau sarapan! Padahal ini udah hampir siang! Dan katanya belum laper, cuma mau istirahat aja!" ucap bik Yati pelan.
"Ya udah gak pa-pa, bik! Nanti kalau laper juga pasti makan! Mungkin emang lagi capek! Biarin dia istirahat dulu!" balas Akhtar datar.
"Iya, tuan! Mungkin karena semalem ya tuan! Jadinya kecapekan!" celetuk bik Yati tanpa sadar.
"Maksud bibik?" tanya Akhtar.
"Eh, bukan apa-apa tuan! Kalau begitu udah dulu ya, tuan! Sepertinya non Kania manggil tadi!" ucap bik Yati langsung menutup teleponnya.
"Beraninya nutup telepon duluan! Dan tadi apa maksudnya? Kenapa bik Yati bilang seperti itu? Apa bik Yati juga tau yang terjadi semalam?" gumam Akhtar meletakkan telepon dengan kasar.
"Waduh! Ini mulut kenapa keceplosan sih! Kalau tuan Akhtar tau, aku juga ikut kerja sama pak Bima tentang semalem, gimana ya? Huuuh! Udahlah, gak usah dipikirin! Mending sekarang masak buat siang nanti!" gumam bik Yati di dapur.
Di kediaman kakek Wijaya, orang tua Akhtar sedang berkunjung untuk makan siang. Mereka sedang membicarakan masalah pernikahan Akhtar yang ingin diadakan pesta oleh kakek Wijaya. Karena kakek Wijaya menginginkan pernikahan cucunya diketahui oleh publik. Sehingga kabar tentang Akhtar yang alergi wanita, bisa terganti dengan berita Akhtar yang sudah menikah.
__ADS_1
Dan itu artinya, reputasi tentang Akhtar yang buruk bisa ditepis oleh pernikahan Akhtar. Keluarga Wijaya memang tidak mengetahui pernikahan kontrak yang dilakukan Akhtar. Yang mereka tahu, bahwa Akhtar menikah dengan sah menurut agama dan negara. Dan mengetahui tentang rencana Akhtar yang ingin memiliki keturunan dengan cara inseminasi dan bayi tabung.
Bagi mereka cara yang ditempuh Akhtar untuk dapat keturunan, tidak menjadi masalah. Mau secara alami atau melalui medis, yang terpenting keturunan Akhtar terlahir dari pernikahan yang sah. Sehingga tidak ada cap masyarakat tentang anak haram. Apalagi itu adalah calon penerus keluarga Wijaya. Keluarga terpandang dan konglomerat, yang dihormati orang-orang di negeri ini.