Tawanan Mr. Perfect

Tawanan Mr. Perfect
Bab 20 Bertemu Akhtar


__ADS_3

Di kediaman utama kakek Wijaya, enam orang tengah duduk di meja makan dengan tenang. Menikmati hidangan yang tersaji di atas meja makan. Hari ini Akhtar makan siang bersama keluarganya. Bima pun turut hadir dalam jamuan makan siang tersebut, atas ajakan kakek Wijaya.


Beberapa menit berlalu, mereka pun sudah selesai menikmati makanannya.


"Siapa lagi wanita yang kamu sentuh?" tanya kakek Wijaya setelah mengelap mulutnya dengan kain khusus.


"Bukan aku yang menyentuhnya, kek! Tapi tidak sengaja menabrakku." jawab Akhtar dengan datar.


"Hobi sekali wanita menabrakmu!" sindir kakek Wijaya sambil melirik cucunya yang duduk di dekat kakeknya.


"Entahlah!" balas Akhtar mengedikkan bahunya.


"Sepertinya kamu sudah menemukan wanita yang akan melahirkan keturunanmu?" tanya kakek Wijaya sambil menatap cucunya.


Kakek Wijaya dan keluarganya memang sudah tau wanita yang dipilih Akhtar. Tentu saja itu sangat mudah bagi kakek Wijaya dan pak Farzan. Mata-mata mereka banyak. Tapi tentang perjanjian yang dilakukan Akhtar tidak ada yang tahu, kecuali Akhtar, Bima dan Kania sendiri.


"Tanpa aku memberi tahu kakek, kakek pun pasti sudah tau! Jadi buat apa aku memberi tahu kakek lagi?" jawab Akhtar dengan menyindir.


"Kamu memang cucuku! Hahahahaha... " balas kakek Wijaya lalu terbahak.


Akhtar hanya memutar bolanya malas. Sedangkan yang lain mendengarkan sambil tersenyum kecil.


"Tapi kakek tidak suka dengan caramu, Akhtar! Lakukanlah sebagai laki-laki yang jantan. Tidak dengan kekerasan ataupun ancaman kepada wanita. Memang kita tidak boleh lemah terhadap musuh kita. Namun instingmu juga perlu digunakan bukan?" lanjut kakek Wijaya lagi dengan nada datarnya setelah berhenti tertawa.


"Aku tau apa yang kulakukan kakek! Bukankah aku langsung belajar dari kakek sendiri?" sahut Akhtar dengan nada datarnya dan menatap kakeknya.


"Ya! Kakek tau! Tapi kau menyakitinya. Bahkan keluarganya yang tidak bersalah." balas kakek Wijaya sambil menatap wajah Akhtar. Akhtar hanya diam dan menatap kakeknya.


"Apa tidak ada gadis lain, Akhtar? Bukannya kamu mengadakan seleksi?" sahut pak Farzan ikut berbicara.


"Cucuku lebih tau dengan keputusannya Farzan!" sahut kakek Wijaya menimpali pertanyaan putranya.


"Tapi kita juga harus memikirkan bibit bebet bobotnya bukan, pa?" sergah pak Farzan menyela perkataan ayahnya.


"Kalau Akhtar sudah memutuskan memilih gadis itu, berarti itu yang terbaik untuk dia. Hanya Akhtar yang bisa menentukan pilihannya sendiri. Dan papa mendukungnya. Jangan ada yang coba mengganggu gadis itu!" jawab kakek Akhtar tegas menatap putra dan menantunya.


Pak Farzan dan Nyonya Sonya hanya diam tanpa membalas perkataan kakek Wijaya. Sedangkan nenek Aishe hanya tersenyum kecil. Jika kakek Wijaya sudah memutuskan, maka tidak ada yang bisa menggugatnya. Termasuk Akhtar sendiri.


Akhtar hanya menatap datar ke depan. Begitu pula dengan Bima hanya diam di samping Akhtar.


Bima merasakan ada getaran ponsel di saku jasnya. Ia lalu mengambil ponsel tersebut dan melihat siapa yang menghubunginya. Lalu ia berbisik ke Akhtar.

__ADS_1


"Aku harus pergi, kek! Klienku sudah ada yang menunggu." ucap Akhtar menatap kakeknya.


"Pergilah! Ingat pesan kakek! Bawa gadis itu sabtu malam!" balas kakek Wijaya dengan tegas. Akhtar hanya mengangguk.


Akhtar dan Bima meninggalkan meja makan setelah berpamitan dengan keluarganya. Menaiki mobil menuju perusahaannya.


"Kami juga pamit, pa, ma!" ucap pak Farzan bangun dari duduknya bersamaan dengan istrinya.


"Hm! Ingat Farzan, Sonya! Biarkan Akhtar menentukan pilihannya sendiri. Jangan pernah ikut campur urusannya mengenai calon keturunannya! Kalian akan suka jika nanti sudah melihatnya!" sahut kakek Wijaya tegas memandang Farzan dan Sonya yang berdiri berdampingan di dekat kakek Wijaya.


"Iya, pa!" jawab Sonya dengan sopan. Sedangkan Farzan hanya mengangguk.


Orang tua Akhtar pun pergi dari kediaman orang tuanya menuju rumah mereka. Pak Farzan memang hanya sesekali pergi ke perusahaan lain yang dipegangnya.


Di dalam mobil, Akhtar hanya diam menatap jalanan raya di depannya. Bima pun fokus menyetir mobil dan membawanya ke perusahaan.


Sampailah mereka di perusahaan. Turun dari mobil dan berjalan menuju ruangannya. Tiba di lobi perusahaan, dua orang wanita berbeda usia bangun dari duduknya setelah melihat kedatangan Akhtar dan asistennya.


"Itu tuan Akhtar, bu!" ucap Dini pelan kepada bu Meli yang duduk di sampingnya sambil menunjuk Akhtar dengan dagunya.


Bu Meli pun menoleh dan melihat dua pria yang gagah dan tampan sedang berjalan ke arah lift.


"Yang mana, Din?" tanya bu Meli penasaran karen melihat dua pria tampan.


Akhtar dan Bima sudah mengetahui kedatangan Dini dan ibunya Kania di kantor ini. Namun mereka mengabaikannya di lobi. Akhtar tidak mau pembicaraannya diketahui orang lain.


"Ganteng banget ya, Din! Kayak pemain film." celetuk bu Meli setelah melihat Akhtar secara langsung.


Bu Meli sampai lupa dengan kesedihan dan tujuannya karena melihat Akhtar. Dini hanya menepuk jidatnya pelan.


"Eh! Tapi masih gantengan almarhum ayahnya Kania. Dia cuma menang kayanya aja." lanjut bu Meli seketika teringat mendiang suaminya.


"Ibu mau bahas kegantengan tuan Akhtar atau mau nyelametin Kania dan rumah ibu? Kita cuma punya waktu satu jam lho, bu! Pak Bondan gak bakal kasih kita waktu lagi. Ayo, bu!" sahut Dini mengingatkan bu Meli yang membahas wajah tampan Akhtar dan suaminya yang sudah meninggal.


"Ya ampun, ibu sampai lupa! Ayo, Din!" jawab bu Meli menepuk jidatnya pelan dan menarik tangan Dini.


Akhtar dan Bima sudah masuk lift dari tadi. Jadi Dini dan bu Meli berusaha menemuinya menuju lift karyawan. Namun belum sampai lift, mereka sudah dicegah oleh satpam terlebih dahulu.


"Maaf mbk Dini dan ibu! Kalian harap mengikuti saya! Ini perintah dari tuan Akhtar!" cegah satpam yang menghampiri Dini dan bu Meli. Mereka menatap heran pada satpam di depannya.


"Kemana ya, pak?" tanya Dini dengan penasaran.

__ADS_1


"Mari ikut saya!" ajak satpam itu menuju lift membawa mereka menemui Akhtar di tempat khusus.


Dini dan bu Meli hanya mengikuti satpam itu masuk ke dalam lift karyawan yang hendak mereka masuki tadi. Ini bukan pertama kalinya bagi bu Meli naik lift sepanjang hidupnya. Karena pernah beberapa kali dulu saat sedang berpacaran dengan mendiang suaminya. Jadi bu Meli tidak asing dengan benda kotak berjalan itu.


"Ibu pegangan Dini ya kalau takut!" ucap Dini pelan sambil menyentuh lengan kiri bu Meli.


Dini melihat wajah bu Meli yang semula antusias menjadi murung. Jadi pikir Dini mungkin karena bu Meli takut naik lift dan berpikir karena pertama kalinya.


"Iya, Dini!" balas bu Meli berusaha tersenyum ke arah Dini. Menyembunyikan kecemasannya mengingat nasib Kania.


Lift pun sampai pada lantai 20. Lantai yang biasa digunakan sebagai tempat rapat, meeting, atau pertemuan pribadi. Keluarlah satpam itu yang diikuti Dini dan bu Meli dari belakang. Belok ke arah kanan menuju tempat pertemuan pribadi yang cukup luas.


Tok tok tok


Satpam mengetuk pintu dan tak lama pintu dibuka oleh Bima. Setelahnya satpam pamit undur diri meninggalkan lantai itu. Dini dan bu Meli dipersilakan masuk dan duduk di sofa. Akhtar sendiri duduk di kursi yang berbeda dengan sofa yang ada di ruangan itu. Jarak duduk Akhtar dengan sofa itu sejauh 3 meter.


Bima lalu menghampiri tuannya dan berdiri di sampingnya.


Tak ada yang memulai pembicaraan di antara mereka. Akhtar hanya menatap datar pada dua wanita yang duduk jauh di depannya. Bima pun sama hanya menatap mereka. Sedangkan, Dini dan bu Meli terlihat gugup dan bingung memulai pembicaraan tanpa berani menatap wajah pria yang sedang duduk. Mereka menunggu dua pria di depan mereka berbicara duluan.


"Apa tujuan ke sini hanya untuk duduk dan diam?" seru Akhtar dengan suara beratnya yang terdengar menyeramkan di telinga Dini dan bu Meli.


'Ya ampun, menyeramkan sekali orang ini! Tampan tapi mengerikan. Apa sudah benar aku datang ke sini? Gimana nasib Kania?' batin bu Meli karena kaget dengan nada suara Akhtar seperti mengintimidasi.


"Masih belum bicara? Apa ibu ingin putri ibu menginap di penjara malam ini?" ucap Akhtar lagi menurunkan nada bicaranya. Ia ingat dengan pesan kakeknya.


"Tuan! Saya..... " ucap bu Meli terjeda.


*


*


Gimana ceritanya?


Makin penasaran kan?


ikuti terus ya!


jangan lupa like, komen dan dukungannya ya!


Terima kasih

__ADS_1


Selamat malam dan selamat membaca readers


__ADS_2