Tawanan Mr. Perfect

Tawanan Mr. Perfect
Bab 42 Ucapan Pak Farzan


__ADS_3

Esok paginya, Akhtar menelepon Kania melalui telepon kabel. Kania yang masih tidur karena badannya yang masih pegal-pegal, menjadi terganggu dengan suara dering telepon di nakas.


"Apa sih, berisik banget! Gak tau lagi tidur apa? Ganggu aja!" gerutu Kania yang sudah mengangkat teleponnya.


"Dasar gadis pemalas! Apa kau tidak malu dengan ayam? Mereka aja sudah mencari makanan! Sedangkan kamu, malah asyik di bawah selimut!" oceh Akhtar di balik telepon.


"Ah, kenapa telepon segala sih!" gumam Kania menutup telepon dengan tangannya.


"Eh, tuan Akhtar! Ada apa tuan?" ucap Kania pelan.


"Nanti sore bersiap! Kakek menyuruh kita ke rumahnya!" jawab Akhtar dengan datar.


"Apa tidak bisa ditunda, tuan?" tawar Kania pelan.


"Tidak bisa! Ingat! Jangan pernah menolak dan membantah ucapanku dan kakek! Memangnya kamu kenapa? Sakit?" sergah Akhtar tegas.


"Iya, sakit tuan!" jawab Kania lirih.


"Memangnya masih sakit?" tanya Akhtar dengan datar dan sedikit cemas.


'Astaga! Kenapa harus ditanya sih? Itu gara-gara kamu tuan Akhtar!' batin Kania kesal.


"Oh, gak tuan! Tadi salah ngomong! Iya nanti sore saya siap-siap!" sergah Kania di telepon.


"Ya sudah! Aku ke kantor dulu!" jawab Akhtar tanpa sadar dan langsung menutup telepon.


"Hah!" Kania bingung dan meletakkan telepon itu lagi di nakas.


"Sial! Apa yang kukatakan! Kenapa harus pamit segala sama dia? Hah! Sudahlah! Lebih baik aku ke kantor sekarang!" gumam Akhtar di kamarnya.


"Males banget sih! Nih badan juga masih pegel aja! Gara-gara tuan Akhtar! Badanku sakit begini! Mana sore nanti pergi ke rumah kakek lagi! Huh!" gerutu Kania bangun tidur dan duduk di ranjang.


Akhtar sudah berangkat ke perusahaan bersama Bima. Sementara Kania, berjalan menuju kamar mandi. Berdiri di depan wastafel dan bercermin.


"Ya ampun! Masih merah-merah lagi! Gimana aku nutupinnya!" gumam Kania menyentuh lehernya.


"Apa memang lama ya hilangnya? Coba cari tahu di HP deh!" gumam Kania lagi. Lalu balik ke ranjang lagi mengambil ponselnya di atas nakas.


Kania pun mengetik di laman pencarian mengenai cara menghilangkan kiss mark. Kania pun membuka satu link, lalu membacanya. Kania pun mencoba salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menghilangkan tanda merah yang ada di lehernya.


Saat siang harinya, Kania kedatangan tamu wanita paruh baya dan wanita muda. Mereka adalah terapis pijat dan spa. Mereka dipesan oleh Bima atas suruhan Akhtar. Karena Akhtar tahu, Kania membutuhkannya.


"Wah, kebetulan sekali! Baik juga ternyata!" gumam Kania tersenyum.


Kania pun merebahkan diri di ranjang kamar tamu yang ada di lantai bawah. Terapis yang melihat bahu Kania banyak kiss mark, hanya tersenyum. Kania menahan rasa malunya lagi. Terpenting baginya, badannya bisa dipijat dan tidak pegal lagi.


Sementara di kantor, Akhtar sedang berbincang dengan papanya. Pak Farzan datang ke perusahaan Akhtar untuk membahas urusan bisnis.

__ADS_1


"Bagaimana pernikahanmu?" pak Farzan basa-basi setelah selesai urusan perusahaan.


"Baik! Kenapa papa tanya begitu?" Akhtar mengernyit heran.


"Tidak apa! Papa hanya berpikir, apa benar gadis itu tidak membuat kamu alergi?" pak Farzan ingin tahu.


"Ya! Sama seperti mama dan nenek! Wanita yang tidak membuatku alergi!" Akhtar menjawab dengan datar.


"Menarik juga! Berarti kamu bisa menyentuhnya bukan?" pak Farzan tersenyum remeh.


"Maksud papa apa? To the point aja pa!" Akhtar menatap datar papanya.


"Kalau kamu bisa menyentuhnya, itu artinya kamu bisa memiliki keturunan tanpa harus lewat medis! Dia juga istrimu yang sah! Jadi kamu bisa memiliki keturunan secara alami!" ucap Pak Farzan dengan santai sambil menikmati kopinya.


Akhtar menatap datar papanya.


"Papa terlalu ikut campur urusan Akhtar! Kalian tinggal menunggu saja berita baiknya! Aku akan segera memberikan keturunan untuk kalian!" Akhtar menjawab sedikit ketus.


"Akhtar! Akhtar! Kami itu hanya ingin yang terbaik untuk kamu! Kamu memilih gadis itu jadi istrimu, kami menerimanya dengan baik! Kami tidak peduli status sosialnya. Bagi kami, gadis itu adalah perempuan baik-baik dan dari keturunan baik-baik juga! Papa senang karena akhirnya ada perempuan yang tidak menyebabkan alergimu kambuh! Mungkin gadis itu memang jodohmu!" pak Farzan menjelaskan dengan santai.


"Akhtar tau, pa! Tapi untuk urusan pribadiku, papa tidak perlu ikut campur! Aku tau harus melakukan apa!" Akhtar menjawab dengan kesal.


"Okelah! Kalau begitu, papa pergi dulu ya!" pak Farzan berdiri dan melangkah keluar.


"Kamu harus mencobanya, nak! Karena rasanya membuatmu ketagihan!" pak Farzan berbisik di samping Akhtar sebelum pergi.


"Papa!" seru Akhtar.


Pak Farzan keluar ruangan dengan terbahak-bahak. Ia berhasil mengerjai putranya.


"Sial! Gara-gara ucapan papa! Junior bangun lagi! Mana di kantor lagi!" Akhtar menggerutu kesal sambil berjalan ke kamar mandi ruang pribadinya.


Bima kemudian masuk, meletakkan berkas di atas meja kerja tuannya. Bima mencari tuannya ke sekeliling ruangan.


"Mungkin tuan di kamar!" gumam Bima sambil menunggu di dekat meja kerja tuannya.


Cukup lama Bima menunggu Akhtar keluar. Kakinya sampai pegal karena berdiri. Itulah Bima, orangnya suka berdiri kalau sedang menunggu Akhtar atau bersama Akhtar. Ia terlalu sungkan untuk duduk jika di ruangan Akhtar.


"Lama banget ya, tuan Akhtar! Apa ketiduran atau apa sih? Udah hampir setengah jam ini! Tinggal aja dulu deh! Nanti ke sini lagi!" Bima bermonolog sambil melihat ke pintu ruang pribadi tuannya.


Bima melangkah menuju pintu keluar. Tapi pintu ruang pribadi tuannya terbuka, dan muncullah Akhtar.


"Tuan!" sapa Bima berbalik menuju tuannya.


"Oh! Kenapa, Bim?" Akhtar menatap Bima dan duduk di kursinya dengan santai.


Bima memperhatikan penampilan tuannya yang hanya mengenakan kemeja dan celana kerja tanpa dasinya.

__ADS_1


"Ini tuan, berkas yang tuan minta!" Bima melirik penampilan Akhtar lagi.


"Kenapa kamu? Ada yang salah dengan penampilanku?" Akhtar menatap selidik.


"Itu, tuan tidak pakai dasi?" Bima menjawab dengan ragu.


"Oh, sengaja aku lepas!" Akhtar menjawab asal dan melihat berkas yang diletakkan Bima.


"Iya tuan!" Bima mengangguk.


'Apa tuan habis solo lagi ya? Gak biasanya tuan di kantor seperti ini! Hah! Tuan sudah benar-benar kecanduan sepertinya!' batin Bima menahan senyumnya.


"Bim! Bima!" Akhtar memanggil Bima yang melamun.


"Ah iya tuan!" Bima sampai gelagapan.


"Kamu melamun? Mikirin apa kamu?" Akhtar memicingkan matanya menatap penuh selidik.


"Itu tuan, mikirin kucing tetangga yang melahirkan!" Bima menjawab dengan asal.


"Melantur kamu ya? Urusan kucing tetangga kamu pikirin! Pikirin tuh, kapan kamu nikah? Jangan kaw*n terus kerjaannya!" Akhtar membalas dengan ucapan menohok.


"Tuan! Mentang-mentang udah nikah dan kaw*n! Enak banget ngomongnya! Saya juga lagi nyari gadis yang tepat tuan! Gak kaw*n terus juga tiap hari! Cuma sesekali aja kalau pengen!" Bima menjawab sedikit ketus.


"Ya makanya buruan! Gak bosen kamu bercinta terus sama mereka? Pilih satu perempuan yang baik-baik! Jangan kayak perempuan yang sering kamu bayar itu! Kelak bakal jadi ibu dari anak-anakmu!" Akhtar menasihati bagai pakar rumah tangga.


"Gaya tuan udah kayak ahilnya aja! Iya tuan! Saya juga tau kok tuan! Orang tua juga udah menyuruh saya nikah terus!" Bima menjawab dengan candaan.


"Nah itu! Cepetan cari! Keburu karatan tuh burung!" Akhtar mengejek dengan santainya.


"Astaga tuan! Mana ada burung karatan tuan?" Bima memprotes.


"Terserah! Ya udah buruan pergi sana! Jangan lupa pesenin makanan buatku!" Akhtar membalas tanpa melihat Bima.


"Baik yang mulia!" jawab Bima becanda. Lalu pergi ke arah pintu.


"Dasar Bima!" Akhtar mengumpat.


Akhtar melanjutkan pekerjaannya sambil menunggu makan siang yang dipesan Bima.


*


Maaf ya readers telat updatenya.


Semoga tetep setia ngikutin kisah Kania dan Akhtar ya!


Jangan lupa kasih like dan komennya!

__ADS_1


Terima kasih readers


__ADS_2