
Deg
Degup jantung Kania yang mulai normal, kembali berdetak cepat mendengar ucapan Seli yang menyebut nama sahabatnya. Kania langsung beranjak dari kursinya menghampiri Seli yang masih di depan pintu pantry.
"Dini kenapa, mbak Seli?" tanya Kania dengan gemetar dan khawatir.
Rencananya saat masuk pantry, Kania ingin berpamitan pada sahabatnya lebih dulu. Dan memberi tahu Dini bahwa ia mengundurkan diri dari pekerjaannya. Meski empat hari lagi, ia gajian. Kania sudah tidak peduli.
"Ikut mbak aja!" ajak Seli menarik tangan kanan Kania.
Keduanya naik lift menuju lantai satu. Tiba di lantai satu di lobi, kerumunan beberapa karyawan yang ada di lantai satu, melihat ke arah gadis yang tengah menangis diborgol oleh polisi wanita. Tiga orang polisi, satu wanita dan dua polisi laki-laki berdiri tegap di depan Dini.
Kania yang melihatnya setelah keluar dari lift, langsung berlari mendekati sang sahabat. Tidak jauh dari Kania dan Dini berdiri, dua pria tampan memperhatikannya. Akhtar dibalik kacamata hitamnya, menatap datar dan seringaian. Sedang Bima, menatap dengan iba.
"Pak! Tolong jangan tangkap teman saya! Tangkap saya saja, pak! Dia tidak bersalah! Biar saya yang menggantikannya, pak! Pak, tolong lepaskan teman saya!" ucap Kania dengan memohon sambil menangis memegang tangan Dini yang sudah diborgol.
Dini hanya menangis. Ia merutuki kebodohannya sendiri.
"Harap anda jangan menghalangi tugas kami, nona! Bicarakan saja di kantor polisi! Kami buru-buru!" sahut salah seorang polisi laki-laki paruh baya berkumis tebal dengan tegas.
"Tapi, pak!..." sahut Kania terpotong oleh suara Dini.
"Udah, Nia! Gue gak pa-pa! Emang ini salah gue! Gue harus tanggung jawab!" ucap Dini dengan sendu dan masih menangis.
"Gak, Din! Aku yang salah! Kamu ngelakuin itu demi aku! Aku yang seharusnya dipenjara, Din! Bukan kamu! Pak, tolong tahan saya saja! Saya yang bersalah! Bukan teman saya!" ucap Kania dengan gemetar menatap Dini dan beralih ke polisi berkumis tebal.
Terdengar kasak-kusuk antara karyawan. Saling menduga kesalahan apa yang dilakukan oleh pegawai office girl itu.
"Tangkap saja sekalian wanita itu! Dia ingin dipenjara, bukan? Kenapa tidak menangkapnya juga?" seru Akhtar dengan nada tinggi yang berjalan mendekat polisi laki-laki. Ia memberi jarak pada wanita di sekitarnya.
Kania yang tau pemilik suara itu, langsung menoleh dan menatap tajam pada Akhtar. Akhtar hanya menyeringai, tersenyum miring. Tatapan tajamnya tak terlihat, namun bisa dirasakan hawa sekitarnya.
Bima hanya mengikuti dengan pasrah kemana Aktar pergi. Lalu melirik Kania dan Dini dengan iba.
"Pak Akhtar!" seru polisi berkumis tebal bernama Sudrajat itu dengan sopan. Akhtar hanya mengangguk tanpa menoleh ke wajahnya. Akhtar fokus menatap Kania.
Kania yang melihatnya, menggelengkan kepalanya. Benar-benar kekuasaan dan uang mampu membeli apapun. Bahkan hukum sekalipun.
"Kamu ingin ikut dipenjara atau menggantikan temanmu itu? Pilih sekarang!" ucap Akhtar dengan dingin.
Orang-orang di sekitar begitu takut mendengar nada dingin seorang Akhtar. Tak terkecuali Kania. Nyalinya kini ciut. Namun ia berusaha untuk menutupinya. Kania salah telah berani dengan seorang Akhtar. Kania sepertinya lupa jika Akhtar adalah pewaris kerajaan bisnis Wijaya Group. Orang terkaya nomor satu di negeri ini. Bahkan masuk dalam 100 keluarga kaya di dunia.
Kania mengajukan kedua tangannya untuk diborgol, menggantikan Dini. Tanpa menjawab pertanyaan Akhtar dan mengabaikannya. Kania menoleh ke polisi wanita.
__ADS_1
"Tangkap saya, Bu! Saya menggantikan teman saya!" ucap Kania dengan tegas dan gemetar. Air matanya berusaha ia tahan. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan orang, terutama di depan Akhtar.
Dini tercengang mendengar ucapan Kania. Begitu juga dengan Seli dan karyawan lainnya yang ada di situ.
Polisi wanita tadi memandang ke arah Kania dan pak Sudrajat. Lalu dibukalah borgol di tangan Dini setelah mendapat anggukan pak Sudrajat, atasannya. Dipindahkan ke tangan Kania yang masih mengambang. Tatapan Kania tajam pada Akhtar yang berdiri jauh 3 meter darinya. Akhtar hanya menatap datar di balik kacamatanya.
"Gimana ibu loe, Nia? Gue harus jawab apa? Udah biar gue aja yang dipenjara. Kasihan ibu loe kalau loe harus dipenjara!" ucap Dini dengan cemas sambil memegang bahu Kania.
"Aku titip ibu ya, Din! Bilang aja yang kamu tau sama ibu! Pasti ibuku ngerti kok!" balas Kania menoleh ke arah Dini sambil tersenyum sedih.
"Harusnya gue aja, yang dipenjara, Nia! Bukan loe!" balas Dini memeluk Kania karena air matanya mengalir lagi.
"Bawa secepatnya, pak! Pemandangan ini sangat mengganggu jalanku!" seru Akhtar yang jengah menatap drama di depannya. Akhtar nih gak punya perasaan.
Kania langsung dibawa paksa oleh polisi wanita karena dipegang erat oleh Dini. Kania menatap kosong sambil dituntun polisi wanita itu. Sementara dua polisi laki-laki sudah berjalan duluan.
Akhtar menatap dengan pandangan yang tidak bisa ditebak oleh siapapun. Entah kenapa, ada perasaan aneh saat Akhtar melihat Kania dibawa polisi seperti itu. Namun ia berusaha mengabaikannya. Lalu melanjutkan langkahnya keluar menuju mobilnya diikuti oleh Bima.
Dini luruh terjatuh, menangis tergugu menyaksikan sahabatnya harus menggantikannya dipenjara. Seli berusaha menenangkan Dini. Sementara karyawan lain, masih saling berbisik. Ada yang mencemooh. Ada juga yang iba. Itulah manusia.
Di dalam mobil, di kursi penumpang samping kemudi, Akhtar menyandarkan duduknya. Bima fokus menyetir menatap jalanan depan. Saat ini mereka hendak menuju kediaman kakeknya Akhtar.
"Pastikan besok, sudah beres semua! Aku tidak ingin ada drama seperti tadi lagi! Paham, Bim?" ucap Akhtar dengan datar.
"Paham, tuan!" jawab Bima dengan patuh.
Dini izin pulang siang ini. Ia membawa tas milik Kania yang ada di loker dan juga tasnya. Ia pulang mengendarai motornya. Matanya sembab dan masih sesenggukan karena tangisannya tadi.
Sampai di depan rumah Kania, Dini mengambil napas dalam dan menghembuskannya. Menatap dirinya di kaca spion motor miliknya. Memperhatikan wajahnya yang masih terlihat sembab. Dini tutupi dengan bedak padat yang selalu ia bawa di tasnya.
Turun dari motor kemudian mengetuk pintu. Jam siang seperti ini, biasanya ibu Meli sudah ada di rumah. Namun beberapa kali mengetuk, tidak ada sahutan sama sekali. Akhirnya Dini memutuskan untuk pulang. Saat akan menghidupkan mesin motornya, dari arah belakang terdengar suara ibu Meli memanggilnya.
"Lho, Dini! Kok udah pulang?" seru ibu Meli sambil meletakkan motor matic peninggalan suaminya. Ibu Meli heran dengan Dini yang sudah pulang dan memegang tas milik anaknya.
Rupanya ibu Meli baru pulang dari jualan kelilingnya. Biasanya jam 10 pagi, kuenya sudah habis. Namun, hari ini sampai siang baru habis.
"Eh, ibu!" sapa Dini dengan sopan lalu turun dari motornya.
"Ayo, masuk!" ajak ibu Meli membuka pintu rumahnya.
Dini pun masuk setelah ibu Meli. Duduk di kursi jok yang sudah sedikit sobek di kulitnya.
Ibu Meli juga ikut duduk di kursi seberang Dini setelah menyajikan air minum dan sedikit kue sisa dagangannya untuk Dini.
__ADS_1
"Maaf ya, Dini! Cuma ada air putih dan sisa kue dagangan ibu!" ucap Ibu Meli dengan pelan dan tersenyum.
"Dini yang malah ngerepotin, ibu!" sahut Dini dengan sungkan.
"Kamu kayak sama siapa aja, Dini! Oh ya! Kamu kok jam segini udah pulang kerja? Terus itu tas Kania, kan? Kenapa dibawa kamu? Kania nya kemana? Apa masih di kantor? cecar ibu Meli yang sudah penasaran sejak tadi.
Dini langsung mendekat ke bu Meli, duduk di sebelahnya. Sebelum memberitahukan bu Meli, Dini meminum dulu segelas air yang disuguhkan bu Meli. Meminumnya hingga habis karena sangat haus karena menangis dan kepanasan di jalan tadi.
Dini kemudian memberikan tas Kania kepada bu Meli. Lalu menceritakan apa yang telah menimpa Kania. Dini menceritakan apa yang ia tahu. Dari awal kejadian hingga timbulnya masalah. Puncaknya saat Dini menceritakan Kania yang dipenjara hari ini karena menggantikannya.
Tangisan ibu Meli pecah, mendengar nasib yang menimpa putrinya. Dini yang melihatnya pun ikut menangis kembali dan memeluk ibu Meli. Keduanya larut dalam kesedihan.
"Jadi, maksud Kania semalam adalah ini? Kania tidak dinikahi tapi harus mengandung anak bosnya? Itu artinya rahimnya dibeli dan anaknya akan diambil oleh bosnya itu? Laki-laki seperti apa yang punya pikiran sepicik itu? Apa karena dia kaya, lalu seenaknya saja melakukan ini pada putriku? Siapa tadi namanya?" jelas bu Meli dengan kesal penyebab putrinya seperti itu.
"Tuan Akhtar, bu! Akhtar Farzan Wijaya! Pewaris tunggal keluarga Wijaya. Orang terkaya di negara ini, bu!" jawab Dini dengan lesu.
"Apa? Jadi, jadi bos kalian adalah orang terkaya di negara ini? Gimana bisa kalian berurusan dengan pria seperti itu? Ya Tuhan! Putriku! Lalu gimana sekarang ibu membebaskan Kania dari penjara? Ibu bingung Dini." ucap bu Meli terkejut dan tertunduk lesu memikirkan nasib putrinya.
Dini pun masih bingung memikirkan cara membebaskan Kania. Memohon pada tuan Akhtar pun sepertinya percuma.
Tak lama terdengar teriakan seorang pria dari luar. Bu Meli dan Dini saling memandang. Bu Meli keluar dan kaget dengan kedatangan orang dan anak buahnya yang berpenampilan seperti preman. Dini pun ikut keluar, terkejut karena tau pria paruh baya di halaman rumah bu Meli. Dini pun berdiri di samping bu Meli.
"Pak Bondan! Ada ya pak? Kan masih ada waktu satu bulan lagi, pak?" tanya bu Meli dengan sungkan.
Pak Bondan, sang lintah darat yang terkenal di daerah tempat tinggal Kania dan Dini. Orang yang tidak akan segan-segan bertindak kasar kepada yang meminjam uangnya. Namun sulit untuk membayar. Pak Bondan juga suka gonta-ganti istri. Ia ditakuti oleh warga kampung di situ bahkan luar kampung.
"Saya tidak perlu menunggu satu bulan lagi, bu Meli! Waktunya hari ini, anda harus membayar semua hutang ibu beserta bunganya. Kalau tidak bisa, silakan keluar dari rumah ini!" ucap Pak Bondan dengan tegas. Dua anak buahnya berdiri di sampingnya dengan tatapan bengis kepada bu Meli dan Dini.
"Tapi, pak Bondan! Saya belum ada uangnya saat ini." balas bu Meli dengan memelas.
"Kalau begitu, tinggalkan rumah ini! Cukup bawa bajumu dan putrimu! Karena rumah dan isinya jadi milikku sekarang! Silakan!" balas Pak Bondan dengan tegas, tanpa peduli tangisan wanita di depannya.
"Ibu harus gimana, Dini? Ini rumah peninggalan ayah Kania untuk ibu dan Kania. Mana Kania masih dipenjara! Ibu harus gimana?" gumam bu Meli sambil menangis di samping Dini yang merangkul pundaknya.
"Dini juga gak tau, bu!" lirih Dini yang merasa berguna tidak bisa membantu Kania dan ibunya.
"Ibu tau, Dini! Tolong ajak ibu buat ketemu bos kamu! Sekarang!" sahut bu Meli sambil melihat Dini.
"Hah? Ibu yakin?" jawab Dini terkejut.
*
*
__ADS_1
Ada yang bisa tebak, bu Meli mau apa bertemu Akhtar?
Jangan lupa like dan komennya ya!