Tawanan Mr. Perfect

Tawanan Mr. Perfect
Bab 40 Hukuman dari Akhtar


__ADS_3

"Loe tega banget sama kita Akhtar!" ucap Jonas memelas pada Akhtar.


"Iya nih! Akhtar tolong maafin kita! Lagian jebakan kita kan enak buat loe, Akhtar!" timpal Michael memelas juga.


Bima hanya diam dan menerima hukuman yang diberikan Akhtar. Mereka saat ini sedang dihukum oleh Akhtar berjemur di atas rooftop apartemen miliknya. Dan sudah satu jam mereka dijemur tanpa baju dan hanya mengenakan celana pendek. Akhtar tetap diam dan menunggu mereka di bawah gazebo yang tak jauh dari mereka berdiri.


"Akhtar! Udah dong! Panas nih badan gue!" keluh Michael yang sudah berkeringat.


"Iya, Akhtar! Gue rasanya mau pingsan!" Jonas menimpali.


"Biar kalian tau rasanya panas!" seru Akhtar sambil bersantai di kursinya.


"Tapi kan panasnya beda, Akhtar!" keluh Michael.


"Berarti kalian mau minum obat yang gue minum semalem? Ok, kalau itu mau kalian! Gue bakal kasih kalian obat yang sama tapi dosis yang lebih tinggi! Tapi kalian gak bakal gue kasih cewek buat nuntasin hasrat kalian! Gimana? Kalian setuju gak?" seru Akhtar menyeringai.


"Jangan dong, Akhtar!" sergah Michael dan Jonas serempak.


"Kamu mau, Bim?" tanya Akhtar meledek Bima yang sudah mandi keringat.


"Tidak, tuan!" tolak Bima tegas.


"Tuh, Akhtar! Denger ucapan Bima! Dia juga gak mau!" sahut Jonas menimpali.


"Kalau kalian gak mau, berarti kalian harus siap berjemur di sini dua jam lagi! Lagian, berjemur sinar matahari pagi! Jadi bagus buat kesehatan kalian! Terutama loe, Jonas! Biar pikiran loe itu gak mikirin ide konyol aja!" balas Akhtar menyindir Jonas.


"Salah gue lagi!" ucap Jonas pasrah. Ia sudah lelah berdiri selama satu jam di sini.


"Jangan dua jam lagi dong, Akhtar! Bisa jadi kerupuk gue entar!!" keluh Michael sambil mengelap keringatnya di dahi.


Akhtat tetap diam tanpa menggubris keluhan para sahabatnya. Bagi Akhtar hukuman mereka masih ringan. Jika Akhtar mau kejam kepada mereka, Akhtar juga akan memberikan obat yang sama seperti yang Akhtar minum semalam. Ya walaupun benar ucapan Michael, bahwa efek dari obat itu membuat Akhtar bisa merasakan nikmatnya berc*nta. Apalagi dengan istri sendiri. Bahkan Akhtar ingin mengulanginya lagi dan lagi.


Sedangkan di ruangan lain, di kamar mandi. Kania mau berendam air hangat. Karena ia merasa tubuhnya lengket dan sakit semua. Apalagi inti tubuhnya yang terasa nyeri dan seperti bengkak. Kania melepaskan bajunya satu per satu tanpa melihat badannya. Karena ia fokus menatap air yang keluar dari kran mengisi bathup.

__ADS_1


Setelah terisi air hangat, Kania menambahkan sabun aroma mawar kesukaannya. Lalu Kania masuk ke dalam bathup.


"Ah, nyamannya! Huh!" gumam Kania sambil bersandar. Ia memejamkan matanya sambil menikmati sentuhan air hangat yang merendam tubuhnya.


Setelah 30 menit berendam dan dirasa badannya enak, Kania berdiri dan keluar dari bathup. Berjalan menuju shower untuk membilas tubuhnya. Sambil memejamkan matanya, Kania merasakan pancuran air hangat yang menyentuh kulit kepalanya. Saat memejamkan matanya di bawah air shower, bayangan semalam tiba-tiba muncul lagi di otaknya.


Kania langsung membuka matanya dan berusaha menepis bayangan semalam. Namun tetap saja ia masih terbayang. Kania terus menggelengkan kepalanya untuk mengusir bayangan itu. Ia masih ingat dengan jelas, bagaimana ia mendes*hkan nama Akhtar dan terus meracau. Bahkan Kania bertindak agresif.


"Iissshh! Kenapa masih inget aja sih! Lagian kenapa aku sampai begitu? Masa iya aku yang minta duluan kayak semalem? Gak banget deh! Terus gimana nanti kalau aku ketemu sama dia? Mana ininya masih sakit lagi! Berarti aku udah gak peraw*n lagi dong? Huwaaaaa.... Aku udah gak suci lagi! Nanti suami masa depan aku gimana? Apa masih mau nerima aku? Ibu... tolong Kania!" Kania merutuki dirinya yang tidak bisa mengendalikan dirinya semalam.


"Tapi, kenapa aku bisa gitu ya? Dan anehnya, badanku rasanya memang pengen disentuh! Apa aku salah makan obat? Tapi obat apa? Aku kan gak sakit dan gak minum obat kemarin! Hah! Benar-benar Membingungkan!" gumam Kania lagi.


"Eh, tapi gimana kalau aku hamil? Oh iya, aku kan emang harus hamil! Tapi bukan cara seperti ini yang aku mau! Harusnya tadi aku gak dateng ke tempatnya! Pak Bima juga, kenapa harus manggil aku ke sana? Huwaaaa.... Kenapa jadi begini sekarang? Aku bodoh banget sih! Tuan Akhtar juga, kenapa gak nolak aku coba? Harusnya kan dia gak mau, tapi semalem malah kayak singa yang kelaperan! Huwaaaaa..." Kania menggerutu lagi dan menangis drama.


Kania membilas tubuhnya, tanpa melihat badannya. Karena pikirannya masih terus dihantui kejadian semalam. Setelah selesai mandi dan meluapkan segala emosinya di bawah air shower, Kania mengambil handuk dan melilitkannya dengan asal.


Lalu Kania berjalan pelan dan malas ke arah wastafel sambil terus memegangi handuknya. Kania hendak menggosok giginya. Saat Kania sampai di depan wastafel dan mengambil sikat gigi, tanpa sengaja Kania menatap dirinya di cermin. Seketika Kania terkejut melihat lehernya.


Saat melihat badannya di cermin, Kania bertambah histeris lagi.


"Aaaaaaaaaa....!" teriak Kania sambil melotot dan melongo.


Lalu melihat seluruh badannya. Kania sampai berputar di depan cermin.


"Kenapa, kenapa badanku penuh merah-merah begini?" tanya Kania sendiri sambil terus melihat dan menyentuh badan depan dan belakangnya dari cermin.


"Apa digigit serangga ya? Tapi kok banyak banget? Di leher, dada, perut, punggung, dan bahkan sampai sini juga!" seru Kania heran dan melihat paha dalamnya.


"Astaga! Serangga apa yang seganas ini? Dan kapan aku digigitnya? Kok aku baru tahu ya? Mana kayaknya gak bisa hilang lagi!" gumam Kania terus meraba kulitnya yang penuh tanda merah.


"Udah kayak macan tutul nih badan! Serangga apa ya kok bisa sampai merah gini sih?" gumam Kania lagi.


Kania mengambil handuknya dan melilitkannya lagi di badannya dengan benar. Lalu ia menghadap cermin lagi dan mencoba mengingat sesuatu. Tiba-tiba bayangan Akhtar yang menc*umi seluruh tubuhnya terbesit di ingatannya. Kania langsung melotot lagi dan menutup mulutnya.

__ADS_1


"Tunggu, tunggu, tunggu! Jangan-jangan, merah-merah ini karena dia yang....?" duga Kania.


"Aaaaaaaaaa.... tidaaaakkk!!" Kania teriak histeris di kamar mandi.


Untung saja ruangan kamarnya kedap suara. Jadi teriakan Kania sekeras apapun tidak terdengar sampai luar.


Kania langsung duduk di lantai kamar mandi. Ia menangis mengetahui bahwa tanda merah yang banyak di tubuhnya adalah ulah Akhtar. Kania bahkan mencoba mempraktekkan dirinya yang mencoba melakukan hal sama seperti yang Akhtar lakukan semalam di tangannya. Dan benar saja, tanda merah juga tercetak di bekas yang ia sedot. Meski tak semerah bekas yang dibuat oleh Akhtar.


"Dia itu vampir atau singa? Ganas banget! Mana banyak dan gak bisa dihilangin lagi!" Kania mwngumpati Akhtar.


Sampai Akhtar yang sedang bersantai sambil menunggu ketiga sahabatnya dijemur, tiba-tiba bersin.


"Siapa yang ngomongin gue sih! Apa mereka?" gumam Akhtar mengusap hidungnya yang gatal karena bersin.


"Hei! Jangan ada yang berani mengumpat!" seru Akhtar ke ketiga sahabatnya.


Mereka yang mendengar seruan Akhtar hanya menatap malas dan kesal padanya.


Kembali ke Kania lagi.


"Berarti tadi bik Yati liat dong? Pantesan aja tadi, bik Yati kayak nahan senyum gitu!" pikir Kania lagi yang masih duduk di lantai kamar mandi.


"Ah masa bodo lah! Mau gimana lagi? Habis ini aku mau di kamar aja!" gumam Kania lagi.


Kemudian Kania mencoba bangun dan berdiri.


"Aw! Sssshhh! Kok masih sakit banget sih! Gara-gara si tuan Akhtar! Liat aja, aku bakalan mau ketemu dia lagi!" rintih Kania menahan sakit di inti tubuhnya.


Kania berdiri sambil berpegangan meja wastafel. Lalu ia mengambil sikat gigi dan menuangkan odol. Dan menggosok giginya.


Sementara di rooftop, Michael dan Jonas terus mengeluh pada Akhtar. Sedangkan Bima hanya diam sambil menahan panas sinar matahari yang mengenai tubuhnya. Akhtar tak menghiraukan keluhan mereka. Ia tetap fokus pada ponsel dan sesekali melirik sahabatnya.


'Makanya jangan main-main denganku! Enak kan rasanya dijemur!' batin Akhtar tersenyum tipis.

__ADS_1


__ADS_2