
Pukul 9 malam, keluarga Akhtar sudah masuk ke kamar masing-masing. Begitu juga dengan Akhtar dan Kania. Kamar mereka terletak di lantai atas bersamaan dengan kamar orang tua Akhtar.
"Aku tidur dimana? Ranjang cuma ada satu. Sofa juga gak ada. Kamar sebesar ini gak ada sofa sama sekali. Masa iya aku tidur di lantai! Tapi dari pada tidur di ranjang sama dia, lebih baik tidur di lantai aja! Nanti malah kejadian kayak malam itu lagi! Hiiii! Gak deh! Jangan sampai kejadian lagi!" gumam Kania dari kamar mandi.
Kania melihat Akhtar sedang bersandar di ranjang sambil bermain ponsel. Akhtar hanya melirik Kania sekilas. Akhtar sudah mengenakan piyama tidurnya.
"Apa kau tidur selalu mengenakan pakaian seperti itu?" Akhtar bertanya tanpa melihat Kania.
Kania langsung melihat tubuhnya. Kania memang tidak berganti pakaian. Ia masih mengenakan dress tadi. Sedangkan jasnya Akhtar diletakkan di dalam kamar mandi. Kania lupa mengenakannya lagi. Akhtar merasa panas dingin lagi ketika melihat bahu Kania yang terbuka.
"Ya! Saya sudah biasa tuan!" jawab Kania asal sambil menutupi bahunya dengan kedua tangannya.
Akhtar lalu meletakkan ponselnya di nakas. Akhtar bangkit dan berjalan menuju Kania.
"Benarkah?" goda Akhtar berjalan terus mendekati Kania.
"Berhenti di situ tuan! Jangan mendekat! Kalau tidak, saya akan teriak!" jawab Kania gugup sambil terus mundur.
"Teriaklah!" Akhtar menantang.
"Tuan, saya serius!" balas Kania semakin mundur dan mentok di tembok kamar mandi.
"Aku juga serius! Kalau kamu teriak, nanti semua orang akan datang ke sini. Dan kau tau apa yang akan terjadi selanjutnya? Mereka akan mengira kita melakukan sesuatu!" balas Akhtar tersenyum tipis dan berhenti beberapa langkah dari Kania.
"Memangnya apa yang kita lakukan?" tanya Kania penasaran.
"Apalagi? Hm!" balas Akhtar tersenyum sambil memperagakan kedua tangannya yang seperti berc*uman.
"Dasar mesum!" seru Kania sambil menunjuk Akhtar.
Akhtar tertawa melihat ekspresi terkejut Kania. Ia berhasil menggoda Kania. Bagi Akhtar ada kesenangan tersendiri saat mengerjai Kania.
Kania tertegun melihat Akhtar yang tertawa lepas. Ketampanannya bertambah kali lipat saat Akhtar tertawa seperti itu.
'Tampan sekali! Ya Tuhan, sungguh indah ciptaanmu!' batin Kania terpesona dengan Akhtar.
Akhtar yang menyadari Kania terus menatapnya, langsung menghentikan tawanya.
"Sudah! Tidurlah! Sudah malam!" Akhtar berjalan ke ranjangnya lagi.
Kania tersentak mendengar seruan Akhtar. Kania masih berdiri di dekat kamar mandi. Sedangkan Akhtar sudah berbaring di ranjang lagi.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak tidur? Apa kau akan tetap berdiri seperti itu sampai pagi?" ketus Akhtar menatap Kania.
"Eee... saya... saya..." Kania menjawab dengan gugup dan bingung.
"Kenapa?" Akhtar heran dengan sikap Kania.
"Oh! Kamu bingung mau tidur dimana?" lanjut Akhtar yang menyadari kebingungan Kania.
Kania hanya mengangguk dengan wajah malunya.
"Tidur saja di sini! Memangnya dimana lagi? Kamar mandi?" jawab Akhtar dengan enteng.
"Apa? Ya gak mungkinlah!" seru Kania sambil melotot.
"Kau takut malam itu akan terjadi lagi?" Akhtar menebak.
Kania mengangguk dengan cepat.
"Kau ini aneh ya? Apa kau lupa malam itu? Kau dulu yang memintanya! Lalu kenapa sekarang seperti kucing yang ketahuan mencuri?" balas Akhtar dengan santai.
"Tuan! Jangan katakan itu! Saya tidak melakukannya! Tidak mungkin saya seperti itu!" sergah Kania sambil melengos.
"Benarkah? Apa kau perlu diingatkan lagi?" Akhtar menggoda Kania lagi.
"Ya sudah! Kalau begitu tidurlah di sini! Aku tidak akan berbuat macam-macam! Palingan cuma satu macam!" jawab Akhtar dengan santai.
"Tuan! Saya lebih baik tidur di lantai dari pada tidur satu ranjang dengan tuan!" balas Kania sengit.
"Ya sudah! Tidur saja kalau begitu! Aku sudah mengantuk!" sahut Akhtar enteng.
Akhtar pura-pura memejamkan matanya. Ia ingin lihat, apakah Kania benar akan tidur di lantai atau di ranjang yang sama dengannya.
Kania berjalan mendekat ke arah ranjang. Ia mengamati Akhtar yang sudah terpejam.
"Apa dia udah tidur? Cepat sekali! Masa iya aku tidur di lantai? Tega sekali tuan Akhtar! Tapi kalau aku tidur di lantai, badanku pasti sakit semua besok! Tapi kalau tidur di ranjang sama dia? Hah! Bingung jadinya!" gumam Kania yang masih didengar oleh Akhtar.
Akhtar tersenyum dalam hatinya.
'Dasar keras kepala! Aku ingin lihat, dia akan tidur di lantai atau di ranjang bersamaku?' batin Akhtar.
Setelah menunggu beberapa menit. Kania melihat tidak ada pergerakan lagi dari Akhtar. Kania yakin, Akhtar sudah tidur dengan nyenyak. Dan tanpa disangka, Kania berjalan ke arah yang berlawanan. Ia menuju ranjang di sebelah Akhtar. Kania tidak mau ambil resiko badannya sakit lagi karena tidur di lantai.
__ADS_1
Akhirnya Kania merebahkan tubuhnya di ranjang. Dengan perlahan Kania berbaring di ranjang itu. Menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih mengenakan dress tadi. Kania mulai memejamkan matanya. Karena ia benar-benar sudah mengantuk.
Tak menunggu lama, Kania sudah terlelap dengan membelakangi Akhtar. Tak lupa di tengah ranjang itu, sudah Kania taruh guling di antara mereka.
Akhtar mulai membuka matanya lagi. Lalu menoleh ke arah Kania. Akhtar tersenyum tipis melihat tingkah Kania. Akhtar pun kembali memejamkan matanya lagi. Mereka kini tidur dengan lelap.
Hingga pagi menjelang, gerimis datang sejak dini hari tadi. Suasana pun masih gelap karena mendung.
Di ranjang king size, dua insan sedang saling berhadapan dan berpelukan dalam tidurnya. Bahkan bantal guling yang berada di tengah ranjang, sudah tak tahu kemana. Mereka saling berpelukan di bawah selimut tebal. Cuaca dingin karena gerimis ditambah AC yang menyala, semakin menambah rasa dingin. Sehingga keduanya saling mencari kehangatan untuk tubuh mereka.
'Cantik!' batin Akhtar saat membuka matanya dan menatap wajah Kania yang dekat dengan dadanya.
Jantung Akhtar semakin berdetak kencang saat berada dekat dengan Kania. Apalagi posisi mereka saat ini saling berdempetan karena berpelukan. Bahkan Kania semakin merapatkan tubuhnya ke Akhtar. Membuat Akhtar kelimpungan merasakan gejolak tiba-tiba.
'Gawat! Kalau terus dibiarkan, bisa terus bangun nih junior!' batin Akhtar menahan gejolak di tubuhnya karena sentuhan Kania.
Akhtar ingin beranjak, namun ada pergerakan dari Kania. Akhtar pun pura-pura terpejam lagi. Ternyata Kania mulai bangun dari tidurnya. Namun matanya belum terbuka. Ia masih merasakan aroma tubuh yang membuatnya nyaman saat tidur.
"Aromanya sangat enak!" gumam Kania lirih sambil mengendus dada Akhtar dan merabanya.
Perbuatan Kania justru membuat Akhtar semakin merasakan gejolak di tubuhnya.
'Oh ****! Ya Tuhan! Cobaan apa ini! Pagi-pagi udah seperti ini!' batin Akhtar mencoba menahan.
Kania mulai mendongakkan wajahnya dan tersenyum sambil terpejam. Kemudian mulai membuka matanya karena merasakan tangannya meraba sesuatu yang agak kasar.
Kania melotot melihat Akhtar di depannya hanya beberapa senti. Bahkan tangan kanannya masih berada di rahang Akhtar yang tadi membelainya.
'Oh my god!' batin Kania terkejut.
Kania mulai menarik tangannya perlahan dari wajah Akhtar. Namun baru beberapa senti ia menarik, tangannya sudah dipegang dulu oleh Akhtar. Kania semakin terkejut.
"Sudah puas pegang-pegangnya!" bisik Akhtar membuka matanya dan menatap mata Kania.
"Tu... tu... tuan! Anda sudah bangun?" jawab Kania gugup.
"Sudah! Bahkan sebelum kamu bangun! Dan kau tau? Bukan hanya aku yang bangun! Tapi yang lain dari tubuhku juga ikut bangun!" bisik Akhtar.
"Mak... maksud tuan?" Kania masih gugup sekaligus malu.
Akhtar kemudian melirik ke bawah tubuhnya. Kania mengikuti gerakan mata Akhtar. Dan Kania pun sadar yang dimaksud dengan Akhtar. Kania mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Akhtar.
__ADS_1
"Kau ingin lari? Bukankah harusnya kau tanggung jawab?" ucap Akhtar dengan enteng.
Kania semakin gugup mendengar pertanyaan Akhtar. Ditatap dengan intens seperti itu oleh Akhtar, membuat Kania tidak berdaya. Apalagi penampilan Akhtar yang acak-acakan setelah bangun tidur, justru menambah kesan seksi di wajahnya. Mereka terdiam cukup lama. Saling memandang dan mengunci tatapan satu sama lain.