Tawanan Mr. Perfect

Tawanan Mr. Perfect
Bab 55 Kunjungan ke Rumah Kakek Lagi


__ADS_3

"Nanti malam bersiaplah! Kakek mengundang kita ke rumahnya lagi!" seru Akhtar saat Kania hendak membuka pintu mobil.


Kania menoleh ke arah Akhtar yang masih fokus dengan ponselnya.


"Kenapa? Tidak mau?" tanya Akhtar menoleh ke Kania juga.


"Bukan! Baiklah!" jawab Kania pasrah.


Kania yang semula ingin membatasi diri dari Akhtar. Justru harus bersama lagi. Dan harus ke rumah kakek lagi. Kania jadi mengingat kejadian waktu itu lagi.


Kania turun dari mobil dengan lesu. Akhtar memperhatikannya dari dalam mobil.


"Ada apa dengannya? Kenapa terlihat tidak bersemangat?" gumam Akhtar pada dirinya sendiri.


"Jalan, pak!" perintah Akhtar pada siang sopir dan mengabaikan Kania yang memasuki gedung apartemennya.


"Kenapa harus ke rumah kakek lagi, sih? Nanti kalau keulang lagi gimana? Apa aku minta kamar lain aja ya? Tapi kalau kakek sama nenek curiga gimana? Dan mereka jadi tau kalau pernikahanku dan tuan Akhtar cuma kontrak. Kan bisa bahaya!" gumam Kania di dalam lift.


Dua orang yang berada di dalam lift menatap Kania dengan heran. Namun Kania hanya bersikap cuek.


Akhtar tiba di kantor menjelang sore. Awalnya ia ingin langsung pulang. Namun ada rapat yang tidak bisa ia tinggalkan. Di ruangan rapat juga Bima sudah menunggu bersama beberapa pimpinan yang lain. Dalam rapat di ruangan itu, tidak ada satu pun wanita. Itulah Akhtar. Pimpinan setiap divisi yang ia pilih adalah laki-laki.


Jika ada rapat besar dan menghadirkan wanita, ia akan datang paling akhir. Tempat duduk para wanita pun terpisah jauh dari kursi Akhtar.


"Kita mulai saja rapatnya!" seru Akhtar memasuki ruangan dan berjalan tegap menuju kursinya.


Semua orang yang ada di ruangan itu menatap dengan segan pada Akhtar. Meski lebih muda usianya dari mereka, namun mereka menghormati Akhtar sebagai atasan mereka. Akhtar tidak segan untuk memecat orang yang melakukan kesalahan meski itu kesalahan kecil sekalipun. Itulah sebabnya, Akhtar disegani oleh para karyawannya.


Bima pun memulai rapat sore itu. Para pimpinan menyimak dengan seksama. Rapat berjalan dengan lancar. Akhtar memutuskan untuk menyudahi rapat sore itu. Pembahasan juga sudah disampaikan semua oleh asistennya, Bima. Akhtar hanya menambahkan beberapa hal yang belum disampaikan oleh Bima.


"Tuan ingin makan malam ini?" tanya Bima di belakang Akhtar yang sudah memasuki ruangannya kembali.


"Tidak usah masak malam ini, Bim! Kakek menyuruh ke sana lagi!" jawab Akhtar sambil mengecek ponselnya.


"Apa dengan Nona Kania lagi?" tanya Bima yang ingin tahu.


"Iya!" jawab Akhtar yang masih sibuk membalas pesan dari seseorang.


"Wah, pasti seru!" ceplos Bima tanpa sadar.


Akhtar menghentikan membalas pesan dan menatap Bima dengan tajam.


"Maksud kamu seru kenapa?" tanya Akhtar mengintimidasi Bima.


"Ma... maaf, tuan! Saya keceplosan!" jawab Bima sambil memukul mulutnya sendiri dengan pelan.


"Apa otakmu berpikiran yang kotor?" gerutu Akhtar dengan kesal.


"Bukan, tuan! Saya mana berani berpikir kotor tentang tuan! Saya kan cuma bilang seru, tuan!" sanggah Bima.


"Sudahlah! Aku mau pulang saja! Kalau kamu mau menginap di kantor, silakan! Aku tidak melarang." balas Akhtar dengan sengit sambil melepaskan kancing jasnya.

__ADS_1


"Mana mau saya tidur sini, tuan! Yang ada nanti malah ditemenin wanita ghoib!" jawab Bima sambil membayangkan dan seketika bergidik ngeri.


"Ya siapa tau aja kamu penasaran dengan wanita ghoib! Belum pernah kamu coba, kan?" cetus Akhtar santai dan berjalan menuju pintu.


"Tuan! Jangan bicara sembarangan dong! Kan saya jadi merinding!" balas Bima mengikuti Akhtar yang keluar ruangan.


Akhtar mengabaikan Bima dan tetap berjalan menuju lift khusu petinggi perusahaan. Sementara sekretarisnya menatap dengan bingung pada keduanya.


Bima benar-benar ditinggalkan Akhtar di kantor bersama sekretarisnya.Karena ia harus menjemput Kania terlebih dulu.


Di kamar, Kania sedang berdandan ala kadarnya. Kali ini ia tidak mau terlihat cantik. Meski tanpa berdandan pun, Kania tetap terlihat cantik. Tapi Kania lebih memilih pakai dress yang sederhana menurutnya. Rambutnya ia kucir ke atas. Dress yang ia kenakan kali ini tertutup. Panjang melebihi lutut dengan bentuk kerah yang ada kancingnya.


"Untung aja Dini ngasih dress ini!" gumam Kania menatap dirinya di cermin besar.


Setelah memastikan dirinya sudah siap, Kania keluar kamar. Ia tidak ingin sampai Akhtar marah lagi karena menunggu dirinya.


"Bik, Kania pergi dulu ya! Mungkin malam nanti baru pulang. Soalnya ke tempat kakek! Jadi kemungkinan agak lama!" pamit Kania pada bik Yati di dapur.


"Nginep lagi gak pa-pa kok, non!" sahut bik Yati meledek.


"Iihh, bibik!" Kania malu dan langsung pergi ke depan.


Bik Yati tertawa melihat Kania yang malu dan merona.


Kania sudah tiba di lobi. Kania keluar bertepatan dengan mobil Akhtar yang baru datang. Kania langsung masuk ke mobil setelah dibukakan oleh sang sopir. Akhtar memutus pandangannya pada Kania yang sudah duduk di sebelahnya.


Mobil pun melaju meninggalkan apartemen dan menuju jalan raya yang lumayan padat.


Seperti biasa, Kania fokus pada jalanan di samping. Akhtar yang melirik ke Kania, tersenyum tipis.


Di dalam mobil tidak ada percakapan sekali pun di antar keduanya. Hanya suara musik yang dinyalakan oleh sang sopir atas perintah Akhtar. Mobil pun sudah tiba di rumah milik kakek Wijaya.


Kania sudah keluar lebih dulu sebelum dibukakan pintunya oleh sopir. Akhtar memandang Kania yang berjalan ke arahnya. Namun pandangan Kania menunduk.


"Jika berjalan bersamaku, kau harus menegakkan kepalamu! Angkat kepalamu! Kau istri seorang Akhtar! Jadi jangan pernah tundukkan kepalamu pada siapapun!" seru Akhtar memandang Kania dengan intens.


Kania mengangkat kepalanya dan ikut memandang Akhtar yang berdiri di depannya. Kania yang ingin membuka mulutnya ingin bersuara, sudah dicela Akhtar terlebih dulu.


"Kecuali aku! Kau harus tunduk padaku!" lanjut Akhtar menatap mata Kania yang bening.


Kania langsung merapatkan mulutnya lagi dan menggerutu dalam hatinya.


Akhtar melanjutkan langkahnya dan tersenyum tipis melihat ekspresi Kania.


'Dia benar-benar membuatku gila! Bibirnya sangat menggoda! Si*l! Ingin sekali rasanya kucecap habis bibirnya yang merah itu!' batin Akhtar sambil berjalan masuk ke rumah kakeknya.


Kania mengikuti dari belakang.


"Mari tuan muda dan nona!" ajak kepala pelayan menuntun ke arah belakang.


Akhtar dan Kania berjalan beriringan mengikuti kepala pelayan tersebut. Ternyata mereka dibawa ke gazebo di belakang rumah. Kakek Wijaya sedang memberi makan ikan hiasnya di kolam. Sedangkan nenek Aishe sedang memperhatikan suaminya.

__ADS_1


"Cucu-cucu nenek sudah datang! Apa kabarnya kalian?" seru nenek Aishe antusias dan memeluk keduanya bergantian.


Kania selalu merasakan kehangatan dan kasih sayang keluarga bersama keluarga Akhtar.


"Kami baik, nek! Nenek juga baik, kan?" jawab Akhtar membalas pelukan neneknya.


"Tentu saja! Lihat saja nenek!" balas nenek Aishe sambil bergurau.


"Kakek!" seru Akhtar menghampiri kakeknya dan memeluknya.


Kania membuntuti dari belakang dan menyalami kakek Wijaya dengan sopan.


"Kalian sudah makan?" tanya kakek Wijaya pada keduanya.


"Bukannya kemari akan makan malam?" balas Akhtar sambil menyindir kakeknya.


"Kau ini! Kamu sehat, nak?" balas kakek Wijaya dan beralih menatap Kania.


"Sehat, kek! Kakek juga sehat, kan?" tanya Kania balik.


"Tentu saja! Kakek ingin selalu sehat, biar nanti bisa menggendong anak-anak kalian!" jawab kakek Wijaya dengan semangat.


Kania tertegun mendengar ucapan kakek Wijaya. Sementara Akhtar tersenyum menatap kakeknya.


'Itu yang kuinginkan, kek!' batin Akhtar sambil melirik Kania di sampingnya.


Kania tersenyum kaki menanggapi pernyataan kakek Wijaya yang menginginkan cucu banyak.


"Sini, duduklah! Makan malam masih disiapkan!" seru kakek Wijaya mengajak duduk di gazebo bersama istrinya.


Akhtar dan Kania mengangguk dan duduk bersama kakek dan nenek.


"Apa ada yang ingin kamu undang di pesta pernikahanmu nanti, Kania?" tanya kakek Wijaya langsung.


"Hah! Apa boleh, kek?" tanya Kania sedikit terkejut.


"Tentu saja boleh! Itukan pesta pernikahanmu! Jadi harus mengundang banyak teman bukan?" jawab kakek Wijaya sambil tertawa kecil.


"Kalau begitu Kania ingin mengundang beberapa teman saja, kek!" balas Kania tersenyum segan pada kakek Wijaya.


"Kenapa hanya beberapa? Undang semuanya saja! Bila perlu satu sekolahmu dulu diundang! Ini pesta pernikahan yang dilakukan seumur hidup sekali! Jadi rayakan dengan semua temanmu! Bahkan kamu undang juga seluruh tetanggamu dulu!" balas kakek Wijaya sambil memberikan saran.


Kania menelan ludahnya dengan susah mendengar kata pernikahan sekali seumur hidup. Kania sempat melirik ke arah Akhtar. Namun Akhtar justru memandang kakeknya. Kania merasa kecewa dengan sikap Akhtar yang diam tanpa membantu menjawab ucapan kakeknya.


"Iya, kek! Nanti Kania bicarakan dulu dengan ibu!" jawab Kania mengangguk dan tersenyum tipis.


"Iya, nak! Sebaiknya memang perlu kamu bicarakan dulu dengan ibumu!" sela nenek Aishe menimpali.


"Beri tahu ibumu besok, nak! Karena pesta pernikahan kalian diadakan minggu depan. Kakek hanya ingin memastikan saja siapa yang akan kamu undang! Begitu juga dengan kamu, Akhtar!" ucap kakek Wijaya menatap Kania dan beralih ke Akhtar.


"Kakek tau sendiri jumlah temanku di sini! Semua rata-rata sudah berumur kalau di sini!" jawab Akhtar dengan malas.

__ADS_1


"Ya kalau begitu undang juga teman-temanmu di Amerika sana!" cetus kakek Wijaya dengan enteng.


Akhtar memutar bola matanya dengan malas. Kania dan nenek Aishe hanya menyimak percakapan keduanya. Akhtar memang lulusan terbaik di Harvard kala itu.


__ADS_2