
"Benarkan yang aku ucapkan?" ucap Akhtar menyeringai.
"Tapi tidak berlaku untuk nikah kontrak, tuan! Pernikahan ini terjadi atas pemaksaan tuan! Pemaksaan karena tuan hanya ingin seorang keturunan dari rahim wanita yang tuan bayar! Dan akulah wanita itu! Yang seharusnya tidak tuan pilih! Bahkan tuan juga mengancamku! Jadi bagiku, pernikahan ini tak lebih hanya saling menguntungkan. Tidak ada kontak fisik dalam perjanjian. Bahkan kalau tidak ada dalam perjanjian, saya juga enggan disentuh tuan! Meski tuan adalah suamiku, alias suami kontrak! Jadi, sekarang kita kembali pada perjanjian yang telah kita sepakati. Bayi tabung itu pilihanku!" ungkap Kania.
"Rupanya kamu tidak membaca keseluruhan perjanjiannya, Kania!" balas Akhtar menyeringai tipis.
"Maksud, tuan? Apa tuan mengubah surat perjanjiannya tanpa persetujuanku?" tanya Kania menyipitkan matanya.
"Tidak! Aku sama sekali tidak mengubahnya! Aku hanya menambahkan beberapa poin saja sebagai syarat!" sergah Akhtar dengan enteng.
"Kenapa saya tidak tahu, tuan?" tanya Kania penasaran.
"Itu karena kamu ceroboh! Kamu tidak membaca ulang isi keseluruhan surat perjanjian itu! Kamu langsung menandatanganinya. Jadi apa itu salahku? Bukankan?" jelas Akhtar santai sambil menyindir.
"Poin apa yang tuan tambahkan? Apa itu merugikanku?" cecar Kania.
"Tidak! Di perjanjian awal bahkan tidak ada poin yang merugikanmu! Kamu sendiri yang bilang, kalau kita saling menguntungkan bukan? Jadi aku rasa kamu juga tidak keberatan dengan poin-poin yang sudah ditambahkan! Apa kamu mau tahu salah satu poin yang kutambahkan dalam perjanjian itu?" jelas Akhtar lagi tersenyum tipis.
"Apa?" tanya Kania dengan ketus.
Akhtar bangun dari duduknya dan mulai mendekati Kania.
"Kau mau apa tuan? Berhenti di situ!" ucap Kania cemas.
Kania terus mundur karena Akhtar semakin mendekatinya. Kania pun jatuh terduduk di sofa panjang. Kania hanya fokus melihat ke depan tanpa menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Jangan mendekat tuan! Kalau tuan tidak mau aku tampar seperti tadi!" ancam Kania semakin terpojok.
Akhtar sudah semakin dekat. Jarak mereka hanya sekitar 50 cm saja. Akhtar kemudian menunduk dan mengukung Kania di sofa. Hingga jarak mereka semakin dekat. Kania memejamkan matanya karana takut dan cemas. Akhtar yang melihat Kania ketakutan menahan tawanya.
Setelah beberapa menit tidak ada pergerakan lagi, Kania mengintip. Mencoba membuka sedikit matanya untuk melihat apa yang dilakukan Akhtar. Ternyata Akhtar masih berdiri di depannya. Aroma parfum maskulin menggoda indra penciuman Kania.
"Aku berhak menyentuhmu sesuka hatiku dan kamu dengan senang hati menerimanya!" bisik Akhtar di depan wajah Kania. Menatap lekat bola mata hitam yang meneduhkan.
"Hah?" Kania bingung.
"Itu salah satu poinnya!" ucap Akhtar menatap bibir Kania yang sangat menggoda imannya dari tadi.
Kania pun mengingat kata-kata Akhtar tadi. Seketika Kania pun sadar dan melotot.
"Tu... tu... tuan, bo... bohong kan?" balas Kania gugup dan takut.
Kania menatap bola mata Akhtar yang berwarna coklat. Lalu pandangannya jatuh ke bibir Akhtar. Seketika ia mengingat c*uman yang terjadi antara mereka tadi di kantor. Pipi Kania menjadi merah karena malu.
"Kenapa? Apa kau mengingat c*uman kita tadi? Dan kau ingin mengulanginya lagi?" cecar Akhtar menatap lekat mata Kania.
Kania terkejut mendengar ucapan Akhtar yang frontal di telinga Kania. Seketika Kania membungkam mulut Akhtar dengan tangan kanannya dan menggeleng pelan.
"Jangan bicara sembarangan, tuan! Aku bahkan sudah tidak ingat lagi! Jadi tidak perlu diingatkan lagi!" ucap Kania tegas.
Akhtar hanya menatap lekat Kania. Karena mulutnya masih dibungkam oleh Kania. Debaran jantungnya semakin keras. Kania menyadari hal itu. Lalu Kania berpaling ke kiri dan menarik tangannya dari mulut Akhtar.
__ADS_1
Akhtar tersenyum tipis melihat tingkah Kania.
'Sangat menggemaskan! Bibir itu. Kenapa selalu menggodaku! Gak! Tahan Akhtar!' batin Akhtar.
Akhtar menguatkan hatinya untuk tidak tergoda lagi. Namun semakin diperhatikan, semakin ia ingin melakukannya lagi. Kania menoleh dan 'deg' tiba-tiba jantung keduanya berdebar dengan cepat. Jarak yang dekat, suasana yang mendukung, dan aroma parfum masing-masing, membuat gelora di tubuh mereka muncul.
Entah siapa yang memulai duluan. Kini bibir keduanya sudah menempel. Diam sejenak dengan mata terpejam. Akhtar mulai mel*matnya pelan. Mencoba menyesap manisnya rasa c*uman itu. Kania melenguh. Dengan kaku Kania membalas c*uman itu. Akhtar semakin berani dan bertindak jauh.
Akhtar menggendong Kania dengan tautan bibir yang belum terlepas. Akhtar membawanya ke kamar yang ada di dekat meja makan. Kania memegang erat leher Akhtar dan tanpa sadar meremas rambutnya.
Akhtar merebahkan tubuh Kania perlahan. Tautan bibir mereka pun terlepas dengan napas yang memburu. Akhtar menatap wajah Kania yang masih terpejam. Dibelainya pipi Kania dengan lembut. Seketika Kania membuka matanya. Merasakan sentuhan lembut di pipinya.
Melihat wajah Akhtar begitu dekat dengan wajahnya. Akhtar menc*umnya lagi. Kania masih dikuasai hasratnya. Dan justru membalas lagi c*uman itu. Akhtar mencoba turun ke bawah. Saat ada sentuhan di bukit kembarnya, Kania seketika sadar. Kania langsung mendorong Akhtar dengan keras. Akhtar yang tidak siap, jatuh ke lantai karena dorongan Kania yang begitu kuat.
Kania langsung duduk di ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Akhtar merasakan sakit di b*kongnya karena benturan yang cukup kuat dengan lantai. Lalu Akhtar bangkit dan berdiri. Menatap tajam pada Kania.
Akhtar mendekat Kania lagi. Kania langsung mundur dan semakin mengeratkan selimut pada tubuhnya. Akhtar mendekati wajah Kania seperti hendak menc*um lagi. Kania langsung menahan tubuh Akhtar. Akhtar tersenyum tipis. Lalu ia bangkit dan pergi ke kamar mandi. Kania yang melihatnya, bernapas lega.
Kania buru-buru pergi dari kamar itu menuju kamarnya sendiri di lantai atas. Kania mengunci pintu kamar dan menjatuhkan diri di ranjang. Debaran jantungnya masih cepat. Hasratnya pun masih bergelora.
"Sadar Kania! Sadar! Aku gak boleh terlena dengan pesonanya. Gila! Hampir aja aku terjebak sendiri. Gimana kalau tadi aku gak sadar? Hah! Pasti aku bakal menyesal seumur hidup! Ingat Kania, jangan pernah memberikan mahkotamu untuk pria seperti tuan Akhtar! Dia hanya mau memanfaatkanmu aja! Hanya rahimmu yang dia inginkan! Iya, benar! Aku harus lebih waspada sekarang!" Hamil tanpa sentuhan, itulah rencana awal. Jangan sampai meleset lagi! Huh!" gumam Kania menarik napas.
Kania bangun dan melangkah ke kamar mandi untuk berendam. Sementara di kamar lain, Akhtar baru selesai mandi dan keluar kamar mandi dengan handuk kimono. Ia menatap ranjang, sudah tidak ada Kania. Akhtar tersenyum mengingat hal tadi.
'Sepertinya aku benar-benar sudah gila. Apa yang kau lakukan tadi Akhtar? Kau hampir saja melakukannya. Tapi entah kenapa rasanya membuatku penasaran. Hah! Bahkan hanya mengingatnya lagi, "dia" sudah on lagi!' batin Akhtar melihat ke bawah.
__ADS_1
"Oh, ayolah! Kau barusan tidur tadi! Kenapa sekarang bangun lagi? Aku baru saja mandi dan menidurkanmu! Ah, s*al! Aku harus mandi lagi!" gerutu Akhtar memandang tubuh bawahnya.
Akhtar pun ke kamar mandi lagi. Terpaksa ia harus mandi lagi. Maklum cuma itu yang bisa Akhtar lakukan.