
"Tuan, untuk malam ini biarkan aku tidur di rumahku dulu ya! Cuma satu malam, tuan! Ya!" mohon Kania memelas menampilkan puppy eyes yang tampak lucu di wajahnya.
Akhtar yang hendak keluar dari mobil yang sudah dibukakan oleh Bima, langsung menoleh ke arah Kania dan terkesima dengan wajah imut Kania. Akhtar merasakan debaran jantungnya menjadi cepat.
"Tuan! Satu malam aja, ya! Please!" mohon Kania lagi sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.
Akhtar tersentak dari lamunannya, dan langsung memasang wajah datarnya kembali.
"Baiklah! Hanya satu malam! Dan ingat, besok kamu harus tinggal di tempat yang sudah disiapkan. Ajak ibumu juga! Satu lagi, jaga calon anakku! Makan yang bergizi! Aku tidak mau calon anakku kenapa-napa." balas Akhtar datar tanpa melihat Kania lagi. Ia masih berusaha menetralkan debaran jantungnya yang masih menggila.
"Yang benar saja, tuan! Baru tadi dimasukkan, mana ada langsung jadi anak. Dan ya, saya selalu makan makanan yang sehat meski hidupku kekurangan." sungut Kania kesal.
"Sama saja! Nantinya juga akan tumbuh menjadi anakku! Kalau kau tidak terima, pindah apartemen hari ini juga!" ketus Akhtar tanpa dibantah, tanpa melihat Kania.
"Baiklah, baiklah Mr. Perfect!" balas Kania terpaksa sambil mengangguk.
"Oh ya, terima kasih ya, tuan!" sahut Kania tanpa sadar memegang tangan Akhtar yang berada di kursi mobil.
Akhtar pun menoleh dan langsung melihat tangannya yang dipegang oleh Kania. Kania yang menyadarinya langsung menarik tangannya.
"Ma... ma... maaf, tuan! Saya gak sengaja!" ucap Kania terbata sambil memejamkan matanya. Ia begitu takut melihat ekspresi Akhtar.
"Kau!" geram Akhtar lalu keluar dari mobil.
"Antarkan dia ke rumahnya! Biarkan satu malam di sana!" perintah Akhtar dengan dingin sambil melewati Bima.
"Baik, tuan!" jawab Bima sambil mengangguk patuh. Lalu menutup pintu mobil itu.
Bima bingung dengan tuannya yang terlihat kesal. Namun ia mengabaikan karena harus menjalankan perintah tuannya. Sedangkan Akhtar melangkah menuju perusahaannya dengan kesal.
"Pak Bima! Apa tuan Akhtar marah padaku?" tanya Kania penasaran di dalam perjalanan menuju rumahnya.
"Marah kenapa, nona? Apa nona membuat tuan marah?" tanya Bima datar sambil melirik Kania dari kaca spion dan fokus kembali pada jalan di depannya.
"Mmm... sebenarnya tadi aku gak sengaja pegang tangan tuan Akhtar, pak Bima!" jawab Kania pelan namun masih bisa didengar Bima dengan jelas.
"Jadi nona menyentuh tuan Akhtar lagi?" tanya Bima dengan datar tanpa menoleh ke belakang.
"Kan aku gak sengaja, pak! Kalau tahu, aku juga gak akan pegang tuan Akhtar! Tapi ini kan gak sengaja!" sergah Kania sambil memanyunkan bibirnya ke depan.
__ADS_1
"Tapi tetap saja, nona sudah menyentuh tuan Akhtar! Dan nona tahu sendiri bukan tentang alergi tuan? Lain kali lebih hati-hati dan jaga jarak dari tuan! Karena saya gak mau terjadi apa-apa sama tuan, nona!" jelas Bima dengan tegas dan melirik Kania sekilas.
Kania tertunduk lesu.
"Saya juga gak mau pegang-pegang dia! Pak Bima kan tahu sendiri, saya ada di sini karena ancaman tuan Akhtar. Bahkan Pak Bima sendiri kan yang melakukan perintahnya! Bahkan duduk di sini saja, dia yang menyuruhnya! Dan tadi karena saya kan gak sengaja! Lain kali saya gak akan duduk satu bangku sama dia lagi! Biar saya gak sembarangan pegang dia!" jelas Kania dengan ketus. Ia merasa kesal pada Bima.
"Tuan, nona! Bukan dia!" protes Bima tegas tetap fokus menyetir.
"Iya! Bawel!" balas Kania dengan kesal. Lalu memalingkan wajahnya ke kaca jendela.
"Tuan dan asisten sama aja! Muka robot. Datar. Nasib, nasib." gumam Kania terdengar samar-samar di telinga Bima. Bima hanya tersenyum tipis.
Mobil yang dikendarai Bima pun sampai di depan rumah Kania. Ibu Meli dan Dini sudah di rumah sejak 4 jam yang lalu. Mereka juga sudah berganti pakaian. Menyadari ada sebuah mobil berhenti di depan rumah, Dini langsung berjalan ke depan. Dini memang sudah pulang ke rumahnya, namun ia balik lagi ke rumah Kania.
"Besok jam 10 pagi, nona harus sudah siap. Dan besok akan ada yang menjemput nona! Bawa yang perlu saja, nona!" ucap Bima datar sebelum Kania membuka pintu mobil.
"Hm" balas Kania tanpa menoleh ke Bima. Ia masih kesal dengan Bima.
Kania turun dari mobil dan menutup pintu mobil dengan keras. Hingga Bima pun tersentak kaget karena ulah Kania. Bima hanya menggeleng kepala pelan dan melajukan mobilnya lagi meninggalkan rumah Kania.
Kania berjalan dengan kesal, ia tidak menyadari Dini yang tersenyum lebar dan langsung memeluknya. Kania yang sudah sadar kembali, membalas pelukan sahabatnya.
"Kangen banget gue sama loe, Nia!" ucap Dini memeluk Kania dengan erat.
"Iiih, pengantin baru gak boleh manyun gini! Entar suaminya diambil orang lho! Oh ya, mana suami loe?" ledek Dini sambil menarik bibir Kania yang manyun.
"Diniii! Main tarik-tarik aja! Biarin diambil orang. Suami kontrak ini!" ceplos Kania sambil memegang bibirnya.
"Husstt, Nia! Gak boleh ngomong gitu! Biarpun kontrak, nikahnya juga sah agama dan negara. Jadi tetep aja suami loe!" ketus Dini memelankan suaranya agar tak didengar tetangga yang julid.
"Bodo amatlah! Aku gak peduli, mau suami beneran atau kontrak, aku gak peduli. Yang jelas aku pengen cepet-cepet selesai dari nikah kontrak ini. Udah ah, aku capek dan laper banget." jelas Kania sambil berjalan masuk ke rumahnya.
"Kania, tunggu! Iiihh, nih anak kebiasaan main tinggal gue!" cerocos Dini mengejar Kania yang masuk rumah.
Kania sudah berada di depan TV. Duduk bersila sambil makan dengan lahap. Untung saja bu Meli memasak dulu setelah pulang dari makan di restoran bersama keluarga Akhtar.
"Loe kayak gak makan tiga hari tau gak, Nia! Emang tadi loe gak diajak makan sama suami loe?" ketus Dini sambil melihat Kania makan. Ia duduk bersila di depan Kania sambil menopang dagunya dengan tangan kanannya.
"Pelan-pelan, nak!" timpal bu Meli lembut sambil meletakkan segelas air minum untuk putrinya.
__ADS_1
"Iya, bu! Makanan ibu emang paling enak! Kania tambah lahap jadinya, bu!" balas Kania lembut pada ibunya disela mengunyah makanannya.
"Gak usah sebut dia suami aku! Cukup tuan Akhtar aja! Aku tuh sadar diri, statusku cuma istri kontraknya sekaligus wanita yang akan melahirkan anaknya." lanjut Kania setelah menelan makanannya.
"Kania nambah ya, bu?" ucap Kania sambil mengambil nasi dan lauk lagi.
Bu Meli hanya mengangguk dan tersenyum.
"Gila! Loe bener-bener kayak gak makan tiga hari!" celetuk Dini menggeleng heran.
Kania tetap melanjutkan makannya dengan lahap tanpa menghiraukan kicauan Dini. Hingga makanan keduanya habis tak tersisa di piringnya. Lalu menghabiskan minumnya. Dini hanya melongo melihat Kania seperti itu.
Kania ingin membereskan bekas piringnya, namun dilarang oleh ibunya. Jadi Kania membereskan lauk dan sayur yang masih tersisa di bawa ke lemari di dapur. Setelahnya, mereka kembali duduk di ruang TV lagi.
"Oh ya, nak! Tadi kamu kemana sama tuan Akhtar? Kenapa lama banget perginya?" tanya bu Meli lembut memulai pembicaraan sambil mengelus rambut Kania yang sedang bersandar di bahu ibunya.
Dini memperhatikan keduanya. Mereka duduk lesehan di karpet depan TV yang tidak menyala.
"Tadi tuan Akhtar ngajak Kania ke rumah sakit, bu! Seperti yang dibilang tuan Akhtar kemarin. Kalau habis menikah, langsung ke rumah sakit buat pemeriksaan. Dan tadi Kania langsung diperiksa sama dokter. Dan ibu tau? Gak cuma diperiksa, tapi langsung proses menanam benih ke rahim Kania, bu! Jadi di sini, akan ada calon anak tuan Akhtar." jelas Kania menegakkan kepalanya dan menatap ibunya sambil memegang perutnya yang masih rata. Tidak ada semangat saat Kania bicara tentang proses inseminasi itu.
Bu Meli menghela napas kasar. Wajahnya berubah sendu.
"Maafkan ibu ya, nak! Kamu harus menjalani ini semua! Seharusnya kamu masih menghabiskan masa mudamu dengan bersenang-senang. Tapi ini! Kamu justru harus menanggung beban seberat ini. Apalagi kamu harus merelakan calon anakmu nanti. Ibu tahu, kamu memang belum menantikan seorang anak. Tapi lambat laun, seiring pertumbuhan janin di rahimmu nanti, kamu akan semakin sulit untuk melepaskannya. Karena ibu tahu bagaimana perasaan seorang ibu." jelas bu Meli dengan sendu. Air matanya tak terbendung lagi.
"Ibu jangan sedih! Kania melakukan semua ini untuk kehidupan kita, bu! Untuk rumah ini! Ibu tenang aja! Setelah anak ini lahir, kita akan membuka lembaran baru, bu! Hanya ada Kania dan ibu! Kania sudah memikirkan semua. Dengan semua uang yang akan Kania terima nanti setelah anak ini lahir, kita akan pindah dari sini, bu! Dan untuk rumah ini, biarkan seperti ini! Kania gak mau di kota ini lagi, bu!" jelas Kania sendu sambil menggenggam tangan ibunya erat.
Dini terkejut mendengar ucapan Kania.
"Ibu terserah kamu saja, nak!" pasrah bu Meli menatap sendu putrinya.
"Jadi loe mau ninggalin gue, Nia?" tanya Dini sedih.
Ia tak menyangka jika Kania sudah merencanakan ingin pergi setelah kontrak pernikahannya selesai. Kania hanya mengangguk. Mereka bersedih bersama.
*
*
Hai Hai Hai
__ADS_1
Author udah up lagi nih!
Ayo dong, like dan komennya!