
Dua hari setelah inseminasi itu dilakukan, Kania mengalami flek dari inti tubuhnya. Kania mengernyit heran menatap celana d*lamnya yang terdapat bercak darah. Karena seingatnya bulan ini ia sudah datang bulan. Dan Kania juga tidak merasakan kram di perutnya seperti biasa akan datang bulan.
Kania bingung dengan dirinya sendiri. Dan Kania teringat nomor ponsel dokter Sukma yang diberikan dua hari yang lalu. Karena di apartemen itu, Kania hanya tinggal bersama seorang asisten paruh baya bernama Bik Asih, yang baru datang pagi tadi. Sementara ibunya dan Dini sudah pulang siang tadi.
"Halo, dok! Selamat sore! Ini Kania, pasien yang melakukan inseminasi dua hari lalu." sapa Kania ramah.
"Halo, nona Kania! Ada yang bisa saya bantu, nona?" balas dokter Sukma ramah pula di balik telepon.
"Hari ini ada bercak darah di celana d*lam saya, dok! Itu kenapa ya, dok?" tanya Kania cemas.
"Oh, itu tidak apa-apa, nona! Itu hal wajar dan biasa terjadi setelah proses inseminasi itu. Jadi nona tidak perlu khawatir. Sesuai yang saya sampaikan yang lalu, nona dan tuan Akhtar berkunjung ke sini setelah dua minggu. Dan kita akan lihat hasil inseminasi itu. Apakah berhasil atau gagal. Jadi kita akan tahu tindakan apa selanjutnya yang mesti kita ambil. Begitu, nona!" jelas dokter Sukma dengan pelan.
"Syukurlah, kalau itu bukan apa-apa! Karena memang jujur saya takut terjadi sesuatu, dok! Dan iya, kami akan datang ke sana dua minggu lagi dokter!" balas Kania lega.
"Karena ini sudah terhitung dua hari, maka 12 hari lagi nona dan tuan Akhtar bisa berkunjung kemari. Semakin cepat tahu, semakin lebih baik bukan, nona?" jelas dokter Sukma dengan canda.
"Ah, iya dokter! Tentu saja! Dan terima kasih banyak penjelasannya dokter!" balas Kania terkekeh.
"Jangan sungkan, nona! Itu sudah tugas saya!" sahut dokter Sukma.
"Iya, dokter! Kalau begitu selamat sore, dokter! Saya tutup teleponnya!" pamit Kania ramah.
"Iya, nona! Selamat sore juga!" jawab dokter Sukma ramah juga.
Panggilan telepon pun berakhir. Kania bisa bernafas lega. Karena yang ia khawatirkan, bukanlah yang bahaya.
"Kamu belum tumbuh aja, aku udah cemas kayak gini! Gimana nanti setelah kamu tumbuh di dalam sini? Apa aku akan sangat menyayangimu nantinya?" monolog Kania sambil meraba perutnya yang datar. Lalu menghela napas pelan dan menuju meja makan. Perutnya sudah minta diisi lagi.
Hari yang ditunggu tiba. Dan hari ini adalah waktunya Kania dan Akhtar memeriksa hasilnya. Hari ini pula, mempertemukan Akhtar dan Kania setelah makan malam di rumah kakek Wijaya dua minggu lalu. Diantar Bima ke rumah sakit sebagai sopirnya. Kania tetap disuruh duduk di samping Akhtar. Namun tidak ada pembicaraan di antara mereka.
Sampailah mereka di tempat dokter Sukma di ruangan waktu itu. Disambut dokter Sukma yang sudah menunggu mereka. Atas permintaan Kania, hanya dia yang masuk ruangan dokter Sukma. Akhtar dan Bima menunggu di luar. Akhtar hanya akan menerima hasilnya setelah Kania diperiksa.
"Silakan nona tes dengan alat ini. Tampung air seni nona ke wadah ini, lalu celupkan alat ini ke dalam air seni nona. Dan tunggu beberapa menit. Maka hasilnya akan terlihat." jelas dokter Sukma dengan sabar sambil menyerahkan testpack dan wadah bening kecil.
Kania tahu alat itu. Meski ia belum pernah hamil. Ia langsung menerima testpack dan wadah itu, lalu menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
Selang beberapa menit, Kania melihat test itu. Ia tidak begitu paham. Kemudian Kania keluar dari kamar mandi, dan memberikan testpack itu ke dokter Sukma yang sedang duduk di kursinya.
"Bagaimana, dok?" tanya Kania penasaran.
Dokter Sukma menghela napas pelan dan menatap Kania. Dokter Sukma pun berjalan keluar ruangan untuk memanggil Akhtar. Dan duduk kembali di kursinya. Disusul Akhtar yang duduk di sofa. Sedangkan Kania tetap duduk di depan dokter Sukma.
"Begini tuan Akhtar, nona Kania! Hasilnya masih negatif. Jadi saya simpulkan bahwa inseminasi yang sudah dilakukan kemarin gagal. Tapi tuan dan nona jangan khawatir. Karena kalian bisa melakukannya lagi. Namun, jika ingin pakai cara inseminasi lagi, itu membutuhkan jeda waktu 3 bulan lagi. Untuk memperbesar kemungkinan hamil." jelas dokter Sukma menatap Akhtar dan Kania bergantian.
"Apa ada cara lain selain inseminasi dalam waktu dekat ini?" tanya Akhtar dengan datar menatap dokter Sukma.
Kania hanya diam menyimak obrolan mereka.
"Bisa dengan bayi tabung, tuan. Namun prosesnya cukup memakan waktu. Dan perlu dilakukan pemeriksaan lagi untuk nona Kania." jelas dokter Sukma lagi.
"Apa ada kendala sebelumnya? Kenapa bisa inseminasi ini gagal? Bukankah aku dan dia sehat semua. Dokter mengatakan begitu, bukan!" cecar Akhtar dengan datar.
"Begini, tuan! Memang tidak ada kendala dalam proses inseminasi yang lalu. Sel sp*rma dan sel telur kalian juga bagus. Namun kami tetaplah manusia, tuan! Kami hanya bisa membantu melakukan prosesnya. Dan tetap Tuhan lah yang menentukan semuanya. Tapi tuan dan nona jangan khawatir. Sebenarnya cara alami bisa dilakukan untuk mendapatkan keturunan dengan cepat. Mengingat riwayat kesehatan dan kesuburan kalian semuanya baik. Tapi, karena kendala alergi tuan, jadi metode bayi tabung saya anjurkan jika tuan ingin segera memiliki anak." jelas dokter Sukma.
"Baiklah, dokter! Lakukan saja yang terbaik!" Jadwalkan kapan kami akan melakukan proses itu." balas Akhtar dengan datar.
"Baik, tuan! Segera akan saya buat jadwalnya!" balas dokter Sukma tersenyum.
"Kalau begitu kami permisi dokter!" ucap Akhtar sambil berdiri dan memakai kacamata hitamnya lagi.
Kania pun segera bangun dan pamit pada dokter Sukma. Bima dan Akhtar sudah jalan duluan menuju lift khusus. Berhubung rumah sakitnya punya keluarga Akhtar, jadi rumah sakit itu juga ada lift khusus. Dan itupun dengan kartu akses yang hanya dimiliki keluarga Akhtar.
Kania pun segera berlari mengejar Akhtar dan Bima yang sudah masuk lift.
Hah hah hah
Kania masuk lift dengan napas tersengal. Akhtar berdiri di sudut sambil melihat ke depan. Sedangkan Bima berdiri di di dekat tombol lift.
"Pak Bima kejam sekali! Tidak menungguku! Aku sampai harus lari! Hah! Kakiku!" keluh Kania melirik sinis ke Bima dan abai pada Akhtar.
"Kau saja yang lelet!" ketus Akhtar berdiri sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana.
__ADS_1
Kania hanya diam dan melirik sekilas ke Akhtar. Kania langsung bergeser dekat dinding lift yang berseberangan dengan Akhtar dan Bima.
"Maaf, nona!" jawab Bima dengan datar.
Mereka telah sampai di tempat parkir dan melangkah menuju mobil.
"Ya ampun, itu tuan Akhtar bukan? Tampan sekali!" seru seseorang tak jauh dari mobil mereka.
"Iya benar, tampan sekali ya! Siapa wanita itu? Bukannya tuan Akhtar alergi ya sama wanita? Kenapa ada wanita bersamanya?" sahut seorang lain di sebelahnya.
"Atau mungkin tuan Akhtar sudah sembuh dari alerginya? Wah, kalau itu benar, maka itu berita besar untuk kita!" timpal salah seorang lagi.
Kania, Akhtar, dan Bima mendengar kicauan ketiga wanita tersebut. Namun mereka abai dan masuk saja ke mobil. Mobil pun meninggalkan pelataran rumah sakit menuju kantor Akhtar.
Kania hanya diam di sepanjang jalan dan fokus menatap jalanan dari jendela kaca mobil. Akhtar sibuk dengan ponselnya. Bima fokus menyetir.
Sampailah mobil tiba di perusahaan. Kania belum sadar kalau mobil sudah berhenti. Bima langsung turun dan membukakan pintu untuk tuannya.
"Mari, tuan!" ucap Bima sopan.
Akhtar yang hendak keluar, menoleh ke samping.
"Apa kau masih mau di sini?" seru Akhtar dengan datar.
Kania tersentak karena suara Akhtar. Kania mengedarkan pandangannya melihat keluar.
"Kenapa berhenti di sini, tuan?" tanya Kania bingung melihat di luar mobil.
"Turun saja! Dan ikuti aku!" perintah Akhtar tanpa bantahan dan keluar mobil.
Kania pun pasrah dan menghela napas kasar. Menatap gedung tinggi yang sudah tiga minggu tidak ia lihat. Tempat yang dulu sempat memberikan harapan baru untuk kehidupannya. Justru menjadi tempat ia dipertemukan dengan Akhtar. Lelaki yang menawannya dengan uang dan perjanjian.
Kania pun mengikuti Bima dan Akhtar masuk ke dalam gedung perusahaan itu lagi. Namun kali ini ia tidak mengejarnya. Ia lebih baik jalan santai. Ia pikir akan ditinggalkan oleh Akhtar dan Bima, nyatanya masih menunggu di dalam lift.
"Apa kau tidak bisa lebih cepat jalannya? Benar-benar lelet!" protes Akhtar di dalam lift.
__ADS_1
Kania mengumpat Akhtar dalam hatinya. Dan masuk ke lift yang sama dengan Akhtar dan Bima. Karyawan yang sempat melihatnya, menatap heran.