
Akhtar terus memikirkan ucapan Michael. Bahkan pekerjaannya pun terganggu karena ucapan Michael. Apalagi Akhtar teringat tampilan Kania baru bangun tidur tadi. Sungguh menggemaskan dan mempesona di matanya.
"Gak, gak, gak! Gue gak boleh kejebak sama omongan Michael! Ingat janji loe, Akhtar! Loe gak akan pernah nyentuh tuh cewek! Tapi, bukannya nyium juga termasuk nyentuh ya? Hah! Pusing gue! Udahlah, mending sekarang balik ke apartemen aja! Udah gak konsen gue!" gumam Akhtar sambil mematikan laptop dan merapikan berkas-berkasnya.
Kemudian menuju pintu kamar pribadinya dan mencoba membuka pintunya. Namun terkunci dari dalam. Jadi Akhtar mengetuknya.
"Kania! Buka pintunya!" seru Akhtar sambil mengetuk keras pintu itu.
"Kania! Buka atau aku dobrak!" seru Akhtar lagi.
Pintu kamar pun terbuka. Kania keluar kamar dengan terus menunduk. Menghindari tatapan Akhtar.
Akhtar mengernyit heran melihat tingkah Kania.
"Saya pulang duluan ya, tuan! Udah gerah ingin mandi!" ucap Kania menunduk memberi alasan.
Mendengar kata gerah dan mandi, Akhtar jadi membayangkan bagaimana bentuk tubuh Kania tanpa busana. Seketika Akhtar merasa panas dingin.
"Mandi bersama aja!" celetuk Akhtar tanpa sadar.
Kania melongo kaget dan menatap Akhtar. Kania menelisik arah pandangan Akhtar yang memindai tubuhnya. Kania langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Yaaa! Tuan! Kau, kau benar-benar mesum!" seru Kania meninggikan suaranya.
Akhtar tersentak kaget dan sadar dengan ucapannya barusan.
"Bukan! Bukan begitu maksudku! Maksudku kita mandi bersama saja, karena aku juga gerah!" jawab Akhtar tanpa sadar lagi.
Kania langsung melotot.
"Salah, salah, salah! Bukan itu maksudnya! Kau mandi saja dulu di sini! Setelah itu baru aku. Karena aku juga gerah. Begitu!" ucap Akhtar lagi membenahi ucapannya.
"No! Saya tetap mau pulang aja! Gak enak mandi di sini!" tolak Kania tegas tetap menyilangkan tangannya di depan dada.
"Jadi kamu ingin mandi di rumah denganku?" tanya Akhtar tidak fokus.
"Apa?" seru Kania kaget.
"Bukan! Bukan itu maksudku! Ini kenapa mulut bicaranya begini sih!" sergah Akhtar.
Kania memicingkan matanya.
"Maksudku kamu mandi di rumah aja! Ya, itu! Mandi di rumah aja!" lanjut Akhtar tanpa melihat Kania lagi.
Akhtar tidak bisa fokus melihat Kania saat ini. Pikirannya sudah terkontaminasi dengan ucapan Michael dan sikap Kania yang melindungi dadanya. Itu semakin membuat Akhtar berpikir jauh.
"Ya, udah! Saya pulang duluan kalau begitu!" balas Kania tegas. Lalu berbalik menuju pintu.
__ADS_1
"Tunggu, Kania!" seru Akhtar. Lalu berjalan mendekati Kania.
"Stop, tuan! Tuan berhenti di situ! Ingat alergi tuan!" pekik Kania sambil menunjuk.
Akhtar pun berhenti dengan jarak 3 meter.
"Saya mau pulang sendiri! Saya udah pesan taksi online juga! Dan sudah menunggu di depan!" ucap Kania tanpa melihat Akhtar.
Akhtar tercengang mendengar ucapan Kania. Akhtar lalu menghubungi Bima.
"Halo, tuan!" sapa Bima di balik telepon.
"Suruh taksi online di depan kantor pergi! Dan kasih uang tips sekalian!" ucap Akhtar tegas lalu menutup telepon.
Kania kaget dan menoleh ke Akhtar yang menatapnya tajam.
Gluk
Kania menelan ludah susah payah dan berkedip.
"Kenapa kamu pesan taksi online tanpa kasih tahu aku? Apa kamu udah gak mau satu mobil denganku lagi? Apa karena takut alergiku kambuh lagi karena duduk di sampingku? Kamu udah berani rupanya, ya?" cecar Akhtar yang berjalan semakin dekat dengan Kania.
"Stop, tuan! Jangan mendekat!" seru Kania cemas dan berjalan mundur.
"Kenapa? Apa sekarang kamu mulai takut denganku? Bukankah kamu yang mulai mendekatiku duluan? Ingat kau menabrakku dulu?" cecar Akhtar lagi terus mendekati Kania. Sampai Kania mentok di tembok sebelah pintu.
"Tu... tu.. tuan, stop!" ucap Kania terbata dengan kedua tangannya ke depan mencoba menghalangi Akhtar yang semakin dekat.
"Kenapa? Kamu ingin aku berhenti?" cecar Akhtar memegang kedua tangan Kania dan meletakkannya di atas kepalanya di tembok dan semakin mepet Kania.
Kania terdiam dan mengerjapkan matanya.
"Bukankah dulu kamu yang menyentuhku? Kamu bahkan yang menindihku, Kania! Kenapa sekarang jadi kamu yang menghindariku? Bukannya kamu tahu, kalau alergiku gak berpengaruh disentuh kamu? Sangat aneh kan, Kania?" bisik Akhtar di depan wajah Kania.
Bahkan Kania bisa merasakan hembusan napas Akhtar yang bau mint menerpa wajahnya. Seketika Kania terhipnotis dengan ketampanan Akhtar yang dilihat dari jarak sedekat ini. Tangan Akhtar satunya memegang kedua tangan Kania di atas kepala Kania. Sedang tangan satunya lagi, menahan di tembok agar badannya tidak menempel Kania.
Bibir pink alami Kania yang sedikit terbuka, membuat Akhtar ingin menc*umnya lagi. Akhtar mendekatkan kepalanya ke wajah Kania. Matanya fokus ke bibir Kania yang menggoda. Entah dorongan darimana, Kania malah memejamkan matanya. Seolah mengharapkan c*uman yang pernah ia tonton di drakor kesayangannya.
Cup
Bibir Akhtar menempel bibir Kania. Dingin, sensasi yang Akhtar dan Kania rasakan. Melihat Kania yang pasrah dan terpejam, Akhtar pun memejamkan matanya. Mencoba menggerakkan bibirnya. Memberikan sedikit l*matan. Kania semakin terlena. Pengalaman pertama yang baru ia rasakan.
Napas keduanya memburu. Akhtar semakin lupa dan tak bisa mengendalikan diri. Semakin penasaran. Manis, rasanya manis dan membuat Akhtar semakin candu dan lupa diri. Meski Kania tak membalasnya, tapi ada rasa yang semakin membuat Akhtar ingin lebih mengeksplorasi c*umannya itu. Akhtar memang bukan ahli. Namun naluri seorang prianya menuntunnya.
Kania merasa sesak napas dan tersadar. Lalu menggigit bibir bawah Akhtar hingga berdarah. Sampai pegangan tangan Akhtar dan tautan bibir keduanya terlepas.
Plak
__ADS_1
Kania menampar pipi kiri Akhtar hingga tangannya bergetar. Akhtar menoleh karena tamparan Kania. Tangannya memegang pipinya yang sedikit terasa panas. Dan Akhtar merasakan asin di mulutnya. Ternyata bibirnya berdarah karena gigitan Kania. Lalu menatap Kania tajam.
Hah hah hah
Napas Kania memburu, karena marah dan c*uman tadi. Matanya menatap tajam Akhtar. Tangan kanannya masih bergetar di samping badannya.
"Tuan udah melewati batasan, tuan! Tuan yang mengatakan sendiri. Kalau tuan gak akan pernah menyentuhku! Tapi ini apa, tuan? Tuan mencuri c*uman pertamaku! C*uman yang harusnya buat suamiku kelak! Aku benci tuan!" ucap Kania kesal dan menangis. Lalu melangkah menuju pintu dan keluar ruangan.
Kania berpas-pasan dengan Bima lagi. Bima hendak masuk ruangan Akhtar. Bima menatap heran Kania. Lalu masuk setelah mengetuk pintu dan dipersilakan masuk oleh Akhtar.
Akhtar sudah duduk di kursinya. Ia mengelap bibirnya dengan tisu di meja. Bima berdiri di depan Akhtar dan melihatnya. Bima pun paham, apa yang terjadi dengan tuannya dan Kania. Karena Bima bukan pria polos. Bima sudah sering kalau urusan c*uman.
Bibir bawah Akhtar sedikit bengkak. Bima menahan senyumnya.
'Sekalinya c*uman malah dikasih gigitan! Kasian sekali tuanku ini!' batin Bima.
"Kau meledekku, Bim?" ketus Akhtar tajam menatap Bima di depannya.
"Gak, tuan! Cuma heran aja!" jawab Bima enteng.
Akhtar mengernyit heran.
"Baru awal, tapi udah berdarah! Sepertinya tuan harus banyak belajar lagi! Biar gak berdarah lagi!" jawab Bima dengan tenang.
"S*alan, kamu! Bisa-bisanya bicara seperti itu!" ketus Akhtar sambil melempar kotak tisu ke arahnya dan berhasil ditangkap Bima. Bima terkekeh.
"Kita pulang sekarang!" ucap Akhtar berdiri lalu memakai jasnya lagi dan kacamata hitamnya.
Keduanya keluar ruangan. Akhtar menyempatkan ke meja sekretarisnya untuk menyampaikan sesuatu. Setelahnya menuju lift khusus petinggi perusahaan. Sampai di lobi, Akhtar melihat Kania yang berdiri di luar perusahaan hendak naik ojek online.
Sebelum Akhtar dan Bima sampai keluar perusahaan, Kania sudah naik ojek online tersebut. Akhtar meminta Bima mengikuti ojek online itu. Namun karena jalanan sudah menjelang orang-orang pulang bekerja, jadi macet sebelum lampu merah. Sedangkan ojek yang dinaiki Kania sudah melaju duluan. Akhtar dan Bima pun tidak bisa mengejar Kania lagi.
*
*
Hai Hai Hai
Masih setia menunggu kisah Akhtar dan Kania kan?
Tetep nantikan ya!
Beri like dan dukungannya dong!
Jangan lupa kasih komen atau saran dan kritiknya.
Terima kasih readers
__ADS_1