
"Nia! Loe disuruh nemuin bu Reni!" seru Seli yang masuk ke pantry setelah dari kantin. Tadi bu Reni bertemu dengan Seli di kantin saat jam makan siang.
Saat ini memang masih jam istirahat bagi seluruh karyawan perusahaan. Hanya menunggu 10 menit lagi waktu untuk masuk kerja lagi setelah isoma (istirahat, solat, makan) bagi karyawan muslim yang solat.
"Sekarang mbak?" tanya Kania yang baru selesai makan nasi bekalnya yang ia bawa. Sedangkan Dini masih makan bakso yang ia pesan.
"Nanti setelah istirahat, kok!" jawab Seli yang sudah duduk di samping Kania.
"Iya, mbak! Kira-kira ada apa ya, mbak?" tanya Kania penasaran namun cemas dalam hatinya.
"Mbak, gak tau! Mungkin masih ada hubungannya sama kemarin!" jawab Seli dengan santai sambil memperhatikan Dini yang sedang makan bakso di depannya.
Seli bahkan seluruh karyawan kantor sudah tau kejadian yang menimpa Kania dengan CEO mereka. Ditambah lagi berita Kania yang pingsan dan digendong oleh CEO mereka yang terkenal sebagai Mr. Perfect dan anti wanita. Tentu menjadi berita yang heboh dan membuat Kania menjadi terkenal dalam sekejap di kantor tersebut.
"Hah?" Kania terkejut lalu menatap Dini yang sedang tersedak bakso karena mendengar ucapan Seli.
"Pelan-pelan, Din! Gak ada yang minta juga!" sahut Seli sambil menyodorkan minum ke Dini yang langsung diterima dan diteguknya hingga tandas.
Kania sendiri langsung menghampiri Dini dan menepuk-nepuk punggung Dini dengan pelan. Dan duduk di samping Dini.
"Hampir aja gue mati kesedak bakso!" ucap Dini sambil menepuk dadanya.
"Makanya lain kali hati-hati, Dini! Jangan cepet-cepet makannya!" sahut Kania sambil terus menepuk punggung Dini.
"Udah, Nia! Gue udah baikan, kok! Gue kaget aja denger mbak Seli ngomong tadi. Makanya gue sampai kesedak!" balas Dini sambil menoleh ke Kania.
"Ya kan mbak asal nebak aja! Tau sendiri kan, kejadian Kania yang nabrak tuan Akhtar. Terus tuan Akhtar yang gendong Kania karena pingsan ke ruang kesehatan. Itu jadi berita paling hot saat ini. Kania aja udah kayak selebritis dalam sekejap. Coba kalian bayangin, seorang tuan Akhtar yang alergi cewek, tiba-tiba gendong Kania. Ya, jadi mbak mikirnya karena masih ada hubungannya dengan kejadian kemarin. Apalagi coba?" jelas Seli santai sambil memperhatikan kuku-kuku tangannya, sesekali menatap Kania dan Dini yang di depannya.
"Bener juga sih, apa yang mbak Seli bilang! Apalagi masalahnya belum kelar karena aku tidur sampai malem. Bahkan sekarang, Dini juga jadi kena ikut masalah karena aku!" sahut Kania lesu sambil menunduk membayangkan masalah kemarin.
Namun, Kania merasakan ada yang menyenggol kakinya. Kania melihat ke bawah meja, ternyata kaki Dini yang menyenggolnya. Lalu Kania melihat ke arah Dini dengan muka bingungnya dan menaikkan alisnya. Seolah menanyakan, ada apa. Dini pun merespon dengan mengedipkan matanya berkali-kali. Kania langsung paham dan menoleh ke arah Seli yang menatap curiga pada keduanya.
"Loe kena masalah apa emangnya, Din? Kok mbak gak denger?" tanya Seli dengan tatapan penuh selidik ke arah Dini yang terlihat santai.
"Oh itu, masalah di rumah mbak! Iya, masalah di rumah! Ibunya Kania jadi marah sama aku. Gitu, mbak!" jawab Dini dengan senyum kakunya yang tidak sepenuhnya bohong, sambil tangannya mencolek tangan Kania.
"Iya mbk Seli. Ya udah ya, aku mau nemuin bu Reni dulu! Din, aku tinggal dulu ya!" balas Kania pelan sambil berpamitan ke Dini dan Seli dan dibalas dengan anggukan.
Kania segera keluar dari pantry dengan gugup. Lalu pergi ke lift menuju lantai tempat bu Reni. Sebenarnya Seli masih curiga kepada Kania dan Dini. Namun ia abaikan. Karena ia tidak ingin ikut campur masalah mereka.
Kania sudah tiba di ruangan bu Reni. Tanpa menunggu lama, bu Reni segera mengantar Kania menemui Bima di ruangannya. Lantai yang sama, dimana ruangan CEO juga berada. Kania semakin gugup dan cemas. Bu Reni menyadarinya dan memberikan perhatian agar Kania lebih tenang.
__ADS_1
Tibalah di depan ruangan Bima. Mereka masuk setelah mengetuk pintu dan dipersilakan masuk ke dalam.
"Terima kasih, bu Reni! Dan ibu bisa kembali kerja lagi!" ucap Bima dengan datar yang duduk di kursi kerjanya.
"Baik, pak! Kalau begitu, saya permisi!" pamit bu Reni dengan sopan sambil membungkuk, lalu berbalik dan tersenyum pada Kania yang berdiri di belakangnya.
Bu Reni memberikan senyuman seolah memberikan kekuatan pada Kania, bahwa semua akan baik-baik saja. Kania hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Bu Reni pun pergi meninggalkan ruangan Bima.
Kania kembali menunduk dan meremas ujung bajunya. Bima segera berdiri setelah pintu kembali tertutup. Bima berjalan menuju ke arah Kania. Dengan jarak sekitar satu meter, Bima berdiri di depan Kania.
"Ikut saya!" seru Bima dengan datar lalu berjalan ke arah pintu. Kania pun hanya mengangguk dan mengikutinya.
Bima membawa Kania ke ruangan Akhtar yang berada di depan ruangannya. Kania semakin gugup dan cemas. Namun ia berusaha untuk menenangkan diri. Keduanya pun sudah masuk ke ruangan, setelah dipersilakan masuk oleh suara bariton seorang pria. Dan Kania tau pasti, itu suara tuan Akhtar, pimpinannya.
Kania disuruh duduk di kursi depan meja kerja Akhtar. Dan Akhtar sudah duduk di kursi kebesarannya sambil menatap layar laptop di depannya, khas dengan kacamata tembus pandang anti radiasi.
' Mukanya kenapa merah? Tangannya juga! Apa itu efek alerginya saat menyentuh cewek? Sangat aneh! Tapi tetep ganteng sih! Ganteng banget malah! Kayak oppa-oppa Korea.' Ganteng banget! Kayak oppa-oppa Korea!' batin Kania yang sempat melirik Akhtar dan tersenyum sekilas sebelum ia duduk.
Akhtar sebenarnya mengetahui kalau Kania sempat meliriknya dan tersenyum, namun ia abaikan saja.
Setelah Kania duduk dan terlihat tenang, karena beberapa kali Kania menarik napas dan menghembuskannya untuk mengatur degup jantungnya. Dan itu berhasil. Kania sedikit tenang, meski masih ada rasa cemas dan was-was di hatinya.
Bima yang berdiri di samping meja Akhtar, kemudian mengeluarkan berkas yang ia bawa dari ruangannya tadi. Lalu meletakkan di meja depan Kania duduk. Kania bingung dengan berkas yang ada di depannya.
"Hah! Ini tuan?" jawab Kania dengan polos sambil menunjuk berkas yang di depannya.
"Iya! Lalu yang mana lagi? Baca dan tanda tangani!" sahut Akhtar dengan tegas sambil menatap Kania dengan intens tanpa senyum di bibirnya. Kania hanya mengangguk, lalu membacanya.
Kata per kata, Kania baca dalam diam sambil menunjukkan raut wajah yang bingung. Sampai pada kalimat yang membuatnya merubah ekspresi wajahnya terkejut dan terlihat kesal. Sampai akhir, Kania baca semua tulisan yang ada di beberapa lembar kertas tersebut.
"Maksudnya ini apa, tuan?" tanya Kania mencoba tenang dan menahan emosinya sambil menatap ke mata tajam Akhtar. Rasa takut dan cemasnya telah hilang, berganti dengan kesal dan marah.
Kania tidak pernah direndahkan seperti ini. Ia memang tau tentang pencarian wanita yang akan mengandung anak tuan Akhtar dan mendapatkan bayaran yang sangat tinggi. Namun itu tidak pernah ada dalam impian Kania. Meski ia hidup miskin bersama ibunya dan terlilit hutang, namun Kania tidak akan melakukan hal di luar nalarnya sebagai seorang wanita.
"Seperti yang sudah kamu baca! Bukankah sudah tertulis jelas di sana? Kamu akan mendapatkan bayaran yang sangat tinggi untuk itu. Tenang saja, untuk mendapatkan anak darimu, aku tidak akan pernah menyentuhmu. Peralatan medis sudah sangat canggih saat ini. Jadi banyak cara untuk mendapatkan anak tanpa berhubungan. Jadi kamu akan tetap menjadi seorang gadis. Mudah bukan?" jelas Akhtar dengan suara beratnya sambil terus menatap tajam pada Kania yang masih berani menatapnya.
'Sangat menarik! Dia sudah berani menatapku begitu lama!' batin Akhtar dengan pandangan datarnya.
"Kalau memang itu mudah bagi tuan! Lalu kenapa harus saya yang menjadi wanita itu? Bukankah banyak wanita yang secara suka rela mendaftarkan diri pada saat pemilihan beberapa hari lalu? Bahkan saya sama sekali tidak memenuhi kriteria yang diinginkan, bukan? Dan satu lagi, meskipun saya memenuhi kriteria itu, tapi saya sama sekali tidak berminat. Saya bukan wanita yang rela menjual anaknya demi uang. Saya tidak akan pernah melakukan itu. Kalaupun ini bentuk hukuman yang ingin tuan berikan kepada saya karena kesalahan saya yang menabrak tuan waktu itu, saya lebih baik dipecat. Jadi, silakan tuan cari wanita yang lain! Saya permisi!" jelas Kania dengan napas memburu karena marah dengan ucapan Akhtar. Setelah panjang lebar meluapkan emosinya lewat kata-kata, Kania segera berdiri dan berbalik hendak menuju pintu.
Bima ingin menghentikan Kania, namun dicegah dulu oleh Akhtar dengan isyarat tangannya. Akhtar hanya menatap punggung Kania dengan tatapan tajamnya dan senyum smirknya.
__ADS_1
"Berarti kamu akan melihat temanmu itu masuk penjara besok!" seru Akhtar dengan suara beratnya.
Kania yang sudah menekan handel pintu, seketika berhenti dan berbalik menatap Akhtar yang masih menatapnya tajam.
Kania berjalan lagi ke hadapan Akhtar.
"Maksud tuan apa? Tuan mengancam saya?" tanya Kania dengan dada bergemuruh.
"Nona Kania! Harap anda menjaga batasan anda!" seru Bima menyela ucapan Kania.
Bima tidak menyangka, Kania yang ia kira adalah gadis penakut dan polos, ternyata berani berbicara dengan tuannya dengan emosi seperti ini.
'Belum pernah ada wanita yang seberani ini dengan tuan Akhtar! Wajah cantiknya hanya topeng. Tapi aku suka! Kapan lagi melihat tuan Akhtar diperlakukan seperti ini oleh wanita?' batin Bima sambil menahan senyumnya.
"Tidak apa, Bim!" sahut Akhtar dengan datar tanpa menoleh ke wajah Bima.
'Selain cantik, dia juga berani ternyata! Wajah polosnya hanya kamuflase. Ternyata aku sempat tertipu. Tapi aku suka! Ini akan semakin menarik.' batin Akhtar menyeringai.
"Anggap saja seperti itu!" balas Akhtar dengan datar sambil mencondongkan badannya ke meja dengan kedua tangannya ia satukan menggenggam di atas meja.
"Kamu sudah tau bukan, perbuatannya? Dengan sengaja menaruh obat tidur ke dalam minumanku. Beruntung aku tidak meminumnya, dan justru kamu yang jadi korbannya. Lucu, bukan? Sudahlah, aku tidak punya banyak waktu! Pikirkan baik-baik!" lanjut Akhtar dengan nada mengintimidasi gadis yang berdiri di depannya.
Kania masih kesal namun ia bingung harus mengambil sikap bagaimana. Menerima tapi tidak sesuai hatinya. Menolak tapi sahabatnya yang jadi korban. Ia sangat dilema saat ini!
"Saya minta waktu, tuan! Saya tidak bisa memutuskan hari ini!" jawab Kania dengan lesu.
"Satu hari. Aku hanya memberi waktu satu hari. Kalau sudah ada keputusan, temui asistenku!" balas Akhtar tegas yang sudah menyandarkan punggungnya ke kursi lagi.
"Baik!" jawab Kania pasrah. Kemudian berlalu meninggalkan ruangan Akhtar tanpa pamit.
*
*
HAI HAI HAI READERS
MAKIN SERU KAN? INI UDAH MULAI MASUK KE INTI CERITANYA NIH! JADI TETEP SABAR NUNGGU KELANJUTANNYA YA!
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA
TERIMA KASIH
__ADS_1
DAN SELAMAT MEMBACA