Tawanan Mr. Perfect

Tawanan Mr. Perfect
Bab 17 Keputusan Kania


__ADS_3

Malam hari di rumah sederhana. Dua wanita beda usia selesai makan malam di ruang TV sambil lesehan. Rumah yang hanya berisi dua kamar kecil, ruang tamu, ruang TV sekaligus tempat makan, dapur, dan kamar mandi di dekat dapur. Rumah milik Kania dan orang tuanya. Kini hanya ditempati dua orang, Kania dan ibunya. Ayah Kania sudah meninggal karena penyakit jantung satu tahun yang lalu, sebelum pengumuman kelulusan Kania.


Kania sedang membereskan alat makan yang habis digunakan untuk makan malam. Makan malam pun dengan lauk yang sama dengan Kania bawa tadi ke kantor. Mereka memang harus irit untuk keperluan dan kebutuhan lainnya. Setelah mencuci alat makannya, Kania kembali ke ruang TV.


Di sana, ibunya sudah duduk lesehan dengan sandaran tembok kamar Kania. Kamar Kania tepat di samping ruang tamu dan berada di depan. Kania langsung duduk di sebelah ibunya yang sedang menonton sinetron di chanel burung rajawali. Sinetron kesukaan emak-emak.


"Bu!" lirih Kania yang gugup dan menoleh ke ibunya.


"Hm! Ada apa, Nak?" sahut ibu Meli lembut menatap putrinya. Wajah ayunya nampak lelah dan sedikit keriput karena tak pernah perawatan dengan skincare. Boro-boro beli skincare, buat makan enak aja, mesti pikir-pikir.


"Ada yang mau Kania bilang ke ibu!" balas Kania dengan gelisah, bola matanya melihat kanan kiri.


"Ada apa toh, Nak? Kayaknya kok serius sekali! Tentang kerjaanmu?" cecar ibu Meli dengan raut wajah penasaran.


"Bukan, Bu! Ini tentang masa depan Kania!" balas Kania menatap wajah lelah ibunya.


"Masa depan apa toh, Nak? Ibu gak ngerti kamu ngomong apa!" jawab ibu Meli semakin bingung sambil memegang pundak sebelah kiri Kania.


"Ada yang mau jadiin Kania sebagai calon ibu anaknya, Bu!" balas Kania dengan lirih sambil menunduk.


"Kamu mau nikah? Sama siapa? Orang mana? Kerjanya apa? Rumahnya dimana? Kok ibu gak tau? Dan kamu kan masih kecil, Nak! Kamu masih kerja juga!" cecar ibu Meli dengan banyak pertanyaan ke anaknya yang masih menunduk lalu mendongak menatap ibunya lagi.


"Kania bingung mau jawab yang mana, Bu! Pertanyaan ibu banyak banget!" balas Kania dengan bingung.


"Siapa laki-laki itu?" tanya ibu Meli pelan sambil menatap mata anaknya.


"Bosku di kantor, Bu!" jawab Kania lirih sambil menunduk lagi dan meremas kaos oblongnya.


"Bos kamu? Gak salah, Nak? Ibu tau, putri ibu ini sangat cantik. Tapi apa iya, ada orang kaya yang mau nikah sama orang miskin seperti kita? Perbedaan kita jauh sekali, Nak! Ibarat kata bumi dan langit. Status sosial kita berbeda dengan orang kaya. Ibu gak mau, kalau kamu cuma dipermainkan saja oleh laki-laki itu. Kamu juga masih 19 tahun, Nak! Masih kecil bagi ibu!" jelas ibu Meli dengan tenang sambil menatap putrinya yang mulai menitikkan air mata.


'Ibu memang benar! Tapi bukan menikahiku, Bu! Gimana caranya aku jelasin ke ibu ya? Ini aja ibu udah gak setuju. Apalagi kalau denger yang sebenernya. Kania harus gimana, Bu? Nasib Dini gimana? Ya Tuhan, tolong bantu aku!' batin Kania dalam hatinya menjerit.


"Ibu takut kalau kamu cuma dimanfaatkan saja! Pemikiran orang kaya itu sangat berbeda dengan kita. Mereka itu berpikir dengan mudah mendapatkan apapun yang mereka inginkan. Ibu gak mau kamu nantinya dicampakkan. Meski kita miskin, tapi kita juga masih punya harga diri kan, Nak! Itu yang kita agungkan. Kita jangan mau direndahkan orang lain. Sejatinya kita hidup di dunia ini, adalah sama di mata Tuhan. Namun manusia itu sendiri yang membuat perbedaan itu. Kamu paham apa yang ibu bilang kan, Nak!" lanjut ibu Meli lagi dengan sendu. Kania semakin terisak mendengar ucapan sang ibu. Benar semua yang dikatakan ibunya. Lalu bagaimana nasib sahabatnya jika ia menolak tawaran tuan Akhtar? Kania semakin kalut dalam dekapan ibunya.


"Jika bos kamu memang benar-benar ingin menikahimu, suruh ia datang menemui ibu! Maka ibu akan pertimbangkannya lagi!" ucap ibu Meli lagi sambil memeluk putrinya dan mengusap kepalanya dengan sayang. Kania hanya bisa mengangguk dalam tangisan dan pikirannya yang makin dilema.

__ADS_1


Setelah adegan tangisan Kania dipelukan ibunya tadi. Kini Kania sudah berada di kamarnya yang hanya seluas 3x3 m. Kania merenung di ranjangnya. Memikirkan langkah yang akan ia ambil untuk besok.


Sedangkan di kamar lain dengan ukuran yang sama, ibu Meli sedang menatap foto pernikahannya dengan suaminya yang sudah meninggal. Foto laki-laki yang tampan bermata sipit dan berkulit putih. Ia menangis memandangi foto itu.


'Maafkan aku, Mas! Aku hanya tidak ingin nasibnya seperti ku! Kania putri kita satu-satunya. Buah cinta kita. Aku tidak ingin dia direndahkan orang kaya. Sama seperti aku direndahkan keluargamu. Maafkan aku, Mas! Demi aku, kamu sampai terbuang jauh dari keluargamu. Aku juga tidak ingin dia sengsara seperti aku. Menjadi wanita yang tidak pernah direstui karena perbedaan derajat dan status! Maafkan aku, Mas!' batin ibu Meli memeluk foto pernikahannya hingga tertidur.


Pagi hari yang cerah, tapi tak secerah hati Kania. Kania dan Dini sudah berada di kantor untuk melakukan tugasnya seperti biasa. 30 menit kemudian, para karyawan mulai berdatangan dan memenuhi kubikel mereka masing-masing. Tak lama, sebuah mobil bugatti keluaran terbaru berwarna hitam, berhenti di depan perusahaan.


Sang asisten yang sudah tiba duluan, menyambut tuannya yang begitu tampan setiap harinya. Setelan jas berwarna biru elektrik dan kacamata hitam di hidung mancungnya, menambah kesan maskulin. Kemerahan di tubuh dan wajahnya akibat alergi sudah menghilang berkat obat terbaru buatan Michael.


Berjalan dengan langkah tegap diiringi Bima di sampingnya membawakan tas miliknya. Karyawan wanita yang berada di lobi, memandang takjub ciptaan Tuhan di depan mata. Namun tidak ada yang berani mendekat. Pemandangan yang sudah biasa terjadi setiap harinya. Masuk lift khusus petinggi perusahaan.


"Agh! Genteng banget sih, pak Akhtar! Coba aja gak alergi sama cewek, udah gue deketin terus tuh Mr. Perfect! Agh... Pak Akhtar, bener-bener perfect." gumam Cindy, salah satu karyawan divisi akunting yang cantik namun centil.


"Loe bener, Cin! Gue aja yang udah nikah, kesemsem. Apalagi loe yang masih gadis gini! Eh, tapi loe tau kan, cleaning service yang baru itu? Beruntung banget ya, bisa deket sama pak Akhtar. Bahkan sampai digendong pula. Buat iri aja kan? Tapi kenapa, pak Akhtar gak alergi ya sama tuh cleaning service? Cantik sih! Tapi kan tetep aja gak selevel dibandingin sama loe. Iya kan?" sahut Desi teman Cindy di divisi yang sama namun sudah menikah.


Cindy yang mendengar ucapan temannya itu, seketika berubah kesal.


"Udah gak usah dibahas tuh cleaning service! Gue kan lagi ngomongin ketampanan pak Akhtar! Kenapa diingetin sama tuh cewek sih! Bikin gue badmood aja. Pakai bandingin segala lagi loe! Ya, jelas aja gak sebanding sama gue! Dia itu jauh banget sama gue! Loe tau, ibarat gue princess dia upik abu. Cantikan juga gue kemana-mana! Yuk ah, ke ruangan!" sahut Cindy dengan menggerutu kepada temannya. Keduanya berlalu menuju lift dan lantai tempat divisi akunting.


"Setelah ini hubungi bu Reni! Suruh dia membawa Kania ke ruanganmu! Kamu sudah tau bukan apa yang harus dilakukan?" ucap Akhtar dengan datar sambil menyalakan laptopnya tanpa menoleh ke Bima.


"Baik, tuan!" balas Bima dengan sopan lalu pergi mengundurkan diri ke ruangannya.


'Masih juga jam 8. Udah main suruh orang aja! Gadis itu juga pasti masih sarapan! Dasar tuan Akhtar!' batin Bima sambil melihat jam di tangannya sambil berjalan menuju ruangannya.


Bima pun melakukan panggilan ke bu Reni. Menyampaikan apa yang disuruh tuannya. Bu Reni pun mengiyakan perintah sang atasan. Mana mungkin bu Reni berani membantahnya. Meski ia sedang sarapan saat ini di ruangannya.


Begitu juga dengan Kania, saat ini ia tengah sarapan di pantry bersama Dini yang baru selesai mengantar minuman untuk karyawan divisi pemasaran. Sarapan roti dan teh hangat sih tepatnya! Untuk mengganjal perut mereka sementara.


"Kania! Dipanggil bu Reni!" seru Seli yang baru masuk pantry.


uhuk uhuk uhuk


Kania yang sedang minum tehnya, tiba-tiba tersedak karena kaget. Langsung meletakkan tehnya di atas meja. Dini pun langsung bangun dan menghampiri Kania, sambil menepuk-nepuk punggungnya.

__ADS_1


"Mbak Seli kebiasaan deh, kalau masuk gak ketuk pintu dulu! Mana ngomongnya buat kaget lagi!" gerutu Dini yang menoleh ke arah Seli yang sedang mengambil air minum untuk Kania.


"Ya, maaf! Terlalu antusias sih gue!" sahut Seli dengan nyengir kudanya berbalik dan memberi segelas air minum ke Kania.


"Makasih mbak! Udah, Din!" ucap Kania meraih gelas tersebut dan meminumnya hingga habis.


"Pagi banget sih! Gak tau apa kalau lagi sarapan? Dasar! Hh!" gerutu Kania setelah hilang batuknya dengan minum air putih yang diambilkan Seli.


Dini dan Seli yang berada di dekat Kania saling memandang seolah bertanya, kenapa dengan Kania? Dini hanya mengedikkan bahunya.


Kania pun berdiri dan menuju pintu sambil menggerutu tidak jelas. Kania sudah tahu, kenapa ia dipanggil bu Reni. Apalagi kalau bukan perintah si Mr. Perfect. Ia kesal karena masih pagi, sudah disuruh ke sana. Bahkan ia belum sarapan dengan benar.


*


*


HAI HAI HAI READERS


SELAMAT PAGI!


AUTHOR BISA UP PAGI INI NIH!


MUMPUNG ANAK SAMA EMAK! HEHEHEHE


MAKIN SERU KAN CERITANYA!


WAH KAYAKNYA ADA RAHASIA NIH DENGAN IBUNYA KANIA!


KIRA-KIRA RAHASIA APA YA?


COBA JAWAB DI KOLOM KOMEN YA!


JANGAN LUPA LIKE DAN DUKUNG TERUS KARYA AUTHOR.


TERIMA KASIH

__ADS_1


SELAMAT MEMBACA DAN SELAMAT BERAKTIVITAS


__ADS_2