
"Tuan!" seru Bima membuka pintu ruangan Akhtar.
Akhtar yang sedang fokus pada laptopnya, langsung mendongakkan kepala menatap Bima yang terlihat gelisah.
"Tuan, apa alergi tuan kambuh lagi?" tanya Bima khawatir mendekati Akhtar.
Akhtar mengernyitkan dahinya heran.
"Memang aku kenapa? Dan aku baik-baik saja!" balas Akhtar datar sambil fokus lagi ke laptopnya.
"Bukannya tadi tuan dipegang nona Kania? Jadi alergi tuan... " sahut Bima terpotong.
"Aku gak apa-apa, Bima! Apa kamu gak lihat sekarang? Sudah sana kerjakan tugasmu lagi! Mengganggu saja!" balas Akhtar menatap tajam Bima dan mengusirnya.
Bima pun memperhatikan tuannya. Memang benar, Akhtar terlihat baik-baik saja. Bahkan seperti biasanya. Bima pun menjadi bingung. Berarti dugaannya selama ini benar. Bahwa alergi Akhtar tidak bereaksi jika disentuh oleh Kania. Tapi jika disentuh oleh wanita lain, alerginya masih menyerang tuannya lagi. Hal ini ia buktikan, waktu kejadian Dini yang menabrak tuannya beberapa hari yang lalu.
'Sungguh aneh! Kenapa dengan Kania, alerginya tidak bereaksi apa-apa? Apa itu artinya, Kania memang jodoh tuan Akhtar? Ah, entahlah! Pusing mikirin alergi tuan!' batin Bima menatap bingung Akhtar kemudian berlalu kembali ke ruangannya karena diusir tuannya.
Setelah kepergian Bima, Akhtar menghentikan pekerjaannya. Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya. Keduanya tangannya ia satukan dan bertopang pada pegangan kursi. Kepalanya menengadah ke atas. Melihat langit-langit ruangan kerjanya. Akhtar menghela napas pelan.
Tadi saat Kania tak sengaja memegang tangannya, ada desiran aneh di hatinya. Bukan karena marah atau kesal. Namun lebih pada perasaan yang tak bisa Akhtar jelaskan. Bahkan ia sendiri heran, alerginya tidak muncul karena sentuhan Kania. Dan beberapa kali ia bersentuhan dengan Kania, alerginya sama sekali tidak bereaksi.
"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa alergiku tidak bereaksi sama sekali karena sentuhanmu? Bahkan sudah berulang kali. Tapi kamu seperti mami dan nenekku. Wanita yang bisa kusentuh tanpa harus takut alergi. Hah! Sudahlah! Aku tidak boleh lemah dengan gadis itu! Dia sama seperti wanita lainnya. Benar! Hanya mami dan nenek, wanita yang tulus padaku. Selain itu, mereka hanya memanfaatkanku! Sama juga seperti Kania. Ya, itu benar! Dia sama seperti wanita itu!" gumam Akhtar memikirkan alerginya yang tak bereaksi disentuh Kania.
'Ingat Akhtar! Kamu hanya membutuhkan gadis itu untuk mengandung dan melahirkan calon putramu! Jadi jangan pernah lemah terhadap wanita lagi! Biarkan mereka yang terobsesi padamu! Bukan dirimu yang terobsesi padanya! Ya, karena akulah Mr. Perfect!'' batin Akhtar yang sudah duduk tegak dan menyeringai.
Akhtar pun kembali menatap laptopnya lagi, lalu mematikannya. Karena sebentar lagi waktunya jam kerja pulang. Di hari pernikahannya pagi tadi, masih hari kerja. Akhtar yang workaholic pun menyempatkan ke kantor setelah urusan pernikahan dan rumah sakit selesai. Dan sekarang ia bersiap untuk pulang. Tentu saja bersama sang asisten, Bima. Karena Bima sudah datang lagi menjemput tuannya.
Sementara di rumah Kania, ketiga sedang terlibat obrolan serius di ruang TV.
"Loe beneran mau ninggalin gue, Nia?" tanya Dini penasaran menatap Kania yang sedang menggenggam tangan ibunya.
Kania melepaskan genggaman tangannya pada ibunya, lalu beralih menatap Dini yang duduk di hadapannya. Kania menghela napas kasar sebelum menjawab sahabatnya.
__ADS_1
"Din! Aku udah mikir semalaman. Dan aku memang udah mutusin. Aku gak mau tinggal di kota ini lagi. Aku mau pergi jauh dari sini sama ibuku. Gimana aku masih bisa tetap di sini, Din? Kalau nantinya aku bakal pisah sama anak yang kukandung. Memang saat ini, benih ini belum tumbuh. Tapi bener kata ibuku, lambat laun aku bakal ngerasa sayang dan berat buat nyerahin anak ini sama tuan Akhtar. Meski aku gak munafik, aku memang butuh uang. Tapi tetep, Din! Aku bakal jadi seorang ibu, bukan? Tapi aku bakal jadi seorang ibu yang jual anaknya demi uang, Din! Dan gimana bisa, aku masih tetap di sini? Itu pasti sangat berat, Din! Dan aku pasti gak akan sanggup kalau masih ada di sini. Kamu ngerti maksudku kan, Din?" jelas Kania sambil meraih tangan Dini dan menangis.
Dini pun langsung memeluk Kania. Dini paham dengan kesedihan Kania. Meski Dini juga belum pernah menjadi seorang ibu, tapi Dini paham bagaimana perasaan seorang ibu yang akan berpisah dengan anak kandungnya sendiri. Karena jelas, calon anak yang nanti dikandung Kania adalah darah daging Kania juga. Jadi jelas itu anaknya bukan? Jadi pasti Kania sudah memiliki perasaan seorang calon ibu.
"Gue ngerti banget maksud loe, Nia! Gue cuma bisa dukung semua keputusan loe! Gue yakin loe udah mikirin semuanya dengan mateng. Loe kan pinter gak kayak Gue! Dan gue pasti bakal sedih banget kalau loe pergi dari sini, Nia! Kita dari orok aja udah temenan. Dan gak lama lagi, loe bakal ninggalin gue! Huwaaaa...!" balas Dini sedih masih dalam pelukan Kania. Keduanya menangis.
Bu Meli yang melihat mereka menangis pun, jadi menangis lagi. Jadilah semuanya menangis. Sampai Kania berhenti menangis, saat Dini mengelap ingusnya di baju Kania.
"Iihh Dini! Loe jorok! Masa ngelap ingus di bajuku!" gerutu Kania melepaskan pelukannya pada Dini dan melihat bajunya yang terkena ingus Dini.
"Hahahahaha... Kita udah impas, Nia! Hahahaha..." Dini terbahak sambil mengelap air matanya dan sisa ingusnya dengan tisu yang ada di situ.
"Ah, Dini mah!" sungut Kania sambil mengelap bajunya yang terkena ingus Dini dengan tisu.
Bu Meli yang semula menangis juga, ikut tertawa kecil melihat tingkah keduanya.
"Sudah, sudah! Kalian selalu aja bertengkar!" sela bu Meli menengahi keduanya.
Setelah drama ingus selesai, Kania pun melanjutkan pembicaraannya dengan ibunya.
"Apa kita bisa nolak, Nak? Gak kan? Jadi ya sudah, kita turuti saja perintah tuan Akhtar. Dan ibu yakin, tuan Akhtar gak akan biarin kamu hidup kesusahan di sana. Apalagi akan ada calon anaknya. Hidupmu pasti terjamin. Makanan pun pasti yang lebih sehat dan enak dari yang biasa kita makan. Jadi tinggal saja di sana, ibu gak pa-pa!" jelas bu Meli lembut sambil tersenyum.
"Ibu boleh tinggal kok sama Kania! Ibu ikut aja ya! Lagian, tetep makanan ibu yang paling enak di dunia! Makanan restoran aja kalah." balas Kania sambil memuji masakan ibunya.
"Ibu gak bisa, nak! Ibu di sini aja ya! Apalagi setelah ini, kita bakal pergi dari sini! Jadi ibu pengen mengenang rumah peninggalan ayahmu sebelum kita pergi! Ibu sesekali aja main atau nginap di sana nanti. Gak apa kan, nak? Kamu juga kan udah menikah sama tuan Akhtar! Apa kata orang, kalau ibu juga ikut tinggal sama kamu!" jelas bu Meli menolak dengan halus permintaan anaknya.
"Tuan Akhtar sendiri yang ngizinin ibu tinggal sama aku kok, bu! Jadi pasti gak apa-apa. Lagian Kania gak tinggal bareng sama tuan Akhtar. Cuma satu gedung aja, tapi beda apartemen. Kania pasti bakal kesepian kalau gak ada ibu!" balas Kania sendu. Wajahnya tertekuk ke bawah dan menunduk.
"Jadi loe bakal tinggal sendiri, Nia? Kok bisa? Ya, meski kalian cuma nikah kontrak, tapi kan tetep aja, kalian itu juga nikah! Masa tinggal sendiri-sendiri! Kalau nanti waktu kamu hamil, berarti kamu juga sendirian? Tega banget dia sama calon anaknya!" protes Dini menimpali pembicaraan Kania dan bu Meli.
"Aku malah seneng gak tinggal sama dia! Jadi aku gak bakal lihat mukanya yang dingin dan datar itu! Loe gak tau sih Din, kalau dia lagi ngomong! Kata-katanya itu lho, kayak emak-emak julid komplek depan. Kamu bakal heran lihat si Mr. Perfect yang sama sekali gak perfect dimataku!" sahut Kania dengan kesal kalau mengingat Akhtar.
"Ya, gue kan kesel aja! Mana ada suami istri tinggalnya beda! Pengantin baru lagi!" sindir Dini.
__ADS_1
"Kamu kesel sama dia, kenapa pengantin baru dibawa-bawa? Kesel, kesel aja! Udahlah, jangan bahas dia! Kegeeran kalau dia tahu!" sungut Kania kesal.
"Sudah, sudah!" bu Meli menengahi lagi.
"Jadi ibu bener gak mau ikut tinggal sama Kania?" tanya Kania menoleh ibunya dengan wajah sendunya.
"Maaf ya, nak! Ibu di sini aja dulu! Ibu yakin, putri ibu yang paling cantik ini, bisa hidup mandiri! Ini juga bisa jadi buat kamu belajar dewasa, nak! Kamu akan mengerti gimana nanti cara kamu menjalani hidup, kalau ibu udah nyusul ayahmu. Kamu pasti bisa dan kuat!" jelas bu Meli lembut sambil menyentuh pipi Kania.
"Ibu jangan ngomong seperti itu! Ibu akan terus menemani Kania sampai Kania tua. Ibu akan selalu sehat!" sergah Kania sedih.
"Semua makhluk yang bernyawa, pasti akan kembali ke penciptanya, nak! Tapi ibu akan selalu menemani kamu! Meski besok kamu tidak tinggal sama ibu! Jadi jangan sedih!" balas bu Meli dengan bijak sambil mengusap airmata Kania yang keluar lagi.
"Kania sayang banget sama ibu!" ucap Kania langsung memeluk ibunya erat dan menangis lagi.
"Ibu juga sayang banget Kania. Putri kesayangan ibu dan ayah!" balas bu Meli membalas pelukan anaknya dan membelai punggung anaknya.
Dini menatap haru keduanya. Ia pun sebenarnya bersedih saat tahu sahabatnya akan tinggal di tempat berbeda. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Kania yang bekerja belum genap satu bulan, malah menikah dengan pemilik perusahaan. Mau dibilang mujur, tapi cuma nikah kontrak. Mau dibilang penderitaan, tapi beruntung dapat uang banyak. Entahlah pikiran Dini malah ruwet memikirkan nasib sahabat sekaligus tetangganya dari bayi.
*
*
Hai Hai Hai
Author sudah up bab baru lagi lebih awal nih!
Semoga tetep setia mengikuti cerita Kania dan Akhtar ya!
Kira-kira bakal ada yang bucin gak nih, antara Kania dan Akhtar?
Like dan komennya ya!
Terima kasih dan selamat membaca
__ADS_1
selamat beraktivitas