Tawanan Mr. Perfect

Tawanan Mr. Perfect
Bab 56 Pesta Pernikahan Akhtar Kania


__ADS_3

Hari yang dinanti keluarga Wijaya telah tiba. Hari pesta pernikahan calon pewaris satu-satunya Wijaya Group di negara ini. Bahkan para wartawan sudah menantikan berita sejak tersebarnya undangan mewah Akhtar dan Kania. Mereka sangat penasaran istri dari seorang Akhtar Farzan Wijaya yang katanya alergi wanita.


Tapi sekarang, isu tersebut telah dipatahkan dengan adanya pesta pernikahan antara Akhtar dan Kania. Wanita beruntung mana yang menjadi istri orang kaya nomor satu di negara ini? Masyarakat menantikan siaran langsung di televisi. Bahkan pesta pernikahannya disiarkan di seluruh stasiun televisi. Pokoknya gak mau kalah sama pernikahannya mas Kaesang sama mbak Erina deh.


Apalagi pesta pernikahan diadakan di hotel ternama di negara ini. Dekorasinya saja dipenuhi dengan bunga mawar putih yang dipesan khusus dari negara Prancis. Harap maklum, orang kaya nomor satu di negara ini. Author mengkhayalnya berlebihan, biarin aja ya!


Kania sedang didandani oleh salah satu MUA terkenal di negara ini. Kania yang tidak pernah dandan, menjadi sangat cantik dengan makeup flawlessnya. Dipadu dengan gaun pengantin berwarna putih yang indah.


Kania bak Cinderella atau putri kerajaan. Kania sangat gugup saat ini. Dini menatap takjub pada sahabatnya. Ia tidak menyangka jika Kania bisa secantik ini.


"Loe cantik banget, Nia! Gue sampai kagum sama loe! Tuan Akhtar benar-benar beruntung dapetin loe!" celetuk Dini duduk di depan Kania.


"Aku gugup banget, Din! Rasanya lemes kayak mau pingsan!" balas Kania mengabaikan ungkapan kagum Dini.


"Loe belum makan siang ya?" tanya Dini menyelidik.


"Belum sempet!" jawab Kania sambil meremas tangannya.


"Ya ampun! Pantes aja, loe laper itu! Ya udah, gue ambilin makan dulu ya!" balas Dini sambil memesan makanan pada salah satu karyawan hotel yang masuk ruangan mereka.


"Kalau loe pingsan, kan gak lucu! Masa udah secantik dan secetar ini malah pingsan! Apalagi sampai diliput wartawan dan TV lagi. Bisa heboh entar!" celetuk Dini sambil becanda.


"Dini, mah! Jangan dong! Masa iya, aku pingsan di depan orang banyak! Gak mau lah!" sergah Kania merajuk karena digoda Dini.


"Hahahaha! Kayaknya bakal seru banget itu!" Dini tertawa keras sambil meledek Kania.


Di kamar itu hanya ada Kania dan Dini. Karena MUA yang mendandani Kania sedang turun ke bawah.


Tak lama makanan yang dipesan Dini pun datang. Dini dengan ngotot ingin menyuapi Kania. Mau tidak mau, Kania pun terpaksa setuju disuapi Dini.


Bu Meli masuk ke kamar bersama mama Sonya.


"Ya ampun, menantu mama cantik sekali sih!" seru mama Sonya melihat Kania yang sedang makan.


Bu Meli hanya tersenyum melihat antusiasme besannya yang kagum pada putrinya.


"Mama! Makan, ma! Kania sudah lapar! Makanya makan duluan!" sahut Kania dengan sopan.


"Sudah, gak pa-pa! Justru kalau kamu tidak makan duluan, nanti di pelaminan sudah tidak konsen lagi!" jawab mama Sonya dengan santai.


"Tante!" sapa Dini menyalami mama Sonya.


"Eh, ini teman Kania ya?" tanya mama Sonya.


"Iya, tante! Senang bertemu dengan tante!" jawab Dini dengan sopan.


"Iya, tante juga ya! Kamu juga makan! Biar tidak kurus seperti ini!" balas mama Sonya sambil becanda.


Dini hanya mengangguk sambil tersenyum kaku.

__ADS_1


Setelah semuanya mengobrol dan becanda, kini tibalah saatnya acara pesta pernikahan termegah di negara ini. Para tamu undangan sudah mulai berdatangan dan memenuhi ballroom yang disulap dengan indah.


Undangan tak hanya dari kalangan pengusaha. Namun banyak juga dari pejabat negara bahkan presiden sekalipun. Artis-artis papan atas turut serta menghadiri sebagai tamu undangan. Band dan penyanyi papan atas seperti Sheila on 7, Noah, Setia, Rossa, KD, dan diva lainnya juga turut memeriahkan pesta untuk menghibur tamu undangan.


"Gugup banget loe!" sindir Michael pada Akhtar yang berjalan mondar-mandir di depannya.


"Gimana gak gugup? Ini kan acara dia bakal dipajang kayak raja dan ratu! Mana diliput lagi kan?" timpal Jonas yang duduk di sebelah Michael.


Akhtar tetap mengabaikan keduanya. Hanya lirikan tajam yang diberikan Akhtar.


"Tuan! Sudah waktunya keluar!" seru Bima memasuki kamar hotel tempat Akhtar.


Akhtar dan kedua sahabatnya menoleh ke arah Bima yang berdiri tak jauh dari pintu. Akhtar menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia memang gugup.


Akhtar keluar kamar dengan perasaan yang campur aduk. Baginya lebih baik menghadapi klien atau pesaing bisnisnya. Entah kemana kepercayaan diri Akhtar yang selalu merasa dirinya sempurna.


"Muka loe tegang banget, bro!" sindir Jonas yang berjalan di belakang Akhtar.


Akhtar tetap mengabaikan sindiran Jonas dan Michael. Bima hanya berusaha menahan senyumnya.


"Ok! Kita tunggu di bawah ya! Gandeng istri loe biar gak gugup!" sindir Michael menahan senyumnya.


Akhtar mendelik tajam pada Michael dan Jonas yang tidak kuasa menahan tawanya.


"Pergi kalian! Merusak suasana!" usir Akhtar pada sahabatnya.


Akhtar merubah raut wajahnya menjadi datar dan dingin. Michael dan Jonas yang masih tertawa, seketika berhenti setelah melihat muka Akhtar yang menatapnya dingin. Keduanya pun segera menjauh dari Akhtar dan menuju lift.


"Kamu juga, Bim!" perintah Akhtar tegas pada Bima yang masih diam mematung.


"Baik, tuan!" jawab Bima tertunduk patuh. Lalu pergi meninggalkan Akhtar di depan kamar inap Kania.


"Eh, anak mami sudah di depan ternyata!" seru mama Sonya membuka pintu kamar Kania.


Akhtar menoleh ke arah suara mamanya.


"Anak mami emang paling tampan dan sempurna! Mami bangga banget punya anak seperti kamu!" puji mama Sonya pada putranya yang masih berdiri di depan pintu kamar Kania.


"Kania sudah siap, mam?" tanya Akhtar dengan datar.


"Iih, datar sekali!" sahut mama Sonya menyindir putranya.


Di belakang mama Sonya, Dini menuntun Kania yang kesulitan berjalan karena gaun pengantinnya.


Akhtar menatap intens pada Kania yang berubah seperti bidadari. Mama Sonya memperhatikan Akhtar dan menoleh ke belakang. Melihat menantunya yang kesulitan saat berjalan, mama Sonya membantunya. Hal itu membuat Kania merasa tidak enak hati.


"Tidak perlu, Mam! Biar Dini saja yang membantu! Mami jangan seperti ini!" ucap Kania tersenyum tipis pada mama Sonya.


"Tidak perlu sungkan! Mami senang membantumu! Memangnya seperti putra mami yang terus menatapmu itu!" jawab mama Sonya sambil menyindir Akhtar.

__ADS_1


Akhtar tersadar dari terpesonanya melihat Kania. Langsung saja berjalan ke arah Kania dan mengulurkan tangannya. Kania menatap Akhtar dengan gugup. Hingga mama Sonya dan Dini gemas sendiri dengan tingkah keduanya yang malu-malu kucing.


Mama Sonya berdehem untuk menyadarkan keduanya. Kania menoleh ke samping dan merasa malu pada mama Sonya. Dini tertawa kecil di samping kiri Kania. Akhtar masih saja menatap Kania dengan intens sambil mengulurkan tangannya. Kania pun meraih uluran tangan Akhtar.


Dug dug dug


Jantung keduanya semakin bertalu. Namun Akhtar lebih bersikap sok tenang dan berwibawa. Keduanya berjalan perlahan di lorong hotel kamar mereka menuju lift. Dini dan mama Sonya mengikuti keduanya dari belakang sambil memegang gaun pengantin Kania yang panjang.


'Ya Tuhan! Kenapa rasanya gugup banget ya? Mana dari tadi deg-degan terus! Tuan Akhtar udah tampan, makin tampan lagi! Bisa-bisa aku jatuh hati nanti sama dia!' batin Kania sambil menunduk di dalam lift.


Kania memakai sarung tangan putih sebagai aksesoris penampilannya. Sehingga Akhtar tidak mengetahui bahwa tangan Kania sudah berkeringat.


Tibalah mereka di lantai tempat pesta pernikahan. Para bodyguard sudah siap di depan lift dan mengawal mereka berjalan ke ballroom hotel. Seruan terompet bak pernikahan raja Inggris menggema. Pintu terbuka lebar dan lampu sorot mengarah padanya.


Akhtar dan Kania berjalan perlahan memasuki ballroom diiringi sorotan lampu. Kania tersenyum tipis untuk mengurangi kegugupannya. Sedangkan Akhtar memasang wajah coolnya. Semua tamu yang hadir begitu terpesona pada keduanya.


"Siapa ya perempuan itu? Beruntung sekali menikah dengan Akhtar!" bisik salah satu tamu undangan perempuan.


"Dia juga cantik sekali! Aku rasa perempuan itu keturunan bangsawan! Aku benar-benar iri!" jawab salah satu teman tamu undangan tersebut.


Bisik-bisik terdengar di antara para tamu undangan.


Akhtar dan Kania sudah sampai di pelaminan. Didampingi keluarga Wijaya dan ibu Meli. Sedangkan Dini duduk di meja dekat pelaminan.


"Hai! Temen istrinya Akhtar ya?" sapa Jonas pada Dini.


"Iya!" jawab Dini singkat.


"Kenalkan, Jonas!" seru Jonas mengulurkan tangannya ke arah Dini.


"Dini!" jawab Dini sambil membalas uluran tangan Jonas.


Michael dan Bima hanya geleng kepala melihat tingkah Jonas yang sudah tebar pesona.


"Menurut loe, Akhtar jatuh cinta sama tuh cewek gak?" tanya Michael pada Bima di sebelahnya.


"Maksud loe, Kania, istrinya?" tanya Bima balik pada Michael tanpa menoleh.


"Ya iyalah! Siapa lagi?" jawab Michael dengan sengit.


"Maybe yes, maybe no! Kita lihat aja nanti!" balas Bima dengan santai.


"Jawaban loe gak diplomatis banget!" sahut Michael menyindir Bima.


Bima hanya mengedikkan bahunya dan tersenyum tipis pada Michael.


* Maaf ya readers! Author telat update. Karena authornya kecapekan buat kue dan jualan, jadi baru sempat update. Terima kasih sekali atas support para readers yang masih setia membaca novel author.


JANGAN PERNAH BOSAN YA READERS DENGAN CERITANYA!

__ADS_1


__ADS_2