
Esok harinya, Kania menjemput ibunya di rumah mereka dahulu. Dini sudah pulang kemarin sore. Tadinya Kania juga mengajak Dini jalan-jalan bersamanya. Namun Dini ada acara keluarga di hari ini di tempat saudaranya.
Kania memesan taksi online untuk menjemput ibunya. Keduanya sudah berada di dalam taksi. Tanpa Kania sadari, Akhtar mengikutinya. Akhtar semula iseng mengecek CCTV tempat Kania. Dan melihat Kania yang hendak pergi. Jadi Akhtar memutuskan untuk mengikutinya.
Akhtar menelan ludahnya kasar saat tahu tujuan Kania dan ibu mertuanya. Ini adalah pertama kali baginya ke tempat ini. Waktu kecil pun Akhtar tidak pernah ke taman hiburan ini. Karena Akhtar seringnya ke taman hiburan yang ada di luar negeri.
"Apa tuan akan mengikuti nona Kania?" tanya sang sopir pribadi.
"Ini tempat wisata kan?" tanya Akhtar balik menatap Kania yang sudah turun dari taksi dan berjalan masuk.
"Iya, tuan!" jawab sang sopir.
'Apa dia mau jalan-jalan sama ibunya ya? Pasti tempat ramai! Gimana dengan alergiku? Tapi aku penasaran dia kemana! Jangan-jangan nanti malah ketemu pria lain lagi! Bisa aja kan, dia sembunyi-sembunyi dan pura-pura ngajak ibunya ke sini! Dan nanti dia ketemuan sama seseorang di sini? Gak! Aku gak bisa biarin itu! Dia kan masih terikat kontrak denganku! Jadi dia milikku! Aku susul aja deh!' batin Akhtar dengan segala pemikiran negatifnya.
Akhtar merapikan kembali penampilannya. Ia memakai serba hitam. Baju, celana, topi, kacamata, jaket, sepatu serta sarung tangan juga hitam. Hanya masker saja yang berwarna putih menutupi separuh wajah tampannya. Tampilannya sudah seperti seorang mata-mata.
"Tuan mau kemana?" tanya sang sopir menoleh ke Akhtar yang hendak keluar mobil.
"Kamu tunggu aja di sini! Aku ke dalam dulu!" perintah Akhtar tegas.
"Tapi, tuan!" balas sang sopir ingin mencegah.
Akhtar mengabaikan saja lalu berjalan menuju pintu masuk.
"Maaf, pak! Tiketnya?" cegah seorang petugas.
"Tiket?" Akhtar balik bertanya dan bingung.
"Iya, pak! Anda gak boleh masuk kalau gak ada tiket!" jawab petugas itu.
Akhtar menjadi kesal karena dihadang. Ia menelepon sopirnya untuk menyuruh membeli tiket. Tak lama sang sopir datang dan menyerahkan tiket itu ke petugas. Akhtar langsung masuk tanpa menoleh lagi. Sang sopir pun mengikuti dari jauh. Ia juga menghubungi Bima.
"Kemana mereka? Mana luas banget lagi!" gumam Akhtar mengamati sekeliling.
Akhtar berjalan di keramaian dan berusaha menghindari orang-orang, khususnya perempuan. Penampilan Akhtar membuatnya menjadi pusat perhatian orang-orang yang lalu lalang. Mereka merasa aneh dengan penampilan Akhtar yang seperti penguntit. Tapi Akhtar abaikan saja. Ia terus mencari keberadaan Kania dan ibu Meli.
"Sungguh melelahkan! Kemana sih dia itu?" gerutu Akhtar. Matanya terus mencari keberadaan Kania.
__ADS_1
"Nah, itu dia! Huh!" akhirnya Akhtar melihat Kania dan bu Meli di depan pintu masuk tempat binatang air.
Akhtar mengikuti keduanya dari jauh. Begitu pun sang sopir yang terus mengikutinya. Fokus Akhtar hanya pada Kania. Sehingga Akhtar tidak tahu bahwa ia juga diikuti sang sopir.
"Lihat, bu! Itu singa laut! Lucu ya?" seru Kania antusias pada ibunya sambil menunjuk hewan yang terhalang kaca.
"Dasar! Apa dia tidak bisa membedakan? Itu anjing laut, bukan singa laut! Lagian juga tertulis di sana!" gerutu Akhtar mengatai Kania.
Kania berjalan lagi melihat hewan air yang lain. Kali ini masuk dalam akuarium raksasa yang ada di dalam laut. Pengunjung di sini cukup ramai. Membuat Akhtar cukup kesulitan menghindari setiap wanita yang berjalan dari arah berlawanan.
Beruntung Akhtar masih bisa menghindari mereka yang hampir saja menyentuhnya tanpa sengaja.
"Mau kemana lagi sih, dia? Apa gak capek?" gumam Akhtar mengikuti Kania.
Ternyata Kania berhenti di depan tempat makanan siap saji. Kania dan ibunya sudah merasa lapar. Jadi mereka ingin makan terlebih dahulu. Akhtar pun merasa haus. Mau tidak mau, Akhtar pun ikut memesan dan duduk di belakang kursi Kania.
"Seru banget ya, bu? Udah lama banget kita gak ke sini! Terakhir sebelum ayah pergi ninggalin kita!" ucap Kania antusias.
"Kamu bahagia, nak?" tanya bu Meli pada putrinya.
"Bahagia banget, bu! Apalagi jalan-jalannya sama ibu! Kan jadi nostalgia lagi! Ya meski udah gak ada ayah lagi! Tapi Kania tetep inget waktu itu, kita kemana aja! Ibu juga bahagia kan?" jawab Kania menatap ibunya.
"Ah, ibu!" Kania menjadi terharu.
"Nanti tuan Akhtar kalau nyariin kamu gimana, nak?" tanya bu Meli teringat dengan Akhtar.
"Gak bakalan bu, dia nyariin Kania! Kami kan cuma nikah kontrak! Jadi ya mana penting aku bagi tuan Akhtar!" sergah Kania.
"Meskipun kalian cuma nikah kontrak, tapi tetep aja tuan Akhtar suami kamu, nak! Kamu juga harus izin kalau mau pergi-pergi sama suami kamu! Itu yang diajarkan agama kita bukan?" jelas bu Meli lembut.
"Iya sih, bu! Lain kali deh, Kania bilang sama tuan Akhtar kalau mau pergi-pergi! Oh ya, bu! Ada yang mau Kania sampaiin ke ibu!" balas Kania enteng.
"Ada apa, nak?" tatap bu Meli penasaran.
"Ibu penasaran ya?" goda Kania.
"Kamu ini malah godain ibu!" canda bu Meli.
__ADS_1
"Hehehe! Ibu cantik deh!" Kania terkekeh melihat ekspresi ibunya yang pura-pura ngambek.
"Sudah! Katanya tadi mau ngomong! Ada apa?" bu Meli ikut tertawa kecil dan bertanya lagi.
Kania pun berhenti tertawa dan menatap ibunya.
"Kakek Wijaya mau buat pesta pernikahan besar untuk Kania dan tuan Akhtar, bu! Bahkan pesta nanti juga disiarin di televisi!" ucap Kania serius.
Akhtar masih setia menguping pembicaraan Kania dan bu Meli. Selain penguntit, pekerjaan baru Akhtar lagi, yaitu menguping pembicaraan orang. Belum pernah ia lakukan sebelumnya.
"Tuan Akhtar kenapa jadi kepo gitu ya? Mana udah kayak penguntit lagi!" gumam sang sopir yang duduk jauh dari mereka.
Sedangkan Bima yang tadi ditelepon dan diberi tahu sopir pribadi Akhtar, merasa cemas dengan Akhtar. Saat ini sedang menuju ke taman hiburan ini juga.
"Ya udah, mau gimana lagi? Kita kan cuma bisa ikutin kemauan mereka! Jadi ya, ibu setuju-setuju aja!" balas bu Meli diplomatis.
"Ada satu lagi yang mau Kania kasih tahu sama ibu. Tapi Kania takut dan malu! Nanti ibu marah lagi sama Kania!" ucap Kania menatap ibunya.
"Emang kamu melakukan kesalahan apa?" tanya bu meli serius.
Kania menoleh ke kanan dan kirinya terlebih dahulu. Kemudian ia merapatkan duduknya di samping ibunya.
"Kania udah ngelakuin itu sama tuan Akhtar, bu!" bisik Kania yang masih didengar Akhtar meski samar-samar.
"Maksud kamu hubungan suami istri?" tebak bu meli menatap putrinya.
"Sssttt! Pelan-pelan bu ngomongnya! Kania kan malu!" bisik Kania sambil jari telunjuknya ke bibir ibunya.
"Kenapa harus malu? Ibu sudah duga sih! Suatu saat kalian akan melakukan hubungan itu! Ibu gak masalah! Kan tujuan kalian menikah, emang mau punya anak! Jadi gak salah kalau kalian melakukan itu! Kalian kan suami istri yang sah! Apalagi pernikahan kalian akan dibuat pesta yang besar! Itu artinya orang-orang akan tau, kalau putri ibu yang cantik ini, adalah menantu keluarga Wijaya! Jadi kalau kamu hamil, gak akan jadi omongan orang! Justru akan buat orang iri sama kamu!" jelas bu Meli sambil menggenggam tangan putrinya.
"Tapi kan sebenernya cuma nikah kontrak, bu!" sergah Kania.
"Nikah kontrak kan hanya di atas kertas, nak! Tapi tetep faktanya kalian menikah dengan sah! Dan itu tercatat di negara! Sedangkan, kontrak itu dibuat oleh kalian tanpa sepengetahuan orang lain! Keluarganya juga gak ada yang tau kan?" jelas bu Meli.
Kania menggeleng pelan.
"Jadi ya udah! Jangan disesali apa yang udah terjadi dan menjadi keputusan kamu! Jalankan aja semuanya dengan ikhlas! Dan hadapi semuanya dengan berani!" lanjut bu Meli memberi wejangan pada putrinya.
__ADS_1
Kania hanya menggangguk dan memeluk ibunya. Akhtar yang mendengar ucapan Bu Meli, jadi tertegun. Akhtar beranjak dari kursinya dan berjalan meninggalkan keduanya.
Akhtar terus teringat dan memikirkan ucapan bu Meli. Tanpa Akhtar ketahui, dari arah belakang, ada seorang perempuan yang menyenggol tangannya. Akhtar sampai lupa memakai sarung tangan lagi. Akibatnya, kulit tangannya menyentuh perempuan itu. Dan itu menyebabkan alergi Akhtar muncul lagi.