
Kakek Wijaya dan keluarga lainnya mendatangi Kania yang masih menangis haru bersama ibu dan sahabatnya.
Eegghhm
Kania, bu Meli, dan Dini langsung menoleh ke arah pria dengan rambut yang sudah putih semua, namun tetap terlihat berwibawa.
"Kau yang bernama Kania?" tanya kakek Wijaya datar sambil memegang tongkatnya.
"I.. iya tu... " ucap Kania terpotong dan gugup.
"Kakek! Panggil aku kakek! Sama seperti suamimu. Sekarang kau adalah cucu menantuku. Jadi kau harus memanggilku kakek!" jelas kakek Wijaya tetap dengan nada datarnya.
"Iya, kakek!" jawab Kania mengangguk sambil meraih tangan kakek Wijaya dan lainnya untuk disalaminya.
Kakek Wijaya dan istrinya merasa terharu. Begitu juga dengan Nyonya Sonya. Tapi Pak Farzan terlihat biasa saja. Maklum bapaknya Akhtar. Jadi 11 12 lah sifatnya. Gengsinya besar.
"Selamat ya, Nak!" ucap nenek Aishe lembut sambil membelai pipi Kania.
"Kamu gadis waktu itu, kan? Ingat tidak? Kamu yang pernah menemukan dompetku!" sahut nyonya Sonya yang sejak tadi memperhatikan Kania bahwa ia pernah melihat gadis itu.
"Nyonya...?" balas Kania mengingat namun terpotong.
"Bukan nyonya! Panggil aku mami. Aku maminya Akhtar." sergah Sonya pada menantunya.
"I... iya nyo.. mami" ucap Kania tergagap dan tersenyum tipis.
"Tidak apa! Nanti juga terbiasa. Mami tidak menyangka kalau kamu gadis yang dinikahi putra mami. Kamu tahu? Kamu sangat baik. Dan sangat cantik!" jelas Sonya lembut sambil mengusap pipi Kania yang merona.
"Oh iya, ini papinya Akhtar! Panggil dia juga papi." lanjut Sonya memperkenalkan suaminya pada menantunya.
Mereka pun saling berkenalan satu sama lain. Tidak dengan Akhtar dan Bima. Mereka hanya melihat drama perkenalan yang tak kunjung usai dan tak jauh dari tempat Akhtar dan berdiri. Setelah perkenalan antar keluarga, kakek Wijaya mengajak semua untuk makan. Namun kakek Wijaya heran menatap ruangan yang hanya berisi beberapa kursi dan sofa saja. Tidak ada makanan atau minuman yang tersedia.
__ADS_1
"Apa sekarang kau sudah miskin, Akhtar?" seru kakek Wijaya pada Akhtar yang sedang duduk santai di sofa sambil mengecek ponselnya.
Akhtar pun mendongak menatap kakek Wijaya dengan heran. Bima yang masih berdiri, menelan ludahnya kasar karena menyadari kesalahannya. Sedangkan yang lain hanya menyimak di tempat mereka berdiri.
"Aku tidak akan pernah miskin kakek!" balas Akhtar dengan sombongnya masih tetap duduk di tempatnya.
"Kalau kau tidak miskin? Lalu apa namanya? Pelit? Makanan saja sama sekali tidak ada di sini! Apa kau ini masih manusia? Kalau kau tidak makan, setidaknya siapkan makanan untuk orang yang hadir di sini. Bukannya seperti ini! Meja makan saja tidak ada, apalagi makanan! Justru banyak bunga seperti ini! Apa kau menyuruh tamu untuk makan bunga? Hah? Kau ini benar-benar keterlaluan!" cerca kakek Wijaya dengan kesal sambil menghentakkan tongkatnya ke lantai beberapa kali.
"Aku memang tidak lapar, kek! Dan aku mana tahu kalau kakek dan yang lainnya akan datang ke sini! Lagi pula, mereka saja tidak protes! Lalu kenapa aku harus peduli? Mereka juga pasti sudah makan dari rumah mereka. Dan lagi, ini bukan salahku! Tapi Bima yang mengatur semuanya. Kalau memang mau makan, tinggal pesan saja. Kenapa harus dibuat repot? Aku dan Kania juga harus segera pergi dari sini!" jelas Akhtar dengan enteng tetap dengan nada datarnya.
"Kau ini! Astaga! Farzan, Sonya? Benar dia putra kalian? Sikapnya benar-benar seperti orang pelit! Mana ada Mr. Perfect sepertimu? Julukan itu sama sekali tidak cocok denganmu! Hah! Dasar bocah tengik!" sungut kakek Wijaya bertambah kesal dengan ucapan cucunya.
Akhtar teringat kembali dengan perkataan seseorang yang mengatakan bahwa ia tidak cocok menyandang julukan sebagai Mr. Perfect. Bagi Akhtar julukan itu sudah melekat pada dirinya. Meski bukan ia yang memberikannya sendiri. Tapi itu sangat berpengaruh pada hidupnya kini. Julukan itulah yang membuat ia semakin digilai orang, apalagi wanita. Ya walaupun Akhtar tidak bisa menyentuh mereka.
"Sudahlah! Ayo kita makan di restoran saja! Tidak perlu peduli pada orang pelit sepertinya!" lanjut kakek Wijaya dengan kesal dan mengajak semua orang untuk makan di luar.
"Kania tetap di sini, kek! Kalau yang lain, silakan bawa pergi!" sergah Akhtar yang berdiri dari duduknya tanpa berpindah tempat.
"Justru karena dia istriku! Makanya sekarang menjadi hakku! Sudahlah, kek! Aku sedang tidak ingin berdebat dengan kakek! Aku harus segera pergi!" balas Akhtar dengan datar. Lalu ia menatap Kania yang hanya menunduk di samping ibunya.
Akhtar sudah pergi keluar ruangan dan disusul Bima. Bu Meli yang menyadari putrinya tak bergerak, segera berbisik ke Kania untuk mengikuti tuan Akhtar. Kania dengan malas menurutinya dan keluar ruangan setelah pamit dengan keluarga Akhtar.
Keluarga kakek Wijaya dan bu Meli serta Dini pergi ke restoran yang sudah direservasi oleh pak Farzan yang terletak di dekat apartemen itu. Sedangkan Akhtar, Bima, dan Kania sudah berada dalam satu mobil yang sama.
Akhtar sudah duduk di kursi penumpang belakang sambil mengecek ponselnya. Sedangkan Bima baru masuk mobil di kursi kemudi. Tak lama Kania muncul dan berjalan menuju pintu samping kemudi. Kania yang hendak duduk di kursi itu, dikagetkan dengan suara Akhtar yang tajam.
"Apa kamu itu menikah dengan Bima?" tanya Akhtar dengan tajam. Kania mengernyit heran.
"Nona, silakan duduk di belakang!" ucap Bima pelan.
"Bukannya dia gak bisa dekat dengan wanita?" gumam Kania yang masih didengar Akhtar.
__ADS_1
"Bima!" seru Akhtar dingin.
"Silakan, nona Kania!" sahut Bima.
Kania menghela napas kasar, lalu menutup pintu mobil depan dan membuka pintu mobil belakang. Lalu duduk di samping Akhtar, suaminya. Kania rasanya ingin muntah ketika mengingat bahwa Akhtar adalah suaminya.
"Jalan!" perintah Akhtar pada Bima tanpa menoleh ke arah siapa pun. Ia masih fokus pada ponselnya.
Sementara Kania menoleh ke arah kaca jendela mobil di sampingnya. Ia lebih baik melihat pemandangan di luar, daripada melihat samping kanannya. Mobil pun jalan meninggalkan apartemen dan menuju rumah sakit.
Butuh 20 menit perjalanan dari apartemen ke rumah sakit. Salah satu rumah sakit yang dimiliki Wijaya Group. Akhtar sudah membuat janji dengan dokter ahli kandungan sebelumnya. Jadi ia tak perlu mengantri seperti orang-orang. Apalagi ia adalah pemilik rumah sakit itu. Masuk keluar semaunya.
Tiba di rumah sakit, Bima langsung membukakan pintu tuannya. Akhtar dan Bima sudah turun dan berjalan masuk rumah sakit. Sedangkan, Kania masih melamun di dalam mobil. Ia tidak tahu kalau mobil sudah berhenti sedari tadi.
"Apa gadis tertidur di mobil, Bima? Cepat periksa! Sangat menyusahkan!" seru Akhtar berhenti diikuti Bima di belakangnya.
Bima pun menoleh ke belakang dan tidak menemukan Kania.
"Bangunkan dia! Temui aku di tempat dr. Fahmi! Menyebalkan!" gerutu Akhtar dan berlalu meninggalkan Bima.
Bima pun kembali ke mobil dan mengetuk pintu mobil Kania duduk. Kania kaget karena ada Bima di luar mobil. Dan ia menyadari bahwa mobil sudah berhenti. Kania pun turun. Sambil mengedarkan pandangan, membaca tulisan besar di atas bangunan di depannya. RUMAH SAKIT WIJAYA.
*
*
Maaf update babnya malam terus ya!
Anak masih rewel karena demam.
Tapi author tetap usahakan update meski satu bab.
__ADS_1