Tawanan Mr. Perfect

Tawanan Mr. Perfect
Bab 31 Gejolak Aneh


__ADS_3

"Lain kali jangan panggil aku tuan jika di hadapan keluargaku! Kita memang menikah kontrak. Tapi kamu juga harus menyesuaikan di mana kita bicara. Dan satu lagi, apa perutmu itu karet? Makanan sebanyak tadi, tapi kamu masih belum kenyang! Entah gadis macam apa kamu ini? Bisa-bisanya aku menikahimu!" gerutu Akhtar sambil menyetir mobilnya tanpa menoleh Kania.


Kania menahan kesal sambil melirik sinis ke Akhtar.


"Dan satu lagi, tidak perlu jaga jarak denganku! Meski aku alergi sama wanita, tapi kamu tidak perlu jaga jarak. Sentuhanmu itu tidak ada artinya bagiku. Apalagi di depan keluargaku. Memangnya aku ini bakteri apa yang harus dijauhi olehmu? Seharusnya yang jaga jarak itu aku. Asal kau tahu, aku juga tidak mau berdekatan denganmu! Tapi karena kita berada di depan keluargaku, maka kau harus tahu bagaimana bersikap denganku! Kenapa begitu saja kau harus diberitahu sih! Hh! Seperti anak kecil saja! Sungguh merepotkan!" cerocos Akhtar tanpa menoleh sedikit pun ke Kania. Bahkan Akhtar tidak tahu saat ini Kania tengah menahan amarahnya.


"Apa kau itu tuli? Tidak menjawab ucapanku sama sekali!" ketus Akhtar melirik sekilas Kania.


Kania masih diam dan menahan kekesalannya.


"Iy.... " balas Kania terpotong.


"Hah, sudahlah! Lelah juga bicara denganmu!" sahut Akhtar menyela ucapan Kania.


Jelaslah Kania semakin kesal. Ia yang tadi ingin menjawab ucapan Akhtar malah dicela seenaknya oleh Akhtar. Akhtar Oh Akhtar. Maumu tuh apa toh?


Sampailah mereka di apartemen. Saat Akhtar masih melepaskan sabuk pengamannya, Kania mendekatinya. Merasa ada pergerakan yang mendekatinya, Akhtar pun mendongak.


Deg


Jarak wajah Akhtar dan Kania sangat dekat hanya berjarak satu jengkal saja.


"Kau!" seru Akhtar berhenti dari gerakannya.


Kania menyentuh tangan Akhtar yang ada di depannya. Akhtar tentu sangat terkejut. Dia menatap tajam pada Kania. Namun Kania terus memberanikan menatap dan menyentuh Akhtar.


"Apa tadi tuan bilang? Aku tidak perlu jaga jarak dengan tuan, bukan? Baiklah, aku tidak akan jaga jarak lagi! Bahkan aku akan menyentuh tuan Akhtar! Bagaimana sentuhanku? Apa benar tidak berpengaruh untuk tuan? Apa tuan tidak takut alergi tuan kambuh lagi? Kalau begitu, dengan senang hati aku akan menyentuh tuan!" balas Kania dengan debaran jantungnya yang berpacu.


Akhtar pun merasakan hal yang sama. Namun dengan cepat ia membalikkan keadaan. Akhtar ikut memajukan badannya ke arah Kania. Lalu menggenggam erat tangan Kania. Kania terkejut dan melotot.


"Jadi kau ingin menyentuhku atau ingin kusentuh? Aku tidak takut kalau alergiku kambuh lagi karena sentuhanmu, Kania! Bahkan aku akan menyentuhmu berulang kali, meski alergi ku kambuh berulang kali. Kau tahu? Sejak aku alergi wanita, aku begitu mendambakan sentuhan mereka. Aku sangat ingin menyentuh mereka. Bahkan lebih! Dan kau tahu? Hanya kau, wanita yang bisa kusentuh tanpa takut alergi ku kambuh lagi. Aku tidak tahu, apa yang ada di dirimu yang membuatku tidak alergi padamu seperti ibu dan nenekku. Jadi jika kau ingin menyentuhku, dengan senang hati aku menerimanya." jelas Akhtar pelan sambil terus memajukan badannya.

__ADS_1


Kini posisi Kania mentok di pintu mobil yang masih tertutup. Kedua tangannya berada di dada Akhtar yang bidang untuk menahan tubuh Akhtar yang semakin mendekat. Bahkan Kania bisa merasakan hembusan napas Akhtar menerpa wajahnya. Kania tidak mampu membalas ucapan Akhtar. Nyali Kania yang semula berani kini menciut. Kania berkali-kali menelan ludahnya dengan susah payah.


Akhtar yang melihat Kania terpojok dan tak berkutik, tersenyum miring. Kemudian Akhtar menarik dirinya lagi ke posisi semula. Berusaha menahan debaran jantungnya yang masih berpacu cepat.


"Turun! Atau masih tetap di sini?" seru Akhtar tanpa menoleh. Sambil menekan tombol pintu mobil terbuka.


Kania tersentak karena gerakan pintu di belakangnya. Lalu ia segera turun dari mobil dan berjalan cepat ke dalam gedung apartemen. Berpas-pasan dengan Bima di lobi yang hendak keluar apartemen. Namun Kania abaikan dan langsung menuju lift. Bima mengernyit heran sambil mengedikkan bahunya dan melanjutkan langkahnya lagi.


"Tuan!" sapa Bima sopan sambil membungkuk.


"Hm! Mau kemana kamu?" tanya Akhtar menatap penampilan Bima yang casual.


"Hai, man! Apa kabar loe?" seru Michael dari belakang Akhtar dan menepuk pundaknya.


"Mau ke klub?" tebak Akhtar menatap Bima, mengabaikan Michael.


"Iya, tuan!" jawab Bima.


"Loe kan bisa liat sendiri keadaan gue! Kenapa mesti gue jawab? Lagian aneh, kayak gak ada pertanyaan lain lagi!" gerutu Akhtar menatap datar Michael.


"Namanya juga basa-basi! Oh iya! Kebangetan loe Akhtar! Nikah tapi gak undang gue!" balas Michael ketus.


Akhtar menatap tajam Bima.


"Gak usah marahin Bima! Harusnya gue yang marah sama loe! Katanya sahabat, tapi gak kasih tahu kalau nikah. Kayak Jonas jauh sih wajar, gak dikasih tahu. Lha ini, gue deket, tapi gak dikasih tahu! Kenapa sih? Emang pernikahan loe rahasia ya?" cerca Michael menatap Akhtar.


"Tanya aja sama Bima! Dia kan yang kasih tahu loe! Jadi tanya sama Bima. Gue capek mau istirahat. Have fun buat kalian! Bye!" balas Akhtar dengan datar melirik Bima kemudian berlalu meninggalkan keduanya.


"Woi, Akhtar! Gue belum selesai ngomong! Main pergi aja loe! Akhtar! Sialan tuh orang! Untung aja sahabat! Kalau gak, udah bonyok tuh muka yang sok ganteng!" gerutu Michael yang ditinggal pergi Akhtar.


"Bukan sok ganteng! Tapi kan emang paling ganteng!" sergah Bima datar.

__ADS_1


"Loe lagi! Mentang-mentang bosnya, loe belain terus!" ketus Michael sinis menatap Bima.


"Ya iyalah! Masa gue harus bela loe! Rugi gue! Digaji gak sama loe! Ya mending tuan Akhtar lah! Secara bos gue!" balas Bima dengan enteng.


"Udahlah, yuk! Bahas dia nanti di klub. Banyak yang belum loe kasih tahu ke gue!" sahut Michael sambil merangkul Bima menuju pintu gedung apartemen.


Keduanya pun meninggalkan apartemen menuju klub langganan mereka. Maklum kalau malam minggu, itu jadwal rutin mereka ke klub. Beda dengan Akhtar yang hanya menghabiskan malam minggunya di penthousenya. Gak pa-pa ya Akhtar. Kan malah gak nambahin dosa buat kamu. Coba kalau kamu gak alergi, gak tahu deh berapa cewek yang kamu mainin. Akhtar oh Akhtar. Suudzon aja nih author sama Akhtar.


Kania sudah sampai di penthousenya. Membuka pintu dengan kartu akses yang diberikan Akhtar saat tiba tadi pagi. Memasuki ruangan yang sudah sepi.


'Mungkin udah pada tidur!' batin Kania sambil menuju lantai atas.


Saat membuka pintu, tampaklah Dini yang sudah bergelung dengan selimut di ranjang. Kania masuk dengan perlahan. Menuju tempat ganti baju. Dan berganti pakaian dengan baju tidurnya. Baju tidur yang ia bawa dari rumah. Karena baju tidur yang ada di lemari, isinya baju tidur saringan sama bahan tipis. Kania tidak biasa menggunakannya. Terlihat seksi dan menggoda. Lagian kalau dipakai, Kania ingin menggoda siapa? Akhtar? Ya mana mau Kania. Ada-ada aja author nih!


Sedangkan di kamar lain, penthouse lain. Akhtar sedang mengguyur kepalanya dengan air dingin. Sebenarnya sejak tadi Akhtar menahan sesuatu di bawah sana. Tiba-tiba Akhtar junior bangun, karena berdekatan dengan Kania. Jelas saja membuat Akhtar menahan geram dan gejolaknya. Jadilah mandi air dingin. Akhtar itu beda dengan ketiga sahabatnya. Ia masih perjaka ting-ting. Jangankan berhubungan badan, berci*man saja belum pernah. Dulu dengan kekasihnya, gaya pacaran Akhtar benar-benar sehat. Hanya pegangan tangan. Tanpa adegan kiss-kissan.


Tapi tetap aja ya, namanya udah dewasa. Meski belum pernah yang aneh-aneh, tetap sentuhan lawan jenis bikin kesetrum. Apalagi yang menyentuh Kania. Makin panas dingin lah si Akhtar ini. Tapi tetap gengsi dong si Akhtar. Padahal udah halal ye kan? Jadi sah-sah aja kalau Akhtar mau nyentuh Kania. Tapi ingat lagi. Namanya si Akhtar, gak bakalan mau nyentuh Kania. Meski si Akhtar junior meronta-ronta.


*


*


Hai Hai Hai


Gimana, masih setia kan nunggu kelanjutannya?


Mohon dukungannya ya! Biar author makin semangat.


Jangan lupa like dan komennya.


Terima kasih readers

__ADS_1


__ADS_2