
Sinar mentari begitu cerah menyelimuti langit kota Jakarta Sabtu ini. Hari libur yang dinantikan sebagian orang dari rutinitas kerjanya, menjadi hari bersantai atau berkumpul dengan keluarga. Seperti halnya Kania yang biasa memanfaatkan hari libur untuk membantu ibunya membuat kue. Namun tidak untuk Sabtu ini. Karena mulai Sabtu ini, Kania justru harus pisah dengan ibunya. Ia harus pindah ke tempat tinggalnya yang baru.
Ibunya memang sudah sepakat untuk tetap tinggal di rumah mereka. Karena rencana Kania yang akan pergi setelah kontraknya selesai. Semalam Kania pun tidur di kamar ibunya. Ia ingin bermanja dengan ibunya seperti kecil dulu.
"Kania! Ayo bangun, nak!" panggil bu Meli lembut di telinga anaknya yang masih betah tidur sambil mengusap rambut halus putrinya.
"Kania masih ngantuk, bu! 5 menit lagi ya!" gumam Kania dengan mata terpejam.
"Ini udah siang, nak! Nanti kalau orang suruhan tuan Akhtar jemput kamu, dan kamu belum bangun, gimana? Malu dong, sayang! Masa gadis bangunnya siang!" ucap bu Meli lembut duduk di samping putrinya yang tidur.
Mendengar nama tuan Akhtar disebut, membuat Kania langsung membuka matanya.
"Dia lagi, dia lagi!" gerutu Kania sambil bangun dan menguap. Rasanya benar-benar malas kalau berhubungan dengan Akhtar.
Bu Meli tersenyum kecil melihat tingkah putrinya.
"Jangan malas, sayang! Sana pergi mandi, biar badan seger! Ingat! Mandi bukan tidur lagi seperti kemarin!" ucap bu Meli menatap Kania yang terlihat masih mengantuk.
Ck
Kania berdecak sebal, mengingat kejadian kemarin. Ia lalu berjalan menuju pintu dan ke kamar mandi. Bu Meli menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat tingkah putrinya. Bu Meli lalu merapikan tempat tidurnya lagi. Ia menatap sendu foto keluarga kecilnya di dinding kamarnya.
Kania sudah siap. Pakaian simpel yang ia kenakan, tak mengurangi kadar kecantikannya. Justru kecantikannya yang alami tanpa makeup di wajahnya, semakin membuatnya manis dan mempesona. Tatanan rambutnya ia cepol ke atas. Kania mengenakan kaos putih lengan panjang yang press body yang dimasukkan dalam celana jeans model cut bray warna biru denim.
Kania dan ibunya juga sudah sarapan bersama. Dan kini mereka sedang duduk di ruang tamu bersama Dini yang sudah datang 5 menit yang lalu.
"Loe gak pakai dress atau rok gitu?" tanya Dini menatap penampilan Kania.
"Emang kenapa sama penampilan aku?" tanya Kania balik dengan heran sambil menatap pakaiannya sendiri.
"Ya gak kenapa-napa sih! Cuma, loe kan masih dalam proses menuju hamil. Kan kasian calon anak loe keteken celana jeans loe itu!" jelas Dini santai.
"Yang bener aja! Tuh jabang bayi belum tumbuh, Dini! Baru aja kemarin dimasukinnya. Ya gak mungkin keteken lah! Kamu ini ada-ada aja!" balas Kania sengit sambil menoyor kepala Dini pelan.
"Iiihh, Kania! Loe suka banget noyor kepala gue!" protes Dini dengan sengit pula sambil memegang kepalanya.
"Habisnya kamu tuh! Omongannya nyeleneh! Oh ya, nanti kamu ikut ya! Nginep semalem. Ibu juga mau nginep nanti malem. Besokkan masih hari minggu. Ya!" balas Kania mengalihkan pembicaraan.
"Emang boleh?" tanya Dini penasaran.
"Ya, bolehlah! Lagian cuma semalem aja! Apalagi nanti malem kan, malem pertama aku tinggal di sana! Jadi butuh penyesuaian dan butuh temen lah! Ya, ya!" balas Kania memaksa.
__ADS_1
"Emang loe udah izin sama tuan Akhtar?" tanya Dini lagi.
"Belum! Tapi itu gampanglah! Masa iya, dia mau ngelarang keluarga aku buat nginep di apartemen yang aku tinggali! Kalau gak boleh, berarti bener kata kakeknya, kalau dia itu pelit bin kikir! Gak pantes jadi Mr. Perfect!" ketus Kania dengan enteng.
"Iya, Dini. Nanti biar ibu bantu ngomong ke tuan Akhtar. Ibu juga pengen nemenin Kania tidur di sana malem ini. Besok kita pulang lagi."
Dini pun akhirnya mengiyakan ajakan Kania dan bu Meli. Toh, hanya satu malam. Jadi tidak apa kan, pikirnya.
Tak lama, orang suruhan Akhtar sudah datang menjemput Kania. Tidak banyak barang yang ia bawa. Hanya beberapa baju yang biasa ia pakai dalam keseharian. Karena selama kontrak, Kania tidak bekerja. Jadi hanya bersantai di rumah saat mengandung nanti.
Bu Meli dan Dini pun ikut ke dalam mobil tersebut. Mereka akan menginap satu malam bersama Kania. Bu Meli juga ingin melihat tempat tinggal Kania yang baru. Ia ingin memastikan, bahwa tempat tinggal putrinya jauh lebih baik dari rumahnya. Bukannya tak percaya pada Akhtar, namanya seorang ibu tetap ada rasa khawatir pada putri kesayangannya.
Mereka pergi meninggalkan rumah Kania, menuju apartemen yang akan menjadi tempat tinggal Kania. Di dalam mobil, mereka mengobrol dan becanda. Kecuali sang sopir, orang suruhan tuan Akhtar. Hanya diam dan bermuka datar.
'Tuan dan anak buahnya sama saja! Sama-sama datar kayak tembok!' batin Kania melirik sopir tersebut.
Dini duduk di depan samping sopir, sedangkan Kania dan bu Meli duduk di kursi penumpang belakang.
Mobil yang membawa mereka telah sampai di depan gedung apartemen yang kemarin digunakan untuk pernikahan Kania dan Akhtar. Jadi mereka tidak asing lagi dengan gedung tersebut.
Mereka turun dan dijemput orang yang berpakaian sama seperti sopir tadi. Menggantikan tugas membawa barang milik Kania. Padahal Kania hanya membawa satu koper kecil pakaian saja dan peralatan lainnya. Kania juga hanya punya koper kecil sih! Jadi ya cuma itu yang bisa muat. Itupun sudah tak bagus lagi kopernya. Untung masih bisa dipakai. Maklumi ya Akhtar! Jangan dicela lagi kalau nanti lihat. Hehehehe
Menaiki lift dan berhenti di lantai teratas. Mereka bertiga hanya mengikuti pria tersebut di belakangnya. Berjalan ke arah pintu-pintu yang tampak menakjubkan dari luar. Bukan cuma satu daun pintu seperti apartemen biasa, namun ada dua daun pintu. Di lantai tersebut hanya ada 2 ruangan yang memiliki dua daun pintu dan saling berhadapan. Salah satunya adalah tempat tinggal Akhtar. Tertera dari tulisan di dekat pintu tersebut, Akhtar's Penthouse.
Dibukalah pintu tersebut dengan lebar. Kania dan lainnya melongo menatap penampakan ruangan yang ada di hadapan mereka. Ruangan didominasi warna putih dan emas. Sungguh perpaduan warna yang elegan dan mewah. Apalagi dipenuhi barang-barang mewah dan mahal. Mulai dari sofa, lemari kaca, lampu gantung, dan hiasan lainnya yang berharga fantastis.
Meski mereka orang miskin, tentu tahu bahwa harga barang yang ada di ruangan itu tidaklah murah. Kania berjalan sambil menelisik dan memegang setiap barang yang ia lewati. Seumur hidupnya baru kali ini, ia melihat dan memegangnya secara langsung. Begitu juga dengan bu Meli dan Dini. Mereka berdecak kagum.
"Kau akan tinggal di sini selama mengandung nanti!" seru Akhtar yang masuk tanpa permisi. Ya iyalah, kan apartemennya milik dia, jadi suka-suka Akhtar aja. Author males debat sama Akhtar.
Kania dan bu Meli beserta Dini langsung menoleh ke belakang. Sedangkan pria yang membawa mereka ke sini, langsung pamit begitu tuannya datang.
Akhtar duduk di sofa single sambil menyilangkan kakinya.
"Selamat datang di penthouse ku! Semoga betah ya, di sini!" seru Akhtar lagi dengan datar dan pongah.
Kania yang mendengar dan melihat tingkah angkuh Akhtar, berdecak sebal.
"Silakan duduk, bu Meli!" ucap Akhtar lagi mempersilakan bu Meli duduk di sofa. Sedangkan Kania dan Dini tidak ditawari duduk.
'Dasar es batu! Udah dingin, pelit lagi!' batin Kania kesal.
__ADS_1
'Tuan Akhtar bener-bener kejam! Istrinya sendiri gak ditawarin duduk!' batin Dini menatap takut dan menunduk.
"Apa kalian akan tetap berdiri?" seru Akhtar dengan datar.
"T...." Kania hendak berbicara tapi terpotong.
"Apa kabar bu Meli? Semoga baik saja ya?" tanya Akhtar langsung menoleh bu Meli yang duduk di seberangnya.
"Kabar baik, tuan Akhtar!" jawab bu Meli gugup.
Kania melongo tak percaya pada Akhtar. Ia yang akan menjawab pertanyaan Akhtar, langsung diabaikan begitu saja. Sedangkan Dini tetap menunduk. Ia takut pada Akhtar.
Kania dan Dini tetap memilih berdiri di tempat mereka.
"Jangan panggil aku, tuan! Panggil Akhtar saja, bu Meli! Anda lebih tua dariku. Dan bukankah, anda adalah ibu mertuaku bukan? Jadi panggil nama saja! Tak perlu sungkan!" sergah Akhtar tetap dengan nada datarnya.
Kania hanya menatap jengah pada Akhtar. Hal itu diperhatikan oleh Akhtar tanpa sepengetahuan Kania.
"Kalau begitu ibu panggil Nak Akhtar saja! Ibu tidak bisa kalau hanya panggil nama pada tu... Nak Akhtar!" jawab bu Meli dengan sungkan.
"Baiklah, senyaman bu Meli saja! Dan semoga ibu betah tinggal di sini! Kalau ada yang kurang, bilang saja padaku, jangan pernah sungkan!" balas Akhtar lebih santai.
Kania semakin ingin muntah mendengar ucapan Akhtar yang sok baik menurutnya.
'Gayanya udah sok paling baik!' batin Kania.
"Ibu gak bisa tinggal di sini, Nak Akhtar! Ibu akan tetap tinggal di rumah ibu! Biar Kania sendiri yang tinggal di sini! Sekalian dia belajar mandiri." sergah bu Meli dengan halus dan lembut.
"Its ok! Kalau itu keputusan ibu. Aku hanya bisa setuju.Tapi seringlah berkunjung ke sini!" balas Akhtar dengan santai.
"Iya, nak Akhtar. Terima kasih!" balas bu Meli.
Kania tetap menggerutu dalam hatinya.
"Sepertinya anak ibu, suka menyanyi ya?" sindir Akhtar melirik tajam pada Kania.
Kania tersentak dan menoleh ke arah Akhtar yang meliriknya tajam. Seketika Kania susah menelan ludahnya.
Bu Dini pun menoleh ke arah Kania. Ia tahu bahwa Akhtar tengah menyindir kelakuan putrinya. Sedangkan Dini ikut menoleh ke arah Kania dan menatap heran.
Kania mati kutu, diperhatikan dengan tajam seperti itu oleh Akhtar. Kania pun langsung menunduk sambil meremas tangannya yang berkeringat. Dini pun sempat melirik Akhtar. Dan langsung menunduk kembali saat melihat lirikan tajam pada sahabatnya.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya!
Terima kasih dan selamat membaca