
Akhtar meletakkan nampan yang berisi sarapan untuk Kania di nakas sebelah ranjangnya. Akhtar menatap Kania dan tersenyum melihat Kania tidur melongo. Posisi tidur Kania sudah berubah telentang. Untung saja, selimut yang digunakan Kania tidak melorot ke bawah. Hanya batas bahu ke atas yang tidak tertutup selimut.
"Banyak juga ya! Tapi lukisan yang bagus!" gumam Akhtar tersenyum geli melihat bahu dan leher Kania yang penuh tanda merah.
Akhtar mengambil ponselnya dan memotret Kania diam-diam yang sedang tidur dengan penuh tanda merah di leher dan bahunya.
Akhtar kemudian berjalan ke balkon. Ia duduk di kursi single yang ada di balkon sambil menikmati pemandangan luar yang masih mendung. Hujan memang sudah reda. Tapi cuaca masih mendung.
Tak berapa lama, Kania mulai bangun dari tidurnya. Kania mulai merenggangkan kedua tangannya. Ia mencoba duduk dan bersandar di ranjang. Menatap sekeliling dan mulai sadar. Kania teringat lagi kejadian dua jam yang lalu.
'Astaga! Tadi pagi itu, mimpi apa benaran ya? Tapi agak sakit juga di sini! Berarti beneran dong! Dan, ya ampun! Tadi aku sadar melakukan itu sama dia? Hah! Kania! Kania! Kenapa bisa ceroboh lagi sih! Tapi emang enak! Gimana dong? Berarti besok-besok jangan tidur satu ranjang lagi sama dia! Jangankan satu ranjang, satu kamar pun jangan! Karena itu bahaya!' batin Kania sampai tak sadar ia diperhatikan Akhtar dari pintu balkon.
"Pergi ke kamar mandi! Setelah itu, makan sarapanmu!" perintah Akhtar dengan cuek.
Kania tersentak dari lamunannya dan menoleh ke sumber suara. Kania mulai membungkus tubuhnya lagi dengan selimut sampai kepala. Wajahnya ia benamkan di lutut.
"Kenapa malu? Aku bahkan sudah tau dan merasakan semuanya!" ucap Akhtar dengan enteng dan menggodanya.
Kania semakin malu dan memegang erat selimutnya. Bahkan tubuhnya tidak terlihat karena tertutup selimut.
"Kau akan mati kepanasan dan kehabisan napas! Sudah, gak perlu malu! Cepat bersihkan tubuhmu! Atau, kau mau mengulang lagi kejadian tadi pagi?" goda Akhtar berjalan mendekat.
Kania langsung mendongak dan melotot ke Akhtar.Tanpa membalas, Kania langsung berjalan ke kamar mandi meski agak kesulitan.
"Perlu ke gendong?" Akhtar semakin menggoda Kania.
"Tidaaaakkk!" seru Kania tanpa melihat Akhtar.
Kania pun masuk ke kamar mandi dengan membawa selimut di tubuhnya. Akhtar tertawa melihat kelakuan Kania.
"Dasar malu-malu kucing!" gumam Akhtar menggelengkan kepalanya pelan.
Akhtar kemudian memanggil pelayan untuk mengganti sprei di kamar itu saat Kania sedang di kamar mandi. Karena Akhtar yakin, Kania pasti akan lama di kamar mandi. Sebelumnya Akhtar sudah menyuruh pak Muh membelikan baju untuk Kania. Namun Akhtar lupa mengatakan pada Kania.
Kania menatap dirinya di cermin. Kemudian membuka selimut itu perlahan. Sontak saja, Kania terkejut bukan main melihat penampakan dirinya yang seperti macan tutul lagi.
"Astaga! Banyak lagi! Dia itu bener-bener vampir atau drakula sih? Sebanyak ini! Ya ampun, mana aku gak bawa baju ganti lagi! Masa iya, aku pakai baju semalem lagi! Jelas bau banget pasti!" Kania menggerutu sambil memegang tubuhnya yang penuh tanda merah.
"Udahlah pikirin nanti! Lebih baik sekarang, aku mandi! Udah lengket banget nih badan!" gumam Kania berjalan menuju shower.
__ADS_1
Kania langsung memutuskan mandi saja tanpa harus berendam. Meski sedikit sakit dan perih inti tubuhnya, tetap Kania tahan. Anehnya tidak ada rasa penyesalan di hati Kania, setelah melakukan itu. Kania juga bingung sendiri dengan hatinya. Ia justru sangat menikmatinya tadi.
"Apa aku udah mulai jatuh dalam pesonanya ya?" gumam Kania sambil menyabuni badannya.
"Iiihhh! Malah mikirin itu lagi! Huh! Lupakan! Lupakan Kania! Jangan sampai terjerat pesonanya! Ingat! Cuma nikah kontrak!" gumam Kania lagi.
Benar saja, meski tak berendam, nyatanya membuat Kania tetap lama di kamar mandi. Bukan karena mandi yang terlalu lama. Itu karena Kania bingung mau keluar kamar mandi. Kania hanya mengenakan handuk pendek di badannya. Bahkan pahanya saja hanya tertutup setengahnya.
Akhtar mulai menyadari Kania sudah terlalu lama di kamar mandi. Akhtar pun membawa baju untuk Kania ke kamar mandi.
Tok Tok Tok
"Kania! Buka pintunya!" seru Akhtar sambil mengetuk pintu.
Kania yang berjalan mondar-mandir semakin gelisah mendengar seruan Akhtar.
"Kania! Mau sampai berapa lama kamu di kamar mandi?" seru Akhtar lagi.
"Ini baju untukmu! Ayo cepat buka pintunya!" lanjut Akhtar karena tidak sahutan dari Kania.
"Hah! Baju! Wah, tepat banget ini" gumam Kania.
"Mana bajunya tuan?" Kania menengadahkan tangan kanannya.
Akhtar tersenyum tipis melihat tingkah laku Kania.
"Ini!" jawab Akhtar sambil mengangkat tangan kanannya yang berisi baju Kania di paper bag.
Kania yang hendak mengambil paper bag itu, justru dikerjai oleh Akhtar. Tangan Akhtar terus menghindar dari kerjaran tangan Kania. Akhirnya Kania merasa kesal. Karena tubuhnya terasa pegal.
"Pakai saja baju itu tuan! Tidak perlu dikasih ke saya!" ketus Kania.
"Nih!" Akhtar meletakkan paper bag itu di gagang pintu kamar mandi.
Lalu Akhtar berbalik dan duduk di ranjang lagi memainkan ponselnya.
"Dari tadi kek!" gerutu Kania mengambil paper bag itu dan menutup pintu kamar mandi dan menguncinya.
Kania membuka paper bag itu dan mengeluarkan isinya. Ternyata pakaian lengkap dari atas sampai bawah. Bahkan pakaian dalam juga tidak ketinggalan.
__ADS_1
Kania merasa heran menatap ukuran pakaian dalam itu. Pasalnya itu adalah ukuran pakaian dalamnya.
"Kok dia bisa tau ya ukurannya? Dan modelnya juga bagus! Bahannya juga lembut!" gumam Kania memperhatikan pakaian dalam itu.
Saat melihat bandrolnya, Kania sangat terkejut karena harga satu celana d*lam itu sangat mahal baginya.
"Yang bener aja ini harganya? Satu biji tapi harganya udah dapet berlusin-lusin celana d*lam ku ini! Sungguh beda orang kaya!" gumam Kania.
Akhirnya dengan terpaksa Kania memakai pakaian yang sudah dibeli itu. Kalau ada pilihan lain, Kania akan lebih memilih baju atau pakaian dalam yang murah dan nyaman.
"Tapi emang beda ya! Nyaman banget di kulit." gumam Kania lagi setelah memakai pakaian itu.
Kania menatap penampilannya di cermin. Ada satu yang menjadi fokus Kania, yaitu lehernya. Kania bingung menutupi lehernya. Meski bajunya adalah dress lengan tiga perempat, dan menutup bahunya. Namun tetap, leher Kania tidak tertutup juga. Bahkan rambut Kania juga tidak cukup untuk menutupi tanda merah di lehernya.
"Bagaimana ini? Tutup dengan apa ya?" Kania menatap lehernya di cermin.
Terpaksa Kania menutup lehernya sementara dengan handuk putih yang ia pakai tadi. Akhirnya Kania memberanikan diri keluar kamar mandi. Cacing di perut sudah meronta minta diisi.
Ceklek
Suara pintu terdengar dengan pelan. Kania menoleh ke kanan dan kiri. Ia tidak melihat Akhtar di kamar itu. Dengan lega, Kania berjalan menuju ranjang. Kania duduk dan melihat ada sarapan di nampan.
"Kukira kau tidur lagi di kamar mandi!" seru Akhtar dari arah balkon.
Uhuk uhuk
Kania tersedak susu yang baru ia teguk. Akhtar membuatnya terkejut. Dengan sigap Akhtar segera menghampiri Kania dan menepuk pelan punggung Kania.
"Kenapa tidak pelan-pelan minumnya? Aku tidak akan memintanya!" ketus Akhtar sambil terus menepuk punggung Kania.
Kania yang masih batuk, tidak bisa menjawab pertanyaan Akhtar. Lalu Akhtar menyodorkan air putih yang berada di nakas satu lagi. Kania meminumnya dengan cepat dan sampai habis.
"Lain kali lebih hati-hati! Untung ada aku! Kalau tidak, entah apa yang terjadi!" celetuk Akhtar santai.
Kania menoleh ke arah Akhtar dan menatapnya kesal. Lalu ia menyingkirkan tangan Akhtar yang masih ada di punggungnya.
"Huh! Bukannya terima kasih sudah ditolong!" ketus Akhtar.
Kania mengabaikannya dan fokus pada sarapannya lagi. Kania sudah benar-benar merasa lapar saat ini.
__ADS_1