Tawanan Mr. Perfect

Tawanan Mr. Perfect
Bab 47 Drama Tanda Merah


__ADS_3

Siang hari, Akhtar dan Kania sudah pulang dari kediaman kakek Wijaya. Akhtar juga mengantar Kania ke apartemen terlebih dahulu. Selama di perjalanan pulang, sama sekali tidak ada obrolan pada keduanya. Kania bahkan selalu melihat ke arah jendela mobil menatap jalanan. Sementara Akhtar fokus pada ponselnya.


Akhtar sesekali melirik ke arah Kania. Penampilan Kania tadi sempat membuat heran kakek Wijaya dan nenek Aishe. Kania mengenakan jas Akhtar yang semalam. Semua itu Kania lakukan untuk menutupi tanda merah di lehernya.


Kania keluar mobil tanpa menoleh ke Akhtar. Bahkan Kania menutup pintu mobil dengan keras. Akhtar sampai kaget yang sedang membalas pesan Bima.


"Dia itu kenapa? Dari rumah kakek, sama sekali gak bicara! Apa dia marah? Tapi marah kenapa? Beda sekali dengan tadi pagi! Dia bahkan terlihat sangat buas dan terus memanggil namaku! Aneh!" gumam Akhtar.


Mobil pun melaju menuju perusahaan Akhtar. Kania sudah berada di kamarnya lagi. Kania menatap dirinya di cermin besar dan sudah melepaskan jas milik Akhtar yang ia pakai tadi.


"Huwaaaaaa....! Aku sangat memalukan! Kenapa aku melakukannya lagi? Ya Tuhan! Pesona apa yang dia miliki? Sampai aku tergoda lagi dengannya! Bahkan tadi, aku sadar! Ya Tuhan!" seru Kania sambil menangis tapi tidak keluar air mata.


"Tubuhku seperti macan tutul lagi! Kenapa aku tidak bisa menolaknya? Aku malah menikmatinya! Sungguh memalukan kamu, Kania! Gimana nanti kalau Dini tau apa yang udah terjadi sama aku? Dan ibu? Oh, astaga! Kania! Kenapa aku bodoh sekali sih?" Kania menatap dirinya di cermin sambil membuka bajunya dan hanya menyisakan pakaian dalamnya.


"Saat dia menyentuh, bahkan aku sama sekali tidak berontak! Aku malah menginginkan lebih! Apa seperti ini ya rasanya? Benar-benar membuat lupa diri! Kalau aku terus-terusan dekat dengan tuan Akhtar, bisa jadi akan seperti ini terus! Kami akan terus melakukan hal itu lagi! Buktinya aja tadi pagi kita sama-sama sadar melakukan itu! Berarti memang aku harus menghindar dari tuan Akhtar. Ya! Aku tidak boleh ketemu tuan Akhtar lagi! Cukup tadi pagi yang terakhir!" Kania meyakinkan dirinya.


Tapi author gak yakin Kania, kalau tadi pagi yang terakhir. Gimana dong, Kania?


Memasuki perusahaan, Akhtar disambut Bima yang sudah menunggu di depan. Bima melipat bibirnya ke dalam menahan senyuman saat melihat leher tuannya. Keduanya berjalan memasuki kantor. Para karyawan wanita yang berada di lobi, menatap heran ke arah mereka. Terutama ke Akhtar.


Namun Akhtar hanya mengabaikan mereka dan terus fokus berjalan ke arah lift khusus. Sampailah keduanya di lantai tempat ruangan kerja Akhtar berada.


"Kamu kenapa?" Akhtar heran dengan sikap Bima. Akhtar sudah duduk di kursinya.


"Tidak, tuan! Saya hanya senang saja melihat tuan ke kantor!" jawab Bima menahan senyum.


"Kamu sangat aneh, Bim!" balas Akhtar menggelengkan kepalanya sambil membuka laptopnya.


"Serangganya buas ya, tuan?" goda Bima.


"Maksud kamu?" Akhtar memicingkan matanya menatap Bima.


Bima pura-pura menggaruk lehernya sambil melihat ke atas. Akhtar mengamati Bima. Kemudian ia menyadari Bima menyinggung tanda merah di lehernya. Di leher Akhtar ada dua tanda merah yang tanpa sadar dibuat Kania tadi pagi.


"Kalau kamu belum mandi, mandi dulu sana!" Akhtar mengabaikan Bima dan justru menyindirnya.

__ADS_1


"Saya mandi, tuan!" sergah Bima.


"Terus kenapa kamu garuk leher kamu? Itu karena kamu belum mandi atau gak bersih mandinya!" Akhtar membalas dengan sengit.


"Ah, tuan Akhtar pura-pura gak tau! Padahal habis enak-enak tadi pagi! Pantes aja ke kantornya siang! Ternyata lagi ngadon anak!" celetuk Bima.


"Kurang ajar kamu! Memangnya buat kue apa? Ngadon, ngadon! Udah sana ke ruanganmu!" usir Akhtar mengalihkan pembicaraan.


"Ah, tuan! Kan lagi bahas yang seru!" balas Bima.


"Kayaknya kamu udah bosan jadi asistenku, Bim!" celetuk Akhtar menatap Bima serius.


"Iya, iya tuan! Saya ke ruangan saya! Jangan ganti saya, tuan! Saya hanya becanda! Peace!" Bima langsung menjawab dengan sigap dan merubah sikapnya.


"Nah, itu baru bagus! Jangan ikut-ikutan Michael sama Jonas, Bim!" balas Akhtar menatap Bima.


"Iya, tuan! Paling cuma dikit soal cewek!" jawab Bima sambil meringis.


Akhtar hanya menggelengkan kepalanya. Bima keluar ruangan Akhtar dengan senyum-senyum sendiri. Akhtar beranjak dari kursi berjalan ke ruang pribadinya.


Akhtar menatap cermin dan tersenyum melihat tanda merah di bawah rahang kiri dan leher depannya.


Di kamar, Kania sedang menutup diri di dalam selimut. Sungguh hari ini, rasanya Kania ingin tenggelam ke dasar palung Mariana. Kania sangat malu dengan dirinya sendiri.


Suara ponsel Kania berdering. Menandakan ada panggilan masuk di WA nya.


"Siapa sih? Ganggu aja deh!" gerutu Kania kesal yang ingin memejamkan matanya.


Tangannya meraba ke nakas yang ada di samping ranjang. Ponselnya mati dari semalam. Jadi Kania baru sempat mengecas saat sudah di kamar ini. Kania melihat di layar ponsel, ternyata Dini yang meneleponnya.


"Halo, Din!" jawab Kania setelah menggeser tombol hijau ke atas.


"Ya ampun, Kania! Dari semalem gue teleponin baru nyambung sekarang! Emang loe kemana aja sih? Kok HP mati segala?" cecar Dini di balik telepon.


Dini sedang beristirahat di pantry sendirian. Sedangkan petugas yang lain mengerjakan tugasnya sendiri.

__ADS_1


"HP ku mati dan baru sempet ngecas! Emang ada apa? Ibuku baik-baik aja kan?" jelas Kania sambil duduk bersandar di ranjang.


"Ibu loe baik-baik aja! Gue kan pengen curhat semalem sama loe! Tapi loe susah banget dihubungin! Oh ya, loe kemana aja sih emang?" jawab Dini mencecar.


"Emang mau curhat apaan?" tanya Kania tanpa membalas pertanyaan Dini.


"Entar malem aja curhatnya kalau udah ketemu loe! Sekarang loe cerita kemana loe semalem?" tanya Dini penasaran.


"Emang nanti malem kita mau ketemuan gitu? Gue gak bisa!" balas Kania.


"Gue kan entar malem mau nginep di apartemen loe! Udah lama juga kan kita ngobrol bareng!" jawab Dini santai.


"What? Kamu mau nginep?" seru Kania terkejut.


"Iya, Nia! Kenapa? Loe kok kayak kaget banget gitu? Gak boleh ya?" tanya Dini curiga.


"Bukan! Bukan gitu! Kamu mendadak aja kok pengen nginep!" jawab Kania dengan gugup.


"Kan gue udah biasa nginep di tempat loe, Nia! Atau jangan-jangan, loe udah tinggal bareng sama tuan Akhtar ya? Makanya sama loe gak boleh nginep lagi!" tuding Dini curiga dengan Kania.


"Ya gak lah! Aku masih tinggal sendiri kok! Ya udah, kamu dateng aja ke sini kalau emang mau nginep!" jawab Kania pasrah.


"Nah gitu dong dari tadi! Kan gue gak perlu curiga sama loe!" ucap Dini meledek Kania.


"Apaan sih, Din! Gak ada yang aku sembunyiin kok!" balas Kania justru membuat Dini semakin curiga.


"Kalau loe ngomong gitu, berarti emang ada yang loe sembunyiin nih dari gue! Hayo apa? Ngaku, Nia!" Dini menggoda Kania.


"Gak ada Dini! Udah deh, jangan kayak gitu! Entar aku ngambek lho!" sergah Kania meyakinkan Dini.


"Gue gak percaya! Pokoknya entar kita saling curhat! Gue udah pengen banget curhat sama loe!" balas Dini kekeh ingin tahu tentang yang terjadi dengan Kania.


"Iya, iya Dini bawel! Ya udah aku tunggu ya, Din!" sahut Kania dengan tenang.


"Ok, cantik! Gue kerja dulu ya! See you!" balas Dini sambil mengakhiri percakapan di telepon.

__ADS_1


"See you too!" jawab Kania.


Kania meletakkan kembali ponselnya di nakas dan beranjak dari tempat tidur. Kania berjalan ke pintu kamar untuk keluar. Ia ingin segera menghilangkan tanda merah yang ada di tubuhnya. Terutama leher, dada, dan bahunya. Kania tidak mau kalau Dini sampai tahu tentang tanda merah itu. Kania akan bertambah malu kalau Dini sampai tahu dan pasti banyak pertanyaan dari sahabatnya itu.


__ADS_2