
"Non Kania!" seru Bima keluar dari pintu ruangannya.
Kania ditinggal sendiri oleh Dini setelah sampai di lantai paling atas. Kania berjalan menuju ruangan Akhtar. Tapi belum sampai di ruangan Akhtar, Bima keluar dari ruangannya dan menyapanya.
"Eh, pak Bima!" balas Kania tersenyum kaku.
"Mau ke ruangan tuan ya?" tanya Bima basa-basi. Padahal Bima sudah tahu tujuan Kania datang ke sini.
"Iya, pak!" jawab Kania singkat.
"Mari saya antar!" ajak Bima dan berjalan duluan.
Kania pun mengikuti dari belakang. Masuk ke ruangan Akhtar, mengingatkan kejadian beberapa waktu yang lalu. Pertama kali Kania diajak Akhtar masuk ke ruangan pribadinya sebagai istri kontraknya.
Tok tok tok
"Masuk!" seru Akhtar dari dalam.
Bima membuka pintu dan masuk ruangan Akhtar. Kania pun mengikuti dari belakang.
"Ada apa, Bim? Oh, sudah datang?" tanya Akhtar menatap Bima dari meja kerjanya. Kemudian melihat Kania yang berdiri di belakang Bima.
"Kau boleh keluar!" perintah Akhtar pada Bima.
Bima hanya menganggukkan kepalanya dan meninggalkan ruangan Akhtar. Kania masih berdiri tak jauh dari pintu, sambil meremas tangan yang ia pegang. Tangannya sampai keringat dingin. Berduaan dalam satu ruangan hanya dengan Akhtar, membuat Kania merasa gugup.
"Duduklah! Aku selesaikan pekerjaanku dulu!" ucap Akhtar menatap Kania.
Kania mengangguk dan berjalan ke arah sofa tanpa melihat Akhtar. Kemudian duduk dengan anggun di sofa panjang. Akhtar selalu memperhatikan gerak-gerik Kania dari awal datang sampai duduk di sofa. Akhtar tersenyum tipis tanpa diketahui Kania.
10 menit Akhtar sudah menyelesaikan pekerjaannya. Akhtar mematikan laptop dan merapikan berkas-berkas yang ada di meja. Kemudian berdiri dan mengambil jas yang ia sampirkan di tempatnya. Lalu berjalan ke arah sofa. Akhtar pun duduk di sofa single yang ada di seberang Kania.
"Kamu sudah makan siang?" tanya Akhtar menatap Kania sambil kakinya disilangkan. Terlihat sangat berwibawa dan mempesona.
Kania menggeleng sebagai balasan sambil menunduk.
"Ayo pergi!" ajak Akhtar sambil beranjak berdiri dan mengancingkan jasnya.
Kania mengangguk lagi dan ikut berdiri. Akhtar berjalan terlebih dahulu dan diikuti Kania. Keduanya keluar dari ruangan Akhtar menuju lift khusus petinggi perusahaan.
Di dalam lift, keduanya masih sama-sama diam. Akhtar hanya melirik Kania yang berdiri agak jauh darinya. Kania masih betah menunduk sambil memegang tasnya.
"Ada uang ya di bawah?" celetuk Akhtar yang bosan karena saling diam.
"Hah?" Kania tersentak dan menoleh ke arah Akhtar. Namun Kania segera menunduk lagi.
__ADS_1
"Dari tadi kamu lihat ke bawah. Apa lantainya lebih menarik untuk dilihat?" ucap Akhtar lagi menoleh dan menatap Kania.
"Bukan begitu, tuan!" balas Kania masih menunduk.
"Lalu? Buktinya saja kamu masih betah lihat ke bawah!" balas Akhtar menatap Kania dengan intens dari samping sambil kedua tangannya berada di dalam saku celana.
"Ehm, itu... Karena... aku lebih suka lihat ke bawah, tuan!" balas Kania mencari alasan.
Saat Akhtar akan membalas ucapan Kania lagi, pintu lift sudah terbuka. Kania pun merasa lega. Akhtar keluar dari lift dan disusul oleh Kania. Kania berjalan sambil menunduk. Ia malu jika karyawan lain sampai mengenalinya.
Tiba di luar kantor, Akhtar mendadak berhenti dan berbalik. Kania yang tidak tahu Akhtar berhenti, tiba-tiba menabrak Akhtar dan hampir terjatuh karena tidak seimbang. Beruntung Akhtar segera menangkapnya. Kedua tangan Akhtar menahan pinggang Kania. Sementara tangan Kania berada di dada Akhtar.
Keduanya saling berpandangan. Karyawan yang berhamburan keluar kantor untuk istirahat, mengabadikan momen tersebut.
"Beruntung banget sih, dipeluk gitu sama pak Akhtar! Siapa ya cewek itu? Apalagi tatapannya pak Akhtar. Ya ampun, buat meleleh!" celetuk salah satu karyawan perempuan.
"Kok gue seperti gak asing sama tuh cewek! Tapi siapa ya?" sahut salah satu karyawan perempuan lainnya.
Kania yang sadar menjadi pusat perhatian, langsung melepaskan dirinya dari pelukan Akhtar. Kania langsung berjalan ke mobil sambil menunduk. Kania sangat malu saat ini. Kania terus merutuki dirinya sendiri di dalam mobil.
Akhtar merapikan jasnya dan berbalik. Kemudian ia masuk ke mobilnya setelah dibukakan oleh sang supir. Akhtar duduk di sebelah Kania.
"Eh, itu tadi kok kayak office girl yang pernah kerja di sini bukan sih? Yang waktu itu pernah ditangkap polisi gantiin Dini!" celetuk salah seorang karyawati yang teringat Kania.
"Ya gak mungkinlah! Tadi itu ceweknya cantik banget! Terus masuk ke mobil pak Akhtar juga! Cewek itu kan mungkin masih dipenjara. Jadi gak mungkin office girl itu!" bantah karyawati satunya yang jutek.
"Mungkin cuma mirip aja! Yang tadi itu, ceweknya cantik banget. Beda jauh sama office girl itu!" balas karyawati yang jutek.
Para karyawati itu masih berlanjut bergosip tentang Akhtar dan Kania. Bahkan mereka tidak segan mengupload video yang sudah mereka abadikan tadi ke sosial media masing-masing. Seketika berita tentang Akhtar yang satu mobil dengan seorang perempuan, menjadi berita yang menggemparkan dunia maya.
Akhtar dan Kania tak saling bicara di dalam mobil. Bahkan sampai di butik, keduanya masih saling diam. Keduanya disambut karyawan butik laki-laki dan perempuan. Karyawan yang perempuan menjaga jarak dengan Akhtar. Meski ia sulit untuk menatap kagum pada ketampanan Akhtar. Kania yang melihatnya, ada rasa sedikit kesal.
"Halo, sayang! Apa kabarnya?" sapa mama Sonya menyambut anak dan menantunya.
Mama Sonya memeluk Akhtar dan Kania bergantian. Om Aryo memperhatikan mereka.
"Baik, ma!" jawab Akhtar dan Kania serempak sampai keduanya saling memandang.
"Uuhh, so sweet banget sih kalian! Jawabnya aja sampai bareng gitu!" ucap mama Sonya menggoda Akhtar dan Kania.
"Jadi ini menantu kamu?" tanya Om Aryo menghampiri keduanya.
"Iya dong! Gimana? Cantikan menantuku?" jawab mama Sonya memuji Kania.
Om Aryo bahkan ingin mencium pipi kanan kiri Kania, namun Akhtar menatap tajam. Jadi om Aryo mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Putramu sepertinya sangat mencintai istrinya!" sindir om Aryo yang hanya menyalami Kania.
Mama Sonya tertawa kecil mendengar sindiran om Aryo untuk Akhtar. Sedangkan Kania tertunduk malu. Akhtar hanya berekspresi datar.
"Sudah! Jangan menggoda dia! Ayo kita fitting bajunya! Aku udah gak sabar lihat mereka pakai baju rancanganmu!" ucap mama Sonya menengahi.
Om Aryo pun mengajak mereka ke ruang gaun pengantin. Di sana banyak gaun pengantin digantung dengan indah. Ada beberapa juga gaun pengantin yang dipasang di manekin. Gaun pengantin di sana, mayoritas berwarna putih gading.
Kania bahkan sampai terpana melihat gaun-gaun pengantin yang sangat indah di matanya. Sementara Akhtar masih sama, mukanya masih datar. Para karyawati yang melihat Akhtar, tak berhenti mengagumi ketampanan Akhtar. Tapi kemudian mereka sadar dan segera menjaga jarak.
"Gimana, nak? Ada yang kamu suka gaun pengantinnya?" tanya mama Sonya sambil merangkul pundak Kania.
"Semua bagus-bagus, ma! Kania sampai bingung!" jawab Kania dengan polos sambil menatap gaun pengantin satu per satu.
Akhtar yang merasa lelah, memilih duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Kalau gitu, om pilihkan aja ya! Yang ini pasti cocok banget di badan kamu!" sela om Aryo menimpali.
Om Aryo kemudian mengambil salah satu gaun yang ada di manekin. Gaun pengantin model ball gown. Mekar di bagian pinggang ke bawah. Gaun yang membentuk tubuh di bagian pinggangnya dan potongan dada rendah. Menampakkan bahu yang terbuka.
Kania mencoba gaun tersebut yang dibantu oleh karyawati butik itu. Kania menatap dirinya di cermin dengan gaun yang melekat indah di tubuhnya. Karyawati yang melihatnya saja sampai terpesona.
"Anda sangat cantik, nona!" seru karyawati yang berada di kanan dekat Kania.
Kania tersipu malu mendengarnya. Pipinya merona. Menambah kadar kecantikan Kania dengan gaun pengantin tersebut.
Gorden pun dibuka lebar oleh karyawati satunya. Semua orang yang sedang duduk di sofa menatap ke arah Kania. Semuanya terpana melihat kecantikan Kania. Apalagi Akhtar sampai melongo dan tidak berkedip menatapnya. Bahkan majalah yang sedang ia pegang, sampai jatuh di atas meja.
Mama Sonya dan om Aryo yang menatap Kania, beralih menoleh ke Akhtar. Keduanya tersenyum melihat ekspresi kagum Akhtar. Mama Sonya pun menghampiri Kania.
"Ya ampun, nak! Kamu cantik sekali sayang! Gaun ini sangat cocok di badan kamu! Om Aryo emang gak salah pilih!" ucap mama Sonya memuji kecantikan Kania.
Kania hanya tersenyum malu. Sebenarnya Kania merasa tidak nyaman dengan bahunya yang terbuka dan belahan dadanya yang sedikit terlihat. Akhtar menyadari ketidaknyamanan Kania itu.
"Ganti! Dia gak cocok pakai gaun itu! Carikan yang lain!" seru Akhtar berpaling dari Kania.
Akhtar merasa tubuhnya panas dingin melihat penampilan Kania. Apalagi melihat bahu putih mulus Kania yang terbuka dan belahan dada Kania yang menggoda matanya. Ada sesuatu yang bangkit dari diri Akhtar.
Om Aryo tersenyum dan memberi kode pada salah satu karyawatinya. Kania tersenyum lega karena Akhtar menyuruh mengganti gaun yang lain. Gorden pun ditutup kembali. Mama Sonya yang ingin protes pada Akhtar, langsung dihentikan oleh om Aryo.
"Kamu ini gimana sih, nak? Kan gaun yang tadi udah bagus dan cocok di Kania! Kenapa harus diganti yang lain? Heran mama sama kamu!" ketus mama Sonya di samping Akhtar.
"Yang tadi terlalu terbuka, ma! Akhtar gak suka!" jawab Akhtar dengan santai sambil membuka majalah lagi.
"Kamu yang gak suka, kenapa harus diganti! Kan yang pakai Kania bukan kamu! Mama udah cocok sekali dengan gaun yang tadi! Itu terkesan mewah dan anggun di badan Kania!" balas mama Sonya dengan ketus.
__ADS_1
"Itu karena putramu terlalu cinta sama istrinya, Sonya! Kamu ini seperti gak pernah muda saja! Apa Farzan pernah membiarkan kamu pakai gaun yang bahunya terbuka? Gak kan? Nah, itulah yang terjadi pada Akhtar! Dia sama seperti papanya! Tidak rela membiarkan pria lain melihat tubuh istrinya! Benar kan ucapan om?" sela om Aryo menimpali pembicaraan mama Sonya dan Akhtar.
Mama Sonya menatap om Aryo dan beralih ke Akhtar lagi. Barulah mama Sonya menyadari sikap posesif Akhtar seperti Pak Farzan, papanya. Mama Sonya pun tersenyum senang mengetahui bahwa putranya sangat mencintai istrinya. Jadi tidak ada kekhawatiran lagi di hati mama Sonya tentang pernikahan putranya.