Tawanan Mr. Perfect

Tawanan Mr. Perfect
Bab 11 Kecemasan Kania


__ADS_3

"Nia, loe dicariin Bu Reni! Suruh cepet ke sana!" ucap seorang office boy yang tengah ngos-ngosan karena berlari. Lalu pergi setelah menyampaikan pesan bu Reni.


Deg


"Ada apa ya Din, bu Reni nyariin aku? Kok aku tiba-tiba deg-degan gini?" tanya Kania yang sedang sarapan di kantin bersama Dini. Meski udah telat untuk waktu sarapan. Karena sudah pukul 9 pagi.


"Ya mana gue tau, Nia! Kan gue dari tadi di sini sama loe! Ya udah, nanti kita samperin aja! Mungkin ada tambahan kerja kayak biasanya." jawab Dini dengan santai sambil meneruskan makannya.


"Tapi kayaknya kali ini beda deh, Din! Bukan soal kerjaan! Kayak semacam firasat buruk gitu!" sanggah Kania yang terlihat cemas. Kania sudah enggan menghabiskan makannya.


"Ah, loe mah! Kebiasaan deh! Makanya jangan kebanyakan baca novel mafia! Parno sendiri kan, loe!" sahut Dini kesal karena makannya terganggu.


"Seru, tau! Justru menantang kisah mafia tuh!" balas Kania.


"Gimana kalau ini ada hubungannya sama yang kemarin? Gue beneran bisa dipecat, Din!" lanjut Kania dengan praduganya sambil menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya.


"Udah habisin dulu makan loe! Nanti gue temenin ngadep bu Reni! Udah tenang aja!" jawab Dini santai sambil memasukkan makanannya lagi ke dalam mulut.


"Gue udah kenyang, Din!" sahut Kania lemas.


"Sini gue habisin aja, sayang mubazir!" balas Dini mengambil makanan Kania lalu memakannya setelah menghabiskan makanannya sendiri.


Kania hanya menatap Dini yang asyik menghabiskan makanan di meja itu, sambil menopang dagu pada kedua tangannya.


Setelah selesai sarapan, Kania ditemani Dini pergi menghadap bu Reni, atasan mereka. Bu Reni adalah orang yang bertanggung jawab kepada seluruh petugas kebersihan dan office boy/girl di kantor ini. Terkenal tegas dan baik.


"Gimana, Bim? Kenapa belum ke sini juga?" tanya Akhtar dengan gelisah sambil mondar-mandir di ruangannya.


Bima yang berdiri tak jauh dari tuannya, menatap heran dengan perilaku Akhtar yang bukan seperti dirinya.


'Kenapa tuan Akhtar terlihat cemas? Ini bukan seperti tuan Akhtat? Atau jangan-jangan tuan Akhtar suka sama cewek itu? Hah! Kalau bener, kasihan nasib gue! Harus kandas sebelum tumbuh. Apalah aku dibanding tuan Akhtar, yang hanya remahan kentang!' batin Bima sambil memperhatikan tuannya.


"Bima! Kamu bener-bener udah bosen kerja kayaknya! Dari tadi kebanyakan melamun!" sentak Kania yang berbalik menatap Bima dengan kesal.


"Ma.. maaf tuan. Maklum belum sarapan!" ucap Bima mencari alasan.


"Alasan!" sindir Akhtar sambil berjalan mondar-mandir lagi.


Di dalam ruangan bu Reni.


"Ada apa ya bu Reni memanggil saya? Apa ada kerjaan lagi yang perlu saya kerjakan?" tanya Kania dengan cemas yang sudah duduk di kursi depan meja bu Reni.


Sementara Dini menunggunya di luar ruangan bu Reni sambil berdiri sandaran di dinding dan memainkan ponselnya.


"Tidak ada apa-apa. Ibu cuma mau menyampaikan pesan Pak Bima agar kamu menemuinya." jawab bu Reni dengan lembut namun tegas.


"Pak Bima? Maaf bu, pak Bima siapa ya?" tanya Kania heran dengan wajah polosnya.


"Asisten CEO kita!" jawab bu Reni sambil tersenyum melihat wajah polos Kania.

__ADS_1


Deg


'Tamat sudah! Benerkan kataku! Pecat pecat deh! Atau ini hari terakhir hidupku?' batin Kania bertambah cemas sambil meremas ujung bawah bajunya. Keringat dingin pun keluar.


"Kamu kenapa, Nia? Kamu sakit?" tanya bu Reni cemas melihat Kania yang bercucuran keringat.


"A.. ada a.. pa ya bu, P..pak Bima... ingin be..bertemu saya?" tanya Kania dengan terbata tanpa menjawab pertanyaan bu Reni.


"Ibu juga gak tau, cuma disuruh bawa kamu aja ke sana! Tapi sepertinya kamu sakit, Nia?" ucap bu Reni masih cemas.


"Gak kok, bu! Saya baik-baik saja!" jawab Kania yang masih gugup.


"Beneran?" tanya bu Reni memastikan.


"Iya, bu!" jawab Kania pelan dan mengangguk.


"Ya sudah, kalau begitu. Ayo kita ke sana!" ajak bu Reni sambil berdiri dan berjalan menuju pintu. Kania mengikutinya dengan gugup dan cemas.


"Lho, Dini! Kenapa di sini? Ada perlu sama ibu?" tanya bu Reni setelah keluar dan terkejut melihat Dini ada di depan ruangannya.


"Hah! Gak kok, bu! Saya cuma nemenin Kania aja!" jawab Dini dengan senyum canggung. Lalu melirik ke arah Kania yang berdiri di belakang bu Reni.


"Oh gitu! Ya sudah, kamu kembali aja ke ruanganmu! Ibu mau mengantar Kania menemui Pak Bima dulu." sahut bu Reni sambil tersenyum.


"Hah! Pak Bima?" lirih Dini terkejut mendengar nama Bima disebut.


"Iya! Ya sudah ya, kami duluan! Ayo, Kania!" jawab bu Reni lalu mengajak Kania pergi.


"Tolong aku!" ucap Kania tanpa suara kepada Dini sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.


Dini hanya menatapnya dengan cemas. Pikirannya kini kembali pada pembicaraan dirinya dan Kania kemarin. Tentang pemecatan Kania atau yang lebih buruk, kematian Kania. Seketika Dini merinding sendiri membayangkan apa yang ada dipikirannya.


"Gak, gak, gak mungkin. Tapi ini menemui Pak Bima, asisten Tuan Akhtar. Itu artinya... " gumam Dini sambil menggelengkan kepalanya dan cemas sendiri dengan keadaan sahabatnya.


"Gimana caranya ya, biar Kania gak kena masalah! Apalagi kan kemarin karena gue juga, Nia jadi nabrak tuan Akhtar. Argh! Di saat kayak gini, kenapa jadi buntu banget sih otak gue! Ayo dong, Din! Pikir!" gumam Dini lagi sambil berpikir dan mondar-mandir di depan ruangan bu Reni.


"Aha!" seru Dini antusias setelah mendapatkan ilhamnya. Lalu segera pergi menuju ke tempat yang akan ia datangi.


Kania dan bu Reni sudah sampai di lantai tempat ruangan CEO berada. Kania yang berjalan di belakang bu Reni, semakin gugup dan cemas. Detak jantungnya berpacu semakin dekat tatkala tulisan yang cukup besar "Ruangan CEO" sudah terlihat dari tempatnya berjalan.


Sampailah di depan ruangan CEO.


"Bu Reni langsung masuk aja! Udah ditunggu tuan Bima dan tuan Akhtar sedari tadi." ucap Doni sang sekretaris setelah melihat siapa yang datang.


Bu Reni membalas dengan anggukan. Lalu berjalan ke depan pintu CEO, dan mengetuk pintunya. Hingga terdengar suara berat seseorang yang memerintahkan masuk.


Seketika Akhtar berhenti dari mondar-mandirnya dan mendadak gugup. Namun ia mampu menutupinya dari sang asisten yang masih berdiri di dekatnya. Kemudian Akhtar berjalan menuju kursinya dan duduk dengan wibawa, sambil membenarkan jasnya yang masih rapi. Bima pun tetap berdiri tak jauh dari tuannya.


ceklek

__ADS_1


Pintu pun terbuka, menampilkan sosok bu Reni yang berbadan tinggi dan besar. Lalu disusul Kania berjalan di belakangnya.


"Ini Kania Indira, tuan!" ucap bu Reni pelan sambil menunduk hormat pada Akhtar.


Kania masih berdiri di belakang bu Reni. Ia masih begitu gugup dan cemas. Kania bahkan tidak berani mengangkat kepalanya. Bahkan telapak tangannya sudah basah karena keringat dingin. Tingkahnya tak luput dari pandangan dua pria di depannya.


Bu Reni yang menyadari Kania berdiri di belakangnya, segera bergeser ke samping. Tampaklah Kania dengan jelas di mata dua pria tersebut. Meski menunduk, namun kecantikan Kania tetap terlihat.


Rambut dikuncir kuda dan beberapa helai rambut yang tidak ikut terikat berada di depan wajahnya. Bulu mata lentiknya bahkan masih terlihat meski ia menunduk.


"Bu Reni boleh pergi!" ucap Akhtar dengan suara beratnya memecah keheningan.


"Permisi, tuan Akhtar! Pak Bima!" pamit bu Reni dengan sopan.


"Hm" balas Akhtar.


Bima hanya mengangguk. Bu Reni pun undur diri dan meninggalkan ruangan itu. Kania yang ditinggal sendiri bersama dua pria dalam satu ruangan, seketika membuatnya bertambah cemas dan khawatir akan nasibnya.


Saat Bima hendak berucap, tiba-tiba Akhtar berdiri dari duduknya. Kemudian berjalan ke depan mejanya. Bima pun hanya mengikuti tuannya, dan memilih berdiri tak jauh dari sana sambil memegang kertas putih di tangan kanannya.


"Kau tau dipanggil ke sini karena apa?" tanya Akhtar dengan suara datarnya. Menatap intens Kania dengan berdiri sambil bersandar pada meja kerjanya dan menyilangkan kaki serta memasukkan kedua tangannya di saku celana.


Bima hanya menggelengkan kepala dengan sikap tuannya.


'Kau membuatnya semakin takut tuan! Apa tuan gak lihat, tuh cewek udah gemetaran! Dasar emang es batu!' batin Bima mengumpati tuannya.


"Bima!" seru Akhtar dengan dingin dan datar.


Kania terjengkit kaget mendengar seruan pria yang berdiri di depan tak jauh darinya berdiri. Semakin cemas dan takut, tanpa menoleh ke arah depannya. Bima pun ikut terkejut.


Sebelum Akhtar melanjutkan ucapannya, sesuatu terjadi di depan matanya.


Bruk


*


*


WAH WAH WAH


SUARA APA ITU? ADA YANG BISA MENEBAKNYA LAGI?


YUK JAWAB DI KOLOM KOMENTAR!


MASIH PENASARAN KAN DENGAN CERITANYA?


NANTIKAN TERUS UPDATE BAB SELANJUTNYA.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN FOLLOW NYA YA!!

__ADS_1


MOHON DUKUNGAN UNTUK AUTHOR.


TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA


__ADS_2