
"Please, Adri! Bantuin gue! Kasian Kania! Masa belum ada sebulan, dia dipecat? Kan kasian!" mohon Dini dengan wajah memelasnya sambil memegang tangan rekan kerjanya yang bertugas sebagai office boy khusus lantai CEO.
Otak Dini memunculkan ide bahwa ia harus meminta tolong pada rekan kerja sekaligus orang yang ia sukai diam-diam sejak masuk kantor ini. Apalagi Adri adalah pria yang ia kenal dengan baik saat bekerja di kantor ini. Sehingga Dini mengharapkan bantuan Adri agar mau menolong Kania.
"Tapi ini urusannya sama tuan Akhtar lho, Din! Mana gue berani! Maaf Din, gue gak bisa bantu loe!" balas Adri dengan sesal sambil melepaskan tangan Dini secara perlahan.
"Tega banget loe, Dri! Lagian kan cuma kasih minuman ini aja buat mereka! Habis itu loe bawa Kania kabur dari sana! Gampang, kan?" sahut Dini dengan enteng sambil menunjuk dua minuman di meja samping Dini dan Adri berdiri.
"Ya gak segampang itulah, Din! Loe pikir, habis gue kasih nih minuman sama mereka, mereka bakal izinin gue bawa temen loe itu? Ya gak bakalan lah, Din! Apalagi temen loe itu sendiri yang buat masalah sama tuan Akhtar!" balas Adri sambil duduk karena terlalu lama berdiri. Pegel juga ternyata.
"Ya gampanglah! Kan minumannya udah gue kasih obat tidur!" ceplos Dini sambil memukul-mukul mulutnya.
"Bodoh, bodoh, kenapa gue mesti keceplosan sih! Nih mulut emang gak bisa ngerem!" gumam Dini lirih sambil terus memukul mulutnya dengan pelan. Namun Adri masih bisa mendengarnya.
Adri kaget bukan main. Ia langsung berdiri dan menatap Dini dengan tajam tapi tidak menakutkan.
"Loe! Astaga Dini! Loe mau kita ikutan dapet masalah juga?" sahut Adri sambil menunjuk telunjuknya ke arah Dini lalu menggaruk keningnya yang tidak gatal.
Dini hanya nyengir kuda sambil mengumpati diri sendiri dalam hati.
"Udah balik aja loe sana ke tempat loe! Pusing gue, dengerin loe!" lanjut Adri sambil menggelengkan kepalanya lalu duduk kembali di kursinya.
"Tapi, Dri! Kania gimana? Kasian di.... " ucap Dini terpotong dengan wajah memelasnya lagi karena ada suara telpon.
Tring tring tring
Telunjuk Adri diletakkan di bibir Dini sebagai tanda untuk berhenti bicara dan diam. Seketika Dini pun terdiam lalu mencebikkan bibirnya ke depan. Sedangkan Adri berjalan menuju meja yang terdapat telpon kabel penghubung khusus ruangan CEO.
"Iya, pak Bima!" jawab Adri dengan sopan di balik telpon setelah mengangkatnya. Orang yang biasa menghubunginya bukan di jam istirahat adalah Pak Bima. Jadi Adri langsung menyebutkan nama Pak Bima.
"Bawakan teh hangat dan satu kopi ke ruangan CEO!" perintah Bima dari balik telpon.
"Baik, pak!" jawab Adri dengan sopan. Lalu meletakkan kembali telpon tersebut ke tempatnya.
Adri menuju meja pantry kemudian mengambil dua cangkir beserta tatakannya dan diletakkan di atas nampan. Sambil merebus kembali sedikit air untuk membuat minuman tersebut, Adri meracik gula, teh dan kopi di cangkir tersebut. Tak lama air mendidih dalam teko lalu dituangkan ke dalam dua cangkir tersebut dan mengaduknya.
Dini memperhatikan gerak-gerik Adri dari tempatnya berdiri. Seketika ide jahil muncul di kepalanya. Saat Adri hendak mengangkat nampan yang sudah siap minuman yang dibuatnya, terdengar suara telpon lagi. Adri langsung meletakkan nampan itu kembali. Lalu mengangkat telpon lagi.
Tanpa sepengetahuan Adri, Dini berjalan mengendap-endap seperti maling mendekati minuman tersebut, tanpa berlama-lama lagi, Dini langsung saja menuang obat tidur bentuk cair yang tersisa di kantongnya ke dalam dua cangkir minuman tersebut. Lalu berbalik ke tempatnya lagi dengan mengendap-endap.
"Ngapain loe?" tanya Adri yang heran menatap Dini seperti gerakan hendak mengagetkan orang namun ke arah kursi.
"Hah! Oh! Ini, kursi ini bagus ya! Beli dimana ya, Dri?" balas Dini sambil berusaha menahan kegugupannya.
"Aneh banget loe, nanyain kursi segala! Bukannya sama aja kayak di pantry loe!" balas Adri sambil menuju meja pantry lagi dan menambahkan sepiring kue pesan Pak Bima saat menelpon lagi tadi.
"Oh, iya ya! Lupa gue!" balas Dini sambil nyengir kuda dan menggaruk kepalanya yang mungkin memang gatal. Dini sudah menghadap ke arah Adri lagi.
"Udah ah! Gue mau nganterin minuman ini! Loe balik aja ke ruangan loe! Jangan lupa bawa tuh minuman loe lagi! Bila perlu sekalian minum! Sayang kan kalau dibuang!" balas Adri sambil meledeknya. Dini hanya mencebikkan mulutnya. Adri pun berlalu keluar pantry.
"Terus gimana temen gue, Dri?" pekik Dini pada Adri yang baru keluar pintu sambil menahan senyumnya.
__ADS_1
"Terserah, bukan urusan gue!" pekik Adri juga dengan enteng. Lalu tak terlihat lagi, karena sudah berbelok ke arah ruangan CEO.
'Sorry ya, Dri! Gue mesti nolong sahabat gue! Kania tunggu, aku!' batin Dini yang tersenyum membayangkan rencananya akan berhasil.
Di dalam ruangan CEO beberapa menit yang lalu.
Bruk
Kania jatuh dalam dekapan Akhtar. Tadi sebelum Kania pingsan dan jatuh ke lantai, Akhtar sempat menangkapnya terlebih dulu. Bima yang melihat tuannya memeluk gadis di depannya pun terkejut. Semula Bima hendak menangkap Kania yang mau jatuh pingsan. Namun ia kalah cepat dengan tuannya.
"Bima! Suruh bu Reni kemari lagi!" perintah Akhtar sambil menggendong Kania dan membawanya ke sofa panjang.
"Kenapa bukan Michael aja, tuan?" tanya Bima heran yang ikut mendekat ke arah sofa. Bima sangat khawatir jika alergi tuannya akan kambuh lagi.
"Lakukan aja perintahku, Bim! Cepat!" sahut Akhtar tanpa bantahan yang berdiri di dekat Kania berbaring.
"Baik, tuan!" jawab Bima pasrah, lalu menghubungi bu Reni kembali. Sesekali Bima memperhatikan Akhtar untuk melihat reaksinya. Apakah alerginya akan langsung muncul atau tidak seperti kemarin.
" Fokus, Bim! Jangan lupa, suruh Adri buatkan teh hangat dan kopi untukku!" Ujar Akhtar lagi lalu menuju sofa single dan duduk.
"Baik, tuan!" balas Bima mengangguk. Lalu berjalan menuju telpon kabel di atas meja kerja Akhtar.
"Bawakan juga kue buat gadis ini!" perintah Akhtar lagi yang masih menatap ke arah Kania yang masih betah pingsan.
Tak lama terdengar suara ketukan pintu. Setelah dipersilakan masuk, bu Reni langsung menghadap tuannya. Dan ia terkejut saat melihat Kania sedang tidur di sofa panjang.
'Kania tidur apa pingsan, ya? Bukannya tadi aku tinggal masih baik-baik aja? Tapi emang tadi keliatan pucat sih!' batin bu Reni yang sudah berdiri dua meter dari Akhar duduk.
"Baik, tuan!" jawab bu Reni dengan hormat. Ia hanya pasrah tanpa protes. Karena itu sudah aturan jika berhadapan dengan Akhtar Farzan Wijaya. Mr. Perfect yang tidak suka dibantah. Apalagi sama pegawai rendahan seperti dirinya.
Bu Reni langsung menghampiri Kania yang masih pingsan di sofa dan langsung duduk dekat kaki Kania yang terasa dingin dan menggosok-gosoknya dengan kedua tangan bu Reni agar terasa hangat.
"Maaf tuan! Apa ada minyak kayu putih?" tanya bu Reni dengan sungkan menghadap tuan Akhtar.
"Bima!" seru Akhtar tanpa menoleh ke arah Bima.
Bima hanya menghela napas pelan. Lalu pergi menuju kotak P3K di lemari dekat jendela kaca besar, untuk mencari minyak kayu putih. Dan kebetulan benda tersebut ada di kotak P3K. Bima pun langsung mengambilnya dan memberikannya ke bu Reni.
Kemudian bu Reni mengoleskan seluruh telapak kaki Kania dengan minyak kayu putih agar hangat. Begitupun dengan kedua lengan Kania yang mengenakan baju berlengan pendek. Saat bu Reni hendak mengolesi ke perut Kania, seketika ia menoleh ke tuan Akhtar.
Akhtar dan Bima yang tau akan hal itu, langsung berpaling ke arah lain. Tak lupa juga bu Reni mendekatkan botol minyak kayu putih yang masih terbuka ke arah hidung Kania. Agar Kania dapat menghirupnya dan segera sadar dari pingsannya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar lagi. Dan Bima langsung menuju pintu dan membukanya. Masuklah Adri membawa nampan yang berisi minuman dan kue. Lalu meletakkannya di meja sofa. Atas perintah Bima, Adri meletakkan secangkir kopi di meja depan Akhtar duduk. Sedangkan kue dan secangkir teh hangat di depan bu Reni dan Kania, sambil melirik sekilas ke arah Kania yang masih pingsan. Kemudian Adri pun pamit dan meninggalkan ruangan itu.
Tak lama, ada gerakan kecil dari Kania. Perlahan ia membuka matanya.
'Apa aku udah mati? Tapi kenapa di alam kubur suasananya kayak gini? Seharusnya kan gelap gak bagus kayak gini? Oh, apa karna aku anak baik ya? Apalagi aku kan gak pernah bantah ibu dan gak pernah pacaran! Ternyata gak seserem yang aku bayangin kalau mati.' batin Kania sambil tersenyum mengira dirinya sudah mati.
Tiga orang yang melihat tingkah Kania yang sudah sadar, menatap penuh keheranan dan terdiam memperhatikan Kania yang tiba-tiba senyum sendiri. Bu Reni yang tadi hendak berbicara pada Kania ia urungkan karena heran melihat mimik wajah Kania saat sadar.
__ADS_1
Eegghmm
Akhtar memecahkan keheningan dan menyadarkan lamunan Kania. Kania terjengkit kaget kala mendengar suara berat seorang pria. Seketika ia sadar kembali bahwa ia belum mati dan masih berada di ruangan CEO. Kania langsung ingin duduk namun kepalanya tiba-tiba merasa pusing saat hendak bangun.
Bu Reni yang menyadari kemudian membantu Kania bangun dari posisi tidurnya. Kania duduk sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit. Bu Reni pun menyodorkan teh hangat ke mulut Kania. Kania pun menyambutnya dan meneguk beberapa untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering.
Bima terus memperhatikan Kania dan Bu Reni bergantian dari tempatnya berdiri tak jauh dari mereka. Sedangkan Akhtar hanya memperhatikan Kania yang terlihat pucat. Akhtar sebenarnya heran apa yang menyebabkan Kania bisa jatuh pingsan di ruangannya.
"Sudah merasa lebih baik?" ujar Akhtar dengan suara beratnya sambil menetralkan degup jantungnya yang berdetak cepat sejak menatap Kania yang sadar dari pingsannya. Apalagi tadi sempat melihat senyum Kania.
"Su... su... sudah, tu.. tuan!" balas Kania dengan gugup tanpa berani melihat Akhtar. Kania terus menunduk saat sudah duduk kembali.
Bima dan bu Reni hanya menyimak pembicaraan keduanya. Mereka merasa heran dengan sikap tuannya yang begitu perhatian kepada seorang wanita.
'Sejak kapan tuan Akhtar perhatian pada seorang gadis? Dekat dengan perempuan aja alergi. Saya aja harus jaga jarak minimal dua meter. Hah, entahlah. Itu urusan tuan Akhtar!' batin bu Reni yang masih duduk di samping Kania.
Awalnya bu Reni ragu akan duduk di sofa itu. Namun atas perintah tuan Akhtar, jadi bu Reni berani duduk di sofa tuannya. Bagi bu Reni ini adalah kedua kalinya, ia masuk ke ruangan CEO setelah pertama kalinya beberapa menit mengantar Kania masuk ke ruangan ini.
"Lalu kenapa bisa pingsan?" tanya Akhtar lagi tetap dengan suara berat dan datarnya.
Belum sempat Kania menjawab, sesuatu terjadi lagi padanya.
*
*
HAI HAI HAI READERS YANG BAIK HATI!
(AUTHOR NGERAYU NIYE)
HEHEHEHEHEHE
MASIH SETIA MEMBACA CERITANYA KAN?
KALAU IYA, JADIKAN FAVORIT DONG!
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN FOLLWONYA YA!
(AUTHOR MAKSA AMAT)
HEHEHEHEHE
NAMANYA USAHA, IYA KAN?
BIAR GAK SERIUS-SERIUS AMAT.
SELAMAT MEMBACA AJA DEH!
MAKIN SERU KISAHNYA KOK!
MENDEKATI INTI MASALAHNYA.
__ADS_1