Tawanan Mr. Perfect

Tawanan Mr. Perfect
Bab 14 Rencana Akhtar


__ADS_3

Keesokan harinya di dalam ruangan Bima, dua orang sedang berdiri dengan gemetar karena ketakutan.


"Sudah tau bukan, kenapa kalian bisa ada di sini?" tanya Bima dengan datar dan menatap tajam, namun yang ditatap hanya menundukkan kepala dan mengangguk pelan.


"Berarti tau konsekuensi apa yang akan kalian terima, bukan?" tanya Bima lagi dengan datar dan tetap menatap tajam. Mereka hanya mengangguk lagi.


"Terus kenapa masih ada di sini? Seharusnya kalian sudah ada di kantor polisi saat ini, bukan? Kenapa masih ada si sini?" cecar Bima penuh intimidasi dan penekanan setiap kalimat yang ia ucapkan. Hal tersebut membuat kedua orang tersebut semakin takut dan cemas.


"Ma... ma... maafkan, sa... sa... saya, p... pak Bi.. Bima!" ucap Dini dengan terbata sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan menundukkan kepalanya. Tubuhnya ikut gemetar dan berkeringat dingin.


Bima yang melihatnya, hanya tersenyum tipis dengan seringaian di bibirnya.


"Ma... ma... maafkan ka.. kami, pak Bima! Ja...jangan ba...bawa ka...mi ke kan...kan...tor po...polisi!" sahut Adri terbata dan takut setengah mati mendengar kata polisi.


"Terus kalau kalian tidak ingin dipenjara, lalu hukuman apa yang pantas untuk kalian? Kalian tau, karena ulah kalian satu orang menjadi korban. Dan itu temanmu sendiri, bukan? Beruntung hanya obat tidur yang kamu masukkan! Kalau yang lain, entah apa yang akan terjadi pada temanmu itu!" jelas Bima dengan kesal.


"Maafkan saya, pak Bima! Saya yang salah. Hukum saya saja. Saya hanya berusaha melindungi teman saya. Saya hanya ingin menyelamatkannya. Itu saja pak Bima! Tidak ada maksud lain." ucap Dini sambil menangis dan mengelap ingusnya yang keluar karena menangis.


Bima yang melihatnya menjadi ilfeel dan menggelengkan kepalanya.


"Melindungi teman kamu dari apa? Dan apa tadi? Menyelamatkan temanmu? Memang kamu pikir, temanmu akan kami apakan? Ayo, katakan!" cecar Bima kesal mendengar jawaban gadis di depannya.


"Bukannya pak Bima dan tuan Akhtar akan memecat temanku atau bahkan melenyapkan, ya? Karena kesalahannya yang lalu, dia menabrak tuan Akhtar, bahkan menindihnya kan, pak? Jadi kalau tidak dipecat, pasti akan dilenyapkan, bukan? Karena kesalahan temanku sangat fatal untuk tuan Akhtar. Jadi aku berencana untuk menyelamatkan Kania dari kalian. Kalau kalian meminum obat tidur, maka aku bisa menyelamatkan temanku. Dan temanku akan aman. Begitu, pak!" jelas Dini panjang lebar dengan enteng sambil beberapa kali menyedot ingusnya yang hendak keluar.


"Pikiran kamu itu sangat sempit. Gimana bisa kamu diterima kerja di sini? Siapa yang menerimamu kerja di sini? Penilaiannya sangat buruk!" sindir Bima dengan ketus sambil menatap jijik pada Dini karena kelakuannya.


"Kan pak Bima sendiri yang menerima saya. Bahkan pak Bima sendiri yang tanda tangan persetujuan berkas saya sebagai office girl di sini! Kok bapak bisa lupa? Padahal bapak belum tua lho!" jawab Dini dengan enteng tanpa melihat raut wajah Bima yang menatap tajam dan kesal. Adri yang semula cemas yang berada di samping Dini, seketika menahan tawanya dengan melipat bibirnya ke dalam.


"Kamu! Dan kamu, kalau mau tertawa, gak perlu ditahan!" geram Bima sambil menunjuk Dini dan Adri bergantian. Dini dan Adri menjadi takut dan menunduk lagi.


"Hukuman sudah saya siapkan untuk kalian. Jadi siap-siap saja! Dan kamu lagi! Gara-gara kamu menabrak tuan Akhtar kemarin, hukuman kamu akan bertambah!" ucap Bima dengan tegas dan menatap tajam pada Dini sambil tersenyum smirk.


Dini yang ditatap seperti itu, bergidik ngeri dan berusaha menelan ludahnya. Adri tidak berani melihat Bima, ia masih menunduk.


"Sekarang kalian keluar! Dan tunggu kabar selanjutnya!" perintah Bima dengan datar dan kembali duduk ke kursinya karena kakinya sudah terasa kesemutan.


Dini dan Adri meninggalkan ruangan Bima dengan lesu. Mau saling menyalahkan, tapi memang salah mereka sendiri. Ya meski awalnya adalah kesalahan Dini. Tapi Dini dan Adri yang akan menanggungnya.


"Sahabat loe sendiri gimana sekarang?" tanya Adri sambil berjalan menuju pantry.


"Kania baik-baik aja kok! Efek obat tidurnya sampai malem. Jadi kemarin aku minta tolong sama security buat gendong dia ke depan. Aku bawa dia pulang ke rumahnya. Ibunya kaget waktu liat Kania kayak orang pingsan. Tapi udah aku jelasin dan untungnya ibunya ngerti. Dia juga kerja kok hari ini!" jelas Dini dengan lesu sambil memikirkan hukumannya.


"Syukurlah. Oh ya, loe gak usah terlalu mikirin tentang hukuman itu. Nanti loe pusing sendiri!" sahut Adri pelan sambil menoleh ke arah Dini yang masih lesu. Dini hanya mengangguk sebagai jawaban.


Mereka pun kembali ke pantry masing-masing.

__ADS_1


"Dini! Kamu gak apa-apa, kan? Aku minta maaf ya! Karena aku, kamu jadi kena masalah!" ucap Kania dengan penuh rasa bersalah sambil memegang tangan Dini yang sudah ada di depannya.


"Loe apaan sih, Nia! Justru karena gue, loe yang kena masalah! Udahlah kita berdua yang kena masalah! Oh ya, loe masih punya utang cerita sama gue!" balas Dini dengan ketus.


"Iya aku ceritain. Sini, jangan ngambek dong!" balas Kania sambil menarik tangan Dini untuk duduk.


Kania pun menceritakan kejadian kemarin yang menimpa dirinya saat di ruangan tuan Akhtar. Bagaimana ia bisa pingsan, terus sadar dan pingsan lagi. Kania bahkan sudah tau, kalau penyebab pingsannya yang kedua karena obat tidur yang dicampur sahabatnya ke minuman. Karena Dini mengira minuman itu untuk Akhtar dan Bima. Namun malah diminum oleh Kania, jadilah Kania pingsan lagi.


Di ruangan CEO


"Tuan! Kenapa tuan ke kantor? Kenapa tidak istirahat saja di apartemen? Biar alergi tuan cepat sembuh!" tanya Bima dengan runtun karena melihat tuannya datang ke kantor setelah dihubungi Doni.


Bima sudah berada di ruangan Akhtar. Dan Akhtar sudah duduk di kursi kebesarannya.


"Terserah akulah! Kantor, kantorku! Gak ada yang melarang bukan? Yang sakit juga aku, bukan kamu! Kenapa kamu yang repot?" balas Akhtar dengan sinis sambil melirik Bima dengan tajam.


"Bukan begitu maksudku, tuan! Tapi... " balas Bima terpotong.


"Udah gak ada tapi-tapi! Gimana, udah kamu lakukan apa yang kubilang tadi malam?" sahut Akhtar dengan datar dan duduk sandaran di kursinya.


"Sudah, tuan! Tinggal menemui gadis itu lagi!" jawab Bima dengan hormat yang masih tetap berdiri di depan meja Akhtar.


"Ok! Lakukan hari ini juga! Aku gak mau menunggu terlalu lama. Waktuku tinggal satu setengah bulan lagi. Kakek terus saja menodongku dengan keturunan!" balas Akhtar dengan kesal karena mengingat perkataan kakeknya tadi malam ditelpon, saat dirinya tengah merasakan alerginya.


"Baik, tuan! Kalau begitu permisi!" balas Bima sambil membungkuk dan berlalu meninggalkan ruangan Akhtar.


#Flashback#


Saat alergi Akhtar yang kambuh lagi akibat bertabrakan dengan Dini kemarin siang. Ia memutuskan untuk pulang ke apartemen setelah Bima datang ke ruangannya yang dihubungi Doni. Bima pun dengan sigap membawa Akhtar pulang sambil menghubungi Michael. Awalnya Michael menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit. Namun Akhtar menolaknya dengan keras.


"Loe ditabrak sama cewek mana lagi?" sindir Michael yang sedang memeriksa Akhtar di kamar pribadinya.


"Udah, cepet kasih gue obat! Kelamaan loe, tanya-tanya segala! Gue udah gak tahan pengen garuk nih kulit!" balas Akhtar dengan kesal.


"Iya, iya bawel! Sabar dikit! Nih juga lagi gue siapin obatnya!" gerutu Michael yang kesal juga dengan sikap Akhtar, sambil menyiapkan obat dan suntikan.


Sedangkan Bima sedang berada di dapur untuk menyiapkan makan malam. Bima sudah terbiasa menyiapkan sarapan dan makan malam untuk tuannya. Dan itu adalah salah satu tugasnya sebagai asisten Akhtar. Beruntung Bima bisa memasak makanan rumahan dan cukup enak bagi Akhtar.


"Gue heran deh, Akhtar! Kenapa waktu loe ditabrak dan ditindih sama cewek waktu itu, alergi loe sama sekali gak muncul. Bahkan sampai loe gendong tuh cewek dua kali, tetep alergi loe gak muncul. Tapi kenapa waktu kemarin tabrakan sama cewek yang beda, alergi loe muncul lagi ya?" ucap Michael dengan ekspresi bingung yang sudah berpindah duduk di sofa yang ada di kamar Akhtar.


Michael memang sudah diceritakan oleh Bima saat ditelpon tadi, tentang Akhtar yang menggendong perempuan yang sama dengan yang menabraknya.Namun alerginya tidak muncul sama sekali.


"Menurut loe kenapa? Loe kan dokter? Harusnya tau dong, jawabannya? Kenapa malah jadi tanya gue?" balas Akhtar dengan ketus sambil berjalan menuju pintu setelah diperiksa dan disuntik Michael.


"Mau kemana loe?" pekik Michael yang melihat Akhtar keluar.

__ADS_1


"Makan!" sahut Akhtar dengan santai keluar kamar.


Michael pun mengikuti Akhtar keluar kamar.


"Sialan loe! Main tinggal-tinggal aja! Gue kan juga laper!" gerutu Michael pada Akhtar yang sudah duduk di kursi makan dengan santai dan tenang.


Akhtar mengabaikan ocehan Michael. Ia sibuk memakan makanannya yang sudah disiapkan Bima. Tentunya makanan sehat yang baik untuk alergi kulit seperti yang dialami Akhtar. Seperti olahan salmon yang dihidangkan Bima malam ini untuk Akhtar.


"Punya gue mana, Bim? Kok cuma punya Akhtar?" tanya Michael dengan protes pada Bima.


"Ambil sendirilah di dapur!" jawab Bima dengan enteng sambil duduk lalu memakan makanannya juga.


"Huh! Dasar! Bos sama asisten sama aja! Gak menghormati tamu!" gerutu Michael berdiri mengambil makanan di dapur.


Akhtar dan Bima mengabaikannya dan makan dengan tenang. Diikuti Michael yang sudah membawa makanannya sendiri dari dapur.


"Gue mau minggu depan, Kania udah setuju tanda tangan surat perjanjian itu, Bim!" ucap Akhtar dengan nada datarnya yang sudah selesai makan dan duduk santai di sofa depan TV.


"Baik, tuan!" jawab Bima yang juga duduk di sofa satunya lagi.


"Tunggu, tunggu! Siapa Kania? Kayak nama cewek! Terus surat perjanjian apa? Kok gue baru tau!" tanya Michael penasaran menatap Akhtar dan Bima bergantian. Michael duduk di sofa yang sama dengan Akhtar.


"Gadis yang gue gendong!" jawab Akhtar dengan malas tanpa menoleh ke Michael.


"Terus surat perjanjian apa?" tanya Michael lagi pada Akhtar yang masih terus menatap ke arah Akhtar.


"Surat perjanjian hamil anak gue!" jawab Akhtar dengan datar sambil memainkan ponselnya.


"What?" seru Michael terkejut mendengar perkataan Akhtar. Michael langsung terbangun dari duduknya.


"Loe serius, Tar? What the hell? Gila, gila, gila! Gila sih ini!" ucap Michael dengan menggebu sambil menggelengkan kepalanya dan mondar-mandir.


Akhtar menatap tajam pada Michael yang masih mondar-mandir. Sedang Bima hanya meliriknya dan fokus pada ponselnya lagi. Michael yang merasa ada yang menatapnya seketika berhenti dan tersenyum pada Akhtar.


*


*


HAI HAI HAI


UDAH UP LAGI NIH!


SEMOGA TETAP SETIA MENANTI CERITANYA YA!


JANGAN LUPA BERI LIKE DAN KOMENNYA.

__ADS_1


FOLLOW JUGA YA!


SELAMAT MEMBACA READERS


__ADS_2