Tawanan Mr. Perfect

Tawanan Mr. Perfect
Bab 35 Menghindar


__ADS_3

Akhtar sudah berada di penthousenya. Awalnya ia ingin ke penthouse yang ditempati Kania. Namun ia urung karena ingin membiarkan Kania sendiri dulu. Akhtar berada di kamar mandi. Ia mengguyur badannya dengan air dingin di bawah shower. Karena ia butuh air dingin untuk mendinginkan suhu badannya yang panas akibat gairahnya yang masih muncul. Akhtar bahkan masih mengingat dengan jelas rasa c*uman itu.


"Huh! Aku benar-benar sudah gila!" gumam Akhtar menunduk dan memejamkan matanya di bawah guyuran air dingin.


Usai mendinginkan tubuhnya, Akhtar bersantai di balkon kamar. Menikmati pemandangan senja yang tampak indah di pelupuk mata. Senja pun telah berganti malam. Akhtar terlihat gelisah. Bayangan ia menc*um Kania terus berputar di kepalanya bagai kaset.


Akhtar tak bisa tidur. Tanpa sadar ia menekan nomor telepon penthouse Kania. Panggilan pertama tidak ada respon. Akhtar menekan lagi nomor itu. Namun tetap tidak ada jawaban. Akhtar semakin gelisah dan khawatir. Akhtar pun mengecek CCTV di penthouse yang ditinggali Kania.


Akhtar mengernyit heran. Ia tidak melihat Kania di dalam penthouse itu. Bahkan Akhtar sudah mengecek sejak siang saat Kania masih di kantor bersamanya tadi. Akhtar semakin khawatir dengan Kania. Akhtar pun menghubungi Bima untuk mencari keberadaan Kania.


"Bim, cari Kania! Dia gak ada di apartemen. Cari sampai ketemu! Jangan hubungi aku kalau dia belum ketemu!" ucap Akhtar saat ada respon dari panggilannya.


"Baik, tuan!" jawab Bima.


Panggilan telepon pun terputus. Bima bingung malam-malam harus mencari Kania. Untung saja masih jam 9 malam. Jadi belum terlalu malam. Bima langsung menghubungi anak buah Akhtar. Tempat yang pertama Bima cari adalah rumah orang tua Kania. Bima menduga kalau Kania pulang ke rumah orang tuanya.


Benar saja. Kania memang ada di rumah orang tuanya. Bima langsung meluncur ke sana dan mengabari tuannya.


"Halo, tuan! Nona Kania ada di rumah orang tuanya, tuan!" ucap Bima di telepon.


"Ya sudah! Kamu jemput dia! Aku menunggu di sini! Kalau dia tidak mau, ajak ibunya sekalian! Mungkin dia merindukan ibunya!" jawab Akhtar tegas di balik telepon.


"Baik, tuan!" balas Bima. Panggilan pun berakhir.


Bima sudah tiba di depan rumah Kania sejak tadi. Dan ia menelepon Akhtar di dalam mobil. Bima lalu turun dari mobil dan melangkah ke rumah Kania.


"Kamu udah bilang sama tuan Akhtar, kalau kamu nginep di sini?" tanya bu Meli di hadapan Kania sandaran.


Kania menoleh dan menggelengkan kepalanya. Keduanya tengah berada di kamar Kania.


"Kenapa belum bilang, nak? Nanti kalau tuan Akhtar nyariin kamu gimana? Biar gimanapun tuan Akhtar tetap suami kamu, nak! Meski kalian hanya menikah kontrak! Tapi tetap pernikahan kalian itu sah! Jadi kamu harus izin dulu sama tuan Akhtar kalau mau tidur di sini!" jelas bu Meli lembut.


"Baiklah, bu!" jawab Kania pelan.


Kania lalu mengambil ponselnya di bawah bantal. Namun Kania baru ingat, kalau ia tidak punya nomor telepon Akhtar. Jadi Kania melirik ibunya lagi.


"Kenapa? Kok belum telpon tuan Akhtar juga? Takut?" tanya bu Meli penasaran.


Kania menggeleng dan memutar bola matanya hendak mencari jawaban yang tepat.

__ADS_1


Terus apa, nak? tanya bu Meli lagi semakin penasaran.


"Itu, bu! Aku... aku gak punya nomornya!" jawab Kania pelan.


"Apa? Kamu gak punya nomor tuan Akhtar!" jawab bu Meli kaget.


Kania mengangguk dan tersenyum kuda. Bu Meli menggelengkan kepalanya.


Tok Tok Tok


"Permisi!" seru seseorang di depan.


Kania dan bu Meli terdiam dan saling melihat.


"Kayaknya ada yang ketuk pintu, bu!" ucap Kania.


"Iya! Ibu denger juga gitu! Tapi siapa malam-malam gini bertamu? Ibu malah takut, nak!" jawab bu Meli.


Suara ketukan terdengar lagi. Bahkan lebih keras. Terdengar seruan nama Kania dipanggil dari luar. Kania seketika tahu siapa yang bertamu ke rumahnya. Kania pun bangun dari keluar kamar. Bu Meli mengikuti dari belakang. Sebelum membuka pintu, Kania mengintip dari jendela dulu. Dan benar, Bima yang datang ke rumahnya. Kania sudah tau kenapa Bima malam-malam begini ada di rumahnya. Siapa lagi kalau bukan suruhan Akhtar?


Kania membuka pintu dan menatap Bima dengan malas.


"Malam, bu Meli! Malam nona Kania! Maaf malam-malam mengganggu!" sapa Bima sopan dan tersenyum tipis.


Kania hanya mengangguk lalu duduk di kursi.


"Malam, pak Bima! Gak ganggu kok pak Bima! Silakan masuk!" balas bu Meli sungkan.


Bima pun masuk seorang diri. Sedangkan satu anak buahnya menunggu di mobil. Bima duduk di hadapan Kania dan bu Meli.


"Pak Bima mau teh atau kopi?" tanya bu Meli ramah.


"Tidak perlu repot-repot, bu! Saya hanya sebentar!" jawab Bima sopan. Bima pun menatap Kania lagi.


"Begini nona! Saya menyampaikan pesan tuan Akhtar untuk membawa nona kembali ke apartemen!" ucap Bima datar.


"Tolong sampaikan ke tuan Akhtar, kalau saya masih ingin di sini dulu! Saya rindu dengan ibuku!" jawab Kania tegas.


"Maaf, nona! Tidak bisa! Nona harus tetap kembali ke apartemen malam ini juga! Ibu nona bisa ikut kalau nona merindukannya!" jawab Bima dengan tegas juga.

__ADS_1


"Tapi,...!" sergah Kania.


"Maaf, nona! Tuan Akhtar sudah menunggu!" cela Bima menatap Kania datar.


Kania kesal. Mau tidak mau, akhirnya Kania pasrah ikut Bima pulang ke apartemen. Kania mengajak ibunya. Namun ibunya menolak karena besok ada orderan kue. Meski kehidupan Kania kini lebih baik. Tapi bu Meli tetap melayani tetangga yang ingin memesan kuenya. Itu bu Meli lakukan untuk kesibukannya.


Kania pun pasrah saja. Tanpa membawa apa-apa, hanya tasnya saja yang ia bawa tadi. Tapi Kania sudah berganti pakaian dengan bajunya yang dulu. Kania berpamitan dengan ibunya. Saat Kania datang ke rumahnya, Kania tidak bercerita apa-apa pada ibunya. Kania malu jika harus bercerita tentang Akhtar yang menc*umnya.Menurut Kania itu adalah aib baginya.


Kania sudah berada di mobil dan duduk di belakang. Bima duduk di samping kursi kemudi. Setelah 30 menit perjalanan, mereka pun sampai di apartemen. Kania diantar sampai di depan penthouse yang ia tempati. Bima pun undur diri. Kania menatap malas pintu yang ada di depannya. Dengan kunci akses, Kania membuka pintu dan masuk dan menutupnya kembali.


Seketika lampu menyala saat ia berbalik. Kania terlonjak kaget melihat Akhtar yang duduk di sofa ruang tamu menatapnya.


Gluk


Kania gugup dan takut. Ia teringat lagi kejadian tadi sore di kantor. Seketika Kania menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Akhtar melihat itu hanya tersenyum sinis.


"Kamu pikir aku ingin menc*um lagi? Tidak akan! C*uman tadi itu hanya iseng. Aku penasaran aja seperti apa rasa bibirmu yang ketus itu! Ternyata hambar seperti ucapan yang keluar dari mulutmu." ucap Akhtar berbohong.


Nyatanya rasa bibir Kania, manis. Bahkan Akhtar ingin selalu merasakannya.


Kania yang mendengar ucapan tajam Akhtar menjadi marah. Kania langsung berjalan mendekati Akhtar dengan tangan terkepal. Akhtar hanya menatap Kania dengan datar.


"Apa tadi kata tuan? Hanya iseng? Tuan tahu? Itu adalah c*uman pertamaku! C*uman yang seharusnya kuberikan untuk suami saya! Tuan pikir saya wanita murahan apa? Yang mau aja dic*um sembarangan oleh laki-laki? Gak ya! Saya bukan seperti itu! Dan apa tadi kata tuan? Hambar? Bibir tuan tuh yang hambar! Gak ada rasa sama sekali! Enak aja, ngatain bibir saya hambar! Emangnya kenapa dengan ucapanku, tuan? Hah? Saya berani berucap kasar itu, karena tuan memperlakukan saya dengan seenaknya! Katanya gak akan nyentuh saya! Tapi nyatanya apa? Tuan bahkan mencuri c*uman pertamaku!" ucap Kania dengan menggebu berdiri tak jauh dari Akhtar.


Akhtar tersenyum mendengar ucapan Kania. Justru tanpa sadar sudah memberikan c*umannya untuk suaminya sendiri, yaitu Akhtar. Kania mengernyit heran melihat Akhtar justru tersenyum dan tertawa lepas. Bahkan pertama kalinya Kania melihat Akhtar tertawa seperti itu.


Jantung Kania berdebar keras. Kania terkesima melihat pesona Akhtar yang begitu tampan karena tertawa. Pipi Kania memerah. Kania menatap tak berkedip. Sungguh pemandangan yang sangat langka. Melihat Kania yang diam mematung dan memandanginya, Akhtar pun sadar dan berhenti tertawa lalu menatap Kania lagi.


Ekhm


"Apa kau terpesona denganku?" tanya Akhtar.


Kania tersentak dan sadar kembali. Kania mengumpat dan merutuki kebodohannya yang sempat terpesona dengan lelaki yang ada di depannya ini.


"Kau sadar dengan ucapanmu tadi?" tanya Akhtar lagi.


Kania menatap bingung.


"Kau mengucapkan bahwa c*uman pertamamu hanya untuk suamimu, bukan? Dan tadi, bukankah itu sudah terjadi? Aku suamimu. Jadi aku berhak mendapatkannya. Ya meski itu hanya iseng. Tapi meski begitu, kau pun ikut menikmati c*umanku! Walaupun kamu tidak membalasnya." ucap Akhtar dengan tatapan meledek.

__ADS_1


Kania seketika sadar dan membenarkan ucapan Akhtar barusan. Kania malu, sangat malu. Kania pun menunduk. Wajahnya semakin merah.


__ADS_2