
Dua hari berlalu, kemerahan di tubuh dan wajah Akhtar akibat alergi pun sudah hilang. Selama itu pula, Akhtar rutin mengonsumsi obat penghilang alerginya.
Saat ini, Akhtar tengah berada di rumah besar kakeknya, kakek Wijaya. Ayah dari papanya, Farzan. Akhtar bersama keluarga besarnya sedang menikmati makan malam. Karena saat ini bertepatan dengan ulang tahun sang kakek. Sehingga mereka merayakannya dengan makan malam, seperti tahun-tahun sebelumnya.
Kakek Wijaya dan Nenek Aishe hanya memiliki satu anak yaitu Farzan. Nenek Aishe merupakan wanita Turki. Dulu kakek Wijaya bertemu dengan nenek Aishe saat kakek Wijaya sedang melaksanakan perjalanan bisnisnya ke Turki. Bertemulah dengan nenek Aishe yang merupakan putri semata wayang kolega kakek Wijaya. Dan menikahlah mereka.
Mereka telah usai makan malam bersama. Kemudian mereka menuju ke ruang keluarga. Hal yang biasa dilakukan setelah makan malam jika sedang berkumpul seperti ini.
"Bagaimana alergimu, Akhtar? Apa masih kambuh kalau bersentuhan dengan wanita?" tanya kakek Wijaya pada Akhtar yang duduk di seberang sofa single.
"Ya begini, kek! Masih sama. Belum ada perubahan." jawab Akhtar santai.
"Lalu bagaimana dengan penerusmu? Kalau kamu tidak bisa bersentuhan dengan wanita, berarti kamu tidak akan pernah menikah dan punya keturunan? Sampai kapan? Kakek sudah semakin tua, Akhtar! Kakek ingin melihatmu memiliki anak sebelum kakek meninggalkan dunia ini." balas kakek Wijaya dengan tegas menatap tajam cucunya yang masih santai.
Orang tua dan neneknya hanya menyimak pembicaraan mereka tanpa berani menyela.
"Kalau begitu adopsi anak saja, Kek! Gampang kan?" jawab Akhtar dengan enteng.
"Kakek ingin anakmu sendiri, Akhtar! Darah dagingmu sendiri. Keturunan Wijaya. Jangan benih orang lain!" balas kakek Wijaya dengan tegas sambil menyentakkan tongkatnya ke lantai yang senantiasa ia bawa.
Semua yang duduk di situ terjengkit kaget mendengar sentakan tongkat kakek Wijaya yang begitu keras.
"Kakek tidak mau tau, bagaimana cara kamu mendapatkan anak darah dagingmu sendiri! Kakek beri kamu waktu dua bulan untuk menyampaikan berita baik mengenai calon keturunanmu, Akhtar!" ucap kakek Wijaya dengan tegas dan tatapan tajam kepada Akhtar.
"Kek!" protes Akhtar.
"Tidak ada bantahan, Akhtar! Ingat, darah dagingmu sendiri! Kalau sampai waktu yang ditentukan, kakek belum mendengar kabar baik darimu, maka siap-siap, harta yang seharusnya menjadi milikmu, akan kakek sumbangkan ke panti asuhan. Itu akan lebih berguna, daripada tidak bermanfaat sama sekali." balas kakek Wijaya tegas tanpa bantahan.
Mereka yang mendengar tentu saja terkejut dengan keputusan kakek Wijaya. Namun tidak ada yang berani membantah laki-laki tua yang masih terlihat berwibawa tersebut.
__ADS_1
Akhtar menghela napas kasar tanpa mau menjawab perkataan kakeknya lagi. Lalu ia memutuskan pergi tanpa pamit sama sekali. Akhtar begitu kesal dengan keputusan kakeknya. Sebenarnya Akhtar juga tidak ingin dirinya menderita alergi tersebut. Ia juga ingin mencintai dan dicintai lagi setulus hati.
"Lihat kelakuan anakmu, Farzan! Papa hanya ingin yang terbaik untuknya! Papa tidak ingin garis keturunan Wijaya putus hanya sampai pada Akhtar. Apa kamu juga tidak ingin cucumu sendiri, Farzan?" tanya kakek Wijaya dengan tegas pada putranya yang duduk bersama menantunya di sofa panjang sebelah sofanya.
"Tentu saja, Farzan ingin cucu sendiri, Pa! Anak kandung, Akhtar! Tapi bagaimana bisa Akhtar punya anak, kalau dia saja tidak bisa bersentuhan dengan wanita?" jelas Farzan pada ayahnya.
"Ini sudah zaman modern, Farzan! Peralatan medis sudah semakin canggih. Begitu pun jika ingin punya anak! Bisa dengan cara inseminasi atau bayi tabung, tanpa harus berhubungan. Begitu saja kamu tidak tau? Kemana saja kamu selama ini? Apa gunanya ponsel di tanganmu itu?" sengit kakek Wijaya membalas perkataan anaknya.
Nenek Aishe dan Nyonya Sonya hanya menggelengkan kepala pelan menatap kedua pria yang memiliki wajah yang terlihat serupa. Bahkan sikap dan sifat mereka pun sama. Sifat mereka pun diturunkan ke Akhtar. Hanya wajahnya saja yang berbeda, karena Akhtar perpaduan orang tuanya. Sehingga ketampanannya melebihi kakek dan ayahnya.
"Iya, Pa! Ya sudah, nanti Farzan sampaikan ke Akhtar tentang cara itu." jawab Farzan pasrah.
Tapi mereka melupakan sesuatu yang sangat penting untuk menghasilkan anak. Wanita. Akhtar membutuhkan wanita yang mau mengandung anaknya tanpa harus bersentuhan. Dan apakah ada wanita yang mau mengandung tanpa menikah? Apa yang akan dilakukan Akhtar?
"Ya sudah, papa dan mama mau istirahat! Kalian menginap saja malam ini!" balas kakek Wijaya sambil berdiri membawa tongkatnya.
"Iya, pa! Selamat malam!" jawab Farzan dan Sonya serentak.
Akhtar mengumpat kesal di mobilnya sejak keluar dari kediaman kakeknya. Awalnya Akhtar berencana menginap di rumah kakeknya, karena ia rindu bercengkrama dengan kakeknya. Namun karena permintaan kakeknya akan cucu, membuat Akhtar menjadi kesal.
"Bima, buat pengumuman penting! Aku membutuhkan wanita yang mau mengandung anakku tanpa berhubungan. Ingat, bibit bebet bobotnya! Karena wanita itu akan mengandung penerus keluarga Wijaya." ucap tegas Akhtar dengan Bima di seberang sana.
Akhtar tengah melakukan panggilan telpon dengan asistennya. Bima yang mendengar perintah tuannya, mengernyit heran di balik telpon. Sebelum Bima menjawab perkataan tuannya, Akhtar sudah mematikan panggilan tersebut.
"Sial, sial, sial! Gara-gara alergi sialan ini, aku harus pusing! Agh, sialan!" umpat Akhtar sambil memukul setir dengan satu tangannya.
Tanpa terasa mobil pun memasuki kawasan apartemen mewah di tengah kota. Salah satu kawasan apartemen mewah yang dimiliki kerjaan bisnis Wijaya Group.
Akhtar memang memutuskan keluar dari rumah orang tuanya dan tinggal di apartemen setelah ia lulus kuliah dan menjabat sebagai CEO.
__ADS_1
"Aku kasian melihat ibu, Din! Tadi suruhan rentenir itu dateng lagi ke rumah dan kasih peringatan! Kalau dua minggu lagi jatuh tempo utang kami dan harus dibayar. Kalau gak, rumah ini bakalan disita. Karena dulu waktu pinjem, sertifikat rumah ini jadi jaminannya! Cuma rumah ini peninggalan ayahku dan harta yang kami punya. Kalau sampai rumah ini disita? Terus aku sama ibu mau tinggal dimana, Din? Gak mungkin kan tinggal di kolong jembatan?" ucap Kania sendu sambil duduk santai di depan teras rumahnya bersama Dini.
"Husst, ngawur loe! Jangan ngomong sembarangan! Kalau boleh tau, emang berapa sih utang keluarga loe, Nia?" tanya Dini penasaran sambil menopang dagunya.
"Kalau ditotal sama bunganya semua jadi 200 juta." jawab Kania lesu.
"Hah! 200 juta? Gila, banyak banget! Bukannya ibu loe udah nyicil itu utang ya, Nia?" tanya Dini yang semakin penasaran.
"Ya emang udah dicicil, sih! Tapi tetep aja masih banyak. Karna kamu tau sendiri kan? Berapa sih, penghasilan kami waktu jualan? Itu pun masih harus dibagi sama kebutuhan kami. Jadi ya, utangnya tetep aja banyak banget." jawab Kania sendu sambil menatap ke depan memperhatikan jalanan yang masih ramai.
"Yang sabar ya, Nia! Sorry, gue gak bisa bantu loe! Loe tau sendirilah, meski keluarga gue gak punya utang segede keluarga loe, tapi adik gue ada dua. Belum nyokap sama bokap gue yang cuma kerja di tempat orang. Gaji gue meski gede, seenggaknya gak bikin keluarga gue kesusahan lagi kayak dulu." balas Dini sambil menepuk punggung sahabatnya.
"Iya, Din! Aku tau, kok! Kamu selalu dukung aku aja, aku udah seneng banget, Din! Aku butuh orang yang bisa kasih semangat aku terus! Terima kasih ya, bestie!" jawab Kania memeluk sahabatnya.
"Iya, sama-sama! Lebay loe, ah! Ya udah, masuk sana! Udah malem. Gue juga mau pulang, udah ngantuk! Besok kan kita harus kerja lagi! Biar gak telat dan tetep semangat! Ok, cantik!" balas Dini menoe pipi Kania gemas.
"Iiiihh, Dini kebiasaan deh!" Kania pura-pura merajuk.
"Hehehehe.... Ya udah, gue pulang dulu ya! Bye, Nia!" pamit Dini yang terkekeh melihat Kania memanyunkan bibirnya.
"Bye, Din! Hati-hati!" balas Kania dengan senyuman.
*
*
DUKUNG TERUS KARYA AUTHOR YA GUYS!
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA
__ADS_1
TERIMA KASIH
SELAMAT MEMBACA