Tawanan Mr. Perfect

Tawanan Mr. Perfect
Bab 30 Makan Malam Bersama Kakek


__ADS_3

Tring tring


Telepon berdering di atas nakas kamar Kania. Kania tengah mematut dirinya di depan meja rias. Sedangkan Dini sibuk memperhatikan Kania. Dini yang berada di dekat nakas, langsung mengangkat telepon itu.


"Halo!" sapa Dini datar.


"Berikan pada Kania!" ucap Akhtar tegas di balik telepon.


Dini tersentak mendengar suara di balik telepon. Ia lalu memberikannya pada Kania.


"Siapa?" tanya Kania pada Dini.


"Tuan Akhtar" ucap Dini tanpa suara.


"Aku! Memang siapa lagi yang bisa menghubungimu lewat telepon itu?" seru Akhtar di balik telepon.


"Iya, tuan! Ada apa?" jawab Kania dengan malas.


"Aku harus menunggumu berapa lama lagi? Cepat turun!" seru Akhtar tegas dan langsung menutup teleponnya.


Tut Tut tut


"Dasar, es batu! Main tutup telepon aja! Belum selesai ngomong juga!" jawab Kania kesal. Lalu berdiri meletakkan telepon itu di tempatnya.


"Kenapa, Nia?" tanya Dini penasaran.


"Biasalah! Mr. Perfect main perintah, suruh cepat turun!" jawab Kania dengan malas.


Dini hanya mengangguk.


"Gimana penampilanku? Ada yang kurang gak?" tanya Kania sambil melihat penampilannya sendiri di cermin.


"Loe tuh gak dandan aja udah cantik, Nia! Apalagi dandan kayak gini! Dan gaunnya, gila sih! Pas banget di badan loe! Bisa gitu ya? Bagus banget lagi!" balas Dini sambil melihat Kania dari belakang. Kania melihatnya dari cermin.


"Kamu berlebihan banget, Dini! Ini tuh karna gaun yang aku pakai. Seumur-umur baru kali ini aku pakai gaun sebagus ini!" sergah Kania sambil tersenyum dan melihat gaun yang ia pakai.


"Iya, tetep aja! Itu juga karna loe yang pakai. Coba kalau gue? Udah kayak badut kali!" balas Dini.


"Kamu juga tuh cantik tau, Din! Udah ah, yuk turun! Nanti si Mr. Perfect marah-marah lagi!" balas Kania berbalik menghadap Dini dan memegang bahunya.


"Oh iya! Ayo!" ajak Dini.


Keduanya turun ke lantai bawah. Akhtar duduk di sofa dan sibuk mengecek ponselnya. Sedangkan bu Meli sedang di dapur. Suara ketukan high heels di tangga, mengalihkan pandangan Akhtar.


Akhtar terkesima dengan penampilan Kania yang terlihat berbeda dengan dressnya. Gaun warna marun model Vintage silk dress. Dress dengan aksen kerah mengembang dan potongan dada rendah yang dilapisi kemben warna kulit. Terlihat mewah dan elegan di tubuh Kania. Tatanan rambutnya digelung simpel ke bawah, dan menyisakan sedikit poni di sisi kanan kiri yang dicurly.

__ADS_1


Begitu pun dengan Kania, tertegun melihat penampilan Akhtar. Meski sering melihatnya mengenakan pakaian formal dan jasnya, entah kenapa penampilan Akhtar malam ini memiliki daya tarik sendiri. Namun, Kania berusaha mengalihkan pandangannya ke bawah dan fokus melihat tangga yang ia lewati. Dini sendiri tidak berani menatap Akhtar. Ia berusaha menundukkan kepalanya dan memegang lengan Kania.


"Egghmm" Kania berdehem telah sampai di depan Akhtar dengan jarak 3 meternya.


Akhtar pun sadar dari lamunannya. Dan bersikap datar lagi. Kemudian berbalik menuju pintu keluar. Tanpa sepatah katapun, Akhtar keluar dari apartemen Kania.


Bu Meli yang baru selesai membuat minuman untuk Akhtar, merasa heran karena tidak melihat Akhtar di ruang tamu.


"Sudah keluar, bu! Minum ibu aja!" ucap Kania pada ibunya yang terlihat bingung.


"Ya ampun, nak! Ini kamu? Kania anak ibu?" tanya bu Meli yang masih membawa nampan dan minuman.


"Iya, bu! Ini Kania! Kalau gitu, Kania pergi dulu ya, bu! Kalau nanti aku kemalaman pulangnya, ibu sama Dini tidur duluan aja! Jangan tunggu Kania!" jelas Kania lembut pada ibunya.


"Iya, nak! Kamu cantik sekali! Ya sudah, hati-hati ya! Salam untuk semuanya dari ibu!" balas bu Meli lembut.


"Have fun ya, Nia!" timpal Dini memeluk Kania.


"Iya, Dini! Jagain ibuku ya!" balas Kania membalas pelukan Dini.


"Bye, ibu, Dini!" seru Kania sambil melambaikan tangan dan keluar apartemen.


Ternyata Kania sudah ditinggal oleh Akhtar. Kania hanya menghela napas kasar menuju lift sendirian. Sampai pada lantai bawah, Kania menuju pintu gedung apartemen dan melihat Akhtar sudah berada di dalam mobil sport warna hitam. Mobil yang hanya muat dua orang di dalamnya.


Tanpa dibukakan pintu seperti pria romantis lainnya, Kania membuka pintu mobil itu sendiri. Namun dia kebingungan membukanya. Pasalnya mobil yang digunakan Akhtar adalah pintu yang terbukanya ke atas bukan ke samping. Melihat Kania yang masih belum masuk, Akhtar membuka pintu itu dari dalam. Kania pun tersentak kaget. Maklumin Kania, Akhtar. Belum pernah lihat mobil mewah seperi milikmu. Sabar ya, Akhtar.


Kania pun sadar dan segera masuk ke mobil dan duduk di sebelah Akhtar. Awalnya ia ragu untuk duduk di sebelah Akhtar, takut peristiwa lalu terulang lagi. Namun tidak ada pilihan bagi Kania. Jadi ya Kania duduk aja. Masa iya, Kania harus duduk di atas mobil, lebih mustahil lagi kan? Pintu mobil pun otomatis tertutup lagi.


Mobil pun melaju menuju kediaman kakek Wijaya. Tidak ada obrolan sepanjang perjalanan keduanya. Hanya suara musik yang mengiringi perjalanan itu. Lagu yang sama sekali tidak Kania hapal. Jangankan hapal, tahu lagunya saja tidak. Selera lagu Akhtar itu jadul. Lagu romantis sih, tapi jadul. Sedangkan Kania tahunya lagu anak band dalam negeri.


Sampailah mereka di kediaman mewah berpagar tinggi. Gerbang otomatis terbuka saat mobil Akhtar hendak masuk. Kania memandang takjub rumah di depannya. Bukan rumah, istana lebih tepatnya dalam pikiran Kania.


"Turun!" seru Akhtar tanpa menoleh. Pintu mobil memang sudah dibuka otomatis oleh Akhtar.


Kania hanya mengangguk dan turun dari mobil. Dilanjutkan Akhtar yang turun juga dari mobilnya. Keduanya berjalan tanpa beriringan. Kania berusaha menjaga jarak dari Akhtar. Akhtar pun tak peduli dengan hal tersebut. Mereka disambut pelayan pria paruh baya dan dituntun ke ruang makan.


Di meja makan, sudah berkumpul kakek Wijaya, nenek Aishe, pak Farzan, dan nyonya Sonya. Mereka memang sedang menunggu kedatangan Akhtar dan Kania. Beruntung penampilan Kania tidak membuat malu. Bahkan dinilai berkelas oleh nyonya Sonya dalam hatinya.


"Maaf kek, kami terlambat!" ucap Akhtar yang langsung duduk di dekat kakek Wijaya dan hanya ditanggapi senyuman dan anggukan oleh kakeknya.


"Malam kek! Nek! Mah! Pah!" sapa Kania lembut menatap satu per satu.


"Malam Kania!" balas nenek Aishe dan nyonya Sonya serempak. Sementara kakek Wijaya dan pak Farzan hanya mengangguk.


Kemudian Kania pun duduk di sebelah Akhtar. Namun ia beri jarak satu kursi. Mereka yang melihatnya mengernyit heran. Akhtar melirik dan menahan kesal.

__ADS_1


"Kenapa duduk di situ?" tanya kakek Wijaya menatap Kania.


"Ha? Oh, tuan Akhtar kan alergi sama perempuan, kek! Jadi saya menjaga jarak aman saja!" balas Kania dengan polos dan tersenyum manis.


"Apa? Tuan Akhtar?" kakek Wijaya terkejut mendengar panggilan Kania pada suaminya. Yang lainnya pun sama terkejut, tapi tidak bagi pak Farzan. Hanya bereaksi datar. Sedangkan Akhtar bertambah kesal dalam diamnya.


"Iya, kek! Tuan Akhtar. Memang siapa lagi?" tanya Kania dengan polos.


"Bukankah kita akan makan malam kakek?" tanya Akhtar mengalihkan pembicaraan Kania dan kakeknya.


"Baiklah! Mari semuanya, kita mulai makan malam kita!" ucap kakek Wijaya menatap tajam cucunya. Lalu memanggil pelayan untuk melayani mereka.


Para pelayan pun sigap menghidangkan makanan pembuka berupa sajian salad buah. Kania hanya menatap makanan yang ada di depannya. Khusus Akhtar, dilayani pelayan laki-laki.


'Kenapa makanannya cuma buah kayak gini? Apa kenyang nih perut! Udahlah dimakan aja!' batin Kania sambil melirik orang-orang di depannya.


Mereka pun menikmati hidangan pembuka dengan tenang. Setelah selesai, hidangan utama pun disajikan berupa steak daging satu potong yang dilengkapi kentang, wortel, buncis, brokoli dan kacang polong yang direbus. Tidak lupa tambahan saus di sisi dagingnya.


Kania menatap heran lagi menu tersebut. Dan memperhatikan orang-orang yang sudah mulai menyantap makanannya. Hidangan itu memang terlihat enak di mata Kania. Namun karena selera Kania, selera ndeso alias kampung, hanya mengernyit heran. Kakek Wijaya menyadari Kania yang belum memakan makanannya.


"Ada apa Kania? Kamu tidak suka dengan makanannya?" tanya kakek Wijaya sembari menatap Kania. Yang lainnya pun ikut menatap Kania sambil mengunyah.


"Eh... itu kek! Apa ada nasi?" jawab Kania polos.


"Nasi?" kakek Wijaya mengernyit heran.


"Iya! Saya gak kenyang kalau belum makan nasi!" jawab Kania dengan jujur sambil nyengir.


Seketika kakek Wijaya tertawa di sela makannya. Nenek Aishe dan nyonya Sonya tersenyum melihat keluguan Kania. Sedangkan Akhtar dan pak Farzan tetap dengan mode datarnya.


"Baiklah! Pelayan, ambilkan nasi untuk cucu menantuku!" seru kakek Wijaya memanggil pelayan dan tertawa lagi.


Kania pun menyantap makanannya dengan nasi yang sudah dihidangkan di samping steaknya. Kania cukup kesulitan memotong steaknya, kemudian dibantu oleh pelayan yang melayaninya.


Sebelum hidangan utama habis, hidangan penutup sudah dihidangkan di meja makan. Kania yang masih sibuk makan, menatap heran lagi makanan yang baru datang. Satu piring besar dengan satu puding di tengahnya yang berukuran kecil.


'Ini pudingnya yang kecil atau piringnya yang terlalu besar? Memang aneh kehidupan orang kaya.' batin Kania.


Mereka pun menikmati makanan penutup dengan tenang. Saat Kania menyantap pudingnya, ia merasakan bahwa puding yang ia makan adalah puding terenak yang pernah ia rasakan.


"Boleh Kania tambah pudingnya lagi, kek! Pudingnya sungguh sangat enak!" sela Kania izin pada kakek Wijaya.


Kakek Wijaya hanya tersenyum dan mengangguk. Ia senang Kania bersikap apa adanya.


'Makanan sebanyak tadi, masih kurang di dalam perutnya? Astaga! Gadis macam apa dia? Makan sebanyak itu? Tapi badannya tetap kurus." batin Akhtar dalam hati melirik Kania.

__ADS_1


Maklum, ukuran banyak bagi Akhtar, itu sebenarnya sedikit di mata Kania. Jadi Kania tetap lapar kalau makan ala-ala restoran bintang tujuh.


__ADS_2