Tawanan Mr. Perfect

Tawanan Mr. Perfect
Bab 18 Permintaan Kania


__ADS_3

Pukul 8.15 menit, KANIA sudah berada di ruangan Bima, asisten Akhtar. Bu Reni sudah pergi ke ruangannya lagi untuk melanjutkan sarapannya yang tertunda. Kini tidak ada wajah sedih atau lesu lagi yang Kania tampakkan. Kania hanya menatap datar dengan senyum kakunya. Benar-benar engap bagi Kania tiap berada di ruangan lantai ini. Apalagi ruangan CEO.


Hhh


Kania menghela napas pelan, berdiri sambil menatap meja kerja Bima yang masih rapi. Bima memandang wajah cantik gadis di depannya. Seragam kerja warna biru, setelan celana panjang dan atasan lengan pendek.


'Dia sudah semakin berani! Tapi aku suka! Tuan Akhtar, sepertinya kamu punya lawan yang seimbang sekarang!' batin Bima sambil tersenyum tipis karena melihat senyum kaku dan wajah datar Kania. Hilang sudah wajah takut dan gugup Kania karena tawaran konyol Akhtar.


"Kamu sudah tau bukan dipanggil ke sini?" tanya Bima memecah keheningan dengan wajah datarnya.


"Iya, pak!" jawab Kania dengan malas.


"Sepertinya kamu sudah bosan ya, kerja di sini?" ucap Bima lagi dengan tegas menyindir nada bicara Kania.


"Langsung intinya saja, pak! Saya ingin bertemu dengan tuan Akhtar lebih dulu, sebelum menyetujui surat perjanjian itu. Apakah bisa, pak?" balas Kania dengan tegas.


"Saya suka dengan dirimu yang seperti ini! Itu lebih baik daripada kamu yang gugup dan takut seperti sebelumnya!" balas Bima dengan nada mengejeknya.


Kania hanya tersenyum tipis menanggapi sindiran asisten tuan Akhtar.


"Baiklah! Ayo!" ucap Bima lagi yang berdiri dan menuju pintu untuk ke ruangan Akhtar.


Kania mengikuti dari belakang dengan berjalan tegap tanpa menundukkan kepalanya lagi. Padahal dalam hatinya, degup jantungnya saling berlomba dan berpacu.


"Masuk!" seru berat Akhtar yang begitu seksi di telinga wanita lain, tapi begitu menakutkan di telinga Kania. Namun Kania berusaha mengendalikan dirinya agar tidak terlihat gugup di hadapan pria dingin itu.


Bima dan Kania masuk ke ruangan, setelah mendengar seruan Akhtar. Kania dipersilakan duduk di kursi yang kemarin Kania duduki. Tepat di depan meja kerja Akhtar. Pandangan Akhtar tidak pernah lepas sejak Kania masuk ke ruangannya.


'Menarik!' batin Akhtar tersenyum sangat tipis.


"Tuan! Nona Kania ingin bertemu anda dulu sebelum menyetujui surat perjanjian itu!" ucap Bima yang berdiri di samping meja Akhtar dan menghadapnya.


"Aku tidak suka tawar menawar! Kalau setuju langsung tanda tangan. Kalau tidak, sudah tau bukan konsekuensinya?" sahut Akhtat dengan datar dan menatap Kania yang juga memandangnya. Terlihat kegugupan di wajah Kania, namun hanya sedikit.


"Saya hanya ingin anda menemui ibu saya, tuan! Saya ingin kita menikah! Saya tidak ingin hamil dalam keadaan masih single. Meski kita tidak akan bersentuhan. Tapi tetap saja, saya ingin menjaga harga diri saya dan ibu saya. Saya tidak ingin, jika nanti saya hamil, ibu saya mendapat hinaan dari orang-orang. Mungkin saya memang tidak berhak dan tidak tahu diri, dengan mengajak anda menikah. Namun hanya ini syarat dari saya! Saya tidak akan mengajukan syarat yang lainnya. Dan saya akan menyetujui semua syarat dan aturan dalam perjanjian itu!" ucap Kania dengan tegas. Tidak ada kegugupan di nada bicaranya seperti di awal.


Kania sudah membuat keputusan untuk masa depannya. Dan inilah yang menjadi keputusannya. Merelakan masa mudanya untuk menyelamatkan ibu dan sahabatnya. Ibunya, agar tidak punya hutang lagi dan bisa hidup lebih baik lagi. Sahabatnya, Dini, agar tidak masuk penjara.

__ADS_1


"Menikah? Hahahahahaha!" sahut Akhtar dan tertawa yang menggelegar ruangan. Tertawanya menakutkan bagi Kania. Tertawa yang meledek dirinya.


"Kamu tau? Entah kamu wanita yang keberapa mengajakku menikah! Dalam kamus hidupku, menikah tidak ada dalam tujuan hidupku. Aku tidak butuh wanita untuk melayaniku. Kamu sendiri sudah tau bukan, alergiku? Aku alergi dengan makhluk bernama wanita. Aku hanya butuh rahimmu untuk mengandung anakku! Dan itu tidak cuma-cuma. Bahkan aku bayar dengan tinggi, bukan? Dan lagi, aku tidak akan merusak kegadisanmu! Setelah melahirkan anakku, kamu masih tetap perawan. Itupun kalau kamu masih perawan! Jadi mudah, bukan? Lalu kenapa dengan beraninya kamu mengajukan syarat menikah padaku? Apa jangan-jangan, kamu juga tertarik padaku? Makanya kamu ingin menjeratku dengan pernikahan!" ucap Akhtar dengan datar dan dingin. Tatapannya seolah mengejek Kania.


Akhtar yang sempat kagum dengan kecantikan dan kepolosan wajah gadis itu, berubah pikiran sejak kemarin Kania berani menatapnya tajam dan sempat menolaknya. Akhtar berpikir bahwa ternyata Kania sama saja dengan wanita lain. Munafik, itu yang dipikirkan Akhtar. Karena menginginkannya seperti wanita lain, yaitu pernikahan.


Bima yang masih setia berdiri, begitu kaget mendengar ucapan tuannya yang terdengar kejam. Bima lalu melirik ke arah Kania, menatapnya iba.


'Kata-katanya kejam sekali! Anda sangat merendahkannya, tuan! Aku yang lelaki saja, sakit hati mendengar ucapanmu! Apalagi dia? Kasihan sekali gadis ini!' batin Bima sambil menggelengkan kepalanya kecil.


Kania yang mendengar ucapan Akhtar seketika marah dan emosi. Ia tahan amarahnya yang ingin meledak. Perkataan Akhtar begitu menyakitkannya kali ini.


Hhh


Kania menghela napas kasar dan menatap tajam pada Akhtar. Sedang yang ditatapnya hanya menatap sinis sambil tersenyum miring.


"Kau tau, tuan? Julukan Mr.Perfect sepertinya tidak pantas untuk anda! Kata-kata yang anda ucapkan, bukan seperti orang yang berpendidikan. Anda dilahirkan oleh seorang wanita, bukan? Tapi sikap anda tidak menunjukkan bahwa anda lahir dari seorang wanita! Anda begitu kejam menghina seorang wanita. Mungkin itulah yang menyebabkan anda alergi terhadap wanita. Karena Tuhan tidak menghendaki anda bisa mencintai dan dicintai wanita. Anda begitu memandang rendah pada wanita yang mendekati anda. Anda memang kaya dan punya kekuasaan. Tapi apakah anda berhak merendahkanku? Apakah anda berhak menghinaku? Benar ternyata kata ibuku. Orang kaya seperti kalian, hanya bisa merendahkan orang miskin seperti kami. Dan anda tidak berhak menilai tentang keperawananku! Saya sudah memutuskan. Saya tidak akan menandatangani surat perjanjian ini. Kalaupun sahabat saya yang menjadi taruhannya, maka saya sendiri yang akan menggantikannya dipenjara. Saya lebih baik dipenjara daripada harus mengandung anak anda! Silakan cari wanita lain yang ingin mengandung anak anda dan direndahkan oleh anda!" ucap Kania dengan menggebu sambil berdiri dari kursinya. Kemudian ia berbalik menuju pintu.


Akhtar begitu marah mendengar ucapan Kania. Tangannya terkepal erat menampakkan buku-buku jarinya. Napasnya memburu, matanya merah menatap tajam pada Kania yang sudah berjalan menuju pintu.


Saat sudah di dekat pintu dan memegang handel pintu, Kania berbalik dan berbicara kepada Akhtar lagi dengan tetap berdiri di tempatnya.


"Brengsek! Beraninya dia! Dia pikir dia siapa berani mengatakan itu padaku? Kau akan menyesal gadis munafik! Lihat saja, kau akan datang padaku sendiri!" umpat Akhtar dengan geram dan membuang barang-barang yang ada di mejanya.


Bima terlonjak kaget dengan umpatan dan perbuatan Akhtar. Ia tidak pernah melihat Akhtar semarah ini. Bima tidak berani berucap apapun. Ia hanya berdiri jauh dari meja Akhtar.


Akhtar kemudian masuk ke ruang pribadinya. Menutup pintu dengan keras hingga mengagetkan Bima yang masih diam berdiri.


"Astaga! Benar-benar menyeramkan! Tapi berani sekali ya gadis itu? Dia belum tau siapa tuan Akhtar sebenarnya. Kasihan sekali gadis itu. Semoga Tuhan melindungimu nona!" gumam Bima sambil berjalan keluar untuk memanggil petugas kebersihan.


Tiba di pantry, Kania masuk dengan kesal dan mengambil air minum. Meneguknya dengan cepat hingga tandas. Dadanya masih kembang kempis menahan amarah. Tanpa terasa air matanya luruh juga.


Kania duduk di kursi sambil menunduk di meja dan menangis. Saat Kania kembali ke pantry, ruangan itu kosong. Kania tidak tau kemana Dini dan mbak Seli berada saat ini. Kania hanya ingin meluapkan amarah dan tangisannya saja. Menangis dengan tergugu.


Sementara di dalam kamar mandi ruang pribadi, Akhtar sedang mengguyur tubuhnya di bawah shower. Mendinginkan emosinya yang belum padam. Mengingat semua perkataan Kania yang juga merendahkannya.


"Dasar brengsek! Sialan!" umpat Akhtar lagi dengan kesal sambil meninju tembok kamar mandi. Darah segar mengalir dari kepalan tangannya. Namun ia tidak peduli. Bahkan rasa perihnya, tidak terasa.

__ADS_1


"Lihat saja kau Kania! Tidak ada satupun wanita yang menolak pesonaku! Aku, Akhtar Farzan Wijaya, tidak pernah direndahkan bahkan oleh seorang wanita sepertimu! Kau akan menyesal karena menolakku!" gumam Akhtar sambil menyeringai.


Beberapa menit berlalu, Akhtar sudah keluar dari ruang pribadinya. Berjalan menuju meja kerjanya yang sudah rapi kembali seperti semula. Tapi tidak dengan laptopnya. Karena sudah hancur jadi dua.


Tak lama Bima masuk setelah dari ruangannya karena dihubungi Akhtar.


"Buat Kania tahu siapa aku sebenarnya! Sekarang juga!" perintah Akhtar dengan dingin sambil menyeringai mengerikan.


Bima hanya pasrah melakukan perintah tuannya. Inilah yang ditakutkan Bima. Orang yang berurusan dengan Akhtar, tidak akan lepas dengan mudah. Akhtar memang sudah menyelidiki Kania dan orang terdekatnya sejak kejadian Kania menabrak dan menindih Akhtar di koridor perusahaan.


Jadi mudah baginya untuk melakukan sesuatu yang Akhtar inginkan.


"Kania!" seru Seli dengan napas terengah-engah di pintu pantry.


Kania menoleh dan melihat mbak Seli yang memanggilnya dengan matanya yang sembab.


"Dini,.. " lanjut Seli lagi mengatur napasnya.


Deg


*


*


HAI HAI HAI READERS


WAH ADA APA NIH DENGAN DINI?


JAWAB DONG DI KOLOM KOMENTAR!


JANGAN LUPA LIKE DAN DUKUNGAN NYA YA!


NANTIKAN TERUS KELANJUTANNYA.


YANG PASTINYA MAKIN SERU!


TERIMA KASIH

__ADS_1


SELAMAT MEMBACA


__ADS_2